
A Guang dan A hua sudah kembali ke akademi.
Keduanya begitu bersemangat mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan orang yang sejak kemarin mengganggu pikiran masing-masing.
A Hua yang tak sabar bertemu guru kesayangannya. Sedangkan A Guang berharap secepatnya bisa bertemu dengan teman sekamarnya, Na li.
" Apakah dua hari kemarin kau berada di asrama?" Tanya A Guang setelah selesai merapikan barang miliknya. Sementara Na li masih setia membaca buku di tangannya.
Terdapat jeda sebelum Na li menjawab. " ....Benar. Aku tidak kemana pun. Kenapa kau bertanya?
" Tidak. Aku hanya penasaran saja. Kau lanjutkan saja kalau begitu. Aku harus menemui guru Yan. "
A Guang segera keluar dari kamar. Raut wajahnya berubah rumit. Kecewa karena kebohongan yang baru saja Na li katakan.
' Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Na li? kenapa kau berbohong? Apa karena kau mendatangi tempat itu? untuk apa? ' Monolog A Guang dalam hati. Semua pertanyaan itu terus mengusiknya.
Sebelum A Guang kembali ke asrama. Diam-diam ia melihat daftar catatan keluar murid terlebih dulu dan di situ tertulis jelas jika Na li keluar. Sebab itulah ia tahu bahwa Na li sedang berbohong.
Saat pikirannya sibuk memikirkan Na li. Tanpa ia sadari langkah kakinya sudah berjalan menjauhi kamarnya.
Langkahnya terhenti saat terdengar sekelompok pria sedang mengobrol.
" Hantu wanita itu muncul lagi? "
" Benar. Aku melihatnya dengan jelas. Aku yakin bahwa itu adalah hantu. "
" Saat itu tengah malam, apa mungkin itu hanya halusinasi mu saja. Aku tidak percaya di asrama ini ada hantu. "
" Ish, kau tidak melihatnya sendiri. Karena itu kau berpikir bahwa aku hanya berhalusinasi. "
" Tidak, aku percaya pada mu. Aku sendiri juga melihatnya. Dia selalu muncul saat tengah malam. Dan selalu berada di gudang belakang. "
" Benar bukan apa kata ku. "
" Tetap saja aku tidak mempercayainya. "
" Baiklah. Kalau begitu nanti malam kita lihat. Aku yakin itu adalah hantu. "
" Siapa takut. Aku yakin itu hanya salah satu murid yang sedang berbuat iseng. "
Obrolan itu terus berlanjut. A Guang termenung. Ia tahu siapa yang dimaksud hantu oleh mereka.
Ia sering melihat Na li keluar saat tengah malam. Awalnya, A Guang pernah diam-diam mengikutinya. Penasaran untuk apa gadis itu masuk ke gudang belakang saat tengah malam. Terdesak rasa penasaran ia pun mengintip.
__ADS_1
Mata A Guang terbelalak sempurna kala pemandangan kulit putih tanpa sehelai kain menjadi tangkapan mata suci A Guang. Bahkan kedua bukit kecil Na li terlihat sangat jelas dengan warna merah muda di bagian puncaknya.
Wajah A Guang seketika berubah merah seperti pantat babon. Masih dengan jantung yang berdebar tak terkendali, ia segera meninggalkan tempat tersebut.
' Tidak heran setiap pagi ia hanya membasuh muka, mencuci tangan dan kaki. ' Pikir A Guang.
Akhirnya ia mengerti, jika Na li terpaksa mandi pada tengah malam karena dirinya seorang perempuan. Di asrama timur, Ia tidak bisa bergabung dengan murid lain yang semuanya laki-laki.
********
" Apa kau akan keluar malam lagi? " Tanya A Guang saat melihat Na li menggelar selimut di lantai.
Ia masih ragu apakah harus mengatakannya atau tidak tentang rencana para murid itu.
" Kau tahu ? " Na li justru bertanya balik. Ia memicingkan mata, tak menghiraukan pertanyaan A Guang.
A Guang mengangguk. " Telinga ku begitu sensitif. Apalagi langkah mu saat keluar sungguh berisik membuatku mau tak mau terbangun. " Jawab A Guang bohong.
" Oh maaf kalau langkah ku berisik. "
Na li merebahkan badannya lalu menyelimuti seluruh tubuhnya.
A Guang mengerutkan keningnya. Entah kenapa ia merasa Na li sedikit sensitif dari biasanya.
" Hei, kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa kau akan keluar lagi? " A Guang kembali bertanya.
" Hmm itu apa? Iya atau tidak? " A Guang masih mengganggu Na li dengan todongan pertanyaannya.
Na li yang kesal membuka kembali selimut dan langsung menoleh pada A Guang.
Tirai yang dulu memisahkan mereka sudah dibuang entah kemana.
Na li menatap kesal A Guang yang sedang berbaring di ranjang empuk sementara dirinya harus sabar tidur beralaskan lantai.
" Apa? kenapa kau menatapku seolah ingin menerkam ku? " Tanya A Guang saat melihat tatapan Na li.
Ia segera menaikkan selimut miliknya hingga menutupi dada karena terpengaruh ucapannya sendiri.
" Bisakah kau diam. " Suara Na li datar dan tenang namun penuh penekanan. Membuat A Guang mengangguk patuh. Jari telunjuk dan ibu jari A Guang menempel seolah sedang menutup resleting mulutnya.
" Tahu kah kau? beberapa hari dalam satu bulan, seorang gadis akan mengalami nyeri yang jika kita kalikan tiga sama dengan rasa sakit saat melahirkan. Dan apa aku tahu seperti apa rasa sakit saat melahirkan? Ibarat perut mu di robek bersamaan dengan seluruh persendian mu patah. Jadi meskipun ada raja neraka datang sekalipun, aku sanggup menendangnya kembali ke alam bawah karena mengganggu ku menjadi wanita yang ingin tidur dengan tenang. "
" Jadi sekarang berhentilah bicara dan tidurlah. " Ucap di akhir kalimat Na li.
__ADS_1
A Guang dengan patuh mengangguk, lalu menarik selimut dan berbaring menutup matanya.
Sungguh Na li saat ini begitu menakutkan. Ia jadi teringat dengan ibunya yang selalu memerintah dan menyuruh saat datang tamu bulanannya. Bahkan selama beberapa hari mencekam tersebut, ayah akan sangat hati-hati dalam semua tindakannya agar tidak menyinggung perasaan sang ratu.
A Guang melupakan niatnya untuk memberitahu Na li tentang murid lain yang hendak pergi ke gudang. Ia yang awalnya pura-pura tertidur, akhirnya benar-benar tertidur pulas.
Tengah malam, Na li merasa tidak nyaman selain dirinya belum mandi seharian ini, itu karena datang bulannya yang keluar sangat banyak.
" Aku sepertinya harus menggantinya. Sungguh merepotkan jika hal ini datang. " Keluh Na li pelan.
Ia benar-benar merasa repot jika saat datang bulannya tiba. Seperti saat ini, tidak leluasa menggunakan kamar mandi membuatnya kesulitan saat mengganti pembalut kain miliknya.
Matanya menoleh pada A Guang. Dengan hati-hati ia melangkah keluar. Tak ingin membangunkan temannya tersebut.
Dengan cepat dan penuh waspada, Na li menuju ke gudang belakang dimana biasanya ia mandi.
Menanggalkan satu persatu pakaiannya, ia memulai ritual mandinya.
Sementara tak jauh dari gudang, lima murid laki-laki tengah bersiap menuju gudang.
" Apakah kalian siap? "
" Siap! " Jawab yang lainnya dengan serempak.
Kelima murid tersebut bergegas menuju arah belakang.
" Sstt.. jangan berisik. " Peringat salah satunya saat mereka sudah dekat dengan gudang.
" Dimana hantunya? "
" Di sana. Lihatlah. " Tunjuk gudang dimana Na li sedang membersihkan diri.
Salah satu murid mulai berjalan mengendap. Ia mulai mengintip dari lubang kecil.
Matanya membola kala melihat punggung putih mulus.
' Sial! Itu bukan hantu tapi manusia. ' batinnya. Kemudian ia memberikan kode pada temannya yang lain untuk melakukan hal yang sama.
" Lihatlah. Itu manusia bukan hantu. " Bisik salah satu murid.
" Benar. Kalau begitu ayo kita sergap. Wanita di asrama laki-laki tidak bisa di biarkan. "
Semuanya mengangguk setuju. Setelah itu tanpa menunggu lama, mereka mulai membuka pintu dengan kasar
__ADS_1
Brakk!
Pintu terbuka lebar.