
"Nona apa kau sudah dengar? lizhong ditangkap petugas penyelidik kemarin sore." Yaoyao segera memberikan kabar yang baru saja di dengarnya dari xiaoqi.
Ziyan sedang melakukan rutinitas yoganya saat yaoyao menyampaikan kabar tersebut. Ia tetap menanggapi pesan yaoyao tanpa merubah posisi Triangle posenya. " Cepat sekali. Kapan sidangnya akan dibuka? "
"Sepertinya siang ini. Apa nona mau melihatnya? "
Sebenarnya ia tak ingin datang melihat, karena pasti ia akan bertemu dengan yelu disana. Tapi setelah memikirkannya lagi, kenapa dia tak mencoba bertemu di depan yelu sebagai mo ziyan. Sekalian melihat apakah ia mengenalinya sebagai bos zi.
"Baiklah. Kau minta xiaoqi menyiapkan kereta kuda dan kusir. Hari ini kita tidak ke chuntian. Jadi lebih baik membawa kusir sendiri. "
Yaoyao bergegas mencari xiaoqi untuk menyampaikan pesan ziyan.
***********************
Sima Rui masih membaca laporannya di ruang kerjanya. Meski hari masih pagi, namun sebagai Jenderal besar ia sudah mendapatkan setumpuk laporan yang datang dari perbatasan. Suku bar-bar yang belum lama ini mereka kalahkan memperlihatkan tanda-tanda pergerakannya. Seharusnya setelah kekalahan besar mereka, akan memakan waktu cukup lama bagi mereka untuk bangkit. Tapi kenapa begitu cepat. Sepertinya ada pihak lain yang membantu mereka.
"Junyi."
Sima Rui memanggil pengawal pribadinya tesebut dan tanpa menunggu lama dengan sigap junyi sudah ada di depannya.
"Iya tuan. "
"Minta orang kepercayaan kita untuk menyampaikan pesan ini ke bagian perbatasan. Aku akan bertemu ayahanda untuk melaporkan situasi. " Sima Rui menggulung sebuah catatan kecil lalu memasukannya pada sebuah tabung kayu. Ia harus mengetahui siapa yang diam-diam membantu suku bar-bar untuk menekan kerajaannya.
"Baik tuan. " Junyi menerima tabung kecil tersebut. Namun bukannya bergegas pergi, ia masih berdiri di tempat yang sama.
Sima Rui yang sudah kembali membaca laporannya setelah memberikan pesannya pada junyi, mengangkat kembali kepalanya untuk melihat junyi yang masih diam.
"Ada apa? Apakah ada yang ingin kau laporkan lagi?"
__ADS_1
Junyi mengangguk pelan. "Saat itu anda memberikan perintah untuk melaporkan apa saja yang di lakukan nona mo. Jadi saya ingin melaporkan berita yang baru saja saya terima Yang mulia. "
Semenjak sima Rui secara tidak sengaja melihat mo ziyan di paviliun manyue. Ia memang memberikan perintah pada junyi untuk melaporkan semua berita yang berhubungan dengan calon tunangannya itu. Ia masih ingat dengan laporan pertama junyi yang diterimanya malam itu.
Mo Ziyan putri satu-satunya menteri Mo yincheng. Selama tiga tahun terakhir karena mengalami sakit keras, ia tidak pernah meninggalkan kediamannya. Namun sekitar 3 bulan yang lalu ia memutuskan pergi ke jianjing untuk menjalani pengobatan. Baru kembali sekitar sebulan yang lalu. Sopan, murah senyum, dan lemah lembut.
Sima Rui terkejut, begitu sedikit informasi yang berhasil di dapatkan junyi. Padahal bawahannya itu selalu melakukan pekerjaannya dengan baik.
Junyi tidak bisa mendapatkan informasi lebih, karena memang tidak ada apapun yang bisa dilaporkan. Selama sakit, yaner memang tidak pernah meninggalkan kediamannya. Namun justru karena sedikit informasi itulah membuat Sima Rui semakin penasaran dengan calon tunangannya itu. Sosok yang ia temui di paviliun manyue sedikit berbeda dengan kata murah senyum, dan lemah lembut yang ada di laporan junyi. Justru sosok yang ia lihat ialah gadis tangguh dan tegas, jauh dari kata lemah lembut. Dan meski gadis itu tersenyum, Sima Rui masih bisa merasakan sedikit perasaan dingin dari matanya.
"Katakan." Sima Rui sebenarnya tak sabar ingin mendengar berita dari junyi itu, tapi ia tak ingin menunjukannya di depan pengawal pribadinya tersebut.
Junyi merasa, ia baru saja melihat sebuah kilatan antusias di mata tuannya itu, tapi setelah diperhatikan sepertinya ia salah. Wajah tuannya ini masih sedingin balok es.
"Saya menerima laporan. Kemarin pangeran ketiga tak sengaja bertemu dengan nona mo pada kasus pembunuhan mantan pegawai paviliun tiantang. Saat itu nona mo melakukan protes pada petugas penyelidik zhuting yang melakukan pemeriksaan kasus secara asal. Hal itu memancing perdebatan antara dia dan nona mo. Lalu pangeran ketiga datang membantu nona mo dan mengambil alih kasus. Selain itu, kabarnya nona mo juga membantu pangeran ketiga dalam proses penyelidikan sehingga tersangka pembunuhan dapat segera tertangkap. Siang ini sidang kasusnya akan dibuka."
Sima Rui tersenyum, sementara junyi tercengang. Melihat tuannya tersenyum merupakan hal yang sangat langka. Kelihatannya nona kediaman mo ini secara perlahan sudah melelehkan balok es kerajaan jin.
"Ayo." Sima Rui bangkit dari kursinya, lalu melangkah keluar.
"Kemana Yang mulia? " Junyi berusaha mengikuti langkah cepat tuannya itu.
" Kita akan ke biro penyelidik. Aku baru ingat belum meminta hasil laporan adik ketiga mengenai pemeriksaan di lumbung nasional. "
"Lalu bagaimana dengan laporan ini Yang mulia? "
"Kau kirim dulu. Baru setelah itu menyusulku ke biro penyelidik. "
Hah? kenapa junyi merasa tuannya ini ke biro penyelidik bukan untuk bertemu Adiknya tapi untuk bertemu nona mo...
__ADS_1
***************
Suasana pengadilan begitu ramai. Seperti perkiraannya, ziyan melihat yelu di barisan paling depan dengan seorang temannya yang saat itu ikut ke paviliun chuntian. Pria brengsek yang sembarangan menciumnya itu kelihatannya tak ikut bersama mereka. Wenran juga ada di depan, sudah pasti ia akan datang melihat lizhong mengingat hubungan mereka sebelumnya.
Ziyan berada di barisan belakang bersama ketiga pengikutnya. Siapa lagi kalau bukan yaoyao, xiaoqi, dan snowy.
Persidangan berjalan cukup lancar, meski awalnya lizhong mengelak semua tuduhannya. Namun ia tak bisa membantah saat Penyelidik mengeluarkan bukti-bukti yang ada. Akhir sidang memutuskan lizhong bersalah. Ada hal lain yang cukup mencengangkan ziyan. Ternyata kejahatan yang dilaporkan atas nama lizhong tak hanya terkait pembunuh xiaolu, tapi juga Penggelapan dana paviliun tiantang. Yelu melaporkan lizhong setelah dirinya menemukan bukti slip penerimaan yang ia terima berbeda dengan yang ada pada pihak penjual. Setelah ditelusuri ternyata lizhong sengaja meminta kepada pihak penjual untuk menyediakan dua slip berbeda. Dan kejadian ini ternyata sudah lama terjadi. Namun hal yang paling membuat yelu kecewa adalah hancurnya paviliun chuntian ternyata ada hubungannya dengan perbuatan lizhong. Karena itulah yelu memutuskan untuk memberikan kompensasi kepada wenran dan chuntian setelah kasus ini. Tentu saja itu merupakan hal yang menguntungkan untuk chuntian. Ziyan bisa melakukan pembukaan dengan bantuan tiantang.
Ziyan melihat istri xiaolu yang menangis lega melihat keadilan untuk suaminya sudah ditegakan. Ia tak menyangka bahwa pembunuhnya akan menjadi rekan kerja suaminya sendiri. Karena emosi yang berlebihan, nyonya lu merasakan sakit pada perutnya. Menyadari hal tersebut, ziyan bergegas menghampirinya dan segera meminta xiaoqi untuk membawanya ke klinik terdekat dengan kereta mereka.
"Nyonya lu, bertahanlah. Tarik napas, keluarkan. Benar lakukan seperti itu nyonya. "
Ziyan berusaha sebisa mungkin membantunya agar lebih tenang. Melihat dari jumlah darah yang keluar setidaknya sudah mencapai pembukaan akhir.
Kereta mereka tiba di sebuah klinik. Xiaoqi bergegas membawa nyonya lu ke dalam. Awalnya ziyan berniat untuk mencari tabib dan meminta sebuah kamar. Tapi ternyata tabibnya sendiri sudah berdiri menunggu kedatangan mereka, dan sudah menyiapkan sebuah kamar. Meski ziyan merasakan ada sesuatu yang aneh. Tapi ia tak berniat memikirkannya sekarang, yang terpenting ialah menyelamatkan bayi dan ibu tersebut.
Ziyan dan yang lainnya menunggu di luar sementara tabib sedang membantu proses kelahiran. Ini adalah pengalaman pertama bagi ziyan menyaksikan proses kelahiran. Setelah menunggu, terdengar tangisan bayi dari dalam. Ziyan merasakan suatu kelegaan yang ia sendiri tak tahu perasaan apa itu.
'Xiaolu meski aku sudah menyiksamu, tapi aku sudah menyelamatkan anakmu. Jadi kau bisa pergi dengan tenang sekarang. ' Batin ziyan.
Sementara di dalam kereta kuda diluar klinik,
"Yang mulia, bayi dan ibunya selamat." Junyi melaporkan informasi yang baru saja ia terima dari klinik.
Sima Rui tak memberikan jawaban apapun. Karena bukan hal itu yang menjadi fokus pikirannya sekarang.
"Apakah anda tak ingin masuk Yang mulia? Bukankah anda sudah membantu nona mo menyiapkan kamar dan meminta tabib untuk menunggu mereka. "
"Tidak perlu. Belum saatnya kami bertemu. " Sima Rui melihat ke arah klinik, seakan dirinya bisa melihat apa yang sedang di lakukan ziyan disana. "Ayo kita kembali. "
__ADS_1