
Semua orang memusatkan perhatiannya pada Sima Feng dan Liu ru yang sejak tadi sudah di tunggu kedatangannya. Namun aura keduanya yang tampak suram terlihat sangat kontras dengan suasana hangat di ruang makan tersebut.
Mereka bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan dua orang itu. Namun hanya xiao yi yang berani mengutarakan rasa penasarannya itu.
" Ibu, kenapa kau menekuk wajah mu? apakah ayah membuat mu marah? " tanya bocah tiga tahun itu sukses membuat perhatian semua orang kini menatap penuh tanya pada Sima Feng.
Sima Feng mengabaikan tatapan seluruh anggota keluarganya dan memilih menjawab pertanyaan putranya.
" Aku tidak menggertak ibu mu. Aku hanya memberikan perhatian padanya, namun kelihatannya ibu mu tidak menyukainya. " Ucap Sima Feng datar, terlihat jelas di wajahnya seolah berkata ' aku tidak bersalahnya'.
Bocah tiga tahun itu beralih melihat ibunya. " Ibu kenapa kau tidak menyukai perhatian ayah? "
Lihatlah, betapa mudahnya bocah ini berpindah haluan. Bukankah sebelumnya ia menyalahkan ayahnya karena membuat ibunya kesal. Tapi kenapa baru beberapa detik ia sudah berubah jadi menyalahkannya.
Tiba-tiba Liu ru merasa hampa. Seakan kedudukannya dan Sima Feng yang semula lebih tinggi di hati putranya mendadak sama. Dan itu membuat Liu ru semakin bertambah kesal pada pria yang merupakan ayah putranya itu.
" Aku yang mengandung selama sembilan bulan dan merawatnya selama ini. Tapi lihatlah bahkan belum lebih dari tiga hari mereka bertemu. Pria ini sudah berhasil merebut dan mengisi setengah hati putranya." Gerutu Liu ru meluapkan kekesalannya.
" Sudah Xiao yi. Biarkan ibu dan ayah mu duduk dulu. Bukankah kau sudah lapar? " Sela A Guang menyudahi interogasi keponakannya itu.
Ia tahu, baik Liu ru maupun A Feng masih canggung dan belum terbiasa satu sama lain.
Liu ru bersyukur, calon kakak iparnya itu membantu menutup mulut putranya. Karena ia sendiri juga bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan itu.
Mereka duduk sesuai kursi masing-masing. Xiao yi duduk di antara Sima Feng dan Liu ru. Membuat ketiganya tampak seperti keluarga kecil bahagia.
Satu persatu makanan dibawa masuk, tertata rapi hampir memenuhi seluruh meja.
Mata kecil Xiao Yi tampak berbinar melihat hidangan lezat di depan matanya. Seolah-olah ia menemukan harta karun besar yang selama ini tak pernah di lihatnya.
Sama halnya dengan Xiao Yi, Liu ru juga tergoda dengan semua makanan tersebut. Air liurnya yang hampir menetes, ia telan kembali. Beruntung suara perutnya yang sedang berdemo karena lapar tidak terdengar. Akan sangat memalukan jika suara menyeramkan itu di dengar oleh orang lain.
" Wah.. semuanya enak. " Seru Xiao Yi.
" Apa kau menyukainya? " Tanya Ziyan begitu melihat betapa senangnya sang cucu melihat aneka makanan yang terhidang di meja.
Xiao Yi mengangguk cepat. " Aku suka sekali nek. Ini makanan terenak yang pernah ku lihat. Biasanya ibu hanya memberiku makanan berupa sayuran liar atau umbi-umbian jika tidak ada nasi. Bila beruntung dan jebakan yang ibu pasang mengenai hewan buruan, barulah kami bisa makan daging. "
" Namun itu sangat jarang. Jadi sebagai gantinya, ibu akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan. " Papar bocah kecil itu tanpa sadar sudah membuat semua orang tercengang, dan kemudian berubah dengan ekspresi sendu saat melihat Liu ru.
Liu ru sadar dengan perubahan suasana saat ini. Keheningan yang datang dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Saat ini ia sangat malu karena penderitaan mereka terungkap begitu mudah karena kejujuran putranya.
Liu ru hanya bisa menunduk, tak sanggup melihat tatapan seluruh anggota keluarga Sima yang kini menatapnya dengan ekspresi kasihan. Sungguh, Liu ru tak ingin dirinya dikasihani.
Ia bangga karena bisa membesarkan putranya tanpa bantuan siapa pun. Namun disisi lain, ia juga merasa gagal karena membesarkan keturunan Sima dengan amat menyedihkan.
Sementara Sima Feng, merasakan suatu perasaan aneh di hatinya. Mendengar bagaimana perjuangan mereka hidup selama ini, membuat hatinya tercubit. Ia menyesal kenapa tidak menemukan mereka lebih cepat. Andai saat itu Ia segera mencari Liu ru, mungkin mereka tidak harus melewati hidup dengan begitu menyedihkan.
Di sisi lain, ada rasa penasaran yang membuat Sima Feng ingin mengenal lebih jauh wanita yang melahirkan putranya tersebut.
Apalagi mengingat jika Liu ru hanya seorang wanita muda yang harus merawat seorang putra tanpa bantuan keluarganya. Bukankah dia sangat hebat. Tiba-tiba Sima Feng merasa kagum dengan wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu.
" Setelah ini kau bisa memakan apapun yang kau mau Xiao Yi. Tapi ingat, jangan menyisakan makanan. Karena itu bukan perbuatan yang baik. " Ucap Ziyan pada sang cucu sekaligus memberikan nasehat.
Lalu menoleh pada Liu ru. " Semoga ini sesuai dengan selera mu Liu ru. "
Liu ru mengangguk dengan senyum kecil di bibirnya. " Terima kasih bu. Semuanya enak. "
" Syukurlah kalau kau menyukainya. "
Perlahan suasana kembali seperti semula. Seolah melupakan cerita sedih ibu dan anak itu.
Saat Ziyan berbicara dengan Liu ru, Sima Fei memperhatikan A Feng yang sesekali mencuri pandang pada Liu ru.
Menghela napas kasihan. ' Sepertinya aku harus bertindak. ' Gumamnya dalam hati.
Jadi langkah pertama adalah mengusir roda tiga di antara mereka dan itu adalah putra mereka, Liu Yi.
" Xiao Yi, tidakkah kau ingin duduk bersama bibi? " Tanyanya bocah tiga tahun itu.
" Tidak. Aku ingin duduk bersama ayah dan ibu. " Jawab Xiao Yi dengan wajah polos tanpa sadar bahwa penolakannya membuat harga diri A Fei terluka.
' Bocah ini. Mulutnya sangat tajam seperti ayahnya. Benar-benar gen tidak bisa berbohong. ' A Fei hanya bisa menggerutu di dalam.
Maka untuk melawan wajah polos Liu Yi. A Fei mengeluarkan wajah sedihnya.
" Haaah... " A Fei membuang napas berat. " Apa kau tidak kasihan dengan bibi? "
" Kenapa harus kasihan dengan bibi? " Tanya bocah itu tak mengerti.
" Lihatlah. Semua orang berpasangan. Hanya aku yang seorang diri. Nenek dengan kakek, paman A Guang dengan bibi Xu xiang. Lalu ayahmu dengan ibu mu. Lalu aku dengan siapa? " A Fei memasang wajahnya sesedih mungkin. Membuat bocah itu tanpa sadar tertipu.
__ADS_1
Liu Yi merasa bersalah dan ikut bersedih. " Bibi jangan sedih. Baiklah. Aku akan menemani mu. " Liu yi segera turun dan duduk di samping kursi kosong A Fei. Ia duduk sebelum pelayan memindahkan piring makan bocah itu.
" Selain menggemaskan, kau juga sangat perhatian sayang. " A Fei memeluk gemas keponakannya itu.
Lalu melihat pasangan belum sah di depannya dan tak tahan untuk tidak berkomentar. " Kakak ipar, kenapa kau dan kakak ku duduk berjauhan? dan kau kakak, kenapa kau tidak membantu kakak ipar untuk pindah. Apa kau akan menunggu kakak ipar pindah sendiri? Kau sungguh pria yang sangat tidak peka. " Sindirnya.
Sungguh pas sekali sindiran A Fei. Begitu pas hingga A Feng tak bisa membalasnya. Jadi tanpa berkata apapun, Sima Feng membantu Liu ru bergeser. Bahkan ia juga turut memindahkan piring wanita itu tanpa bantuan pelayan.
Sengaja A Fei melarang pelayan membantu mereka. Ia menggeleng saat salah satu pelayan akan maju membantu mereka.
" Lihatlah, kalian begitu serasi jika duduk berdampingan. Bukankah begitu Xiao Yi? "
" Iya. Aku suka ayah dan ibu duduk bersama. "
Mendengar keponakan berbicara. Dalam benaknya, A Fei tertawa puas. Ternyata tanpa di ajari, keponakan kecilnya itu bisa juga mendorong kedua orang tuanya.
Mereka menikmati sup dan beberapa kudapan kecil sebagai menu pembuka.
Tak lama pelayan membawa hidangan daging dengan saus di atasnya. Aroma lezat masuk ke dalam indera penciuman Liu ru. Memancing produksi air liur nya yang hampir saja menetes.
Ia melirik Sima Feng dan anggota keluarga Sima yang lain. Mereka memegang garpu di tangan kiri dengan pisau di tangan kanan.
Sejujurnya Liu ru agak bingung dengan cara makan malam ini. Bagaimana tidak, di depannya berjejer aneka macam pisau, sendok, dan ada juga garpu. Selama ini ia hanya terbiasa menggunakan sumpit dan sendok. Tapi tidak dengan pisau dan garpu.
' Untuk apa pisau di meja makan? Bukankah ini seharusnya berada di dapur? ' Pikirnya.
Tak ingin mempermalukan diri, Liu ru memperhatikan bagaimana Sima Feng memotong daging dengan pisau dan garpu.
' Wah terampil sekali. ' Liu diam-diam takjub dengan cara pria di sampingnya menggunakan kedua alat itu.
Liu ru mengikuti apa yang di lakukan A Feng. Namun karena belum terbiasa, membuat wanita itu mengalami kesulitan. Alih-alih dagingnya terpotong. Liu ru justru membuat suara gaduh. Hal itu sukses membuat A Feng menoleh padanya.
Liu ru tersenyum canggung hingga deretan giginya terlihat. " Dagingnya terlalu keras. Aku pikir aku mendapatkan bagian otot. " Ucapnya beralasan.
A Feng mengangguk lalu menukar piring miliknya dengan daging yang sudah terpotong rapi dengan piring Liu ru. " Makanlah. Aku sudah memotongnya. Aku khawatir jika kau terus memaksa memotongnya, alih-alih daging yang terpotong, justru piring ini yang akan terbelah. "
Liu ru ingin membalas namun apa yang dikatakan memang benar. Jadi ia menerima daging A Feng dan memasukkan ke mulutnya tanpa ragu setelah mengucapkan terima kasih pada pria berwajah datar itu.
*********
" A Feng, setelah makan malam, datang lah ke ruang baca. Ada yang ingin ayah katakan padamu. " Sima rui berkata ketika makan malam hampir selsai.
__ADS_1
" Baik. "
Benar-benar ayah dan anak. Bahkan keduanya berbicara dengan ekspresi tidak jauh beda. Sama-sama datar.