Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 364 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Dalam sekejap mata Sima Feng berhasil memukul jatuh hampir dua puluh orang pria yang mengepungnya.


Jingu tercengang dengan perubahan cepat situasi tersebut. Menutup paksa mulutnya yang menganga lebar, akhirnya ia bisa menelan ludahnya kasar. Ia menatap ngeri pria tampan di depannya saat ini. Meski baru saja berkelahi dengan begitu banyak orang. Namun sama sekali tak terlihat kelelahan.


' Pria ini bukan manusia. ' Hanya itu yang terpikirkan oleh Jingu saat ini.


" Siapa kau? "


Wajah dingin itu menatap Jingu. " Aku Sima Feng. "


" Sima Feng? kenapa namanya tampak familiar. Aku sepertinya pernah mendengarnya. " Gumamnya sambil terus berpikir, mengabaikan wajah para anak buahnya yang sudah membeku.


Salah satu anak buah Jingu memberanikan diri berjalan mendekat lalu membisikkan sesuatu padanya.


" Bos, dia adalah pangeran kedua sekaligus Jenderal besar Kekaisaran jin."


Jingu menatap anak buahnya sesaat baru kemudian mengangguk mengerti, " Oh jadi dia pangeran kedua. "


Santai sekali Jingu berkata, sembari mengangguk hingga akhirnya kepalanya berhenti mengangguk dan membeku. Kembali ia menatap kosong anak buahnya.


" Dia pangeran kedua. " Anak buahnya mengangguk.


" Dia putra kaisar dan ratu Jin. " Anak buahnya mengangguk lagi.


" Dia jenderal yang dikenal dengan hobinya menebas kepala musuh itu. " Lagi-lagi anak buah Jingu mengangguk.


Hening.


Jingu dan anak buahnya sama-sama diam. Otak kecil Jingu sedang berusaha keras mencerna situasi.


' Sial! ternyata orang yang aku tantang adalah orang gila. ' Umpatnya dalam hati. Ia tentu tahu dan mendengar betapa garangnya Sima Feng di medan perang. Dan kini ia mulai menyesali keputusannya memprovokasi iblis pembunuh ini.


Lalu menoleh pada Sima Feng dan tersenyum konyol. " Yang mulia, kenapa kau tidak bilang sejak tadi jika itu dirimu. Andai sejak tadi aku tahu, aku tidak akan dengan bodohnya memanggil anak buah ku hanya untuk kau pukuli. "


" Maksud mu aku harus menyebut nama ku saat kau datang dan langsung menantang ku? Sepertinya hanya orang tak waras yang akan melakukan hal itu. "


Jingu mati kutu. Ia juga akan berpikir demikian jika Sima Feng langsung meneriakkan namanya di awal pertemuan tadi.


" Tidak. Aku tidak bermaksud begitu Yang mulia. Atau begini saja, atas kesalahpahaman kecil ini, aku akan membantu mu mencari orang yang kau cari, Yang mulia. Bagaimana? "


" Aku terima tawaran mu. "


Jingu kembali tercengang dengan kecepatan Sima Feng menerima penawarannya. Apakah ia sudah begitu putus asa.


Kembali, Jingu tersenyum yang sebenarnya tampak menggelikan dimata Sima Feng.


" Jadi Yang mulia, bisakah kau memberitahuku siapa yang sedang kau cari ini? aku sangat yakin sekali dia pasti penjahat besar karena kau sampai turun tangan sendiri. "


Bingjie hampir saja menyemburkan tawanya begitu mendengar ucapan Jingu. Dia menyebut istri Sima Feng sebagai penjahat besar.

__ADS_1


' Pria ini memang pantas di pukuli. ' Pikir Bingjie.


Reaksi berbeda justru di perlihatkan Sima Feng. Pria itu menunjukkan raut tak sukanya dan itu disadari Jingu.


' Gawat! apakah aku membuat kesalahan lagi? '


" Dia bukan penjahat besar tapi istri ku. " Tekan Sima Feng penuh intimidasi.


Jingu tertawa canggung, siapa yang akan menduga bahwa orang besar seperti Sima Feng akan kehilangan istrinya dan itu sukses membuat Jingu mulai berspekulasi bahwa Sima Feng mungkin melakukan tindakan kekerasan yang membuat istrinya kabur.


" Aku tidak melakukan kekerasan pada istriku. "


Seolah bisa membaca isi pikiran Jingu, Sima Feng berkata penuh penekanan.


" Aku tidak berpikir demikian Yang mulia. Aku yakin kau bukan pria brengsek yang akan memukul seorang wanita terlebih itu istri mu. "


Penduduk yang semula bersikap waspada pada Sima Feng langsung berubah ketika melihat perlakuan Jingu. Karena itu beberapa penduduk mulai mengabaikan keberadaan Sima Feng dan Bingjie dan kembali melakukan aktivitas seperti biasa.


Bingjie yang menyadari perubahan sikap penduduk desa tentu langsung mengerti bahwa pria ini bukan orang biasa.


" Mereka sepertinya menghormati mu. Terlihat jelas perlakuan mereka langsung berubah begitu melihat mu menerima kami. "


" Paman, sepetinya mata mu cukup tajam. Bisa di anggap aku adalah bos di desa ini. Pemimpin desa ini. " Ucap Jingu memperkenalkan statusnya dengan dada membusung, terlihat menyombongkan dirinya.


Sima Feng melihat pria di depannya ini cukup bisa di andalkan. Mungkin ia bisa menemukan Liu Ru lebih cepat dengan bantuannya.


" Kalau begitu, aku akan merepotkan mu menemukan istri ku. "


Setelah menyebutkan ciri-ciri Liu Ru pada Jingu dan memberitahu kapan terakhir istrinya terlihat. Jingu merasa suatu perasaan familiar.


" Kenapa ciri-cirinya terlihat tidak asing? " Gumamnya sembari berpikir.


Jingu benar-benar memeras otaknya berusaha untuk mengingat. Dan usahanya itu tidak sia-sia, ketika sebuah ingatan dimana ia menolong Liu Ru tiba-tiba terlintas.


" Ah benar, wanita itu. " Serunya tanpa sadar.


Semua perhatian langsung berpusat pada Jingu.


" Pangeran, aku tahu istri mu ada dimana. Mari ikutlah dengan ku, akan ku tunjukkan dimana dia sekarang. "


Tanpa membuang waktu lebih lama, mereka semua pergi ke pondok dimana nenek Wu merawat Liu Ru.


Sebuah pondok kayu sederhana dengan bau obat-obatan langsung menyambut Sima Feng. Ia mengernyit ragu dan menoleh pada Jingu untuk bertanya.


"Istri ku ada disini? apa dia terluka? "


Sima Feng tidak bodoh untuk tahu bahwa pondok yang ia datangi saat ini adalah rumah seorang tabib. Dan jika Liu Ru ada di sini, itu berarti kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Seketika perasaannya yang tadi sempat membaik langsung berubah khawatir.


Jingu tak berniat menyembunyikannya, tapi ia juga bingung bagaimana mengatakannya.

__ADS_1


" Kau bisa melihatnya sendiri Yang mulia. "


Meski sebenarnya Liu Ru sudah baik-baik saja. Tapi tidak bagi Sima Feng yang justru menangkap lain dari ekspresi Jingu seolah istrinya sedang sekarat dan berada di ambang antara hidup dan mati.


Sima Feng ingin segera menemui istrinya. Ia berjalan cepat memasuki pondok dengan segala macam perasaan, semua campur aduk menjadi satu.


Saat ia sudah berada di depan pintu. Sima Feng merasa kakinya begitu berat untuk melangkah seolah ada bola besi yang terikat di kedua kakinya. Takut melihat kondisi sang istri yang justru akan mematahkan hatinya. Tak terbayang jika hal itu benar-benar terjadi. Penyesalan tiada ujung yang siap menanti dirinya.


Perlahan ia membuka pintu pondok, menarik perhatian seorang wanita tua di sana.


" Siapa kau? " Tanyanya begitu melihat sosok Sima Feng.


Nenek Wu tak tahu jika pria ini adalah suami wanita yang sedang di rawatnya tersebut.


Karena tak mendapatkan respon, nenek Wu kembali bertanya sedikit lebih keras.


" Hei, sedang apa kau? "


Sima Feng sama sekali tak peduli dengan segala pertanyaan nenek tua itu. Sedari masuk, matanya fokus pada sosok wanita yang beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya, mengurung hatinya di penjara kerinduan.


Kedua matanya berkaca-kaca melihat tubuh sang istri yang terbaring lemah. Mulutnya tak mampu bersuara, meski hanya untuk sekedar memanggil nama sang istri.


Tubuh Sima Feng luruh di samping ranjang Liu Ru. Dengan tangan gemetar, ia mengulurkan tangannya ingin sekali menyentuh wajah sang istri.


" Apa kau temannya? "


Nenek Wu yang sejak tadi melihat sikap Sima Feng menebak bahwa ia mengenal Liu Ru jadi ia tak menghentikan Sima Feng. Sayang, pria itu masih bungkam dan memandang Liu Ru dengan tatapan penuh luka dan penyesalan.


Jingu masuk bersama Bingjie. Melihat nenek Wu menatapnya seolah meminta sebuah penjelasan. Jingu langsung memberitahu.


" Ini suami wanita itu. "


Singkat, namun sudah menjelaskan segala kebingungan nenek Wu.


Sima Feng masih terduduk di samping Liu Ru, menggenggam erat tangan istri tercintanya, perlahan menunduk dan mencium tangan kecil itu.


Tanpa siapapun sadari, Sima Feng menangis menunduk. Ia sungguh menyesal, amat menyesal. Andai saat itu ia mengatakan semua rencananya dan tak mengabaikannya, ini semua pasti tidak akan terjadi.


Maaf. Hanya itu kata yang terus terngiang di kepalanya. Ia harus meminta maaf.


" Maaf... maafkan aku istriku, maafkan aku. Tolong bangunlah. Jangan hukum aku seperti ini. Aku bisa menerima hukuman apapun dari mu tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tak sanggup jika harus berpisah dengan mu. Aku sangat mencintaimu. Sungguh, aku sangat sangat mencintai mu. Maaf karena aku terlambat menyadarinya. Maafkan aku istri ku. "


Sima Feng berkata lirih, namun suaranya bergetar. Terlihat jelas bahwa kondisi istrinya menjadi pukulan berat bagi pria tampan itu.


" Istri ku, aku mohon bangunlah. Lihatlah, aku sudah datang. Aku di sini untuk menjemput mu. " Sima Feng berkata dengan terisak.


Nenek Wu memutar bola matanya mulai jengah dengan drama di depannya.


" Anak muda, berhenti menangis. Istri mu ini hanya tertidur bukan sekarat. Untuk apa kau menangis dengan begitu menyedihkan seolah-olah istri mu ini sudah tak tertolong lagi. "

__ADS_1


Bingjie yang sudah terharu langsung tertegun begitu mendengar ucapan nenek Wu. Sedangkan Jingu, yang sejak tadi berusaha keras menahan tawanya terpaksa menggigit bibirnya karena semakin tak tahan untuk tak menyuarakannya. Namun ia masih cukup waras untuk tak menertawakan Sima Feng atau pria iblis itu akan menghajarnya hingga babak belur.


Sementara Sima Feng sudah kembali berwajah datar seolah pria yang menangis tadi bukanlah dirinya.


__ADS_2