
' Perdana menteri? Jadi dia anak paman Jiang wu. ' A Guang membatin.
Jiang wu menjadi perdana menteri setelah Perdana Menteri sebelumnya Jiang He, ayahnya terpaksa mundur.
" Aku rasa kau harus mengerti arti kata diam. " Sungut Jinfu kesal. Lalu menoleh pada A Guang dan A Hua.
" Aku yakin nona Fu tidak sengaja menabrak Han dong. Jadi lebih baik permasalahan ini tidak perlu di perpanjangan. " Suara Jinfu lebih lembut dari sebelumnya saat dirinya berbicara dengan Han dong.
A Guang mencebik, " Itu kan memang yang sejak tadi kita lakukan. " Gumamnya pelan.
Tanpa menjawab ucapan Jinfu, A Guang menarik tangan A Hua pergi.
" Jie, ayo kita pergi. " Ajaknya sembari melewati ketiga pria di depannya.
Jinfu hanya bisa membiarkan gadis yang baru saja mencuri hatinya itu berlalu. a menyeringai melihat punggung A Hua yang semakin jauh.
Aku akan menbiarkannya pergi untuk sementara waktu, batinnya.
" Lu Shen, cari tahu dari marga Fu mana Fu Hua berasal. " Titah Jinfu pada temannya yang lain. Kemudian melirik Han dong. " Mulai sekarang jaga mata mu Han dong. Kau tahu apa maksud ku bukan? " Tekan Jinfu sembari menunjuk temannya tersebut.
" Aku tahu. Maaf. " Ucap Han dong terpaksa. Keduanya tangannya yang tersembunyi mengepal kuat.
Ia sebenarnya tidak menyukai sikap Jinfu. Hanya karena dia putra perdana menteri, membuatnya bisa berbuat sesuka hati. Dan Han dong cemburu. Ia menempeli pria itu hanya karena statusnya. Setidaknya bersama Jinfu, orang-orang tidak akan memandang rendah dirinya. Dan hari ini di depan semua orang, Jinfu mempermalukannya. Semakin bertambahlah kebencian dalam dirinya pada laki-laki itu.
' Mo Guang. Ini semua karena laki-laki itu. ya benar, gara-gara dia. Aku berjanji akan menghajarnya setelah ini. ' Geram Han dong dalam hati. Karena tak bisa melakukan apapun pada Jinfu, jadi ia akan melampiaskan kekesalannya pada Mo Guang.
Kembali pada A Guang.
" Benar-benar sial. Baru juga hari pertama tapi sudah mendapatkan masalah. " Gerutu A Guang setelah jarak mereka cukup jauh.
A Hua tertawa kecil. Keponakannya yang kadang suka meledak-meledak itu sudah berusaha keras menahan amarahnya, meskipun itu tidak berlangsung lama. A Guang yang sejak kecil menjunjung tinggi harga dirinya. Benci jika seseorang merendahkannya. Karena itu A Hua awalnya ragu, apakah A Guang bisa tinggal di akademi tanpa menggunakan statusnya sebagai putra mahkota.
" Anggap saja kau belajar bersabar. Seharusnya kau lihat A Feng. Dia jauh lebih berkepala dingin dibanding diri mu. Bukan maksud ku membandingkan kalian, tapi itulah kenyataannya. "
" Aku tahu bi. Ka- aw. Kenapa kau memukul ku. " Pekiknya. A Guang mengusap kepalanya yang di pukul A Hua.
" Jiejie. Sudah ku katakan panggil aku Jiejie. " Tekan A Hua. " Tadi sudah benar, dan kenapa sekarang kembali lagi. " gumam A Hua tak habis pikir.
A Guang berdecak. " Ck.. Kau ini benar-benar menolak senioritas. Lagi pula itu memang kenyataannya, kau bibi ku bukan kakak ku. "
" Tetap saja aku tak ingin orang lain menganggap ku tua karena menjadi bibi mu. "
__ADS_1
" Baiklah. Jie... jiejie.. " Balas A Guang dengan nada mengejek.
A Hua tersenyum, meski ia tahu bahwa A Guang sedang mengejeknya.
" Ingat ya, setelah ini kita akan mendapatkan pembagian kamar asrama. Berusaha bersikap baiklah dengan teman sekamar mu. Ingat! Jangan sampai kita dijemput paksa oleh kakak ipar. Aku tak ingin semua yang sudah ku rencanakan berakhir sia-sia. "
" Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan Jie? " A Guang menyipit penuh selidik.
Menyadari dirinya sudah terlalu banyak berbicara, segera A Hua mengelak dan meninggalkan A Guang yang kembali kesal karena ditinggalkan begitu saja.
A Guang dan A Hua berpisah menuju kamar masing-masing. Selama enam bulan, mereka akan tinggal di Akademi dan hanya di perbolehkan pulang hanya pada saat akhir pekan.
A Guang melihat pintu yang di yakini adalah kamarnya. Tanpa mengetuk dan permisi, A Guang membukanya.
Tubuh A Guang seketika membeku saat melihat pemandangan di depannya. Begitu pun dengan orang di seberang A Guang. Wajah keduanya berubah pias seolah baru saja melihat hantu.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun A Guang segera menutup pintu dan bergumam.
" Dadanya, kenapa dadanya menonjol seperti dada wanita?"
Pemandangan indah tadi kembali berputar di kepala A Guang. Adegan dimana seorang pria tengah berganti pakaian. Namun yang aneh, Meski di balut kain, dada pria itu sedikit menonjol.
" Milikku rata. " Kemudian membayangkan kembali adegan tadi. Diremasnya lagi dada miliknya. " Benar-benar rata. "
Lalu ia menoleh pada pintu di belakangnya, dilihatnya nomor pintu dan papan yang ada di tangannya.
" Nomor kamarnya benar. Apakah aku buta arah, hingga tak mampu membedakan antara timur dan barat? "
Timur adalah asrama laki-laki dan barat adalah asrama perempuan.
A Guang melihat sekitar dan mayoritas murid yang lalu lalang di sana adalah laki-laki. Jadi faktor kemungkinan bahwa ia buta arah dan salah nomor kamar terbantahkan.
Lalu apa tadi? Meski seumur-umur baru kali pertama melihat pemandangan tadi. Tapi berkat otak encernya, segera A Guang menangkap apa yang sebenarnya terjadi. Ia yakin bahwa teman sekamarnya adalah seorang wanita.
A Guang memutuskan untuk kembali masuk. Namun tidak seperti tadi, kali ini ia mengetuk pintu terlebih dulu. Setidaknya ia harus memastikan kejadian tadi tidak terulang kembali.
Meski A Guang lebih menyukai kebebasan dan bertindak sesuka hati. Namun percayalah, ia selalu menjaga sopan santunnya. Itu semua tertanam berkat didikan kedua orang tuanya.
Tok Tok Tok
" Bolehkah aku masuk. " A Guang bertanya.
__ADS_1
" Masuklah. " Suara dari dalam memberikan ijin.
A Guang segera masuk lalu tidak lupa menutup kembali pintunya.
Keduanya masih tampak diam dengan kecanggungan yang sudah sampai di level siaga tiga.
A Guang bisa melihat rekannya itu sudah berpakaian layaknya seorang laki-laki.
Ia berdeham. Sungguh dirinya bingung saat ini. Tidak tahu harus berbuat apa. Saat mulutnya hendak mengeluarkan suara. Orang di seberangnya sudah lebih dulu berbicara.
" Apa yang kau inginkan agar menutup mulut mu. " Pria itu, bukan, tapi wanita itu sudah berkata dengan nada menekan.
A Guang yang tadinya hendak bersikap simpati dan akan merahasiakannya jadi urung karena sikap wanita itu. A Guang mengerti bahwa ia pasti bertindak sejauh ini karena suatu alasan. Setidaknya itulah yang ziyan ajarkan. Bahwa jangan menilai segala sesuatu terlalu cepat. Apapun yang orang lain lakukan, pasti memiliki alasannya.
" Aku tidak kekurangan apapun hingga harus memintanya pada mu. Kau tenang saja, aku tidak peduli dengan urusan mu, jadi jangan khawatir bahwa aku akan mengatakan hal ini pada orang lain. " Pungkas A Guang sembari menuju ranjangnya.
Ia juga menambahkan. " Aku juga tak mungkin meminta kamar lain. Karena akan mengundang pertanyaan lain mengenai alasan kenapa aku melakukannya. Jadi lebih baik seperti ini."
Namun saat meletakkan barangnya, otak A Guang baru teringat bahwa kamar asramanya hanya memiliki satu tempat tidur.
ia menoleh dan melihat pada rekan satu kamarnya yang sayangnya adalah seorang gadis.
" Aku tidak tahu dan tak ingin tahu apapun yang membuat mu menyamar menjadi laki-laki. Tapi hanya ada satu tempat tidur disini jadi-. "
" Aku akan tidur di lantai. " Gadis itu langsung menyela sebelum A Guang menyelesaikan ucapannya. Ia sadar diri bahwa dirinya yang bersalah dalam situasi tersebut. Jadi ia memilih untuk mengalah. Sudah untung teman satu kamarnya itu memahami akan situasi dirinya.
Melihat kesungguhan gadis itu, A Guang dengan senang hati mengangguk setuju.
' Baguslah, setidaknya aku tidak perlu tidur di lantai. ' Batin A Guang.
Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.
A Guang ingin mengenalkan dirinya, namun ia tidak tahu harus memulai dari mana.
" Kita akan menjadi teman sekamar. Karena itu, alangkah baiknya jika kita saling mengenal satu sama lain. " Gadis itu mulai berbicara mengusir kecanggungan.
A Guang mengangguk setuju.
" Aku Guli nala. Tapi kau bisa memanggilku Na la. Maaf, aku memiliki suatu alasan kenapa sampai memalsukan identitas ku. Tapi percayalah, aku tidak memiliki maksud jahat. Aku hanya membutuhkan tempat untuk berlindung. " Papar na la.
A Guang melihat mata cerah Na li tengah menatapnya. Tak ada jejak keraguan, dan itu membuktikan bahwa gadis itu tidak berbohong.
__ADS_1