
Sudah lebih dari sepuluh menit tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Setelah Sima rui menariknya keluar dari chuntian, ia mengangkat ziyan naik ke atas kudanya lalu menunggang kudanya ke bukit dimana ia melihat kembang api sebelumnya. Pemandangan kota yang sama, suasana alam yang sama, hanya suasana hati yang berbeda.
Ziyan ingin memulai percakapan, namun ia tidak tahu harus bagaimana memulainya. Banyak hal yang ingin ia jelaskan kepada Sima rui. Tapi saat melihat wajahnya yang suram, nampak bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
" Hm... itu.... Aku bisa menjelaskannya.. jadi..." Ziyan merasakan sesuatu, bukan rasa takut karena Sima rui mengetahui ia datang ke kasino, tapi lebih merasa tidak enak karena sudah menyembunyikan sesuatu darinya. Sementara mereka berdua sudah berkomitmen agar saling terbuka sebelumnya.
" Apakah tuan muda Jiang sering melakukannya? " (Sima rui)
" Apa? " Ziyan merasa ada yang salah dengan pertanyaannya. Jadi ia memintanya untuk mengulangi sekali lagi, mungkin telinga yang salah mendengar.
" Aku tanya, apakah tuan muda Jiang sering melakukannya? merangkulmu seperti tadi. "
Hah?! telinganya tidak salah. Sepertinya memang Sima rui yang salah meletakan titik fokus perhatiannya. Sima rui tidak bertanya kenapa ia ada di tempat seperti kasino, tapi justru bertanya mengenai Jiang wu.
Setelah pertemuan mereka pertama kali, Ia dan Jiang wu memang sudah beberapa kali bertemu. Tepatnya setelah keberangkatan Sima rui ke perbatasan. Jiang wu yang pantang menyerah itu setiap hari datang ke kasinonya untuk mencari dirinya. Dan ketika ziyan kembali pergi dengan penyamarannya, ia bertemu dengan Jiang wu yang menagih janji untuk mengajarinya beberapa trik permainan. Karena ziyan sudah berjanji, dan bila melihat sifat Jiang wu yang pantang menyerah itu. Kelihatannya ziyan hanya bisa mendapatkan kedamaiannya jika sudah memenuhi permintaannya. Dan seperti itulah mereka berinteraksi dan menjadi teman. Meski begitu, ziyan masih menjaga jarak darinya dan tidak melakukan kontak fisik.
Karena itu, saat Jiang wu merangkul nya tiba-tiba tadi, ia secara refleks langsung memutar tangannya dan hampir saja mematahnya.
"Tidak. Tidak pernah. Kami hanya secara tidak sengaja berteman, selain itu ia juga tidak tahu identitasku yang sebenarnya. Ia mengira aku... laki-laki. " Ziyan merasa seperti seorang istri yang kepergok selingkuh dan sedang memberikan penjelasan pada sang suami.
Setelah ziyan selesai dengan penjelasannya, ia memperhatikan raut wajah Sima rui sudah tak sesuram sebelumnya. 'Kelihatannya ia menerima penjelasanku. ' Ziyan tersenyum dalam hati.
Sima rui merasa bebannya sedikit terangkat. Tapi meski begitu ia masih merasa sedikit kesal. Ia menatap ziyan, dan berjalan mendekat. Ia mengunci pandangannya pada pundak ziyan. Lalu dengan lembut menepuk-nepuk pundaknya seakan menghilangkan debu yang menempel padanya.
'Apa ini? ' Ziyan segera melihat pundaknya.
"Karena kau sudah memutar tangannya, aku tidak perlu lagi memberinya pelajaran. " (Sima rui)
"Apa yang ingin kau lakukan jika aku tidak melakukan hal tadi? " (ziyan)
Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab dengan ekspresi serius. " Aku akan mematahkan tangannya. "
__ADS_1
Dari sini ziyan tahu, bahwa Sima rui sedang cemburu. Ziyan tanpa sadar terkekeh. Apa yang Sima rui lakukan pada pundaknya tadi bukan karena ada debu, melainkan karena ia ingin menghapus jejak tangan Jiang wu. Satu lagi hal baru yang ziyan ketahui dari Sima rui yaitu, pria ini adalah tong cuka. Jadi untuk kedepannya sepertinya ia harus benar-benar menjaga jarak dari pria lain. Lalu bagaimana dengan identitasnya sebagai Bos zi? sebagai pengusaha, meski ia tampil misterius tapi tetap saja ia harus menemui beberapa partner kerjanya yang mayoritas adalah pria.
" Pangeran. Jika kau melakukannya, aku khawatir menteri Jiang akan mempersulitmu. " Ziyan berbicara serius namun sesungguhnya ia hanya bercanda.
Sima rui tetap diam. Mendengar kata menteri Jiang, membuat Sima rui di ingatkan kembali mengenai masalahnya dengan kubu bangsawan. Meski menteri Jiang berbeda dengan Hong dawei, namun ia masih anggota kubu tersebut.
" Ada apa? Apakah ada masalah di istana? Bukankah masalah pembatalan pertunangan sudah selesai. " Ziyan melihat ekspresi Sima rui yang kembali gelap.
" Bukan masalah itu. melainkan masalah lain. Akhir-akhir ini kubu bangsawan semakin bertindak semena-mena, mereka terus menekan kerajaan demi kepentingan pribadi mereka. Jika terus berlanjut, aku takut kaisar juga tak akan mampu menghentikan mereka. " (Sima rui)
Ziyan mengerti betul letak masalahnya. Ayahnya Mo yincheng pernah menceritakan bahwa awalnya Kubu bangsawan dibuat untuk mengawasi dan mengontrol kinerja kerajaan. Mencegah kerajaan agar tidak bertindak semena-mena. Namun sayangnya, semakin lama justru kubu bangsawan seperti lupa akan tugas utama mereka dan menjadi semakin berani. Mereka tahu bahwa kekayaan mereka adalah kekuatan mereka. Di sinilah letak kurangnya aturan dan hukum di kerajaan Jin. Seandainya negara Jin tidak hanya mengandalkan pajak dan tambang mereka sebagai pendapatan negara, melainkan mencari alternatif lain mungkin mereka tidak akan terus di tekan oleh para bangsawan. Akan lebih baik jika memiliki badan usaha sendiri, yang memang khusus di kelola oleh Kerajaan.
Ziyan masih mendengarkan Sima rui saat ia sibuk dengan pemikirannya.
" Karena itulah, aku pergi ke chuntian berencana menemui bos zi untuk mengajaknya bekerja sama. Karena tidak mungkin melawan para bangsawan dengan kekuatan militer, maka satu-satu jalan adalah melalui perekonomian. " ( Sima rui)
Ziyan terkejut. ' Apa yang baru saja dia bilang?'
" Lalu apa pangeran tahu sosok bos zi itu. Dengar-dengar ia sangat misterius. "
" Tidak. Aku hanya tahu ia seorang wanita. "
" Karena ia wanita, apa pangeran tidak takut jika ia akan mengajakmu menikah sebagai syarat kerja sama? "
Ziyan pikir Sima rui akan setidaknya berpikir sebentar sebelum menjawab, tapi ternyata ia menjawab pertanyaannya tanpa ragu.
" Tidak. Aku tidak akan menjual diriku. " Sima rui menjawab dengan pasti.
Ziyan memikirkan sebuah ide. Hal ini mungkin sekaligus akan menjadi sebuah ujian untuk Sima rui.
" Aku bisa membantu pangeran bertemu bos zi. Tanpa harus menunggu undangan darinya. "
__ADS_1
"Benarkah? " Sima rui tidak percaya.
"Tentu saja. " Jawab ziyan penuh percaya diri.
Sima rui tidak tahu apa yang membuat tunangannya ini begitu yakin, tapi tidak ada salahnya mencoba. Lagi pula semua anak buahnya yang ia perintahkan untuk mencari tahu identitas bos zi juga tak ada yang berhasil. Mereka hanya berhasil mendapatkan informasi bagaimana cara menghubunginya.
Jika ingin bertemu dengannya, maka harus membuat janji temu terlebih dulu yang di ajukan pada manajer chuntian, Wenran. Jika setuju, maka ia akan mengirim undangan agar datang ke chuntian.
" Silakan pangeran datang lagi besok. Dan cari manajer chuntian untuk mengantarmu bertemu dengannya. "
Ziyan tidak sabar menanti hari esok. Sudah saatnya ia mengungkap rahasianya. Namun hanya untuk rahasia tentang identitasnya sebagai bos zi. Untuk rahasianya yang lain, belum saatnya.
********************
Setelah mengantar ziyan kembali ke kediaman mo, Sima rui segera kembali ke kediamannya. Ia melepas satu persatu pakaiannya, memperlihatkan delapan kotak otot perutnya yang kokoh didukung dengan dada yang lebar dan kuat membuat wanita manapun yang melihatnya akan meneteskan air liur mereka. Beberapa bekas luka di punggungnya yang ia dapat saat berperang tidak mengurangi sedikitpun keindahan tubuh Sima rui.
Sima rui melangkah masuk ke dalam kolam air mandinya. Air hangat membuat badannya kembali rileks. Ia memejamkan matanya dan kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Tunangannya, Mo ziyan selalu bisa membuatnya terkejut. Ia tak pernah menyangka akan melihat penampilan gadis itu dalam pakaian pria.
' Wanitaku memang terlihat cantik. ' Sima rui tersenyum saat mengingat ziyan.
"Pangeran. " Suara Junyi dari balik pintu.
" Katakan. " Kelihatannya Junyi sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan.
" Nona Mo memang sering ke sana. Hubungannya dengan tuan muda Jiang juga hanya sebatas teman. Lalu hal yang Anda minta selidiki. Secara kebetulan itu sesuai dengan dugaan anda. "
Bibir Sima rui tersenyum semakin lebar. " Sudah cukup. Kau boleh pergi. "
"Baik. "
Sima rui kembali memejamkan matanya, bibirnya masih tak berhenti tersenyum. 'Yaner.. Kau benar-benar membuatku gila. '
__ADS_1