
𝚂𝚎𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖𝚗𝚢𝚊.
Feng xiao seperti biasa melaporkan kabar terbaru ziyan pada Sima Yan.
" Pangeran. Nona mo pergi ke lingguang dengan pangeran pertama. "
Sima rui menghentikan sapuan kuasnya. Ia terdiam sejenak lalu meletakan kuasnya pada tempatnya. Ia memperhatikan lukisan yang sedang di gambarnya. Lukisan wajah seorang gadis yang selalu muncul di mimpinya sejak pertemuan mereka di hutan donglu. Benar. Itu adalah lukisan Ziyan.
Sima Yan merasa pikirannya semakin tak terkendali. Ia bahkan pernah bermimpi melakukan hal gila bersama dengan gadis di lukisannya tersebut. Ia tak mengerti dengan dirinya saat ini. Banyak gadis yang siap menjatuhkan tubuh mereka di pelukannya. Tapi kenapa ia hanya terobsesi dengan gadis ini. Gadis yang bahkan tak ingin menatap wajahnya. Gadis yang menganggap Sima Yan adalah seorang pria brengsek. Memikirkan hal negatif dirinya dimata ziyan membuat dirinya semakin frustasi.
"Sial! " Ia mengumpat kekesalannya karena tak mampu membuang bayangan gadis itu dari kepalanya.
Sima yan teringat kembali dengan laporan terbaru tentang gadis itu.
"Lingguang? Bukankah kakakku kesana untuk penyelidikan. Kenapa membawa yaner ke sana? "
"Untuk itu. Aku kurang tahu. Apakah anda ingin aku mencari tahu tujuan nona yaner kesana? "
"Tidak perlu. "
Sebuah pemikiran muncul di kepala Sima Yan. Mungkin jika mereka bertemu, ia bisa segera membuang bayangan gadis itu dari kepalanya. Jadi Sima Yan memutuskan untuk menyusul mereka ke kota lingguang.
"Aku akan menemui ayahanda. "
Sima Yan menggerakan sebuah tempat lilin, dan sebuah pintu rahasia terbuka. Ia membawa lukisan ziyan dan menggantungnya di salah satu dinding. Sima Yan tersenyum dan bergumam sambil memandang lukisan tersebut.
"Kita akan segera bertemu. "
Sima shao terkejut dengan apa yang baru saja putranya ini katakan.
"Kau ingin ke lingguang? untuk apa? bukankah kakakmu sudah kesana. "
" Aku ingin membantu kakak pertama. "
Sima shao tampak menimbang kemungkinan yang terjadi. Sebagai putra mahkota tentu saja kebebasannya tidak seperti kakaknya atau adiknya. Keselamatannya menjadi faktor penting karena berhubungan dengan kelanjutan tahta kerajaan. Bukan berarti kedua nyawa putranya yang lain tak penting. Tapi nyawa putra mahkotanya ini berhubungan dengan hubungan kerajaan jin dengan kerajaan wei.
__ADS_1
Sima shao menghela nafasnya. " Baiklah. Tapi feng xiao harus selalu berada di dekatmu. "
"Ayahanda tenang saja. Meski ilmu bela diriku tak sehebat kakak pertama. Tapi aku lebih hebat dari rata-rata orang. "
Setelah mendapatkan persetujuan ayahnya. Sima Yan segera keluar untuk mempersiapkan keberangkatannya.
"Yang mulia. Apakah anda tidak khawatir dengan putra mahkota? penyelidikan pangeran pertama berhubungan dengan 'orang itu'. Bukankah mengirim putra mahkota kesana akan sangat berbahaya. "
"Aku tahu. Tapi jika terus mengurungnya di istana. Ia tidak akan tahu bagaimana keadaan di luar yang sebenarnya. Ia akan menjadi raja boneka yang hanya bisa duduk di kursi tahtanya. Tenang saja aku sudah mengatur penjaga bayangan untuk melindunginya. "
"Anda sangat bijaksana Yang mulia. " Kasim liu membungkuk memuji tuannya tersebut.
"Aku tahu. Karena aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Bisakah kau berikan edisi terbaru dari novel yang terakhir aku baca. "
Sima shao mengangkat alisnya dua kali sebagai kode.
"....... " kasim liu.
Ia memberikan edisi terbaru novel panas yang sering dibaca tuannya tersebut dari balik lengannya.
Meski memakai topeng. Ziyan masih bisa mengenali sosok Sima yan. Garis wajahnya yang hampir menyerupai Sima rui membuatnya terlihat tak asing baginya.
Tersadar dirinya masih ada di pelukan Sima yan. Ziyan langsung mendorong tubuh pria itu agar tubuhnya bisa menjauh. Ia langsung berjalan cepat menuju Sima rui dan berdiri di sampingnya.
Sima Yan masih memandang tangannya yang tiba-tiba kosong. Baru sedetik yang lalu tangannya merangkul tubuh gadis itu. Sekarang hanya udara hampa yang ia rasakan. Sima Yan memperhatikan kakaknya yang sedang memberikan perhatiannya pada ziyan. Ia mengepal erat tangannya menahan hatinya yang terasa sesak.
"Kau tak apa? " (Sima rui)
"Iya. " (ziyan)
Sima rui merasakan perasaan aneh saat melihat gadis itu berada di pelukan pria lain. Meski itu adiknya sendiri yang sudah menyelamatkannya. Tapi ada perasaan tidak rela yang menyusup ke dalam hatinya.
"Kau tak boleh jauh darimu. Aku tak ingin kejadian tadi terulang lagi. "
"Hm." Ziyan merasakan sedikit keanehan saat sima rui berbicara. Sepertinya ada sedikit sifat posesif dari nada bicaranya. Apakah ia marah karena aku hampir saja terluka. Tapi kan aku juga berniat akan melawannya. Pria itu pasti sudah tumbang olehnya jika bukan karena kedatangan sima yan yang tiba-tiba.
__ADS_1
Sima yan bergabung dengan ziyan dan sima rui. Sementara feng xiao ikut bersama kumpulan para pengawal, xiaoqi dan junyi, mengawasi dari jauh.
Suasana ketiganya sangat canggung. Ziyan tidak tahu harus berbicara apa. Sima rui bukan tipe orang yang akan membuka topik pembicaraan. Dan Sima yan entah kenapa menjadi kikuk saat berada di samping ziyan.
Junyi yang melihat suasana canggung dari ketiga tuannya itu tak sanggup menahan mulutnya untuk tidak bersuara.
"Kenapa aku merasa putra mahkota seperti lilin. "
Feng xiao ingin membela tuannya. Tapi ucapan junyi memang benar. Jadi ia hanya bisa menegur junyi.
"Jaga mulutmu junyi! "
Sementara xiaoqi merasa kasihan dengan nonanya. Ia tahu kehadiran putra mahkota membuatnya tak nyaman.
Ziyan dengan kedua pangeran tiba di pusat pasar gelap. Ziyan melihat sekelilingnya mencari orang yang bernama laohu. Matanya terhenti pada seorang penjual senjata dengan tato Harimau di lengannya. (Harimau\= Hu 虎)
Ziyan menyikut Sima rui. Lalu menunjuk dengan wajahnya arah laohu berada.
Sima rui mengikuti arah yang ditunjuk ziyan.
"Gadis pintar. " Sima rui tak tahan untuk memuji gadis itu. Ia menepuk pelan kepalanya dan tersenyum lembut.
Sedangkan junyi yang melihat dari jauh mulai berkeringat dingin.
"Ayo kesana. "
Sima rui menarik tangan ziyan, membuat gadis itu tertegun. Sementara Sima yan tanpa bisa berbuat apa-apa hanya bisa melihat keduanya.
Sejak awal Sima yan tahu, bahwa saat dirinya berpikir akan bisa menghilangkan bayangan gadis itu dari kepalanya jika keduanya bertemu adalah sebuah kebohongan besar. Sima yan hanya mencari alasan agar dirinya bisa bertemu dengannya. Ia hanya ingin membenarkan tindakannya yang sudah melewati akal sehatnya. Kenapa ia memimpikan wanita kakaknya? Ia tak bisa mengkhianati kakaknya. Tapi ia juga tak ingin membohongi perasaannya. Sima yan merasakan pergulatan batinnya. Ia menutup matanya, menarik napas panjang lalu membuangnya.
Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Ia harus fokus membantu kakaknya terlebih dulu. Sima yan segera berjalan menyusul keduanya.
"Laohu... " Sima rui menyapa laohu.
Laohu mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang memanggilnya. Menatap sejenak. Lalu mulai membuka suaranya.
__ADS_1
"Ada apa? " Bibirnya menyeringai saat melihat ketiga orang yang berdiri di depannya itu. Namun sorot matanya tajam seperti harimau yang telah mengunci mangsanya.