
Campur aduk,
Itulah perasaan yang dirasakan A Guang dan A Hua saat ini. Kepala mereka berdua menengadah memandang pintu gerbang kokoh akademi. Lalu lalang murid lain yang hendak memasuki akademi mulai melihat keduanya yang cukup menarik perhatian tersebut. Bukan karena mulut keduanya yang mangap karena takjub namun karena paras A Hua yang mampu mengalihkan pandangan siapapun yang melihatnya.
Dan ya, secara kebetulan, dua anak remaja 18 tahun itu baru saja terdaftar pada akademi tersebut.
" Lihatlah bi, berkat ide gila mu. Kita berdua terjebak dalam kekacauan ini. " Gerutu A Guang masih menatap nanar pintu akademi.
" Ini bukan ide gila, tapi ide cemerlang. Kau tak akan bisa menikmati dunia luar jika bukan karena ide ku ini. " Balas A Hua dengan bangga.
" Benar, dan aku menyukainya. " Keduanya saling menatap dan menyeringai.
Kekacauan ini bermula dua hari yang lalu.
Flashback on
" Kau ingin sekolah di akademi? " Ziyan terkejut saat putra pertamanya meminta ijin agar diperbolehkan masuk ke akademi miliknya.
Akademi swasta yang ziyan bangun setelah kembali dari desa lingguang. Awalnya masih sebatas sekolah swasta kecil dengan beberapa ruang sebagai asrama dan tempat belajar. Karena bertujuan untuk menampung anak-anak yang menjadi korban di desa lingguang. Namun setelah beberapa tahun, sekolah milik ziyan itu semakin besar. Berkat serikat dagangnya yang semakin besar pula, pemasukan ziyan pun semakin banyak. Ia bisa membangun tempat baru untuk memperluas akademinya.
Ziyan menoleh pada suaminya yang tengah menatap A Guang dengan pandangan yang mengisyaratkan ' Masalah apa lagi yang sedang kau rencanakan nak? '
Saat ini keluarga kecil ziyan sedang menikmati sarapan pagi mereka. Berbeda dengan keluarga kerajaan lain, ziyan menerapkan peraturan khusus untuk keluarganya agar selalu berada dalam satu meja saat waktu makan tiba. Ia tahu bahwa hal ini sangat jauh berbeda dengan cara yang dilakukan anggota kerajaan sebelumya. Namun ziyan tidak peduli, baginya bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya lebih lama itulah yang terpenting.
A Guang menyampaikan keinginannya yang membuat ziyan dan Sima rui terkejut. Mereka pikir A Guang hanya bercanda dan ingin bermain-main.
" Kenapa kau ingin masuk akademi? Apa kau sudah tidak ingin belajar dengan paman Mo? Akademi bukan tempat untuk bermain. Di sana kau juga tidak bisa berbuat sesuka hati. Semua sama, para guru tidak melihat latar belakang dari murid yang mereka didik. Yang membuat berbeda adalah ini. " Ziyan menunjuk kepalanya. Memberitahu A Guang bahwa kecerdasan lah yang menjadi tolak ukur perbedaan.
" Aku tidak main-main bu. Aku ke sana juga bukan karena kemauan ku, tapi justru sebaliknya, Paman Mo lah yang menyuruh ku masuk akademi. ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki bahan untuk mengajari ku lagi. Karena itu paman menyuruhku agar masuk ke akademi. Terserah mau akademi Kekaisaran atau akademi swasta milik ibu. " Jelas A Guang.
" Benarkah? " Tanya ziyan menyelidik. Matanya menyipit mencari jejak kebohongan dimata puteranya.
Tahu jika sang ibu tidak percaya, A Guang kembali membuka suaranya. " Ibu bisa bertanya dengan paman Mo untuk memastikan. "
" Baik, nanti ibu akan bicara dengan paman mu. "
A Guang mengedikkan bahu seolah mengatakan 'silakan'.
" Ibu, aku juga ingin ke akademi bersama kakak. "
" Aku juga. "
Dua anak ziyan yang lain ikut membuka suaranya. Sepasang anak kembar yang dilahirkan 13 tahun lalu, Sima Feng dan Sima Fei. Itu berarti saat ini usia A Guang sudah 18 tahun.
" Kalian anak kecil jangan mengikuti ku. Belajarlah disini dengan paman Mo. Jika kalian sudah pintar sepertiku barulah kalian masuk ke akademi. Tugas kalian di rumah menjaga ibu dan ayah. " A Guang sudah terlebih dulu menolak permintaan kedua adiknya sebelum ziyan berbicara.
" Ibu sudah dijaga oleh ayah, jadi tidak memerlukan penjagaan kami lagi. Justru sebaliknya, kau yang harus di jaga kak atau kau akan membuat akademi ibu rubuh sebelum kau menikmati hari kelulusan mu nanti. " Sanggah A Fei.
" Itu benar. Aku setuju dengan A Fei. "
Mendengar pembelaan dari saudara kembarnya yang dingin, senyum gadis itu mengembang. "Terima kasih A Feng. Aku menyayangi mu. "
__ADS_1
Tidak membalas, A Feng justru memutar matanya malas. Ia merasa geli mendengar ungkapan sayang dari bibir saudarinya. Tapi sungguh, dalam hati ia sangat menyayangi saudari kembarnya itu.
Dan A Fei tidak marah, ia tahu betul bagaimana sifat saudaranya itu
" Jangan berwajah jelek kak. Apa yang aku katakan itu benar. Coba saja kau tanyakan pada ibu. " Melihat wajah jelek A Guang. Sima Fei melihat ke arah ziyan mencoba mencari dukungan.
Namun sia-sia, sang ibu juga berpikir sama dengan A Guang. Jadi ia memilih untuk pura-pura tidak melihat. Merasa di abaikan sang ibu, A Fei melihat pada Sima rui. Sang ayah yang tak pernah bisa menolak permintaan putri kesayangannya itu dilema. Ia juga sama seperti ziyan yang masih enggan melepas putrinya keluar.
Jadi dengan cepat, otak Sima rui berputar mencari alasan yang tidak menyakiti perasaan putrinya.
Sima rui berdehem. " Putriku, jika kau pergi ke akademi, lantas siapa yang akan menemani ayah menyambut utusan Kerajaan wei. Ayah dengar, pangeran wei ikut serta dalam rombongan kali ini. "
Wajah A Fei bersemu merah, saat mendengar kalimat sang ayah.
" Apakah itu benar ayah? "
Sima rui mengangguk sebagai tanggapan.
" Baiklah, kalau begitu aku tidak ikut kakak ke akademi. " A Fei langsung putar haluan membatalkan niat awal dirinya.
Sementara saudara kembarnya A Feng mencebikkan bibirnya dengan sikap adiknya tersebut.
" Dasar wanita, baru sedetik yang lalu mengatakan ingin ke akademi, lalu detik berikutnya tidak ingin. Aku yakin dengan sikap seperti bunglon ini, pangeran wei tidak akan menyukai mu. " Cibir A Feng. Sia-sia tadi ia membelanya didepan kakaknya, A Guang.
" Kenapa kau sewot. Kau bisa pergi ke akademi bersama kak A Guang. Tidak perlu kita harus pergi berdua. " Balas A Fei tak kalah sengit seolah melupakan ungkapan sayang yang baru saja ia lontarkan tadi.
" Kenapa harus pergi dengan ku. Aku tidak mau. A Feng, jika kau ingin pergi, tanyakan dulu pada paman Mo. Apakah ia setuju kau pergi ke akademi atau tidak. " Tolak A Guang.
Sementara ketiga anaknya terus berdebat, ziyan dan Sima rui makan dengan tenang, tanpa merasa terganggu dengan kegaduhan yang setiap pagi terjadi.
Bahkan para pelayan yang melihat interaksi keluarga tidak kecil kaisar mereka itu, ikut tersenyum bahagia. Cerminan keluarga bahagia yang sangat jarang mereka lihat di keluarga mana pun.
A Guang menemui A Hua di istananya. Gadis berparas cantik itu muncul dengan wajah antusias.
" Bagaimana? Apa mereka mengijinkannya? "
A Guang mengedikkan bahu, " Entahlah. Aku sudah berusaha keras. Untuk hasilnya, kita tunggu saja. Lalu apa kau sendiri sudah berbicara dengan kakek. "
Gadis cantik itu tersenyum lebar. " Tentu saja belum. Aku lebih memilih berbicara dengan ibu. Berbicara dengan ayah hanya akan berakhir dengan hasil menyedihkan karena sudah pasti ayah tidak akan mengijinkannya. "
A Guang mengangguk paham. Pasalnya di keluarga sang bibi atau kakek neneknya, pemegang kekuasaan tertinggi ada di tangan neneknya.
********
Sementara di ruang baca kaisar,
" Jadi apa keputusan mu ratu ku? " Tanya Sima rui pada ziyan yang saat ini berada di ruang bacanya mengantar kudapan ringan untuknya.
" Aku akan memberi ijin. Setidaknya A Guang bisa bersosialisasi dengan anak lain dan belajar hal baru di sana. Tapi dengan satu syarat. "
Sima rui menatap ziyan, menunggu sang istri yang menjeda ucapannya.
__ADS_1
' Pasti sesuatu yang menarik. ' Batin sima rui saat sang istri mengatakan syarat.
" Aku ingin identitas A Guang dan A Hua di sembunyikan. "
Benar dugaannya, sang istri selalu memiliki seribu cara untuk membuat putranya menderita.
Kemudian ziyan kembali menambahkan. " Memang benar akademi melarang seorang murid menggunakan latar belakang keluarganya. Namun nyatanya hal tersebut hanya sekedar teori. Dalam prakteknya, pihak sekolah tetap melihat latar belakang seorang murid. Sungguh membuat ku kecewa. Karena itu, bertepatan dengan permintaan A Guang, aku berencana melakukan pembersihan dari oknum-oknum yang merusak nama akademi. "
Sima rui tertawa kecil. " Dan kau ingin menjadikan putramu sebagai umpan? "
Bukannya marah, Sima rui justru sangat setuju dengan ide istrinya tersebut.
" Kau benar suami ku. Putra mu merupakan umpan yang pas. Sikap susah diaturnya pasti akan membuat para guru kelimpungan. "
" Dan kau senang saat putra mu menerima hukuman? "
" Setidaknya jika hukuman dan kesalahannya sesuai aku tidak akan marah. Tapi jika berat sebelah dan memihak pihak yang salah. Maka saat itu juga aku akan turun tangan. Sudah lama juga aku tidak muncul ke muka umum sebagai bos zi. "
" Baiklah. Lakukan apapun yang membuat mu senang. Jika timbul masalah, dan kau tak ingin menyelesaikannya. Berikan pada suami mu ini. "
Ziyan tertawa mendengar ucapan suaminya. Jika kebanyakan suami akan marah ketika istri mereka menciptakan suatu masalah. Berbeda dengan sima rui yang justru senang saat sang istri membuat masalah.
Seorang kasim datang dan memberitahukan bahwa salah satu menteri datang untuk membicarakan upacara penyambutan utusan kerajaan wei.
" Katakan padanya kembali lagi setelah setengah jam. "
Dan segera kasim beranjak pergi untuk menyampaikan pesan sima rui.
" Kenapa tak menemuinya? aku bisa keluar. " Ucap ziyan kurang setuju dengan keputusan suaminya yang menunda pekerjaan.
Ziyan tahu bahwa kedatangan utusan Kerajaan wei ini cukup penting, meski hampir setiap tahun mereka selalu datang.
" Aku tidak suka saat waktu kebersamaan dengan istriku di ganggu. Biarkan mereka menunggu. Kerajaan sudah membayar mereka dengan gaji tinggi. "
Dan ziyan tidak bisa berdebat untuk fakta tersebut.
Teringat ucapan suaminya saat makan pagi tadi, ziyan bertanya. " Kau mendukung A Fei dengan pangeran wei? "
Pangeran wei adalah putra sulung Rong feiyue dengan Sima yan, ah tidak, sekarang ia bermarga Li. Mengikuti marga mantan permaisuri. Li chenlan, lahir dua tahun setelah kelahiran A Guang.
" Tidak. Bocah itu tidak pantas untuk A Fei. " Jawab sima rui tanpa keraguan.
" Lalu? kenapa kau membuat janji itu? "
Menghela napas, Sima rui berbicara. " Menolak permintaan A Fei sangat berat untuk ku. Karena itu aku menawarkan hal itu. Hanya sebatas menemani menyambut tidak lebih. "
" Kenapa tidak mempertimbangkannya sebagai calon suami putri kita. Aku lihat pangeran wei tidak buruk. " Saran ziyan.
" Tidak buruk berbeda dengan terbaik. Aku ingin putri kita mendapatkan pria terbaik sebagai suaminya. Yang mencintai dan melihat A Fei seorang. "
" Jika kriteria seperti itu. Maka aku akan memiliki menantu yang mirip dengan mu. " Ziyan terbahak, lalu mengecup singkat pipi suaminya. " Aku pergi. Ini sudah setengah jam berlalu. "
__ADS_1