
" Ibu, ayah, aku berangkat. " Pamit A Guang pada kedua orang tuanya.
Ia memeluk wanita yang telah melahirkannya itu lalu melakukan hal yang sama pada sang ayah.
Tampilan keluarga yang membuat siapa pun iri. Seorang suami setia dengan istri cantik, lalu putra hebat yang tampan.
Bukankah ini termasuk salah satu kedamaian dunia.
" Kak, kau tidak berpamitan dengan ku? " Protes A Fei, karena sang kakak hampir melupakan kehadirannya.
A Guang sengaja ingin menggoda A Fei. Ia tidak benar-benar melupakan adiknya tersebut.
" Sejak kapan kau disitu? aku tak melihat mu. " Bohongnya.
A Fei memutar bola matanya, lalu menunjuk dirinya. " Lihatlah, badan ku sudah sebesar ini, mustahil kau tak melihatnya. "
A Guang terkekeh. " Kau semakin cantik jika cemberut seperti ini. " Sebelum adiknya semakin marah. Ia buru-buru mengoreksi ucapannya.
" Maksud ku kau semakin cantik jika tersenyum. Jadi alih-alih cemberut, bukankah seharusnya kau memberikan sebuah senyuman untuk mengantar kepergian ku. "
Bibir A Fei yang menukik kebawah langsung melengkung membuat sebuah simpul senyum.
" Nah ini baru cantik. Kau adalah adikku paling cantik. "
" Tentu saja. A Feng akan kesal jika kau memujinya cantik. "
Keduanya tertawa senang menjadikan saudara mereka yang lain sebagai lelucon mereka.
Setelah berpamitan, A Guang segera menaiki gerbong kereta dan pergi meninggalkan istana.
Saat di tengah jalan.
" Paman, aku akan pergi dengan kereta lain. Kau bisa pergi sendiri. "
" Itu berbahaya. Jika terjadi sesuatu dengan anda, maka Yang mulia tidak akan mengampuni ku dan seluruh keluarga ku. "
Menteri pei adalah menteri luar negeri. Ia selalu bertindak hati-hati. Jadi sudah pasti permintaan aneh A Guang langsung di sambut dengan penolakan olehnya.
" Tidak akan ada bahaya jika aku pergi sebagai orang biasa. Mereka yang mengincar ku justru akan berpikir bahwa aku bersama kalian. "
Ucapan A Guang ada benarnya. Jadi Menteri pei sedikit memikirkannya.
Melihat ada sedikit celah. A Guang kembali memberikan dorongan kecil. " Tentu aku tidak pergi sendiri. Aku akan pergi dengan xiao wen. Jadi paman tidak perlu khawatir. Lagi pula aku yakin aku bisa sampai di kerajaan shu jauh lebih cepat dari paman. Jadi aku bisa memeriksa keadaan dan melihat apa yang bisa menjadi bantuan bagi kita untuk mengamankan kerja sama ini. "
Melihat tekad A Guang, akhirnya menteri pei menyerah. " Baiklah, tapi anda harus hati-hati Yang mulia. "
A Guang mengangguk.
" Terima kasih paman. " Setelah itu A Guang turun dan segera menaiki salah satu kuda bersama Xiao wen dan langsung meninggalkan rombongan.
Xiao wen adalah putra sulung Xiao qi. Lebih muda tiga tahun dari A Guang.
lalu dimana junyi?
Sima rui memutuskan untuk membuat pria itu bekerja sebagai kepala pengawal istana. Sesuai dengan pertimbangan ziyan yang ingin junyi memiliki waktu lebih banyak bersama keluarganya.
__ADS_1
" Yang mulia sepertinya kita sudah berada jauh dari rombongan " Ucap Xiao wen melihat ke belakang.
A Guang ikut menoleh. " Benar. kalau begitu ayo kita pergi ke sana. "
Setelah itu keduanya memacu kudanya menuju tempat yang sudah mereka rencanakan.
Dan di sini lah mereka. Sebuah dermaga kecil di pinggir ibu kota. Ia memutuskan untuk pergi ke kerajaan shu melalui jalur sungai.
Jika menggunakan jalur darat maka membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari untuk sampai. Namun jika dengan jalur sungai, hanya membutuhkan lima hari untuk sampai di sana.
Ia bisa menggunakan waktu lima hari itu untuk melihat situasi kerajaan shu. Tapi yang terpenting adalah ia tidak harus menghabiskan waktu di dalam gerbong kereta yang begitu melelahkan.
Setelah melakukan pembayaran, A Guang dan Xiao wen menumpang pada sebuah kapal dagang yang memiliki tujuan sama. Berbaur bersama mereka tanpa canggung.
" Huek! " Tak jauh dari tempat A Guang. Seseorang sedang memuntahkan isi perutnya.
" Dia kenapa? " Tanya A Guang pada xiao wen.
" Sepertinya ia mabuk perjalanan tuan muda. "
Karena sedang bersama orang lain. Maka xiao wen memanggil A Guang dengan sebutan tuan muda.
A Guang memperhatikan pria muda itu. Dari penampilan fisik dan pakaiannya, tak tampak bahwa ia adalah orang negara shu. jadi ia menduga bahwa mereka berasal dari rumpun yang sama.
" Jika mabuk, kenapa ia tetap menaiki kapal? tidakkah dia tahu bahwa itu akan menyiksa dirinya. " A Guang tak habis pikir dengan jalan pikiran orang itu.
Xiao wen tak menyahut. Ia lebih memilih memperhatikan dalam diam.
Terdengar obrolan dari tiga pria paruh baya yang duduk di dekat A Guang.
" Itu bukan hal aneh lagi. Dia selalu melakukan hal yang sama setiap menaiki kapal. "
Ketiganya tertawa. Lalu salah satu kembali berbicara. " Tapi aku benar-benar salut dengannya. Meski ia mabuk parah, ia tetap bertahan dan melakukan pekerjaannya dengan baik. Maka tidak heran di usianya yang masih muda ia sudah menjadi wakil kepala kelompok datang. "
Kedua orang yang lain tampak tak percaya. " Benarkah? Lalu siapa ketuanya? kenapa ia bisa memilihnya sebagai wakil ketua, meski tahu pria itu sangat buruk dalam perjalanan kapal. "
Pria itu mengedikkan bahu, " Aku tidak yakin. Tapi dari yang ku dengar, dia adalah seorang wanita. Ia dulunya hanya pekerja biasa. Lalu lambat laun ia membuka kelompok dagangnya sendiri dan membuatnya semakin besar. Bahkan menjadi salah satu yang terbesar di kerajaan Shu. "
" Sungguh? Wanita itu hebat sekali. Dia mengingatkan ku pada bos zi. Ia juga seorang wanita dan bahkan menjadi wanita terkaya di kerajaan jin. Sayang, tak ada satupun yang tahu identitas sesungguhnya. Andai saja aku tahu. Aku bisa mencoba menjodohkan putra ku. Siapa tahu ia bersedia menjadi menantu ku. "
Tanpa sadar A Guang tersenyum menahan tawa yang hampir saja pecah. Ayahnya pasti mengamuk jika mendengar bahwa ada seseorang yang ingin menikahkan putranya dengan ibu.
Pak tua. Lebih baik simpan angan-angan mu itu. Beruntung aku lah yang Mendengarnya, bukan ayah ku.
" Berhentilah bermimpi. Bos zi sudah ada lebih dari 20 tahun yang lalu. Jika awal mulai usahanya ia berusia 20 tahun maka sudah pasti sekarang usianya hampir setengah abad. Dari pada menikahi putra mu kenapa tidak kau saja yang menikahinya. "
A Guang tertawa terbahak mendengarnya. Ia tak sanggup menahannya.
Ketiga pria paruh baya yang terlibat percakapan itu sontak menoleh pada A Guang dengan tatapan aneh.
" Maaf. Teman ku baru saja membuat lelucon. " Bohong A Guang. Ia menjual Xiao wen sebagai alasan.
Sementara Xiao wen yang di anggap tersangka hanya memandang tanpa ekspresi.
" Lihatlah mereka sungguh lucu. Aku yakin, jika saat ini ayah ku mendengarnya tanpa sungkan ia akan segera menenggelamkan kapal ini. "
__ADS_1
" Kalau begitu jangan sampai Yang mulai tahu. "
Karena bosan A Guang kembali menguping percakapan ketiga orang tadi, dan sesekali tertawa meski tak sekencang sebelumnya.
Akhirnya mereka tiba di dermaga lain di dekat perbatasan.
Untuk sementara kapal akan berhenti sejenak untuk pelaporan sekaligus membuat ijin masuk ke negara selanjutnya, negara wei.
" Bagaimana bisa kita harus membayar lagi. Bukankah biaya masuknya sudah di bayar sekaligus saat kita berangkat tadi. "
" Tidak tuan. Katanya itu untuk biaya keluar wilayah Jin. Sedangkan untuk masuk ke wilayah wei kita harus membayar pajak masuk. "
Tampak raut wajah kesal Gu shang. Ia bukan tidak tahu bahwa ini adalah permainan mereka para tikus pemerintahan.
Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Ini bukan wilayahnya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menerimanya.
" Aku baru sebulan tidak menaiki kapal, dan sudah ada kecurangan seperti ini? " Gumamnya.
A Guang dan Xiao wen memperhatikan interaksi kedua orang itu.
Penasaran, A Guang berjalan mendekati Gu shang.
" Ada apa? kenapa kita tidak melanjutkan perjalanan? " A Guang bertanya.
Gu shang memandang A Guang keseluruhan lalu menatap pada pria yang sejak tadi berbicara dengannya.
" Dia adalah pria yang membayar untuk menumpang ke kerajaan wei tuan. Maaf saya tidak membicarakannya terlebih dulu dengan anda. " Jelas pria yang A Guang ketahui sebagai pemilik kapal.
" Kenapa kau harus meminta ijinnya untuk kami bisa menumpang kapal ini? " Tanya A Guang merasa aneh dengan ucapan pemilik kapal.
" Itu karena kapal ini milik kelompok dagang mereka dan ini adalah tuan Gu shang. Wakil ketua kelompok dagang ini. "
Alis A Guang mengerut. " Tapi bukannya... "
" Ini memang kapal umum. Tapi ini juga kapal milik kelompok dagang kami. Kami juga sekaligus memberikan tumpangan pada orang sebagai biaya tambahan selama perjalanan perjalanan. Mengurus ijin masuk tidaklah murah. Terbukti, sekarang bahkan ada biaya keluar juga. " Jelas Gu sheng.
" Apa itu biaya keluar? Bukankah seharusnya hanya ada biaya masuk? dan kerajaan wei salah satu kerajaan di bawah kekaisaran jin. Tidak seharusnya mereka meminta biaya masuk. "
Gu sheng cukup terkesan dengan pengetahuan A Guang perihal pajak masuk ini.
Ia tidak akan pernah menduga bahwa pria di depannya inilah yang mengatur kebijakan tentang perdagangan jalur sungai.
" Sepertinya kau tahu cukup banyak tentang ini. "
A Guang terbatuk, " Aku hanya belajar, dan secara tidak sengaja mengetahuinya. "
" Jadi apa tindakan kalian? " Imbuhnya.
Gu shang menjawab acuh tak acuh. " Tidak ada pilihan lain selain membayarnya. Akan terlalu membuang waktu untuk berdebat dengan mereka. Karena tidak mungkin hal ini dilakukan oleh satu pihak saja. "
Benar apa yang di ucapkan Gu shang. Bertindak sekarang akan sia-sia, apa lagi belum ada bukti.
Namun A Guang juga tidak akan membiarkan begitu saja. Jika hal ini dibiarkan terus menerus akan berdampak pada perdagangan negara dan juga perekonomian rakyat.
Ia ingat bahwa A Feng berada di perbatasan. Karena itu Ia memutuskan akan mengirim surat padanya agar melakukan pemeriksaan tentang masalah ini.
__ADS_1