
" Bagaimana? Apa ada pergerakan. " Sima Feng berjalan melewati Ling He. Setelah puas memandangi wajah istrinya. Ia pun kembali ke kamp militer seperti biasa.
Ling He yang sedang terlihat santai sembari merebahkan badannya itu tersentak dan dengan sigap berdiri.
Pengawal pribadinya itu baru saja menggantikannya berada di tenda sementara dirinya menyelinap keluar menemui Liu ru.
" Benar dugaan anda Yang mulia. Ada mata-mata di pasukan kita. Itulah kenapa kita selalu gagal menyerang markas mereka. Kemungkinan besar pergerakan kita sudah di ketahui oleh pasukan wei. "
" Apa kau sudah tahu orangnya? "
Ling he mengangguk. Namun saat akan bersuara, Tiba-tiba Sima Feng mengangkat tangannya, tanda menyuruhnya untuk diam.
Lalu dengan gerakan mata seolah memberitahu bahwa ada orang lain di dekat tenda. Seolah mengerti, Ling He segera keluar untuk melihat siapa tikus tersebut.
"Maaf pangeran, orang itu sudah pergi. " Lapornya begitu masuk kembali.
" Lupakan. Lebih baik kita lakukan rencana kita secepatnya. Sudah terlalu lama aku membuang waktu mengikuti permainan mereka. Aku rasa tikus itu juga sudah mulai sadar akan keberadaan mereka yang sudah kita ketahui. "
" Baik. Saya akan menyiapkannya. "
Sebenarnya Sima Feng bisa membaca apa yang sedang musuh mereka rencanakan. Selain itu ia mulai curiga bahwa ada mata-mata dalam pasukannya setelah beberapa kali mengalami kegagalan.
Dan setelah ini, ia akan memberikan kejutan besar dan serangan tak terlupakan untuk pasukan Wei.
" Liu ru tunggu aku. Secepatnya aku akan menemui mu. " Gumamnya lirih.
********
Di kediaman Sima Feng.
Masih seperti biasa, Liu ru akan menghabiskan harinya hanya berputar pada tidur, makan, berjalan di sekitar kediaman, dan akhirnya tidur lagi. Hal itu berulang hingga akhirnya rasa bosan Liu ru tak terbendung lagi, seolah-olah rasa itu dapat meledak kapan saja.
__ADS_1
" Xiao Su, ayo kita ke kota. Sungguh, jika aku terlalu lama berdiam diri di tempat ini. Aku yakin tak lama lagi aku akan gila karena bosan. " Liu ru benar-benar merasa hari seolah berjalan mundur karena terlalu membosankannya kehidupan di manor.
Andai ia masih berada di ibukota. Ia masih bisa bergaul dengan kakak atau adik iparnya, atau juga bermain dengan putra kesayangannya. Tapi disini, bahkan para pelayan begitu berani dan tak segan-segan membicarakannya di belakang.
" Saya akan membuat pengaturan. Silakan nyonya tunggu sebentar. " Tanpa bertanya lagi, Xiao Su segera meminta kepala pelayan untuk menyiapkan kereta kuda.
" Apakah ada tempat yang ingin anda datangi nyonya? "
Liu ru berpikir sejenak. Ia tidak kekurangan uang. Tunjangan harian sebagai istri pangeran tentu bukan nominal kecil. Apalagi semenjak menikah, ia bahkan belum menikmatinya selayaknya istri bangsawan.
Jadi dengan dagu terangkat ia menjawab. " Tidak peduli kemana.. Mari kita lubangi kantong pangeran. "
Karena ingin bersenang-senang, ia mulai mendatangi satu persatu toko besar dan juga mewah.
Kini Liu ru dan Xiao Su sudah berada di sebuah toko pakaian terbesar di kota. Meski ia pernah tinggal di perbatasan sebelumnya, tapi itu berada di desa terpencil. Berbeda dengan saat ini. Sima Feng menyiapkan kediaman mereka dan itu terletak di pusat kota. Meskipun tak seramai ibu kota, tapi itu jauh lebih baik dari desa dimana ia tinggal bersama paman dan bibinya dulu.
Karena begitu semangat, Liu ru hampir lupa sudah berapa toko dan banyak barang yang sudah dibelinya.
Kereta kuda mereka kini sudah penuh sesak dengan barang-barang itu. Bahkan untuk menyelipkan badan mereka saja rasanya mustahil.
" Tentu saja mengirim mereka ke ibu kota. Ini semua berang-barang untuk putra ku dan seluruh anggota keluarga Sima. " Enteng sekali Liu ru menjawab. Ia bahkan tak peduli dengan berapa banyak yang ia habiskan hari ini.
Liu ru benar-benar melakukan pekerjaan terbaiknya sebagai istri Sima Feng. Apalagi jika bukan membelanjakan uang suami dan menunjukkan baktinya pada kedua mertua dan iparnya.
Ini juga sebagai bentuk protes pada pria itu karena telah menelantarkannya tanpa sekalipun datang untuk sekedar melihatnya.
Meski sejujurnya kata menelantarkan terdengar kurang pas. Karena nyatanya Liu ru masih menikmati kemewahan sebagai istri seorang pangeran.
' Lihatlah. Aku akan menghabiskan uang mu. Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu karena sama sekali tak mengunjungi ku. Bahkan mengirim surat pun tak pernah. ' Kesal sekali Liu ru saat ini.
Ia tidak sadar bahwa sesungguhnya rasa kesal dan kecewanya adalah bentuk lain dari rasa kesepiannya selama ini. Dan ia berjanji, jika pria itu kembali, ia akan benar-benar memakannya.
__ADS_1
Ketika pikirannya sedang penuh dengan kekesalan akan Sima Feng. Ia melihat pemandangan yang menarik perhatian.
" Nyonya, anda mau pergi kemana? " Seru Xiao Su saat mengikuti liu ru ke arah kerumunan orang yang berada tak jauh dari mereka.
Tampak dua orang sedang beradu argumen di sana. Tepat di depan pintu sebuah klinik.
" Beraninya kau berkata bahwa klinik ku penipu. Sudah bagus aku memeriksa ibu mu dan menarik biaya dengan harga murah. Dan kau sekarang menuduh ku telah menipu mu. " Bentak pria paruh baya dengan kumis seperti lele tersebut.
" Harga murah apa yang kau katakan. Kau memberikan harga sama seperti tabib lain. Dan kau juga membuat kondisi ibu ku semakin buruk. Ibuku bukannya sembuh justru semakin parah setelah minum obat dari sini. " Tak terima atas penyangkalan lawannya, pemuda itu berkata tak kalah tinggi.
Pria berkumis itu berbicara sembari menunjuk pada sang pemuda " Lalu kau menyalahkan ku? Itu bukan salah ku. Tapi salah mu karena terlambat membawa ibumu berobat. Andai kau membawanya lebih cepat, pasti penyakit ibu mu tidak akan bertambah parah. Dan lucu nya kau menyalahkan ku setelah obat ku tak lagi bisa menyembuhkan ibu mu. "
" Tidak, kau berbohong. Jelas-jelas kondisi ibuku tidak terlalu parah saat itu. Aku yakin kau memberikan obat palsu pada ku. "
Keduanya saling beradu argumen, saling menyalahkan. Liu ru sampai bisa melihat cipratan air liur dari keduanya karena adu mulut yang begitu sengit itu.
Mulutnya menjadi gatal hingga akhirnya rasa penasarannya menuntunnya bertanya pada orang asing yang berada di sampingnya.
" Siapa tabib itu? kenapa anak laki-laki itu marah padanya? " Tanya Liu ru tanpa menyembunyikan rasa ingin tahu di wajahnya.
" Itu tabib Meng. Dia salah satu tabib yang cukup terkenal di sini. Anak itu mengatakan bahwa tabib menipunya dengan menjual obat palsu padanya yang membuat kondisi ibunya semakin parah. "
Liu ru manggut-manggut seolah mengerti. " Apakah tabib Meng sering mendapatkan keluhan seperti ini? " Tanyanya lagi. Sudah seperti penyidik ia saat ini.
" Meski tidak sering tapi ada beberapa orang yang mengeluh padanya karena efek obat yang terlalu lambat. Namun itu tak berlangsung lama. Selain itu, semua tuduhan mereka terbantah dengan dalih bahwa mereka membeli obat dengan harga murah yang mana hanya bisa mendapatkan obat dengan kualitas rendah. Karena itulah efek yang diberikan pun tidak sebagus harga obat mahal. " jelas orang itu.
" Segitu mahalkah biaya pengobatan disini? " Keluh Liu tu tanpa sadar.
Orang asing itu menatap aneh Liu ru dan berbicara. " Apa maksud mu? apakah kau tidak pernah sakit dan berobat? tentu saja mahal. Jika tidak, mana mungkin orang ini akan mencari pengobatan murah dan kemudian membuat keributan ini. "
Seolah tahu suasana hati lawannya yang berubah jelek. Liu ru berkata tak enak hati. " Aku terlahir dengan tubuh kuat. Jadi jarang sekali sakit. " Ucapnya beralasan.
__ADS_1