
Sima Feng meminta bawahannya untuk membawa pemilik toko obat ke sebuah restauran. Namun ia tidak segera menemuinya melainkan membiarkannya menunggu sementara dirinya makan bersama Liu Ru, Sima Fei, putranya dan juga Gu Feifei di sisi lain ruangan.
" Tuan, apakah setelah aku mengenali suara wanita itu kau benar-benar akan melepaskan aku. " Tanya pemilik toko itu ketakutan. Bagaimana tidak? ia secara tiba-tiba di seret dan di bawa oleh orang asing saat ia sedang bekerja.
" Tentu saja. Aku hanya ingin kau memberi tahu ku suara wanita itu. Tapi ingatlah, jangan mencoba berbohong atau bermain trik. Kau akan menyesal jika melakukannya. " Suara dingin bawahan Sima Feng semakin membuat nyali pemilik obat itu menciut.
Ia mulai memaki wanita misterius itu. Jika bukan demi mencari identitasnya , ia tidak akan mengalami semua kemalangan ini. Jadi di masa depan, ia tidak akan pernah mau lagi menjual obat atau pun racun apapun pada wanita dengan penutup kepala atau pun bercadar. Mereka benar-benar pembawa sial baginya.
Sementara para bawahan Sima Feng menjaga pemilik toko itu, Sima Feng di ruangan samping sudah memulai acara makannya.
Akibat insiden Gu Feifei, suasana kediaman menjadi lebih tenang. Bahkan A Fei yang biasa bicara pun lebih banyak diam, sebagai bentuk protes kecewa pada Sima Feng atas keputusannya yang melarang Liu Ru keluar rumah beberapa hari yang lalu.
Bukankah itu sama saja dengan ia turut serta mencurigai istrinya? seperti itulah yang dipikirkan Sima Fei.
Tak berselang lama pelayan membawa masuk semua makanan yang sudah dipesan Sima Feng.
" A Fei, aku juga memesan makanan kesukaan mu. Makanlah. Kau terlihat lebih kurus sekarang. Aku takut, ibu akan berpikir bahwa aku tidak memberimu makan dengan baik. "
Sima Fei memutar bola matanya dengan malas. " Ibu kita bukan wanita berpikiran sempit. Ia tidak akan menuduh mu sebelum mencari tahu terlebih dahulu. Tidak seperti seseorang yang asal menuduh orang lain bahkan tanpa penyelidikan terlebih dulu. "
" Bahkan korban yang seharusnya terlihat lemah, sudah bisa makan di sini dan memiliki penampilan segar layaknya bunga teratai putih. " Kali ini Sima Fei menyindir Gu Feifei yang terus menunduk sejak tadi.
Kenapa juga saudaranya itu membawa wanita ini ikut serta. Ia benar-benar tak tahu apa isi kepala Sima Feng?
Sima Feng hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar sindiran Saudara kembarnya itu. Lidahnya benar-benar tajam.
Demi rencananya, Sima Feng memilih mengabaikan sindiran A Fei sebelum melanjutkan berbicara pada istrinya, " Wangfei, kau juga makan lah. Aku dengar dari tabib akhir-akhir ini kau tidak nafsu makan dan sering mual karena angin. Jadi aku sengaja memilih sup ini untuk meringankan asam lambung mu. "
Sima Feng memberikan semangkuk sup kepala ikan pada Liu Rui.
Wanita itu tertegun sejenak namun dengan cepat kembali seolah tak terjadi apa-apa. " Terima kasih. Kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa mengambilnya sendiri. " Ucap Liu Ru tersenyum tipis saat menerima mangkuk pemberian suaminya.
' Apakah suaminya ini sudah tahu? ' batin Liu Ru bertanya-tanya.
Sima Feng bisa melihat gelang giok hijau istrinya masih setia melingkar di pergelangan tangannya.
" Wangfei, apakah kau selalu memakai gelang giok ini. " Tanyanya.
Liu Ru mengikuti arah pandang mata Sima Feng dan menjawab. " Tentu saja. Ini gelang pemberian Yang mulia ratu. Sudah semestinya aku selalu memakainya. Kenapa? Apa kau juga menginginkannya? jangan bilang kau ingin merebut gelang ini juga. " Ia menarik tangannya dan segera menyembunyikan gelangnya.
Sima Feng dibuat kehilangan kata-kata, lalu dengan putus asa berkata. " Tenang saja, aku tidak tertarik. Aku tidak ingin gelang wanita. Aku hanya bertanya. "
__ADS_1
Sima Feng tak habis pikir, darimana istrinya ini bisa memiliki pikiran bahwa ia ingin merebut barang yang biasa digunakan oleh wanita tersebut.
Lalu suami Liu Ru itu juga berkata. " Lalu apa kau pernah sehari saja tidak memakainya, wangfei? "
" Aku... "
Baru saja Liu Ru ingin membuka mulutnya, A Fei sudah menyela.
" A Feng, berhenti bertanya. Apa kau tidak tahu bahwa perut ku ini sudah sangat lapar? tanyakan saja nanti setelah kalian tiba di rumah. " Potong Sima Fei tidak sabar.
" Aku tidak tahu. Aku pikir kau sudah kenyang dengan sindiran mu pada ku. " Balas Sima Feng.
Sima Fei berdecak kesal. " Apa kau wanita? kenapa kau begitu pendendam, mengingat segala kesalahan bahkan pada titik terkecil sekalipun. "
Telinga Sima Feng benar-benar sudah kebal dengan segala sindiran Sima Fei. Andai ia tidak seperti itu, sudah pasti saat ini harga dirinya sudah jatuh saat pemimpin ribuan prajurit ini di katakan seperti wanita.
Setelah acara makan menegangkan itu berakhir, Segera Sima Feng menyuruh beberapa pengawal untuk mengawal mereka. Sementara dirinya tetap tinggal di restauran.
" Bagaimana? apa kau sudah mengingatnya? adakah suara wanita itu di antara mereka? " Tanya Sima Feng segera setelah ia tiba.
Pria itu mengangguk patuh. Aura dominasi Sima Feng lebih menakutkan dari pria yang menculiknya. " Wanita yang dipanggil wangfei tadi. Aku sangat yakin bahwa suaranya sama persis dengan wanita itu. "
" Apa kau yakin? " Sima Feng bertanya penuh tekanan, menatap tajam padanya.
Sungguh ia tidak tahu bahwa apa yang di ucapannya ini akan menyulut perselisihan di antara pasangan suami istri itu. Baginya yang terpenting, ia segera pergi dari tempat ini. Persetan apakah ia ingat atau tidak. Karena sejujurnya ia pun ragu.
' Nyonya, maafkan aku. Aku tahu kau memiliki status tinggi. Jadi aku hanya bisa menyalahkan mu. Aku yakin mereka tidak akan berbuat apa-apa pada mu. ' Batinnya menyesal dan meminta maaf.
Ia menarik napas dalam. Sungguh ia masih tidak menyangka jika Istrinya akan bertindak kejam. Bagaimana bisa?
' Apa aku melewatkan sesuatu dalam penyelidikan ini? Kenapa meski beberapa saksi sudah di hadirkan tapi perasaan ku masih saja ragu. ' Batin Sima Feng.
Ia segera memacu kudanya menuju kediamannya dengan kecepatan penuh. Dirinya akan bertanya langsung pada sang istri. Ya itulah yang terbaik, Pikirnya.
" Pangeran? ada apa? " Liu Ru yang melihat kedatangan suaminya dengan ekspresi rumit tak ingin bertele-tele dan memutuskan untuk langsung bertanya.
Sima Feng tak langsung menjawab. Ia menyuruh Xiao Su untuk keluar terlebih dahulu sebelum akhirnya berbicara.
" Apa kau pergi ke toko obat beberapa hari lalu? "
" Toko obat? " ulang Liu Ru sedikit terkejut.
__ADS_1
Bagaimana bisa ia tahu? aku sengaja datang ke toko obat kecil agar tak seorang pun tahu.
Dalam hati, Liu Ru hanya bisa menarik napas dalam, ' sudah pasti ia tahu. Matanya ada di mana-mana '.
" Apa yang kau maksud toko obat di ujung jalan, Yang mulia? Jika iya, maka benar. Aku memang pergi ke sana beberapa hari yang lalu. " Karena suaminya sudah tahu, maka percuma saja mengelak. Maka dari itu Liu Ru memutuskan untuk mengakui.
Ekspresi Sima Feng berubah. Tak percaya jika istrinya benar-benar melakukan hal kejam tersebut.
" Kenapa? Kenapa kau sampai melakukan hal itu. " Tanya Sima Feng, terdengar begitu kecewa.
Kedua alis Liu Ru mengerut. Tak mengerti dengan respon Sima Feng.
Kenapa? kenapa katanya? tentu saja untuk membeli obat, apa lagi?
Namun sepertinya apa yang Liu Ru pikirkan berbeda dengan apa yang ada di pikiran Sima Feng.
" Sebenarnya ada apa? Apakah aku salah membeli obat di sana? "
" Kau masih bertanya? apakah hati mu sudah berubah menjadi gelap hanya karena kehadirannya. Sungguh Liu Ru aku bahkan tak mengenal mu. " Setelah berkata demikian, Sima Feng bergegas pergi.
Liu Ru tercengang. Masih tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
' Apakah ia marah karena aku belum mengatakan mengenai kehamilan ku ini? aku memang membeli obat di sana sebagai penguat janin. Tapi kenapa hal itu justru membuat hatiku gelap? apa ia ingin aku menggugurkan janin ini karena ia berniat mengambil selir. '
Semakin memikirkan, hal itu semakin membuat hati Liu Ru sakit. Bagaimana bisa pria itu begitu tega padanya.
" Ibu, ayo kita kembali ke ibu kota. " Suara tiba-tiba Sima Yi membuat Liu Ru tersadar dari lamunannya. Ia segera menoleh dan melihat bocah empat tahun itu sudah berdiri dengan ekspresi khawatir.
Liu Ru tersenyum lembut. " Xiao Yi? ada apa nak? kenapa kau ingin kembali ke ibu kota? apakah kau tidak suka tinggal disini bersama ibu? "
Xiao Yi menggeleng lalu berjalan mendekat dan dengan lembut berkata. " Bu, ayo kita pergi. Mari kita kembali hidup berdua seperti dulu. Dimana ibu tidak akan menangis lagi karena ayah ku yang sangat tidak becus itu. " Bocah itu berkata sembari mengusap air mata yang keluar tanpa Liu Ru sadari.
Melihat air mata ibunya, hati Sima Yi sakit. Seolah sebuah kaca yang retak secara tiba-tiba dan kemudian hancur.
Merasakan sentuhan lembut tangan sang putra di pipinya. Liu Ru semakin ingin menangis. Bukan karena sedih, melainkan bahagia melihat putranya begitu menyayanginya.
Ia tersenyum dan memegang tangan kecil Xiao Yi. " Baiklah. Ayo kita pergi. Tapi bukan untuk hidup berdua. Tapi mari kita kembali ke ibu kota. Ibu akan mengantar mu ke sana. "
*********
Catatan Author :
__ADS_1
Tinggal beberapa Bab lagi, dan akan bersambung ke side story terakhir tentang sima Fei, ditunggu ya..