
Segera setelah A Fei tiba di desa, ia ditangani oleh tabib terbaik dan juga obat-obat terbaik. A Fei yang sempat tak sadarkan diri akhirnya bisa terbebas dari pantauan malaikat maut. Dan perlahan kondisinya membaik setelah beberapa hari.
Kabar penyerangan itu pun akhirnya sampai di telinga keluarga Sima.
Sima Rui jelas yang bereaksi paling keras. Hari itu juga ia memerintahkan Sima Feng untuk menjemput A Fei.
" Ayah, aku baru tiba satu minggu yang lalu dan ayah ingin aku kembali ke sana lagi? " Sangat jelas ekspresi keberatan di wajah sang putra mahkota. Belum lagi dengan tumpukan pekerjaan yang menunggu di meja kerja karena kepergiannya tempo hari. Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya sakit.
" Aku akan meminta Jinfu untuk mengirim A Fei. Itu jauh lebih efisien dari pada aku sendiri yang melakukan perjalanan ke sana. " Akhirnya Sima Fei mengungkapkan opsi lain yang menurutnya lebih baik.
Namun opsi tersebut tidak mendapat sambutan baik dari Sima Rui.
" Bajingan kecil. Adik mu baru saja lepas dari maut tapi kau sama sekali tidak peduli dengannya? "
Alis Sima Feng berkedut. " Ayah, apa kau sedang mengutuk saudara ku? " Celetuk Sima Feng dan itu berhasil membuat pemberat kertas Sima Rui melayang ke arahnya. Beruntung Sima Feng mampu menghindar.
" Berhenti bicara. Kau membuat ku semakin marah. " Pekik Sima Rui.
Sima Feng hanya bisa menghela napas ketika mendengar keluhan ayahnya. Ia sebenarnya tahu, alasan utama kenapa ayahnya mudah tersulut emosi. Dan ini ada hubungannya dengan sang ibu.
Baru-baru ini, Arthur datang kekaisaran Jin dan itu membuat Sima Rui cemburu. Meski interaksi Ziyan dan Arthur terbilang wajar, namun tidak bagi Sima Rui. Pria itu masih posesif dan tak ingin membagi waktu istrinya. Jangankan untuk pria lain bahkan anak-anaknya pun ia selalu membatasi.
" Ayah, A Fei adalah saudara kembar ku. Kami sudah bersama sejak di dalam kandungan. Mustahil jika aku tidak peduli. Aku hanya melakukan ini sekaligus untuk memantau seseorang. "
" Siapa yang sedang kau pantau? " Kedua alis Sima Rui mengerut dan matanya menyipit saat mendengar alasan putranya.
" Jingu, pengawal A Fei. Aku merasa dia tak sesederhana hanya seorang bandit. Ada beberapa hal janggal akhir-akhir ini. Awalnya aku berpikir jika insiden dimana tanpa sengaja ia membunuh pembunuh A Guang adalah sebuah kecelakaan tapi setelah penculikan yang terjadi dengan A Fei itu membuatku berpikir lain. "
Sima Rui masih terus menyimak sementara A Feng terus menjelaskan.
" Hari ketika aku menemukan A Fei, Jingu sudah lebih dulu disana. Li Chenlan dan juga pengawalnya juga ditemukan tewas di tempat dengan anak panah menembus jantungnya. "
" Lalu peristiwa penyergapan A Fei kemarin. Keempat penjaga bayangan terlatih yang ku pilih sendiri terluka parah namun Jingu hanya mendapat beneran goresan kecil. Bukan aku meremehkan kemampuan Jingu, tapi ke empat penjaga bayangan terpilih itu juga tidak lah lemah. "
"Jadi maksud mu? " Raut wajah Sima Rui sudah berubah gelap seolah bisa membaca kemana arah pembicaraan A Feng.
__ADS_1
" Ayah benar. Kemungkinan besar para pembunuh itu ada hubungannya dengan Jingu. Namun yang tidak aku mengerti, kenapa dia justru menyelamatkan A Fei kemarin? "
" Jadi kau mengawasi Jingu untuk mengetahui motif dia yang sesungguhnya? "
Sima Feng mengangguk. Seperti biasa, ayahnya selalu tahu apa yang ingin ia sampaikan tanpa harus menjelaskan secara detail.
" Aku juga sudah memerintahkan seseorang untuk menyelidiki kampung bandit. Aku yakin sekali akan mendapatkan banyak informasi penting di sana. "
Meninggalkan istana, di tempat lain.
" Huft... " Entah sudah berapa kali A Fei menghela napas. Berhari-hari ia hanya berbaring di tempat tidur dan itu membuatnya jenuh.
" Aku merasa sebentar lagi akan berubah menjadi wanita jompo jika lebih lama berada di tempat tidur. " Keluh A Fei pada Xiao Er.
Sang pelayan setia terus mendengarkan dan menjawab dengan kalimat yang sama.
" Kau harus bersabar putri. Tabib berpesan agar kau sepenuhnya beristirahat dan tidak turun dari tempat tidur... "
" Karena racun ular hampir merusak otot kaki ku. " Sela A Fei memotong ucapan Xiao Er. " Kau sudah memberitahu ku ratusan kali sampai aku hapal apa yang akan kau katakan. "
Sebuah ketukan membuat keduanya menoleh. Begitu pintu terbuka, kepala Jingu menyembul masuk.
" Putri, apa kau bosan? " A Fei mengangguk pasti sementara kedua mata Xiao Er menyipit mencium sesuatu yang mencurigakan.
Jingu masuk dengan seringai, membuat Xiao Er semakin yakin bahwa pria itu membawa pengaruh buruk. Dan benar saja, kalimat Jingu selanjutnya membuat Xiao Er ingin sekali menendangnya keluar saat itu juga.
" Aku tahu kau bosan putri karena itu secara khusus aku meminta seseorang membuat kursi roda. Jadi kau bisa berkeliling tanpa harus berjalan menggunakan kaki. "
Xiao Er menepuk keningnya. Ia tahu pria ini membawa pengaruh buruk.
" Benarkah? " Kedua mata A Fei berbinar. " Tapi dari mana kau dapatkan benda itu. "
" Aku memesannya khusus untuk mu, putri. " Jingu menjawab malu-malu. " Aku pikir kau akan lebih cepat sembuh jika menghirup udara segar. Udara kamar terlalu pengap. Selain itu stres juga bisa membuat proses penyembuhan semakin lama. "
" Kali ini aku setuju dengan mu. Aku juga merasa kesehatan ku justru berjalan mundur beberapa hari ini. "
__ADS_1
A Fei merasa Jingu begitu memahaminya seolah keduanya memiliki pikiran yang saling terhubung.
" Jingu, hentikan. Putri tidak boleh turun dari tempat tidur. Apakah kau tak mendengar pesan tabib? " Xiao Er mencoba menghentikan niat buruk keduanya.
" Aku mendengarnya. Putri tak boleh turun dari tempat tidur agar tak menggerakkan kakinya. Sementara aku mengajak putri keluar tanpa membuatnya menggerakkan kakinya. Jadi apa yang salah? "
Jingu menambahkan. " Lagi pula, selain kita harus menjaga kesehatan fisik putri, kita juga harus memperhatikan kesehatan mentalnya. "
Xiao Er kehilangan kata-kata. Ketika dua orang di depannya ini bersatu, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Segera Jingu membopong A Fei ala pengantin. Wanita itu secara reflek merangkul leher Jingu. Begitu dekat wajah keduanya. Baru kali ini A Fei melihat wajah Jingu dari jarak dekat. Membuat wajahnya tanpa ia sadari langsung bersemu merah. Jantungnya juga seolah hendak melompat keluar karena berdebar kencang.
Deg deg,
' Duh, sepertinya jantungku juga sakit. Ini tidak bagus, apa ini karena efek racun ular. ' Batinnya saat organ terpenting tubuhnya itu terus berpacu dengan cepat.
Tidak jauh beda dengan A Fei, hal itu juga di alami oleh Jingu. Bahkan indera penciumannya bisa mencium harum tubuh A Fei yang seketika membuatnya berhasrat, juga sukses membuat otaknya menghasilkan imajinasi liar dan berhasil membangunkan benda mungil di bawah perutnya untuk berdiri tegak. Sungguh mesum sekali Jingu, ia sampai mengutuk dirinya yang terlalu cabul.
Bersama dengan suasana canggung. Jingu menurunkan tubuh A Fei dengan lembut ke atas kursi roda yang seluruhnya terbuat dari kayu.
Jingu sebagai pangeran meminta salah satu bawahannya untuk membuatkan sebuah kursi roda. Itulah kenapa dalam waktu singkat benda itu sudah jadi.
" Putri, apa kau masih bosan? " Tanya Jingu disela ia mendorong kursi roda A Fei.
" Meski tidak sepenuhnya mampu menghilangkan rasa jenuhku, setidaknya pikiran ku menjadi jauh lebih segar. Terima kasih Jingu. "
" Aku senang, jika kau menikmatinya Putri. Maaf karena tidak bisa membawa mu keluar dan hanya keliling kediaman ini. "
" Tak masalah. "
Jingu hanya membawa A Fei berkeliling manor. Kantor sekaligus kediaman kabupaten tempat tamu negara menginap memang tidak terlalu luas. Meski begitu manor ini memiliki halaman tengah terbuka seperti istananya dimana menjadi tempat untuknya bersantai.
Dari jauh, Jinfu memperhatikan interaksi keduanya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perasaannya tidak nyaman saat melihat A Fei tersenyum manis pada Jingu.
Ia tahu jenis perasaan ini. Perasaan yang dulu pernah ia rasakan pada A Hua.
__ADS_1