
( Awal semuanya, Ketika A Fei 20 tahun )
Sima Fei, seorang putri yang mampu membuat semua gadis di Kekaisaran Jin merasa iri. Bagaimana tidak? ia merupakan putri satu-satunya kaisar, dengan dua pangeran sebagai kakaknya yang amat memanjakannya. Selama ia hidup, A Fei tumbuh sebagai apel di mata keluarga Sima berikut dengan kasih sayang yang melimpah.
Setelah pertunangan dirinya dengan putra mahkota Wei diputuskan, sejak itu ia berpikir bahwa pria itu akan menjadi satu-satunya lelaki dalam hidupnya. Namun terkadang kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan.
Terlihat rombongan panjang dengan puluhan prajurit mengawal beberapa kereta kuda. Di salah satu gerbong, duduk seorang wanita cantik dengan wajah tertekuk bersama dua pelayan setianya.
" Putri, apa anda ingin berhenti? " Tanya salah satu pelayanan Sima Fei, Xiao Er melihat majikannya tampak tak nyaman.
" Tidak. Sebentar lagi kita akan tiba di Kerajaan Wei. Tak apa bertahan sedikit lagi, itu lebih baik dari pada terus berhenti dan malah membuat penyiksaan ini semakin lama. "
Kereta kuda yang awalnya hendak berhenti itu kembali melanjutkan perjalanan. Gadis itu menuju ke Kerajaan Wei untuk memenuhi janji pernikahannya dengan putra mahkota, Li Chenlan.
Akhirnya rombongan A Fei tiba di Kerajaan Wei. Mereka di sambut langsung oleh Kaisar Wei.
" A Fei, selamat datang di Kerajaan Wei. Semoga kau menyukai Kerajaan ini. " Sambut Li Yan.
Karena menjadi kaisar Wei maka marga Sima Yan juga ikut berubah. Kini dirinya mengikuti marga keluarga kerajaan yang bermarga Li.
" Terima kasih paman raja. Aku pasti akan suka tinggal di sini. "
Kemudian A Fei mengedarkan pandangannya mencari sosok seorang wanita yang sejak tadi tak dilihatnya.
" Dimana bibi Rong, paman? Kenapa bibi tidak datang bersama mu? "
Bibi Rong adalah Rong feiyue, permaisuri kerajaan Wei saat ini.
" Bibi mu sedang kurang sakit. Kau bisa datang menjenguknya nanti. Sekarang lebih baik kau istirahat terlebih dahulu. Aku yakin perjalanan panjang ini membuat mu kelelahan. "
Sima Fei tak menolak karena ia memang merasa sangat lelah. Karena itu, setelah penyambutan sederhana itu, A Fei segera di antara ke istana putri mahkota, dimana dirinya akan tinggal.
" Putri, kenapa aku tidak melihat putra mahkota tadi? apa ia tidak menyambut anda, putri? " Celetuk Xiao San.
" Mungkin dia sedang sibuk dengan urusan Kerajaan. Tidak perlu di anggap serius ketidakhadirannya. " A Fei berpikir demikian setelah mengingat akan kesibukan kakaknya A Guang sebagai putra mahkota.
" Tapi kan, anda sebagai calon istri sekaligus putri mahkotanya yang datang jauh dari Kekaisaran Jin namun putra mahkota sama sekali tidak datang menyambut. Bukankah dia terlalu acuh tak acuh. "
" Xiao San berhenti berprasangka buruk pada putra mahkota. Jangan membuat putri berpikiran buruk. " Sergah Xiao er, pelayan A Fei yang lain.
" Aku buka berprasangka buruk, aku hanya mengatakan isi pikiran ku saja. Putri adalah apel keluarga Sima, tapi putra mahkota Wei sama sekali tak menghormatinya. "
"Xiao San, Xiao er berhenti berdebat. Aku ingin istirahat. Kalian berdua pergilah. " Sela Sima Fei mengusir kedua pelayannya. Sungguh, perjalanan ini membuat seluruh tulangnya seolah rontok.
__ADS_1
Kedua pelayan setia A Fei segera pergi untuk membiarkan putri mereka beristirahat.
Keesokan harinya,
A Fei mengajak kedua pelayannya untuk berjalan di sekitar taman. Ketika dirinya sedang mengagumi bunga, datang seorang wanita asing dengan pelayannya berjalan mendekat pada A Fei.
' Siapa dia? ' Batin A Fei.
Setelah memberikan salam pada A Fei, wanita itu berkata. " Yang mulia, senang bisa bertemu dengan anda. Sudah lama aku ingin melihat seperti apa putri mahkota masa depan kami. "
Sima Fei mengerutkan keningnya. Ia tak mengenalnya, tapi kenapa senyum wanita ini memiliki aura seolah ia tak menyukainya dan berharap bisa mengunyah dirinya menjadi bubur.
A Fei tersenyum canggung, kemudian bertanya. " Kau... siapa? "
Melihat perubahan ekspresi wanita itu, Sima Fei kembali berbicara. " Ah maaf, aku harap kau tidak berpikir aku tidak sopan. Tapi aku masih tidak mengenal banyak orang disini jadi harap kau maklum. "
Wanita itu masih tersenyum namun Sima Fei bisa melihat bahwa itu bukanlah sebuah senyum tulus. Terbiasa bersama kedua saudaranya, membuat naluri A Fei lebih tajam dari kebanyakan orang.
" Tak apa. Aku Fu Xiquan, putri perdana menteri Fu. Kita mungkin akan sering bertemu di masa depan. " Jelasnya memperkenalkan diri.
" Benarkah? senang mengenal mu kalau begitu. Semoga kita bisa menjadi teman. Aku yakin kau pasti sudah mengenalku. "
" Tentu. Putri Fei dari Kekaisaran Jin. Nama mu cukup terkenal disini. "
' Seorang putri manja. ' Tentu ini hanya di ucapkan Fu Xiquan dalam hati.
Fu Xiquan hampir tersedak ludahnya, ia menatap Sima Fei penuh selidik, ' Apakah ia bisa membaca pikiran? '
Setelah perbincangan singkat, mereka berpisah. Ekspresi ramah Fu Xiquan langsung berubah dingin dalam sekejap. Sorot matanya kini menunjukkan aura permusuhan yang dalam.
Di sisi lain, Sima Fei tak banyak bicara. Ia segera menuju kamarnya.
" Putri, berhati-hatilah. Andai bisa, lebih baik jangan berteman dengannya. Aku rasa dia tidak memiliki maksud baik pada mu, putri. " Ucap Xiao er khawatir.
" Kau pun merasakannya? "
Xiao er mengangguk. Aura permusuhan yang begitu kental, bahkan seorang Xiao er mampu merasakannya apalagi dirinya.
" Apa yang kalian berdua katakan? Xiao er, kenapa kau melarang putri berteman dengannya? dia cukup ramah menurut ku. "
' Xiao San kau terlalu naif. ' Baik A Fei dan Xiao er berpendapat sama.
" Sudahlah. Kau lebih baik jangan terlalu dekat dengan wanita tadi. " Saran Xiao er. Rekannya terlalu sederhana. Ia takut wanita itu akan melakukan hal buruk padanya untuk menyakiti putri.
__ADS_1
Sementara di ruangan lain.
Pria yang menjadi topik utama pembicaraan kedua pelayan A Fei kemarin saat ini berada di ruang kerjanya.
Ia tidak bisa menyambut calon istrinya kemarin karena menjalankan tugas dari sang ayah melakukan inspeksi ke luar daerah. Dan hari ini, ia baru saja kembali dan segera kasim kepercayaannya memberikan laporannya.
" Jadi putri Fei sudah berada di istana putri Mahkota? "
" Benar Yang mulia. "
" Lalu apa yang sedang ia lakukan sepanjang hari ini? "
" Putri hanya berjalan di sekitar taman, untuk selebihnya ia habiskan di kamar bersama kedua pelayannya, Yang mulia. "
" Baiklah kau boleh pergi. "
Kasim itu membungkuk hormat sebelum pergi. Ia melirik sekilas wajah Putra Mahkota yang tampak aneh. Namun ia memilih abai kemudian melangkah pergi.
Setelah pintu tertutup rapat. Putra mahkota langsung menatap bawah mejanya. Dimana seorang wanita sedang bermain dengan miliknya. Mencium, mengulumnya dan mendorong maju mundur masuk kedalam mulut si wanita.
" Ahhh... jangan berhenti. Te...rus.. kan.. ahhhh.. " Wajah Li Chenlan mendongak ke atas saat dirinya merasakan sebuah pelepasan. Napasnya tersengal. Matanya sayu, penuh dengan kabut gairah. Tak ada lagi yang bisa ia pikirkan saat ini, akal sehatnya sepenuhnya telah tertutup oleh nafsu.
Li Chenlan langsung menarik wanita itu lalu mendorongnya ke atas meja membuat wajah dan dadanya menabrak permukaan meja. Dengan cepat ia memasukkan miliknya ke dalam lubang surga dunia Wanita itu.
" Ahh.... " Keduanya melenguh merasakan nikmat.
Dalam sekejap, suhu ruang kerja itu berubah panas. Des-ahan dan lenguhan terdengar di setiap sudut ruangan. Li Chenlan benar-benar menggarap wanita itu penuh nafsu, melupakan calon istrinya yang bahkan belum ia temui.
Setelah satu jam lebih pergulatan panas mereka akhirnya selesai.
Wanita itu mengenakan kembali pakaiannya yang sempat berantakan karena ulah Li Chenlan.
" Yang mulia, apakah anda akan benar-benar menikahi putri manja itu dan menjadikannya putri mahkota? " Tanya wanita itu dengan suara manja.
" Tentu saja. Pernikahan kami berdua sudah lama diputuskan. " Santai sekali Li Chenlan menjawab. Sama sekali tak melihat raut wajah wanita itu yang sudah berubah hijau karena cemburu.
" Lalu bagaimana dengan ku? " Wanita itu merajuk tak terima dengan jawaban laki-laki itu. Merasa kesal karena apa yang sudah ia lakukan seolah tak di anggap sama sekali, padahal ia sudah menyerahkan tubuhnya.
" Tentu saja kau akan menjadi selir ku. " Jawab Li Chenlan, kepalanya masih menunduk setia pada dokumen di depannya.
Li Chenlan tahu, wanita itu sedang marah padanya. Namun ia tak ingin repot-repot membujuknya. Bukankah sejak awal dirinya sudah tahu bahwa ia memiliki perjanjian pernikahan dengan putri kekaisaran Jin. Dia sendiri yang datang padanya dan menggodanya.
Li Chenlan tahu betul dengan ambisi wanita itu yang ingin menjadi putri Mahkota. Tapi ia tidak bodoh untuk memilih wanita itu lalu kehilangan semua keuntungan yang akan ia dapatkan bila menikahi A Fei. Baginya wanita itu hanya pantas untuk di jadikan selir tidak lebih.
__ADS_1
Suara wanita itu naik satu oktaf. " Tapi aku tidak... " Belum juga ia selesai berbicara, Li Chenlan sudah memberikan tatapan mematikan pada wanita itu. Membuatnya membeku dengan punggungnya yang sudah berubah dingin.
" Fu xiquan! berhenti! Jangan bertingkah atau kau akan menyesal. " Tekan Li Chenlan yang berhasil membuat wanita seketika bungkam.