
" Saat melewati jalanan sepi, rombongan bertemu dengan perampok. Sebagian pengawal mencoba menghalau serangan dan sebagian lagi melindungi wangfei, putri dan juga pangeran Yi. "
" Pertempuran saat itu berlangsung sengit. Salah satu perampok yang menggunakan cambuk tanpa sengaja mengenai kuda wangfei, membuat kuda yang menarik gerbong wangfei itu tiba-tiba terkejut dan berlari tak tentu arah. "
" Hingga akhirnya gerbong kereta di temukan terjatuh di jurang kecil tengah hutan namun tak ada wangfei di sana. Semua orang masih melakukan pencarian Yang Mulai. " Paparnya pada pangeran kedua Kekaisaran Jin itu.
Lemas sudah tubuh Sima Feng kala mendengar kabar buruk itu. Seolah seluruh tulangnya serentak berubah menjadi jeli. Sima Feng terduduk lemas dengan tatapan kosong.
Raut wajahnya benar-benar menunjukkan bagaimana terpukulnya dirinya saat ini. Kabar hilangnya Liu Ru berhasil mengguncang jiwanya. Membuat pria itu semakin membenci dirinya sendiri. Ia mulai menyalahkan dirinya, andai saat itu ia lebih percaya atau mendengarkan penjelasan Liu Ru atau bersedia menemuinya mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Tapi semuanya kini percuma. Semua pilihan 'atau' itu sama sekali tidak berguna. Semuanya sudah terjadi. Liu Ru nya sudah hilang.
Tiba-tiba, Sima Feng merasakan dadanya sakit. Ia mencengkeram kuat dadanya seolah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya.
" Yang Mulai, anda tidak apa-apa? " Tanya kepala pelayan Hu khawatir melihat sang majikan yang memegang dadanya terlihat menahan sakit.
Sima Feng menggeleng pelan. Ia perlahan bangkit dari kursinya dengan tangannya masih memegang dada.
" Kita ke sana. Aku harus melihat istri ku. " Ucapnya parau. Suaranya sarat akan kesakitan. Hatinya terluka. Cintanya yang baru disadarinya perlahan muncul dan memenuhi seluruh ruang di hatinya.
' Tidak. Ia pasti baik-baik saja. ' Sima Feng berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia harus menemukan dan meminta pengampunannya.
' Istri ku, tunggu aku. Aku pasti akan segera menemukan mu. ' Batinnya.
Kepergian Sima Feng ditangkap oleh mata Gu Feifei. Ia menyeringai puas, sangat yakin bahwa dirinya sudah berhasil menyingkirkan Liu Ru. Setelah ini, ia hanya perlu bertindak sebagai wanita penuh perhatian yang menghibur Sima Feng saat ia tenggelam dalam kesedihan karena kehilangan istrinya.
Kabar hilangnya Liu Ru juga sampai di telinga Ziyan dan Sima Rui.
" Aku sudah meminta Heilong untuk melakukan pencarian. Semoga Liu Ru segera ditemukan. "
Sima Rui memeluk istrinya. Melihat kekhawatiran di wajah sang istri membuat hati Sima Rui sakit.
Dalam hati kaisar Jin itu, diam-diam ia mulai menyalahkan semuanya pada sang putra. Andai putranya itu tidak cukup bodoh dalam membuat keputusan, kejadian ini tidak akan terjadi.
" Tenang saja istriku. Aku juga mengerahkan penjaga bayangan untuk mencarinya. Aku berjanji pada mu dalam dua hari aku pasti akan menemukannya. "
" Terima kasih. " Ziyan tersenyum, kemudian ia kembali berkata sembari kembali memeluk suaminya. " Yang Mulia, bisakah aku meminta sesuatu. " Tangannya membuat lingkaran di dada Sima Rui.
__ADS_1
Sima Rui terkekeh, sudah bertahun-tahun mereka menikah namun istrinya masih saja bertanya jika memiliki permintaan.
" Apapun itu katakan saja. " Kemudian Ziyan membisikan sesuatu.
Sima Rui tersenyum, " Aku juga setuju. Aku pikir kita perlu memberinya sedikit hukuman. Dia tak akan pernah tahu sesuatu itu penting sebelum ia kehilangan. Kita akan membuatnya menangis dan memohon. "
Entah sebuah berkah atau kesialan memiliki mereka sebagai orang tua. Namun satu hal yang pasti, Sima Feng tak akan dengan mudah lolos dari skema kedua orang tuanya.
*****
Sudah sehari penuh para pengawal melakukan pencarian namun masih belum ada kabar atau titik terang keberadaan Liu Ru.
Xiao Yi melihat ke arah Sima Fei yang baru saja menerima laporan bahwa ayahnya akan segera datang. Tidak ada rasa senang atau antusias saat mendengarnya. Perasaannya masih sama, khawatir akan keselamatan sang ibu.
" Xiao Yi? apa kau lapar? " Sima Fei menatap sendu ponakannya tersebut.
Ia tahu di balik tubuh kecil ponakannya itu terdapat sikap dewasa. Andai itu anak lain, mereka mungkin akan terus menangis seolah-olah anak ayam yang kehilangan induknya. Tapi lihatlah dia, Xiao Yi bahkan sama sekali tidak meneteskan air matanya.
" Tidak bi. Aku tidak lapar. Bagaimana kabar pencarian ibu? " meski tampak tenang, Sima Fei bisa mendengar sedikit suara bergetar Xiao Yi.
Anak itu terlalu menahan dirinya.
Xiao Yi menarik napas dalam kemudian berkata, " Tak apa. Ibu pasti baik-baik saja. Selama mayat ibu tidak di temukan. Maka ia pasti baik-baik saja. Apalagi kita sudah mencarinya jauh dari posisi ibu terjatuh, itu membuktikan ada seseorang yang telah menolongnya. "
Lihatlah, bagaimana bocah itu menghibur Sima Fei, membuat mata gadis berwajah mirip Sima Feng itu berkaca-kaca. Air matanya sekuat tenaga ia tahan agar tidak jatuh, ingus yang hampir keluar pun ia masukkan kembali.
" Kau benar. Aku seharusnya tidak berpikir buruk. Maaf Xiao Yi. Andai saat itu aku mendengarkan kakak ipar untuk menunda perjalanan kita, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Ini semua salah ku. "
" Ini bukan salah mu bi. Seharusnya aku yang sepatutnya di salahnya. Aku yang membujuk ibu agar kembali ke ibukota. Andai saja waktu itu aku tidak memaksa ibu kembali, maka ibu tidak akan menghilang. Semua ini salah ku. "
Sima Fei segera memeluk Xiao Yi. Ia tahu bocah itu sedang menahan diri agar tidak menangis. Sima Fei membuka tangan Xiao Yi yang mengepal kuat dan dengan lembut berkata.
" Menangis lah. Tidak ada yang melarang mu menangis. Menangis juga bukan hal memalukan meski kau seorang laki-laki. Aku tahu, kakak ipar ingin kau menjadi laki-laki kuat. Tapi untuk kali ini saja. Menangislah agar kesedihan mu sedikit berkurang. "
Xiao Yi yang awalnya tidak ingin menangis langsung menumpahkan air matanya di pelukan sang Bibi. Bocah empat tahu itu benar-benar mengkhawatirkan ibunya.
' Bu, kembalilah. Aku janji setelah ini akan menjadi anak penurut dan tidak akan melanggar ucapan mu lagi. ' Janji Xiao Yi.
__ADS_1
Sementara di tempat lain,
Seorang wanita terbaring tak sadarkan diri. Di sampingnya, seorang wanita tua yang merupakan dukun itu sedang berusaha mengobati luka-luka wanita tersebut.
Saat memeriksa denyut nadinya, dahi dukun wanita itu mengernyit. Ia kemudian menatap pria muda yang berdiri dengan tangan terlipat di dada tak jauh darinya.
" Wanita ini sedang hamil. "
Pria itu dengan ekspresi terkejut berkata, " Benarkah? lalu bagaimana dengan kondisi janinnya? "
" Janinnya masih bertahan. Meski sangat lemah tapi dengan ramuan ku, janinnya akan segera sehat kembali. "
Pria itu mengangguk mengerti.
" Apa? kenapa kau melihat ku seperti itu? " Pria itu menatap heran wanita tua itu.
Dukun wanita itu yang sedari tadi melihat dengan pandangan curiga pada pria itu akhirnya menumpahkan komentarnya. " Jingu, Apa kau memperkosa wanita ini lalu menyiksanya sampai seperti ini? "
Pria itu hampir muntah darah mendengar tuduhan dukun tua itu.
Pria yang di panggil Jingu itu seketika melotot. " Nenek Wu, aku tidak tahu selain hebat mengobati orang kau juga hebat dalam mengarang cerita. Sungguh sangat di sayangkan jika kau tidak pergi ke kota untuk menjadi pendongeng alih-alih terjebak di kampung terpencil seperti ini. "
Nenek Wu terkekeh. Melihat wajah kesal pria muda itu membuatnya puas.
" Aku bercanda. Aku pikir kau terpesona dengan wanita cantik ini dan tak tahan untuk tidak menggaulinya. " kali ini nenek Wu tertawa puas.
Jungi memutar bola matanya. " Ck, menggauli katamu. Bukankah kau sendiri tahu. Bahwa milikku tak bisa bangun lagi setelah malam itu. "
Ah mengingat malam kelam itu membuat darah di kepalanya mendidih. Wanita itu tak hanya membuat miliknya tak bisa bangun, tapi juga merampok uangnya, bahkan giok miliknya ikut raip di ambilnya.
" Benar juga. Lalu apa kau sudah menemukan wanita itu? "
Jingu menarik napas dalam dan menggeleng. " Belum. Wanita itu menghilang seperti di telan bumi. "
" Sayang sekali. Aku yakin kau akan segera menemukan wanita itu. "
" Aku harap begitu. Karena jika aku sampai menemukannya. Aku akan membuatnya menyesal karena telah mempermainkan seorang Jingu. "
__ADS_1
Sima Fei yang berada jauh di tempat lain, tiba-tiba merasa hawa dingin di tengkuknya, seolah ada binatang buas yang diam-diam sedang mengincarnya.
' Kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak. '