
Sudah seminggu kondisi ziyan memburuk. Berkat obat yang tabib zhan berikan, setidaknya membuat kondisi sedikit bisa bertahan. Kabar memburuknya kondisi ziyan ternyata sampai ke istana Rixi. Junyi secepatnya menyampaikan kabar tersebut pada sima rui.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang? " Sima rui bertanya setelah mendengar kabar terbaru dari tunangannya tersebut.
" Masih belum ada tanda-tanda membaik. Pangeran, apakah anda tidak ingin menjenguk nona mo? "
Junyi tahu sifat tuannya ini dingin, tapi mengingat hari-hari sebelumnya ia mulai menunjukan sedikit perubahan. Mungkin saja setelah mendengar kondisi tunangannya ia akan pergi menjenguknya.
"Aku mengerti. Kau boleh pergi. " Setelah mengatakannya, Sima rui kembali pada laporan yang ada di bacanya. Tidak ada tanda-tanda ia akan mengakhiri pekerjaannya.
Junyi memperhatikan tuannya yang telah kembali pada pekerjaannya. Apakah tuannya ini tak khawatir dengan nona mo? Apakah dirinya yang sudah berpikir berlebihan? junyi kembali ke tempatnya tanpa mengungkapkan semua yang ada di pikirannya.
Sementara Sima rui yang sudah kembali pada laporannya. Entah kenapa justru pikirannya tidak pada laporan tersebut. Pikirannya terus terngiang akan ucapan junyi mengenai kondisi ziyan. Sima rui menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan fokusnya. lima menit pertama ia masih bisa fokus, tapi setelah sepuluh menit pikirannya kembali buyar.
Sima rui meletakan dengan kasar perkamennya. "Sial. Ini semua gara-gara junyi. " Sima rui hanya bisa menggerutu menyalahkan junyi.
__ADS_1
Sungguh kasihan junyi, disalahkan saat sang tuan tidak bisa mendapatkan fokusnya. Sedangkan dihukum saat tak bisa mendapatkan kabar terbaru tunangannya.
Karena tak berhasil mendapatkan sepenuhnya fokusnya. Sima rui memutuskan untuk menemui sumber kegelisahannya. Diam-diam ia menyelinap keluar, dan dengan cepat bergerak ke arah luar istana.
Sima rui tiba di kediaman mo. Tepatnya di halaman barat tempat tinggal ziyan. Dari sebuah pohon yang ada di halaman tengah, ia melihat seorang pelayan keluar dari kamar ziyan. Sima rui menunggu beberapa saat hingga sang pemilik kamar tertidur.
Setelah menunggu cukup lama. Ia memperhatikan situasi di sekitar lalu memutuskan menyelinap masuk. Sima rui membuka sedikit jendela kamar ziyan kemudian dengan hati-hati masuk ke dalam. Karena ilmu bela diri Sima rui tinggi. Melakukan hal seperti menyelinap merupakan hal mudah baginya. Dalam sekejap, Sima rui sudah ada di dalam kamar. Ia berjalan memendekati tempat tidur ziyan. Langkah kakinya benar-benar tanpa suara.
Sima rui memandang wajah ziyan yang tertidur. Tanpa sadar, ia bergumam. " yaner.... "
πΈπππππ ππππ π,
Malam belum begitu larut. Dan seperti biasa Sima yan ditemani dengan beberapa wanita yang melayaninya. Meski tubuhnya bersama para wanita itu, tapi pikirannya mengembara di tempat lain. Sima yan tak tahu apa yang membuatnya terus menerus memikirkan wanita itu. Wanita yang tak lain tunangan kakaknya sendiri, Mo ziyan. Sejak awal ia bertemu dengannya di hutan donglu. Ia seperti kecanduan dengan sosok wanita itu. Hampir setiap malam dirinya mengulang mimpi pertemuan pertama mereka. Dan ketika menatap bibir para wanita yang bersamanya. Ia selalu teringat dengan bibir wanita itu.Tamparan yang ia dapatkan justru menjadi minyak dalam api obsesinya.
Feng xiao yang sebelumnya gagal mendapatkan informasi mengenai ziyan bahkan mendapatkan hukuman darinya. Sima yan selalu bisa mendapatkan informasi siapapun yang diinginkannya, namun justru kesulitan mendapatkan informasi wanita yang selalu mengganggu malamnya. Dan ketika yelu mengungkap identitas wanita itu yang tak lain kakak wanita yang disukainya. Sima yan seperti mendapatkan secercah cahaya yang mengisi kegelapan hatinya. Sayangnya cahaya itu tak berlangsung lama, dengan cepat padam ketika ia mengetahui identitas gadis itu sesungguhnya. Mo ziyan, satu-satunya putri menteri mo sekaligus tunangan kakaknya Sima rui. Kenyataan yang sangat ironi.
__ADS_1
"Pangeran, ada laporan yang ingin hamba sampaikan. " Kedatangan tiba-tiba feng xiao membuat ekspresi ketidaksukaan dari para wanita itu. Mereka merasa terganggu dengan kedatangan feng xiao.
" Katakan. " Sima yan menjawab singkat.
"Ini mengenai nona mo. Berdasarkan kabar terbaru. Kondisinya masih sama seperti sebelumnya. "
Kabar yang baru saja feng xiao katakan membuat Sima yan tertegun. Ekspresi yang begitu serius seakan sedang memikirkan sesuatu. Hatinya ingin melihatnya, namun logikanya melarang. Ia tak bisa diam-diam menemui tunangan kakaknya.
" Aku tahu. Kau boleh pergi. "
Feng xiao segera pergi. Ia sendiri sebenarnya tak mengerti kenapa tuannya itu menyuruhnya untuk selalu memberikan informasi terbaru nona mo. Mungkin awalnya feng xiao mengira tuannya itu ingin membalas perbuatan nona mo yang berani memberinya tamparan. Tapi setelah mengetahui identitasnya dan melihat langsung saat ulang tahun Huang guifei. Tuannya justru semakin tak terkendali. Ia semakin terobsesi mengetahui segala hal mengenai nona mo dan harus melaporkan setiap hari.
Sima yan masih tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan meninggalkan ketiga wanita yang bersamanya seakan tak melihat keberadaan mereka. Meski tak sehebat Sima rui dalam hal bela diri. Tapi masih termasuk tinggi jika dibandingkan dengan orang lain. Sima yan dengan gesit bergerak keluar istana. Kini, dirinya tak mampu lagi mengontrol tindakannya. Ia hanya ingin segera melihat kondisi gadis yang selalu mengganggu tidurnya tersebut.
Ketika ia tiba di halaman barat kediaman mo. Sima yan menghentikan langkahnya ketika melihat bayangan gelap bergerak tak jauh dari kamar ziyan. Ia memperhatikan sosok itu. Sima rui? Sosok itu ternyata Sima rui. Sima yan melihat Sima rui yang diam-diam masuk ke dalam kamar ziyan. Dirinya berdiri termangu seakan kehilangan akalnya. Bibirnya menyeringai. Benar, rui adalah tunangannya. Wajar saja jika ia datang menemuinya. Lalu apa yang dirinya lakukan? justru dirinya tak memiliki alasan untuk menemuinya.
__ADS_1
Sima yan hanya berdiri menunggu Sima rui keluar dari kamar ziyan. Tapi sudah cukup lama dirinya menunggu, namun sosok itu tak kunjung keluar. Membuat Sima yan berfantasi, apa yang sedang kedua orang itu lakukan di dalam kamar. Ia mengepal tangannya. Dan meninju dinding yang ada di sampingnya.