
" Yang mulia... Yang mulia... " Panggilan Xiquan membuat lamunan Li Chenlan seketika buyar.
Pria itu tersentak, terkejut dengan pikiran yang baru saja terlintas di kepalanya. Tak pernah ia bayangkan dirinya akan memiliki pikiran untuk membunuh xiquan.
Pria itu melihat wanita yang sedang bergelayut manja padanya dengan perasaan campur aduk.
" Yang mulai anda mau pergi lagi? " Tanya Xiquan saat Li Chenlan tiba-tiba saja berdiri.
" Masih banyak hal yang harus ku lakukan. " Jawabnya acuh tak acuh.
" Tidak bisakah malam ini anda menginap di sini. Sudah dua hari anda tidak berkunjung. Apakah karena aku kehilangan putra kita, membuat mu enggan berada di sini? andai bukan karena putri mahkota, anak kita pasti tidak akan.."
" Cukup! " Li Chenlan menoleh, " Berhenti menyalahkan orang lain. Kau seharusnya tahu betul kenapa kau bisa keguguran. Aku memang bukan laki-laki baik, tapi aku lebih membenci wanita kejam yang bahkan tega membunuh darah dagingnya sendiri. "
" A-apa maksud mu Yang mulia. " Wajah Xiquan berbuah pucat.
" Berhenti berpura-pura Xiquan. Aku tahu, kau sendiri yang menambahkan obat penggugur itu di makanan A Fei. Lalu menjebak pelayannya agar semua orang berpikir bahwa putri mahkota yang memberikan perintah padanya untuk melakukan itu. Tapi sepertinya kau lupa, bahwa ini adalah istana ku, dimana dinding bahkan menjadi mata dan juga telinga ku. "
Wanita itu kini benar-benar pucat. Wajahnya pias tak menyangka jika Li Chenlan mengetahui skemanya.
" Kau membuat ku kecewa. " Desis Li Chenlan.
" Jika kau kecewa, lantas kenapa kau tak memberitahu Yang mulia raja kebenaran ini. Ah, tentu saja karena itu percuma saja. "
Li Chenlan melampiaskan kemarahannya melempar sebuah guci yang ada didekatnya. Seketika benda tak bersalah itu hancur berkeping-keping.
" AKHH... " teriak Xuqian terkejut sekaligus takut.
" Dan karena tindakan bodoh mu ini, semua rencana ku hancur. Apa kau tahu itu? " Pekik Li Chenlan meluapkan amarahnya.
" Sial! " Setelah puas mengamuk, Li Chenlan pergi begitu saja meninggalkan Xuqian yang menangis terisak.
Di sisi lain, situasi tidak berbeda juga terjadi pada A Fei. Berita meninggalnya Xiao San menjadi kabar buruk untuknya. Seolah benda berat baru saja menimpanya.
Segala usaha yang sudah ia lakukan ternyata menjadi sia-sia. Hingga akhir napasnya, A Fei bahkan belum bisa menemuinya.
Di depan jasad Xiao San, A Fei menangis tergugu. Pelayan yang sudah bersamanya sejak kecil kini terbaring tak bernyawa di depannya, yang terburuk seluruh tubuhnya penuh luka siksaan. Jelas sekali bahwa para petugas itu sudah menyiksanya dengan kejam.
Ada kilatan kebencian di mata A Fei. Ia berjanji akan membalas semuanya. Tapi sebelum itu, ia harus menyelesaikan semuanya terlebih dulu.
Menghapus air matanya, A Fei bangkit kemudian menitipkan jasad Xiao San pada Xiao Er dan segera melangkah pergi.
" Aku ingin bertemu putra mahkota. "
" Maaf putri Mahkota, tapi Yang mulia sedang tidak ada di tempat. " Jawab salah seorang pengawal.
" Dimana dia? "
" Ada apa kau mencari ku? " Sela Li Chenlan tiba-tiba. A Fei menoleh dan menemukan suaminya baru saja datang.
" Ayo kita bicara. "
Keduanya masuk ke ruang kerja Li Chenlan, tak ada percakapan di antara mereka padahal sudah lebih dari dua hari mereka tak bertemu. Hanya ada keheningan hingga akhirnya A Fei mulai berbicara.
" Mari kita bercerai. " Segera A Fei mengutarakan maksud kedatangannya.
Tangan Li Chenlan yang sedang mengangkat teko terhenti seolah ucapan A Fei adalah tombol pause yang menghentikan seluruh gerakan.
Sebelumnya ia memang sudah mengatakannya pada Raja dan hal ini sudah mendapat persetujuannya. Sangat jarang memang keluarga kerajaan melakukan perceraian. Tapi itu juga bukan sesuatu yang dilarang.
" Tidak akan ada perceraian. " Tolak Li Chenlan tanpa melihat A Fei, meletakkan teko dan mendorong cangkir yang sudah ia isi ke depan A Fei.
" Kenapa? apa karena kau tak bisa lagi menggunakan ku. Aku tahu kau hanya memanfaatkan ku dan Fu xiquan untuk menstabilkan kedudukan mu saat kelak menjadi raja. Aku juga tahu, kau hanya memanfaatkan Xiquan untuk mengikat perdana menteri. Kau juga memanfaatkan kekuatan Kekaisaran Jin untuk menekan Perdana Menteri. Kau benar-benar pria manipulatif. "
Li Chenlan yang sejak tadi tak melihat A Fei langsung menengadah dan melihat wanita didepannya dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
" Tidak perlu terkejut. Aku juga tahu kau sengaja bersikap dingin dengan ku dan memberikan lebih banyak perhatian pada Xuqian semata-mata untuk membuat ku aman dan aku hargai itu. Itulah kenapa selama ini aku tetap tenang dan masa bodoh meski orang-orang berpikir bahwa kau lebih menyayangi selir mu. "
" Tapi sayangnya kau lupa, bahwa sifat serakah dan ambisi seseorang mampu mendorong manusia untuk melakukan hal diluar batas. Termasuk melenyapkan darah daging sendiri demi mencapai tujuan mereka. "
" Sebelumnya sudah ku katakan, bahwa jika sampai terjadi sesuatu dengan Xiao San, aku juga akan bertindak diluar batas. Karena itu mari kita bercerai. Dengan perceraian aku tidak akan terikat dengan Kerajaan wei. "
' Setidaknya aku bisa diam-diam membunuh perdana menteri. Tanpa takut menyinggung hukum kerajaan wei. ' Tentu saja kalimat ini tidak ia katakan secara lantang.
Li Chenlan tahu apa yang akan dilakukan A Fei. Ia sebenarnya tak ingin menghalangi wanita itu, tapi hatinya begitu berat jika harus merelakannya.
Hubungan yang di awali dendam itu perlahan berubah. Sikap acuh tak acuh dan pertengkaran mereka entah sejak kapan justru memberikan warna berbeda di hidup Li Chenlan.
Kata perceraian seolah berubah menjadi sebuah ganjalan berat yang menggantung di dadanya yang membuatnya sulit untuk bernapas.
" Akan ku pikirkan. Tolong beri aku waktu. "
A Fei menatap heran pria yang masih berstatus suaminya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Meski begitu, A Fei memilih untuk mengabaikannya.
" Baiklah. Aku akan memberimu waktu dua hari. "
A Fei keluar tanpa menoleh pada Li Chenlan, hal itu membuat hati pria itu semakin sesak.
" Ada apa dengan ku sebenarnya? apakah karena aku akan kehilangan semua manfaat dari Kekaisaran Jin karena itu perasaan ku menjadi tidak nyaman. " Monolog Li Chenlan sembari menepuk dadanya yang terasa sesak.
Dua hari berlalu dengan sangat lambat. Baik Li Chenlan dan juga A Fei tengah sibuk dengan urusan masing-masing.
Kasus keguguran Xiquan juga dianggap selesai dengan kematian Xiao San. Gadis malang itu harus meregang nyawa tanpa mendapatkan keadilan.
Jika ditanya, apa penyesalan terbesar A Fei, maka ia akan menjawab menjadi Putri Mahkota yang tak memiliki kekuatan bahkan sekedar melindungi pelayannya pun ia tak sanggup.
Meski secara hukum kekuasaan tertinggi berada di tangan raja, tapi sosok raja wei yang datang tiba-tiba tidak sanggup menekan kekuasaan perdana menteri yang sudah menggurita dengan banyak tentakel itu.
" Ayah, bisakah aku menyerah sekarang.. " Gumam A Fei ditengah lamunannya.
********
" Apakah memang sesulit itu melawan perdana menteri Fu? jika terus seperti ini, aku takut raja wei akan semakin terdesak. Bukankah nasib putri kita juga akan sulit. " Ziyan bertanya dengan khawatir.
Perseteruan politik jelas berbeda dengan peperangan. Jika perang bisa dengan mudah di selesaikan dengan membunuh musuh. Tapi tidak dengan politik, uang dan juga kekuasaan memegang kendali.
Perdana menteri Fu memiliki kekayaan besar karena sebagian ekonomi Kerajaan wei di sokong oleh bisnis keluarga Fu.
Pernikahan Sama Fei dan putra mahkota Wei diputuskan selain karena A Fei yang menyukai Li Chenlan, tapi juga untuk membantu Yan menekan perdana menteri Fu. Sayangnya itu masih tidak cukup.
" A Fei sudah berbicara dengan raja Wei dan ia sudah mengijinkan perceraian putri kita. Tampaknya kematian Xiao San cukup menjadi pukulan berat baginya. "
Ziyan dan Sima rui paham. Putrinya tumbuh tanpa mengenal kejamnya kehidupan istana. Orang mungkin berpikir secara mental ia lemah, tapi bagi kedua orang tuanya, A Fei bukanlah lemah, ia hanya terlalu berhati lembut terlebih jika menyangkut orang terdekatnya.
" Kau benar. Aku yakin putri kita sudah banyak belajar dari kejadian ini. Kalau begitu minta A Feng untuk menjemputnya. Aku takut, perdana menteri Fu mungkin akan melakukan sesuatu pada A Fei. "
Sima rui mengangguk mendengar permintaan istrinya. Segera ia mengirim surat untuk putra keduanya yang ada di perbatasan.
Perceraian A Fei dan Li Chenlan akhirnya terjadi. Putra mahkota sebenarnya tak ingin perceraian ini, tapi ayahnya terus mendesak dan tak ada pilihan baginya untuk menolak.
Hubungan pernikahan yang baru berjalan kurang dari empat bulan itu harus kandas dengan mudah. Mungkin memang sejak awal, A Fei tidak menginginkan pernikahan ini, entahlah ia sendiri juga tak paham dengan jalan pikirannya.
A Fei mungkin berpikir bahwa ini adalah akhir dari hubungannya dengan Li Chenlan, tapi sayangnya ini adalah awal dari kehancuran Li Chenlan.
A Fei kembali ke Kekaisaran Jin setelah saudaranya, A Feng datang menjemputnya.
Setelah kepergian A Fei, hari-hari Li Chenlan berubah. Hidupnya terasa hampa seolah ada sesuatu yang hilang. Diam-diam ia sering mengunjungi istana putri mahkota untuk tinggal selama beberapa saat baru setelahnya kembali ke istana putra mahkota.
Perdana menteri terus mendesak Raja Wei untuk mengangkat putrinya sebagai putri mahkota, namun hal itu mendapat penolakan dari Li Chenlan. Ia bahkan tak pernah lagi mengunjungi Xiquan. Perlahan, istana milik sang selir tersebut berubah menjadi istana dingin.
Beberapa kali, Xiquan mencoba mengundang dan melakukan beberapa trik untuk membuat Li Chenlan datang, sayang semua usaha keras tersebut di abaikan oleh pria itu.
__ADS_1
Putra mahkota Wei itu justru beberapa kali mengirim surat untuk A Fei. Namun tak ada satu surat pun yang dibalas olehnya.
Pernah A Fei bertanya pada Ziyan,
" Bu, kenapa perasaan ku pada putra mahkota Wei tidak bertahan lama? begitu mudah menguap terlebih setelah tahu kesalahannya. "
Ziyan hanya tersenyum. " Itu karena kau tidak benar-benar mencintainya. Kelak kau akan mengerti apa itu cinta sejati setelah menemukan orang yang benar-benar kau cintai. "
Karena itulah A Fei benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengan Li Chenlan.
Namun hal sebaliknya, pria yang ingin dibuang A Fei itu justru ingin mengejarnya kembali. Li Chenlan baru menyadari perasaannya setelah wanita itu pergi. Dan ia bertekad akan membuatnya kembali menjadi istrinya.
********
" A Fei, apa kau mendengar ucapan ku. " Suara Xuxiang menarik kembali kesadaran A Fei yang sempat melalang buana di masa lalu. Dimana dirinya menikah dan menjadi putri mahkota Wei. Mungkin karena pengaruh kejadian akhir-akhir ini, membuatnya kembali teringat dengan masa lalu.
" Maaf kakak ipar, aku tidak mendengarnya bisa kau ulangi. "
Semenjak kematian A Guang, A Fei terlihat lebih banyak melamun. Gadis itu juga tak seceria sebelumnya.
Xu xiang berjalan mendekat dan duduk di samping sang adik ipar. " Jangan terus melamun. Kakak mu akan sedih jika kau seperti ini. Kau boleh bersedih, tapi jangan terus berlarut-larut. "
" Kakak ipar, bukankah kau juga masih sering menangis? "
Xu xiang mungkin menangis diam-diam dan berpikir bahwa tak ada orang lain yang tahu. Tapi ternyata dugaannya salah.
Wanita yang berstatus kakak iparnya itu tersenyum getir. Matanya bahkan kembali berkaca-kaca. " Terkadang berbicara itu jauh lebih mudah dari pada melakukannya. Aku mungkin mengatakan pada semua orang untuk mencoba mengikhlaskan, tapi pada kenyataannya aku sendiri masih sangat sulit untuk menerima kematiannya. "
" Namun setelah teringat kembali keberadaan anak ini, perasaan sedih itu akan perlahan memudar. Berpikir bahwa A Guang setidaknya tidak meninggalkan ku seorang sendiri. Ia masih peduli dengan ku karena itu ia meninggalkan anak ini di perut ku. "
" Anak ini segalanya bagi ku, dia adalah hidup ku. " Xu xiang tersenyum hangat meraba perutnya yang masih tampak rata.
A Fei bisa melihat kebahagiaan di wajah Xu xiang. Meski jejak kesedihan masih sangat jelas terlihat, tapi tak sebanyak kebahagiaannya ketika membahas anak di perutnya.
Setelah kematian A Guang, Xu xiang memutuskan untuk kembali ke negara Shu. Ia ingin menata kembali hatinya. Tentu saja pada awalnya gagasan tersebut di tolak oleh seluruh keluarga Sima, terutama Ziyan dan Sima Rui. Tapi setelah usaha keras Xu xiang membujuk mereka, akhirnya mereka pun mengijinkannya.
" Kakak ipar, jangan lupa untuk sering-sering mengirim surat. "
" Tentu saja. Keluarga ku disini, sudah pasti aku akan sering-sering memberi kabar. "
A Fei dan Xuxiang saling memberikan pelukan perpisahan.
" Xu xiang, jangan lupa untuk menjaga diri mu, dan jangan lupa untuk kembali. Meski A Guang telah tiada, aku masih ibu mu, seluruh keluarga Sima masih keluarga mu. Jangan lupakan itu. "
" Aku akan selalu mengingatnya bu. "
" Hati-hati. " Hanya dua kalimat itu yang Sima Rui katakan.
" Tidak bisakah kau berkata lebih panjang Yang mulia. "
Xuxiang tersenyum melihat perdebatan kedua mertuanya itu. " Tidak apa-apa bu. Ayah ikut mengantar kepergian ku, itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih ayah. " Sima Rui mengangguk.
Setelah itu Xu xiang beralih pada keluarga kecil A Feng.
" Aku berharap kau dan A Feng bisa hidup bahagia seperti ayah dan ibu. " Ucapnya pada Liu ru.
" Kau juga kak. Jangan lupa untuk mengirim surat. Kita bisa membahas seputar kehamilan bersama melalui surat. " Xuxiang mengangguk, kemudian melihat pada A Feng.
" Kakak mu pasti sangat senang, karena keinginannya sudah tercapai. Aku yakin kau akan menjadi putra mahkota yang hebat di masa depan. "
" Terima kasih. " Sama dengan ayahnya, Sima Feng juga tak banyak bicara.
Kepergian Xuxiang membuat keluarga Sima kembali suram. Meski begitu mereka mencoba mengerti dengan situasi mantan putri mahkota Jin itu.
Pergi dengan membawa keturunan Sima, diam-diam Sima Rui dan Ziyan sepakat untuk menempatkan penjaga bayangan untuk melindungi mereka.
__ADS_1