
Ziyan duduk di samping ibunya, lalu diikuti chufeng yang duduk di sampingnya. Sebelum duduk, ziyan sudah membisikan sesuatu pada ibunya bahwa ia cukup diam saja, jangan berkata apapun.
"Yaner. Kami sedang membahas ulang tahun Huang Guifei. Bibimu ingin yuefeng ikut menghadiri perjamuan itu. Apa kau bisa mengaturnya? "
Neneknya begitu baik. Cara bicaranya benar-benar lembut. Tapi kedua orang itu malah memanfaatkannya. Ziyan merasa sangat buruk mengetahui bahwa Yaner memiliki bibi dan sepupu yang seperti ular.
"Nenek. Bolehkah aku tahu alasan khusus kenapa aku harus membawa yuefeng ke perjamuan itu? "
Kali ini nyonya tua tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya nyonya tua juga tahu bahwa Huang Guifei hanya mengundang keluarga utama mo. Jadi alasan apa yang harus ia katakan untuk membuat yuefeng pergi ke perjamuan itu.
Melihat nyonya tua yang sudah tak bisa diharapkan, Han jian tak tahan untuk segera mengambil alih pembicaraan.
"Yaner. Apakah kita harus butuh alasan khusus. Bukankah keluarga mo selalu mengutamakan keluarga. Jadi kenapa kau tak mengajak yuefeng juga saat kau mengajak chufeng. " Hanjian sengaja membawa nama keluarga mo agar ziyan berpikir bahwa tak ada keluarga cabang ataupun keluarga utama di mata keluarga mo. Mereka adalah satu keluarga.
Bibinya ini benar-benar tidak ingin menyerah begitu saja. Bahkan sampai menggunakan keluarga mo dan putrinya sendiri sebagai alat negosiasi. Ziyan melirik sekilas chufeng. Wajahnya tampak biasa, tapi tangannya mengepal kuat. Apakah ia selalu menahannya seperti ini.
Ziyan menatap bibinya. Masih dengan ketenangan di wajahnya, ia pun membalas ucapan bibinya tersebut.
" Keluarga mo memang tak mengenal keluarga cabang ataupun keluarga utama. Tapi apakah Huang Guifei dan Yang mulia kaisar juga sama. Dan juga bibi, alasan aku mengajak chufeng itu karena aku ingin semua orang tahu bahwa keluarga mo mempunyai tiga nona muda, bukan hanya dua. " Lalu ziyan berganti memandang neneknya. " Apakah nenek tahu, semua orang diluar hanya mengenal dua nona muda di keluarga mo. Aku dan yuefeng. Apakah menurut nenek, chufeng tak perlu di ketahui semua orang? "
"Omong kosong. Chufeng juga cucuku. Bagaimana bisa semua orang tak mengenalnya. Siapa yang mengatakan padamu bahwa keluarga mo hanya memiliki dua nona muda. " Nyonya tua yang hampir tak pernah meninggikan suaranya sampai terbawa emosi mendengar apa yang baru saja di ucapkan ziyan.
__ADS_1
Dalam hati ziyan tersenyum. Bagus, sepertinya umpan sudah berhasil di tarik. Saatnya menggunakan hal 'itu'. Lebih baik digunakan sendiri untuk menyerang musuh sebelum digunakan oleh musuh.
" Apakah nenek tidak tahu. Itu karena selama ini chufeng tidak memiliki pelayan pribadi. Bibi tadi mengatakan bahwa sebagai keluarga mo harus mengutamakan keluarga. Tapi kenapa tidak ada yang mengatakan hal ini pada ibuku. Jika orang yang tidak mengerti, mereka pasti akan berpikir bahwa ibuku mengasingkan chufeng. " lalu ziyan memandang yuefeng. "Dan kau yuefeng, kalau kau memang tak bisa mengatakan hal ini pada ibuku. Kau bisa 'mengadukan' hal ini pada bibi. Jadi biarkan bibi yang nantinya bicara pada ibuku. "
Sebelumnya han jian menggunakan keluarga mo untuk menekannya, sekarang ia kembalikan. Ziyan juga sengaja memilih kata mengadu agar yuefeng tahu, bahwa ziyan sedang menyindirnya.
"Han jian. Apakah kau sama sekali tidak tahu, chufeng tidak memiliki pelayan pribadi? " Terdengar sedikit nada marah pada pertanyaan nyonya tua mo. Wanita yang selalu bersikap lembut, ternyata sangat menakutkan bila sudah marah.
"Nenek tolong jangan marah pada ibu. Itu semua karena chufeng bilang dia tidak ingin memiliki pelayan pribadi. Jadi kami sengaja tak mengatakan hal ini pada nyonya besar. " Yuefeng selain bisa mengadu, ternyata pandai bersilat lidah juga.
Nyonya tua menatap lembut chufeng. "Benarkah itu chufeng? "
Chufeng tak langsung menjawab, ia melirik ibu dan kakaknya tersebut. Meski ia memang tak menginginkan seorang pelayan pribadi. Itu karena dirinya sudah terbiasa melakukan segala hal sendiri. Sejak kecil ibunya selalu memandang dingin dirinya. Kakaknya selalu merendahkannya. Para pelayan juga tak menghormatinya. Jadi untuk apa pelayan pribadi sekarang.
Mendengar jawaban chufeng. Hati nyonya tua mo merasa bersalah. Bagaimana bisa ia membiarkan cucunya melakukan segala hal sendiri. Ia juga membiarkan orang-orang tak mengenalnya. Mungkin keputusan yaner untuk mengajak chufeng ke perjamuan itu tepat. Lalu bagaimana dengan yuefeng?
Nyonya tua tampak berpikir keras. Ia tak ingin bersikap bias pada cucunya.
Ziyan menyadari kegalauan hati neneknya. Ia pun membuka suaranya.
"Nenek, kita tahu Huang Guifei tidak menyukai keramaian. Karena itulah Yang mulia kaisar membatasi tamu yang hadir. Jika aku membawa yuefeng juga, aku takut itu akan membuat kaisar tidak senang. Jadi bagaimana jika saat perjamuan selanjutnya saja aku mengajak yuefeng, yang terpenting sekarang adalah membuat semua orang tahu keberadaan chufeng. "
__ADS_1
Ziyan tersenyum dalam hati. Neneknya tak mungkin mengambil resiko demi yuefeng. Semua orang tahu bahwa kaisar shao sangat mencintai Huang Guifei. Jika ia membuat Huang Guifei tidak senang, secara otomatis akan membuat kaisar juga merasa tidak senang. Hal itu bisa mempengaruhi pertunangan ziyan dengan pangeran pertama. Jadi ziyan sudah tahu pasti keputusan apa yang akan neneknya itu ambil.
"Baiklah. Kita ikuti saran yaner. yuefeng, kau ikut di perjamuan selanjutnya saja. Kita tak bisa berbuat banyak jika menyangkut Huang Guifei. ".
" Baikah nenek. Yuefeng mengerti. "
Yuefeng bersikap seolah-olah menerima keputusan neneknya itu. Namun pada kenyataan, ia sangat marah. Tak terima dengan keputusan neneknya itu. Bagaimana bisa ia kalah dengan chufeng dan ziyan. Menyuruhnya menunggu hingga perjamuan selanjutnya. Apakah neneknya itu yakin di perjamuan selanjutnya ziyan akan mengajaknya. Kebencian yuefeng terhadap ziyan semakin bertambah. Ingin rasanya saat ini juga, ia menghancurkan wajah ziyan yang tersenyum seolah sedang merendahkannya itu.
"Karena masalah ini sudah beres. Kalian kembalilah ke halaman masing-masing. Chufeng kau tetap disini. Nenek ingin mengobrol denganmu. "
Sebelum han jian pergi, ia menatap tajam chufeng. Seakan memberikan peringatan padanya agar tidak bicara sembarangan.
Ziyan menyadari tatapan tajam han jian. Jadi ia segera menghampiri neneknya dan memeluk manja lengannya.
"Nenek. Aku berencana mengajak chufeng membeli beberapa perhiasan. Ia harus tampil cantik saat perjamuan nanti. Jadi bisakan kau mengobrol dengannya lain kali. "
Ziyan mencoba bersikap manja di depan neneknya. Snowy yang melihat sikap ziyan merasa geli. Hampir saja dirinya melepaskan tawanya. Hal itu disadari ziyan. Jadi dengan tatapan menusuk, seolah mengatakan. 'Kau berani tertawa, Ikan keringmu melayang. ' berhasil membuat wajah snowy seketika pucat.
***************
Sekian dulu.
__ADS_1
rencananya mau crazy update. Jadi besok libur dulu update nya ya... 😄 mau ngumpulin chapter dulu biar banyak. Lusa baru ketemu lagi.