Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 115


__ADS_3

Feng xiao mengikuti langkah cepat sima yan kembali ke istananya. Ia bingung dengan tuannya yang tampak begitu kacau setelah kembali dari ruang baca Raja.


' Apakah pangeran baru saja bertengkar dengan Yang mulia raja ' pikir feng xiao.


" Pangeran, apa anda baik-baik saja? " tanya feng xiao penasaran.


Sima yan diam tanpa menjawab pertanyaan feng xiao, hingga mereka sampai di depan pintu ruang baca miliknya. " Kau pergilah, aku ingin sendiri. " Ucap Sima yan yang kemudian menutup pintu begitu saja membiarkan feng xiao yang tampak kebingungan.


Sima yan menyugar rambutnya kasar. Wajahnya tampak terlihat frustasi. Berpikir bahwa cintanya telah berkurang, namun nyatanya masih begitu besar dan kini terasa menyakitkan mengetahui wanita yang di cintai nya itu akan menikah dengan sang kakak.


Sima yan membuka ruang rahasianya. Disinilah ia selalu melampiaskan rasa rindunya. Lukisan ziyan yang selama ini menjadi obat hati di kala cinta nya yang tak akan pernah bersambut.


Sima yan mengusap lembut lukisan ziyan. " Kenapa harus kau yang mengisi hatiku? " gumam Sima yan.


Hatinya benar-benar sakit. Ia merasa dadanya seakan terhimpit hingga untuk bernapas pun sulit. Berusaha memukul dadanya namun sesak itu tak kunjung hilang. Tak terasa air matanya jatuh. Biarlah dirinya menangis untuk malam ini. Ia ingin mencurahkan semua perasaannya untuk terakhir kali.


Berbeda dengan Sima yan yang frustasi. Suasana hati Sima rui justru sedang bahagia setelah mengungkap keinginannya tersebut pada sang ayah. Ia harus secepatnya mengikat gadis itu, tak akan ia biarkan gadis itu pergi dari sisinya.


*******


keesokan harinya, Setelah rapat harian di pengadilan istana. Sima shao benar-benar mengajak Mo yincheng bicara.


" Apakah ada hal penting yang ingin Yang mulia bahas denganku? " tanya tuan mo pada raja sekaligus sahabatnya itu yang sejak tadi justru sibuk memberi makan ikan koi di kolam.


" Benar. Masalah yang sangat penting menteri Mo. "


" Silakan anda katakan Yang mulia. Saya akan siap memberi saran untuk masalah Yang mulia. " Mo yincheng pikir masalah yang akan ia dengar mengenai masalah negara. Tapi ternyata itu di luar dugaannya.


" Rui er kemarin menemui ku. Ia ingin pernikahannya dengan Yan er di percepat. Bagaimana menurutmu yincheng? "


Hampir saja cangkir di tangan yincheng jatuh begitu mendengar ucapan raja. Pembicaraan mereka benar-benar di luar dugaan. Sebelum menjawab, yincheng menyesap teh nya berharap pikirannya menjadi lebih tenang.

__ADS_1


" Sebagai sahabat sekaligus ayah calon istri putraku, aku merasa harus membicarakan hal ini padamu. " Lanjut Sima shao.


" Apakah pangeran pertama mengatakan alasan kenapa ia ingin mempercepat pernikahannya Yang mulia? " tanya tuan Mo.


" Tidak. Aku tidak menanyakan hal itu. Apa mempercepat pernikahan mereka membutuhkan alasan? Aku pikir itu tidak masalah, lagi pula cepat atau lambat mereka juga pada akhirnya akan menikah? " Sima shao merasa karena pertunangan mereka adalah wasiat yang harus di jalankan. Jadi tidak masalah jika di laksanakan lebih cepat.


" Selain itu. Aku cukup puas dengan putri mu. Ia bahkan sanggup mencairkan hati putraku yang seperti pohon besi itu. " lanjut Sima shao yang kemudian terbahak mengingat perubahan putranya tersebut.


Yincheng tak bisa berkata-kata lagi. Karena memang cepat atau lambat pernikahan mereka akan terjadi. Tapi apa yaner akan setuju? Jika putrinya tidak setuju, apa yang harus ia lakukan?


" Putriku masih banyak kekurangan. Meski begitu saya senang anda puas dengan putri ku Yang mulia. Setelah kembali ke mansion, saya akan menyampaikan berita bahagia ini padanya. " Yincheng tersenyum saat menanggapi ucapan Sima shao. Tapi jauh di dalam, ia merasa sedikit ketakutan kalau-kalau sang putri menolaknya.


********


Sesampainya di kediaman Mo, yicheng segera melangkah menuju halaman barat, tempat di mana ziyan tinggal. Pelayan yang melihat kedatangan tuan besar mereka, segera membungkuk memberi hormat. Namun yincheng sama sekali tidak melihatnya dan terus berjalan menuju ruang kerja ziyan.


Melihat tuan besarnya datang, Xiaoqi membungkuk hormat.


" Apakah nona mu ada di dalam xiaoqi? " Tanya tuan mo.


Namun sebelum xiaoqi kembali mengeluarkan suaranya, ziyan sudah lebih dulu menyuruhnya untuk membiarkan sang ayah masuk. " Ayah masuklah. "


Yincheng segera masuk begitu xiaoqi membukakan pintu, dan Lu yi sang ajudan menunggu di luar bersama xiaoqi.


Ziyan tersenyum menyambut sang ayah. " Duduklah ayah. Apa gerangan yang membuat ayah sampai datang kesini? Aku bisa datang ke halaman utara jika ayah ingin membahas sesuatu. " Sebagai anak, seharusnya ia yang datang pada orang tuanya, bukan sebaliknya.


"Tidak apa. Maaf mengganggu pembicaraan penting kalian. "


" Tidak tuan mo. Apa yang aku bicarakan dengan yaner bukan hal penting. Kami hanya membahas rumah yang sedang ia siapkan sebagai tempat tinggal ku nanti. " jelas lucy.


Tuan mo sudah tahu mengenai identitas lucy yang sebenarnya. Ia juga sudah dengar mengenai kepindahan lucy. Meski sebenarnya ia tidak keberatan jika kerabat putrinya itu tinggal di mansion nya. Namun ia tahu bahwa lucy mungkin merasa tidak enak hati jika terus menerus tinggal di sini.

__ADS_1


" Bagaimana persiapan rumahnya? Apakah kau tidak membutuhkan bantuan ayahmu ini Yaner. "


Ziyan menggeleng. " Terima kasih atas tawaran ayah. Tapi aku tidak ingin merepotkan ayah. Lagi pula semuanya sudah selesai. Bibi mungkin bisa pindah besok lusa. " jelas ziyan.


Tak lama pintu kembali terbuka, yaoyao membawa teh dan beberapa cemilan untuk tuan mo.


Yincheng mengambil gelas dan segera menuangkan teh ke dalamnya. Ia ingin melegakan tenggorokanya sebelum membahas masalah yang sejak tadi menjadi beban pikirannya.


Ziyan melihat ayahnya tampak tidak tenang. Ketenangan yang selalu ia tampilkan seakan menguap.


" Ayah apa ada yang mengganggu pikiranmu? " tanya ziyan.


" Ah, a-apa? tidak. Ayah hanya memiliki sesuatu yang harus ayah bicarakan padamu. " Jawab tuan mo sedikit terbata karena terkejut.


Ziyan berpikir mungkin ayahnya tidak nyaman berbicara karena keberadaan bibinya lucy.


" Bibi, maaf. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti. " ucap ziyan.


" Tidak masalah. " Lucy sadar, mungkin keberadaannya membuat tuan mo tidak nyaman. Jadi ia memutuskan pergi terlebih dulu membiarkan ayah dan anak itu berbicara.


Namun saat lucy berdiri, yincheng justru mencegahnya pergi.


" Tidak. Anda jangan pergi. Karena apa yang akan aku bicarakan ini berhubungan dengan Yaner. Dan sebagai bibi kandungnya, anda berhak mendengar dan memberikan pendapat. "


Lucy dan ziyan saling berpandangan. Mereka penasaran apa yang sebenarnya akan di bicarakan oleh pemimpin keluarga mo itu.


"Jadi, masalah apa yang membuat ayah terlihat begitu tidak nyaman? " Tanya ziyan kembali.


Tuan mo menarik napasnya lalu menatap sang putri. " Baru saja Yang mulia menemui ayah. Mengatakan bahwa pangeran pertama... " tuan mo berhenti sejenak. Sementara lucy dan ziyan menatap pria itu tanpa berkedip.


" ... ingin mempercepat pernikahan kalian. " tuan mo melanjutkan.

__ADS_1


Hening.


Tidak ada yang berbicara setelah tuan mo menyelesaikan ucapannya.


__ADS_2