
Langkah Luyi terasa berat. Membuat jarak yang hanya beberapa meter terasa begitu jauh. Dengan menguatkan mental, ia segera menuju ke arah prajurit yang berseru itu.
Menyingkirkan orang yang menghalangi jalan, luyi menerobos kerumunan dan langsung melihat dua mayat yang tertutupi lumpur tersebut. Dengan tangan gemetar, ia membalik tubuh mayat yang sebelumnya telungkup tersebut.
Luyi bernapas lega ketika melihat wajah mayat tersebut yang ternyata bukanlah wajah majikannya.
' Syukurlah. ' Meski terdengar jahat karena bersyukur atas kematian orang lain. Tapi ia tak mengingkari bahwa ada perasaan lega yang dirasakannya.
Luyi kembali menelusuri sekitar tempat itu. Berharap menemukan jejak yang di tinggalkan tuan Mo. Melihat mayat tadi, membuat Luyi menyesal karena tidak sempat mencegah tuannya untuk menolong balita itu. Jika saja saat itu ia bisa bertindak lebih cepat. Maka luyi lebih memilih agar dirinya saja yang terjebak dalam longsor.
Ketika pikiran luyi sibuk mengingat kembali saat-saat terakhir kebersamaannya dengan tuan Mo. Sebuah suara tertangkap di telinga luyi.
Dug dug dug!
Terdengar suara pukulan. Namun saat menyapu pandangannya, Luyi tak melihat asal suara. Menajamkan telinga, luyi kembali fokus mencari asal suara. Sebuah peti penyimpanan tergelatak penuh lumpur. Luyi berjalan mendekat, penasaran dengan peti tersebut.
Di dekatinya peti tersebut. Luyi terperanjak ketika kembali mendengar pukulan dari dalam. Memegang dadanya yang bergemuruh ia membuka peti itu. Jantungnya serasa melompat ketika melihat isi di dalamnya.
" Tuan! " Pekik luyi, matanya terbelalak melihat tuannya sedang memeluk balita dengan kondisi lemas.
Melihat peti yang selama dua hari ini mengurungnya terbuka. Tuan Mo merasa lega. Dan akhirnya tak sadarkan.
Ziyan yang mendengar sang ayah telah di temukan bergegas menuju ke tempat dimana tuan Mo dirawat.
" Ayah... " Lirih ziyan ketika melihat kondisi tuan Mo yang sangat lemah.
Sima rui memapah ziyan berjalan mendekati tuan Mo. Langkah lemah istrinya membuat Sima rui harus selalu waspada. Karena begitu bahagia, ziyan tanpa sadar meneteskan bulir bening dari matanya. Perasaan lega karena ternyata sang ayah di temukan dalam keadaan hidup. Akhirnya ia bisa memberitahu kabar baik ini pada sang ibu yang terus menunggu kabar suaminya meskipun kabar itu merupakan kabar buruk.
" Syukurlah ayah masih hidup. Terima kasih Tuhan. " Ziyan menggenggam tangan tuan mo yang masih terlelap.
Berdasarkan cerita luyi, ziyan akhirnya mengetahui bagaimana kondisi ayahnya. Dua hari tanpa makan dan minum, dengan pasokan oksigen yang minim membuat tubuh ayahnya mengalami dehidrasi. Tidak berbeda dengan kondisi tuan Mo, kondisi balita yang di tolong ayahnya juga sama.
Satu hari penuh tuan Mo tidak sadarkan diri. Ziyan yang menemani tuan Mo sama sekali tidak beranjak dari sisinya bersama sang suami yang setia menemaninya.
Tengah malam, tuan Mo akhirnya sadar. Ia melihat ziyan yang tertidur dengan kepala di pangkuan sima rui.
Sima rui yang begitu sensitif merasakan ada gerakan di tempat tidur tuan Mo. Ia membuka mata dan melihat ayah mertuanya sedang melihat ke arah mereka.
" Anda sudah sadar ayah. " Tuan mo mengangguk menjawab pertanyaan anak menantunya.
Sima rui mengangkat pelan kepala ziyan lalu meletakkannya di kursi. Sima rui tak ingin membangunkan sang istri yang tampak begitu lelah setelah seharian menjaga ayahnya.
" Apakah anda ingin minum? " Tawar sima rui.
Mendapatkan perhatian menantunya yang memiliki status tinggi membuat tuan mo merasa tak enak. Ia menggeleng sebagai penolakan.
" Terima kasih Yang mulia sudah menemani ziyan. Sebagai seorang ayah, tidak ada yang lebih membahagiakan untuk ku dari pada melihat putri ku begitu di cintai oleh suaminya. " Tuan Mo mengucapkan dengan penuh haru.
" Sudah menjadi tugas ku sebagai suami ziyan. Anda tidak perlu sungkan ayah. "
Mendengar percakapan kedua pria itu, membuat ziyan terbangun.
" Ayah... " Ziyan mengucek matanya yang masih terasa berat. Begitu melihat sosok yang sejak kemarin telah sadar membuat rasa kantuk ziyan seolah menguap.
__ADS_1
" Ayah, syukurlah akhirnya kau sadar juga. " Sima rui membantu ziyan berdiri, lalu membawanya mendekat pada sang ayah. " Ibu sangat khawatir saat mendengar berita kau hilang. "
Tuan Mo tersenyum dengan lemah. " Jadi apakah hanya ibumu yang khawatir? sementara putri ku tidak khawatir? "
" Gunakan tenaga ayah untuk memulihkan diri, alih-alih menggoda ku. Sungguh pertanyaan yang sia-sia untuk di utarakan. Ketika ayah sendiri sudah tahu jawabannya. " Dengus ziyan kesal, namun semua orang tahu bahwa itu hanya candaan ziyan untuk mencairkan suasana yang sebelumnya penuh kekhawatiran.
Setelah tabib memeriksa keadaan tuan Mo. Ia dinyatakan sembuh dari dehidrasi. Namun dirinya harus tetap istirahat untuk memulihkan tenaga.
" Jadi ayah, bagaimana bisa kau berada di peti itu? " Tanya ziyan penasaran.
Tuan Mo tertawa mengingat hal konyol yang dilakukannya. Niat hati bersembunyi dari terjangan tanah. Naas justru secara tidak sengaja ia justru terkunci di peti itu. Beruntung dirinya tidak terkubur hidup-hidup bersama peti itu. Jika tidak, mungkin saja peti itu akan menjadi peti kematiannya.
Pagi hari ziyan memutuskan untuk jalan-jalan. Ia ingin menghirup udara pagi yang masih segar.
' Sungguh berbeda dengan udara di Britania. ' Batinnya. Tiba-tiba ia teringat akan dunianya. Terutama teringat akan kedua orang tuanya.
" Ada apa? " Sima rui membuyarkan lamunan ziyan.
" Aku hanya teringat pada ayah ibu ku. Sepertinya hormon kehamilan membuatku sedikit sensitif. "
Sima rui bisa melihat kerinduan di mata istrinya. " Aku yakin dimana pun mereka berada, mereka akan senantiasa mendoakan dan mengharapkan kebahagian mu. Karena itu tugas mu adalah hidup bahagia sesuai harapan mereka. "
Ziyan mengangguk mengerti.
" Kalau begitu ayo kita kembali. Aku tak ingin kau terlalu lelah. " Ucap Sima rui.
Sedari tadi ia menyadari bahwa seseorang tengah mengawasi mereka. Mengingat kondisi ziyan yang tengah mengandung. Meski ada penjaga bayangan yang selalu menjaga kedua. Sima rui tetap tak ingin mengambil resiko dan lebih memilih untuk mundur.
Keduanya berjalan kembali. Namun di tengah jalan. Seseorang menyerang mereka. Sima rui berhasil menghindar dari tebasan pedang yang mengarah padanya.
Ziyan dengan patuh menurut perintah suaminya. Ia sangat sadar akan situasi yang tidak mendukung dirinya untuk berkelahi, oleh karena itu ia memilih mundur. Ia tidak ingin membahayakan kandungannya yang masih belum stabil.
Adu pedang tak terhindarkan. Ziyan masih menonton pertarungan suaminya dari balik pohon. Merasakan ada gerakan dari arah belakang. Ziyan mulai meraba holster di pahanya, kemudian mengambil benda yang selalu ia bawa saat situasi terdesak.
Saat langkah semakin dekat. Ia menarik pistol dari holster dan dengan cepat menoleh. Pistol di tangannya mengarah tepat di wajah Xumu. Ya pria itu adalah xumu.
Dorr!
Ziyan menarik pelatuk dan melesatkan satu peluru ke dada kanan Xumu. Pria itu mundur beberapa langkah. Memegangi dadanya yang mulai merembes keluar darah. Seolah tidak memberikan kesempatan untuk xumu membalas, ziyan kembali menembak pria itu. Namun sayang tembakan kedua ziyan meleset. Dengan gerakan cepat, Xumu memukul tangan ziyan dengan pedangnya dan menjatuhkan pistol itu ke tanah.
Ziyan mencoba meraih pistol miliknya. Tapi Xumu justru memberikan sebuah tendangan dan membuat pistol itu semakin jauh. Menangkis pukulan xumu, ziyan membalas dan memberikan tendangan di bawah. Namun tiba-tiba xumu melempar bubuk putih ke arahnya. Ziyan mengucek matanya yang sedikit pedih.
Pandangan ziyan buram, dan kepalanya terasa berat. Ziyan jatuh tak sadarkan diri akibat bius yang baru saja di hidupnya.
Sima rui yang sejak tadi bertarung melawan tiga orang akhirnya selesai. Meski butuh waktu, ia berhasil mengalahkan ketiganya.
Bunyi tembakan yang didengar Sima rui semakin membuatnya khawatir. Penjaga bayangan yang ia perintahkan untuk melindungi istrinya tak satupun datang. Hal itu membuktikan bahwa musuh menyerang dengan persiapan dan mengetahui akan keberadaan penjaga bayangannya.
Sima rui bergegas mencari ziyan. Ia memang menyuruh untuk bersembunyi. Namun sayangnya jejak sang istri tak ada dimana pun. Pikiran sima rui semakin kalut kala melihat ada tetesan darah di tempat ia berdiri.
Rasa takut menjalar di seluruh tubuh. Memikirkan nasib istri dan anaknya yang mungkin saja sedang dalam bahaya.
' Tidak! mereka pasti baik-baik saja. Aku harus tenang, agar bisa menemukannya. ' Sima rui memberikan sugesti positif pada pikirannya. Ia membutuhkan pikiran tenang agar bisa bertindak.
__ADS_1
" Sial! " Umpat sima rui ketika pikirannya tidak kunjung tenang. Matanya masih terus memindai sekitar mencari jejak ziyan.
Hampir satu jam ia menelusuri tempat itu mencari sosok sang istri. Karena tak mendapatkan hasil, Sima rui akhirnya memilih untuk kembali ke desa.
" Hubungi penjaga di luar. Apakah ada orang lain yang keluar dari desa? " Sima rui segera memberikan perintah pada salah satu prajuritnya begitu ia tiba di desa.
Dengan langkah cepat ia menuju ke tempat di mana tuan Mo berada.
" Kalian sudah kem- " Tuan mo yang ingin berbicara, berhenti. Ketika melihat wajah kalut sima rui.
" Ada apa? " Tanya tuan Mo begitu serius. Mengingat menantunya yang selalu berwajah datar bisa menampilkan wajah frustasi. Pastilah terjadi sesuatu yang besar.
" Ziyan hilang. " Dan sima rui mulai menceritakan kronologi kejadian.
"Jangan menyalahkan dirimu. Semuanya terjadi karena musuh yang datang dengan persiapan. Kau sudah memberikan ziyan para penjaga bayangan namun hal itu tetap terjadi membuktikan bahwa lawan kita bukan orang sembarangan. Apa kau sudah memerintahkan para prajurit untuk berjaga di pintu masuk? "
" Sudah. Kita akan segera tahu sebentar lagi. Apakah ada orang yang ke luar desa. Jika tidak, berarti ziyan masih ada di desa ini. "
Tuan mo mengangguk setuju. " Kau benar. Aku akan memerintahkan beberapa prajurit yang ku bawa untuk ikut mencari putriku. "
Baik menteri mo dan sima rui melakukan pencarian ke seluruh desa. Berdasarkan laporan, tak ada seorang pun yang keluar dari desa. Namun setelah menggeledah seluruh desa tak ditemukan tanda-tanda keberadaan ziyan.
Semua orang desa awalnya bingung dan menentang penggeledahan.
" Aku menolak rumah ku di geledah. Kau pikir siapa bisa sembarang menggeledah rumah orang. " Tolak salah satu warga dan mendapat dukungan dari warga yang lain.
" Tuan, Jika kau melakukan hal ini dan membuat warga tidak nyaman maka dengan terpaksa aku harus meminta mu pergi dari desa ini. " Ancam pria tua yang ternyata pemimpin desa.
" Kau tidak berhak untuk mengusir ku. " Ucap Sima rui datar.
" Sombong! kau pikir kau siapa? Apa kau pikir kau seorang raja yang bisa berbuat seenaknya. " Sarkas warga lain.
" Benar. Kau hanya bangsawan tak di kenal. Jangan bertindak seolah kau orang penting nak. " Warga yang lebih tua menimpali.
Junyi yang geram, mendengar tuannya sejak tadi di hina tak tahan lagi. Ia mencengkeram baju warga terakhir yang bicara.
" Tarik kembali ucapan kalian. " Kata junyi dengan suara rendah.
" Junyi lepaskan. " Sima rui menghentikan junyi agar tidak menyakiti warga. Ia tak ingin menimbulkan masalah lebih lanjut. Lagi pula disini dirinya lah yang membutuhkan bantuan.
" Tuan, tolong bantu kami menemukan nona kami. " Kali ini xiaoqi ikut berbicara.
" Benar tuan-tuan. Nona ku sedang hamil. Tolong bantu kami. " Sese mencoba berbicara dengan warga. Berharap dengan alasan mereka mengenalnya, mereka akan luluh.
Tapi ternyata dugaan sese salah. Mereka masih tak ingin rumah mereka digeledah.
" Tidak. Sese, meskipun kau berbicara untuk mereka. Tapi tetap kami tak akan memberimu ijin. Lagi pula kau baru mengenal mereka sebentar, tapi kenapa kau begitu membelanya. Ingat sese, kau itu warga desa kami. Bukannya membantu kami, kau malah membantu mereka. "
Sese dan warga lain masih terus berdebat. Sima rui yang tak tahan dengan perdebatan panjang tersebut akhirnya melangkah maju. Selain itu ia juga tak ingin membuang waktu untuk perdebatan tak penting. Jika dengan cara halus mereka tak mengindahkan. Maka hanya dengan cara lain.
Sima rui maju dan menatap satu persatu warga yang mayoritas pria tersebut.
" Karena kalian tidak mengijinkan ku menggeledah rumah kalian dengan cara halus maka mau tidak mau, aku pangeran pertama sekaligus jenderal tertinggi kerajaan Jin memerintahkan kalian untuk menyingkir dan memberikan akses para prajurit untuk memeriksa rumah kalian. Bagi siapapun yang menolak untuk dilakukan pemeriksaan maka kami berhak memberikan hukuman. " Sima rui menunjukan giok naga miliknya sebagai bukti identitas dirinya.
__ADS_1
Orang-orang yang sebelumnya menghina Sima rui langsung melakukan kowtow meminta pengampunan. Menghina anggota kerajaan adalah merupakan suatu kejahatan. Karena itu mereka tidak ingin masuk penjara.
Bahkan pemimpin desa yang sebelumnya berniat mengusir sima rui, sudah berubah putih pucat dengan keringat sebesar biji jagung di dahinya. Ia pun bergabung dan mengikuti yang lain melakukan kowtow. Berharap tak menghabiskan sisa waktu tuanya di penjara.