
Setelah menemui ziyan dan menceritakan apa yang terjadi dengannya selama di penjara. Xiaoqi keluar dari ruang baca ziyan. Ternyata setelah dirinya di culik, apa yang terjadi dengannya tidak jauh berbeda dengan apa yang di alami oleh ziyan. Beruntung xiaoqi tidak mengalami penyiksaan sama sekali.
Bugg!
Xiaoqi menabrak seseorang ketika tiba di persimpangan lorong. Seorang pelayan wanita tanpa sengaja menabrak dirinya. Kepala pelayan wanita itu menubruk tepat di dada bidang xiaoqi. Membuat si pelayan meringis sembari memegang kepalanya.
" Addududuhh. "
" Kau tidak apa-apa? " Tanya xiaoqi tanpa menunjukan ekspresi apapun.
" Aw.. ini sangat sakit. " Rintihnya kesakitan. Ia kemudian mendongak untuk melihat wajah pria yang menabraknya.
Sese yang tadinya ingin marah langsung menutup mulutnya begitu melihat wajah tampan xiaoqi. Ia bahkan tak bereaksi hanya mematung memandang wajah xiaoqi.
" Hei. apa kau baik-baik saja? " Sekali lagi xiaoqi bertanya. Ia bahkan menggoyangkan tangannya tepat di depan wajah sese yang mematung.
Xiaoqi menjentikkan jarinya berkali-kali membuat sese kembali tersadar. Ia begitu terpesona dengan wajah xiaoqi. Ia bahkan melupakan rasa sakit yang baru saja dirasakannya.
" Ah aku baik-baik saja. " Ucap sese gelagapan.
" Ow. kalau begitu permisi. " Xiaoqi berjalan melewati sese begitu saja.
" Hei kau belum minta maaf. " Seru sese membuat langkah xiaoqi terhenti.
Xiaoqi berbalik, melihat sekilas sese kemudian kembali berbicara. " Kau yang menabrak ku. Jadi tidak ada kewajiban untuk ku meminta maaf. " Dan ia pun kembali melangkah meninggalkan sese.
" Apa yang baru saja dikatakannya? Tidak ada kewajiban meminta maaf? " Dengus sese kesal.
Lalu ia kembali berbicara sendiri. " Untuk wajahnya tampan. Meski sikapnya terkesan dingin. Mungkin pengaruh karena mengikuti pangeran rui, sikapnya pun mengikuti sang tuan. " Gumam sese pada diri sendiri. Bahkan setelah mendapatkan sikap dingin xiaoqi tak membuat senyum di wajah gadis itu pudar. Untuk pertama kalinya selama delapan belas tahun hidupnya ia merasakan perasaan aneh.
" Kenapa Jantung ku terus berdebar, wajahku juga panas. Mungkinkah aku menderita penyakit kronis? sepertinya aku harus bertanya pada wangfei nanti. " Monolog sese memegang kedua pipinya.
***********
Di pengadilan istana. Sedang terjadi perdebatan sengit antar menteri dari kedua kubu. Pembahasan mengenai pembebasan Arthur yang ditolak oleh pejabat kubu bangsawan. Mereka beranggapan meski arthur dinyatakan tidak bersalah mengenai kasus penculikan dan lelang ilegal. Namun ia di indikasikan sebagai mata-mata negara lain. Mengingat fisik arthur yang berbeda.
" Apakah kalian bisa menjamin bahwa ia bukan mata-mata negara lain? akan lebih baik berjaga-jaga dari pada mengambil resiko yang mana akan kita sesali di kemudian hari. " Ucap salah satu pejabat kubu bangsawan.
" Aku setuju. Kita tidak bisa mengabaikan keselamatan rakyat. Jadi sebelum ada bukti lebih baik kita tetap mengurungnya. " Timpal pejabat kubu bangsawan yang lain.
Kali ini pejabat kubu kekaisaran tidak bisa mendebat. Alasan yang di kemukakan oleh rival mereka yang selalu mengajak duet ketika berdebat itu terdengar cukup masuk akal.
Sementara Sima rui, dia memilih diam. Mencibir dalam hati sikap para pejabat ayahnya yang seolah peduli dengan nasib rakyat. Ia akan memikirkan cara lain untuk mengeluarkan Arthur. Jika ditanya kenapa ia tidak meminta pada sang ayah untuk mengeluarkan Arthur? maka jawabannya adalah sudah. Namun sebagai kaisar, Sima shao juga tidak bisa bertindak sesuka hati. Banyak mata yang memperhatikannya dan menilai segala keputusannya.
Sima shao menatap Sima rui. Berharap putranya menangkap sinyal suara hatinya yang ingin disampaikan.
' Lebih baik kau pikirkan sendiri cara untuk mengeluarkan teman mu itu anak ku. Sudah lihat bukan para pria bau tanah itu menggigit keras tak ingin melepaskan begitu saja. ' Ucap Sima shao dalam hati.
__ADS_1
Sementara Sima rui yang menyadari tatapan sang ayah. Ia hanya melihat sekilas lalu kembali melengos. Ia bahkan tak mau repot-repot untuk memahami isi hati ayahnya. Perihal arthur, ia akan menggunakan caranya sendiri. Jika memang dengan cara halus tidak bisa. Maka ia akan menggunakan cara ekstrim. Ia bahkan tak perlu memikirkan reaksi yang akan para pejabat ayahnya itu pikirkan.
Setelah selesai dengan pengadilan istana yang penuh dengan kepalsuan para pejabat istana itu, Sima Rui datang mengunjungi ibunya, Huang guifei.
" Guifei, pangeran rui datang berkunjung. " lapor salah satu pelayan.
" Suruh dia masuk. "
Setelah mendapatkan ijin. Sima rui masuk dan langsung memberikan hormat pada sang ibunda.
" Ibu, bagaimana kabar mu? " Tanyanya yang sudah duduk di depan Huang Guifei.
Alis Sima rui mengernyit ketika melihat beberapa buah asam ada di meja sang ibu.
" Aku baik. Hanya saja entah kenapa aku menyukai makanan asam akhir-akhir ini. " Ungkap guifei. Ia mengambil satu permen asam dan langsung memakannya. Sima rui yang melihatnya bahkan merasa ngilu ketika melihat ibunya yang tanpa henti mengunyah benda asam itu.
" Sepetinya ibu dan ziyan sama. " Cicit Sima rui tiba-tiba.
" Ada apa dengan menantuku." Tanya Huang Guifei.
" Tidak apa-apa. Ia hanya sedang menyukai makanan manis. Dari semalam hingga tadi pagi. Ia selalu meminta pelayan membuat makan manis. Meski biasanya ia juga menyukai makanan manis. Tapi kecenderungan kali ini terasa lebih parah. Ia sama sekali tak menyentuh makanan lain selain makanan manis. " Jelas Sima rui.
" Lalu apa masalahnya? Itu tidak seperti istrimu tidak mau makan bukan? ia hanya memilih makanan yang ingin dimakannya. Apakah itu aneh? " Sanggah Huang Guifei. Menurutnya perilaku sang menantu masih terbilang wajar. Jadi ketika putranya mengkritik selera makan istrinya itu, entah kenapa ia sendiri menjadi kesal.
" Kalian para pria memang tak pernah memahami kami para wanita. Kalian hanya berpikir mengenai urusan politik dan ranjang. Apakah kalian sama sekali tak berpikir bahwa kami para wanita juga ingin di mengerti. Jika kalian tidak bisa memahami kami, setidaknya jangan mengomentari apa yang kami lakukan. Apakah tidak bisa hanya diam dan melihat saja. " Sembur Huang Guifei tanpa memberikan Sima rui kesempatan untuk membela diri.
" Lebih baik kau kembali. Tiba-tiba ibu tak ingin melihat mu. " Huang guifei kembali menambahkan .
Meski tak tahu apa yang terjadi. Sima rui memilih patuh dan pergi meninggalkan istana Huang guifei dengan segudang pertanyaan di benaknya. Tentu bukan pertanyaan mengenai ibunya, melainkan apakah benar istrinya merasa dirinya sebagai suami yang tak memahaminya?
Di tengah jalan saat keluar istana Huang guifei, Sima rui melihat ayahnya sedang berjalan mendekat. Ia tahu pasti sang ayah ingin mengunjungi istrinya. Tiba-tiba sebuah pikiran jahil muncul di pikiran Sima rui. Ia ingin sedikit mengerjai sang ayah.
" Hormat ayah. Apakah ayah hendak mengunjungi istri ayah? " Tanya Sima rui.
' Anak kurang ajar. Istriku itu ya ibu mu ' ucap Sima shao tentunya hanya dalam hati. Banyak kasim dan pelayan di belakangnya. Mana mungkin ia sebagai raja mengumpat sembarangan.
Sima shao berdeham. " Apakah kau baru menjenguk ibumu? "
" Benar ayah. Sudah lama tidak berkunjung jadi kali ini datang untuk melihat kesehatan ibu. Tapi... " Jeda Sima rui membuat Sima shao memberikan perhatian lebih.
" Tapi apa? " Membuat Sima shao penasaran.
" Saat berkunjung, aku melihat ibu sangat suka memakan permen asam. Sebagai anak tentu aku khawatir. Karena terlalu banyak mengkonsumsi permen asam tentu tidak baik untuk kesehatan. Mungkin ayah bisa menasehati ibu. " Adu sima rui.
Sima shao terlihat serius mendengar aduan sang putra. " Kau benar. Terlalu banyak makanan asam juga tidak baik untuk lambungnya. Baiklah, aku akan menasehatinya. Sekarang kembalilah. "
Setelah memberikan hormatnya lagi Sima rui pergi. Diam-diam ia tersenyum puas. Ia bisa membayangkan bagaimana murkanya sang ibu ketika ayahnya memberi nasehat.
__ADS_1
*********
Di kediaman pangeran.
Ziyan sudah menunggu kedatangan sima rui di ruang tengah bersama dengan wang yi. Pria itu memang sejak tertangkapnya arthur tinggal di sana. Menjadi beban dan menumpang hidup di kediaman Sima rui.
Ziyan melirik wang yi yang sejak tadi sibuk mengunyah kuaci.
" Tidak biasakan kau berhenti memakan benda kecil itu. Kau membuat bahan makanan kediaman ini cepat habis. " Kesal ziyan melihat wang yi yang sejak tadi sibuk memakan biji bunga matahari itu.
Wang yi memajukan mangkuk kecil yang berisi kuaci tanpa kulit pada ziyan.
" Wangfei, makanlah sedikit kuaci ini. Konon ini bangus untuk kesehatan kulit mu. " Ucap wang yi tanpa peduli dengan kekesalan wanita yang memiliki tahta tertinggi di kediaman pangeran itu.
Mata ziyan berbinar. Tangannya maju hendak mengambil beberapa. Namun tangannya tiba-tiba terhenti, lalu ia melirik kembali pada wang yi.
" Dengan apa kau mengupas kulitnya. " Tanya ziyan menyelidik. Jangan sampai apa yang ada di pikirannya ternyata benar.
Wang yi tersenyum tanpa beban. " Tentu saja dengan ini. " Wang yi memanyunkan bibirnya.
Dugaannya ternyata benar. Ziyan segera mendorong kembali mangkuk berisi kuaci tersebut lalu mengelap tangannya di meja.
" Kalian menungguku. " Kedatangan sima rui mengalihkan perhatian kedua orang di ruang tunggu tersebut.
Sima rui langsung duduk di samping ziyan dan menyesap teh yang sudah di siapkan sang istri.
" Bagaimana? " Tanya ziyan langsung. Tentu sima rui tahu apa yang sedang ditanyakan oleh istrinya itu.
Sima rui menggeleng. " Para pejabat di kubu bangsawan menolak. Mereka beralasan bahwa arthur adalah mata-mata negara lain. "
" Uhuk- " Wang yi tersedak.
Ziyan dan Sima rui beralih menatap wang yi yang sibuk menepuk-nepuk dadanya. Bahkan karena panik, ia sampai gemetar saat menuangkan air ke dalam gelasnya.
" Kau tak apa? " Tanya ziyan khawatir. Terlihat wajah kesakitan wang yi.
" Maaf membuat kalian khawatir. Aku hanya tersedak biji kuaci. " Ungkap wang yi beralasan.
Ziyan ingin kembali berkata namun urung karena tahu dirinya sedang membahas hal yang lebih penting.
" Silakan kalian lanjutkan. " Ziyan dan Sima rui kembali membahas topik mengenai arthur.
" Lalu apakah tidak ada cara lain untuk membebaskan arthur? " Tanya ziyan pada suaminya.
" Kita bisa melakukan diam-diam. Namun itu akan membaut Arthur tidak memiliki tempat di negara ini, dengan kata lain ia harus pergi dan hidup dalam pengasingan selamanya. Karena itu aku ingin menggunakan jalur legal agar ia bisa tetap berada di negara ini. Hanya saja kita tidak memiliki jaminan atau sesuatu yang membuktikan bahwa ia bukanlah seorang mata-mata. " Papar Sima rui menjelaskan.
Setelah Sima rui selesai dengan ucapannya. Tak ada satupun yang kembali berbicara. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1