
" Silakan keluar. " Kata seorang petugas dengan sopan ketika membuka pintu sel A Fei.
A Fei dan Xiao Er saling bertukar pandang dengan ekspresi bingung. Terutama A fei, ia yakin sekali bahwa dirinya seharusnya keluar dua hari lagi. Mengingat sebenarnya ia sedang menjalani hukuman dari ibunya untuk kesalahan lain.
Tapi ia mungkin akan menanyakannya pada sang paman, Sima Dan tentang ini.
" Terima Kasih. " Ucap A Fei begitu keluar.
Setelah bebas, A Fei segera menemui pamannya yang ternyata sudah menunggunya di ruangan.
" Paman.. apa kabar? kau semakin awet muda. " Seloroh A Fei. Selalu saja bersikap santai jika bertemu dengan sang paman.
Sima Dan menggeleng melihat sikap keponakannya yang sama sekali tidak berubah.
" Dua hari di penjara dan kau sudah lumayan gemuk. Tampaknya kau menganggap hukuman kemarin sebagai liburan. "
A Fei terkekeh teringat akan alasan kenapa pamannya itu tidak langsung membebaskannya sejak dua hari yang lalu dan justru tetap mengurungnya. Itu semua atas permintaan Ziyan yang ingin memberikan hukuman pada A Fei karena gadis itu sudah diam-diam menyelinap keluar dan malah pergi berjudi, hingga akhirnya berujung dengan kesialan.
" Ini semua berkat perawatan paman. Kau memberikan ku banyak makanan lezat setiap hari, tentu saja itu membuatku berpikir sayang jika di lewatkan. " Deretan gigi A Fei terlihat ketika bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
A Fei memberikan ibu jari pada kemurahan hati sang paman.
" Dasar.. " Keduanya tertawa.
" Oh iya paman, kenapa hari ini paman sudah membebaskan ku? aku yakin seharusnya hukuman ibu masih tersisa setidaknya dua sampai tiga hari lagi. " Tanya A Fei ketika keduanya sudah duduk, bersama teh dan beberapa makanan kecil yang menemani di meja.
" Hari ini rumah sakit Kekaisaran sedang di resmikan dan orang yang menjebak mu juga berada di sana. Salah satunya bahkan orang yang menyamar menjadi ibu mu. Dan mereka sudah berhasil di tangkap. Ratu membongkar penyamaran mereka sekaligus mengungkap pembunuhan atas Zhou Wenran. "
Hampir saja A Fei menyembur isi mulutnya. Matanya melebar dengan dua bola mata yang hampir lompat.
" Kenapa paman baru mengatakannya. Aku juga ingin melihatnya. "
A Fei hendak berdiri dan akan pergi ke sana. Tapi kata-kata Sima Dan membuatnya mengurungkan niatnya.
" Sekarang sudah terlambat jika kau ke sana sekarang. Pertunjukan sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Jika kau mau, kau bisa bertemu orang yang menjejak mu itu di penjara khusus. "
__ADS_1
Meski kecewa, gadis itu kembali duduk dan menikmati makanan manis yang terhidang di depannya. Ia hanya ingin melihat pertunjukan, sama sekali tak peduli dengan orang yang menjadi penyebab dirinya berada di penjara.
" Tidak berminat. Aku yakin sebenarnya mereka tak bermaksud untuk menjebak ku. Hanya karena saat itu aku yang kebetulan berada di sana, tuduhan itu akhirnya jatuh pada ku. Masih beruntung, setidaknya aku memiliki paman di sini. Jika itu orang lain aku yakin dia tidak akan selamat atas tuduhan ini. Entah dia sekarang mati karena di siksa atau di bunuh secara diam-diam untuk membungkam kebenaran. Salah satunya mungkin saja bisa terjadi. " Positif sekali A Fei berpikir. Mungkin karena terlalu sering mendengar Xiao Er merapal kitab kebajikan yang membuat pikirannya juga damai.
A Fei kembali menyesap cangkirnya yang baru saja ia tuang. " Jika ibu sudah turun tangan, para penjahat itu tidak akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Apa lagi suami ibu pasti akan turut serta mengawasi mereka. Sungguh malang sekali nasib mereka, karena keserakahan harus berurusan dengan kedua pasangan suami istri itu. "
Sima Dan tersedak kue yang dimakannya. Sensasi sesak memenuhi dadanya. Ia memukul-mukul dadanya agar makanan yang tersangkut di tenggorokan segera turun.
" Paman, makanan ini masih banyak. Jangan takut aku akan menghabiskannya. Makanlah secara perlahan. " A Fei menasehati sang paman dengan kata-kata bijak sembari memberikan Sima Dan minum.
Sima Dan langsung menyambar cangkir tersebut lalu meminumnya. " Ini semua karena ucapan mu. Pasangan suami istri itu adalah ayah ibu mu. Tapi kau menyebutnya seolah mereka bukan orang tua mu. "
A Fei terkekeh akhirnya begitu menyadari penyebab pamannya tersedak.
" Itu karena ayah selalu berkata pada anak-anaknya bahwa ibu adalah istrinya. Jika kami mengatakan ibu adalah ibu kami, maka ayah akan mengatakan jika 'sebelum menjadi ibu kalian, wanita itu lebih dulu menjadi istri ku. "
Sima Dan tahu kakaknya memiliki sikap posesif terhadap istrinya. Tapi tidak menyangka itu bertahan sampai sekarang dan semakin menakutkan.
" Aku mungkin tidak bisa menonton secara langsung pertunjukan itu. Tapi paman pasti tahu bukan bagaimana alur ceritanya. Ceritakan padaku, bagaimana cara ibu membongkar penipuan mereka dan mengungkap pembunuh paman Wenran? " Tanya A Fei penasaran.
Flashback,
Acara peresmian akhirnya di mulai, sambutan dari penyelenggara menjadi acara pembuka. Lalu dilanjutkan dengan sambutan Liu Ru yang terancam batal karena sikap protektif Sima Feng hanya karena Liu Ru akan memberikan sambutan dengan cara berdiri.
" Baiklah. Berhenti berdebat. Aku akan meminta penyelenggara untuk menyediakan kursi. Bagaimana? " Pasrah Liu Ru akhirnya. Tidak ingin berdebat dengan Sima Feng yang justru akan membuat emosinya naik. Takut malah membuatnya mengejang dan akhir melahirkan anak mereka di tempat.
Hingga tidak lama kemudian penyelenggara menyediakan kursi di bawah tatapan tajam Sima Feng. Pria itu juga terus mengomel atas sikap penyelenggara yang kurang tanggap karena membiarkan istrinya yang sedang hamil berdiri untuk memberikan sambutan yang sebenarnya tidak sampai lima menit itu.
Setelah sambutan singkat Liu Ru selesai, giliran bos Zi (Xiao Lu) untuk memberi sambutannya. Tiba di tengah panggung dan hendak memulai sambutannya, terdengar riuh dari arah belakang. Sejenak perhatian semua orang kini beralih pada sumber kehebohan tersebut.
Semua orang terkejut dengan kedatangan seorang wanita. Secara bergantian, mereka melihat ke arah panggung lalu ke arah belakang seolah membandingkan kedua wanita yang memiliki penampilan sama.
" Kenapa Nyonya ada dua? mana bos Zi yang sebenarnya? " Gumam salah satu warga, bingung dengan identitas dua wanita di depannya.
" Bodoh, tentu saja yang baru datang lah yang palsu. Apa menurut mu penyelenggara akan salah mengundang orang. "Timpal salah satu warga yang lain.
__ADS_1
" Tapi aku tidak yakin. Bisa saja dia yang palsu bukan? " tunjuk warga yang lain ke arah panggung.
"Berhenti berdebat. Lebih baik kita lihat saja. Aku yakin bos Zi yang asli akan mudah menyelesaikan masalah ini. "
Dan semua orang akhirnya diam. Menonton dengan napas tertahan, membuat suasana semakin tegang.
Ziyan melangkah dengan tenang. Tatapan matanya sama sekali tidak lepas dari wanita yang saat ini berdiri di atas panggung.
Berbanding terbalik dengan ketenangan Ziyan, jantung Xiao Lu berdebar kencang. Bukan karena jatuh cinta, melainkan takut jika penyamarannya akan terungkap. Ia melirik ke arah Song Xi yang mengangguk padanya seolah menyuruhnya untuk tenang dan tidak perlu khawatir.
Ziyan yang hendak menaiki anak tangga langsung berhenti ketika Song Xi berbicara.
" Berhenti! dasar penipu. Siapa kau? kenapa kau berpenampilan seperti Bos Zi? "
Ziyan melihat Song Xi, dibalik cadarnya salah sudut bibirnya naik.
" Kau mantan istri Wenran? pantas dia menceraikan mu. Kau ternyata wanita ular. " Ziyan benar-benar mengabaikan provokasi Song Xi dan justru memberikan serangan balasan.
Dibalik sikap tenangnya, lidahnya masih saja tajam.
Semua orang tahu, Song Xi adalah mantan istri Wenran, jadi mereka tidak terkejut lagi. Justru karena fakta itu, mereka berpikir bahwa Xiao Lu adalah bos Zi yang sesungguhnya.
Sederhananya, Wenran adalah orang terdekat bos Zi, secara otomatis istri Wenran juga memiliki hubungan yang baik dengan bos Zi. Berdasarkan asumsi inilah mereka membuat kesimpulan. Mengabaikan fakta alasan tentang perceraian Wenran dan Song Xi.
" Apa kau bilang? " Geram Song Xi.
" Apa kau juga tuli? "
' Sial! hampir saja kau terprovokasi. ' Segera Song Xi menemukan kembali ketenangan dan akal sehatnya. Ia memutar otak dan memikirkan cara licik apa saja yang bisa ia lakukan.
" Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat. " Ziyan menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan Xiao Lu.
" Ibu dan penipu itu benar-benar memiliki tubuh yang sangat mirip. Dengan wajah tertutup seperti itu keduanya seolah sedang bercermin. " Liu Ru terus berkomentar meski dengan suara lirih.
" .... " Sima Feng diam dan terus memperhatikan. Keduanya yang memang memiliki postur tubuh yang sama.
__ADS_1
' Meski memiliki postur tubuh yang sama, tapi aku yakin sekali tidak dengan isi otak. ' Cibir Sima Feng dalam hati.
*****