Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 264 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

" A Guang sebelah sini. " Terdengar panggilan dari A Hua.


A Guang mengedarkan pandangannya dan melihat A Hua sedang melambai ke arahnya.


" Tempat bibi kosong, ayo kita ke sana. " Ajak A Guang pada Na li.


Semenjak kejadian kemarin malam, Na li seketika berubah menjadi penurut.


Tanpa perlu berdebat, Ia mengangguk setuju dan langsung mengikuti langkah A Guang.


" Ada apa dengan kalian? Kenapa penampilan kalian begitu kacau? seolah ada badai yang menghantam kalian. " Celetuk A Hua yang merasa heran melihat keduanya tampak kelelahan.


A Hua tersenyum penuh arti. Seketika otak mesumnya menciptakan imajinasi liar.


" Hentikan senyum menakutkan mu itu. Tidak ada yang terjadi seperti apa yang kau pikirkan. " A Guang seolah mampu melihat isi kepala A Hua.


" Memang apa yang sedang ku pikirkan. Kau bukan peramal yang tahu semua isi pikiran ku. " Elak A Hua.


" Tanpa kau mengatakannya, aku sangat tahu bahwa isi kepalamu sedang membuat rentetan imajinasi tak senonoh. "


Bibir A Hua mencebik, " Na li jangan dengarkan dia. Isi kepalaku jauh lebih murni dari yang kau bayangkan. "


A Hua tidak menyahut, ia hanya tersenyum tipis melihat keponakan dan bibi yang terus berdebat. Sementara shenshen, terus menatap Na li dengan tatapan rumit.


" Jangan tertipu dengannya. Terlalu sering bergaul dengannya hanya akan membawa dampak buruk bagi mu... "


" Auw!! " A Guang yang baru saja selesai berkata langsung meringis kesakitan saat tulang keringnya di tendang oleh A Hua.


A Guang mendelik namun sia-sia karena A Hua sudah mengalihkan perhatiannya pada shenshen yang duduk di sampingnya.


Di meja lain,


Han dong kembali melihat A Guang dengan tatapan kebencian. Ia melirik pada Jinfu yang justru terlihat biasa saja.


Ia mengerutkan kening, merasa aneh dengan sikap jinfu. ' Ada apa dengan tuan muda bodoh ini? ' Batinnya.


Lalu mencoba memantik rasa cemburu Jinfu. " Jinfu, sepertinya hubungan A Guang dan A Hua semakin dekat. Apa kau tidak marah melihat hal itu? "


Jinfu melirik sekilas Han dong lalu ke arah A Guang dan A Hua. Kemudian kembali fokus pada makanannya. Setelah menelan makanannya, ia berkata. " Mereka adalah saudara, bukankah wajar untuk memiliki hubungan dekat. Justru akan terlihat aneh jika mereka malah bertengkar. "


Jinfu diam-diam mencibir dalam hati. ' Dasar bodoh. Jika A Guang adalah putra mahkota maka A Hua sudah pasti adalah tuan putri Sima Hua. Adik kaisar saat ini yang tentu saja adalah bibi A Guang. Dan kau ingin membuat ku panas dengan mengatakan perihal kedekatan mereka. Ck.. bermimpilah. ' Monolog Jinfu.

__ADS_1


Sungguh ia kini merasa bodoh karena sempat terpengaruh hasutan Han dong.


Jinfu bukan tidak tahu maksud Han dong berkata demikian. Mencoba mencuci otaknya kembali agar membenci A Guang. Setelah tahu identitas A Guang, hanya orang bodoh yang masih mencari masalah dengannya.


Ia menyeringai, " Sebaiknya kau tidak mencari masalah dengan A Guang. Ia bukan lah orang yang bisa kau singgung. Sebagai teman aku sudah memperingatkan mu. Tapi terserah pada mu mau mengikuti saran ku atau tidak. "


Han dong mengernyit heran. " Ada apa dengan mu Jinfu. Kenapa ucapan seorang tuan muda Jiang terdengar seperti ucapan seorang penakut? A Guang hanya anak dari rakyat jelata sedangkan kita berasal dari keluarga bangsawan. Kenapa kita harus takut menyinggungnya? " Ucap Han dong penuh hina menatap sinis pada A Guang.


" Aku sudah memperingatkan mu. Terserah jika kau tidak mendengarkan ku. " Setelah berbicara, Jinfu langsung berdiri meninggalkan meja.


Karena sudah berjanji bahwa ia tidak akan membocorkan perihal identitas A Guang. Itulah kenapa Jinfu hanya bisa memberi peringatan kecil pada Han dong.


" Ada apa dengannya? " Han dong bertanya pada Lu sheng.


Lu sheng yang ditanya hanya mengedikkan bahu lalu berdiri mengikuti Jinfu meninggalkan Han dong.


" Dasar pengecut. Karena kau tak ingin bergerak, maka aku yang akan membuat mu bergerak. " Gumam Han dong.


*********


Jinfu yang sejak tadi menunggu A Hua. Langsung tersenyum puas saat gadis itu terlihat dimatanya.


" Ayo kita bicara. " A Hua berhenti ketika Jinfu mengajaknya bicara.


" Bisakah kita bicara berdua. " Jinfu melirik shenshen yang ada di sebelah A Hua. Berharap gadis itu tahu bahwa jinfu ingin dirinya pergi.


Tersadar dengan maksud Jinfu, Shenshen memilih pergi dari pada ia terusir dengan menanggung rasa malu. " A Hua, aku kembali lebih dulu kalau begitu. Kau bicaralah dengan senior Jiang. "


Shenshen pergi meninggalkan keduanya.


" Sekarang bicaralah. Kita sudah berdua. "


Jinfu menyiapkan mentalnya. Ia menghela napas mengatur kata-kata yang akan ia ucapkan.


" Aku sudah mengetahui identitas A Guang. Maaf karena sikap ku sebelumnya. Jujur, itu semua karena aku... " Jinfu menjeda ucapannya.


" ... Karena... aku cemburu dengan mu. Aku pikir A Guang menggunakan alasan saudara untuk mendekati mu. Tapi ternyata.. "


" Ternyata aku benar-benar saudaranya bukan. Jika kau tahu identitas A Guang otomatis kau tahu bukan siapa aku? " Sela A Hua dan Jinfu mengangguk menanggapi.


" Aku hargai perasaan mu. Tapi tuan muda Jiang, kau pikir kau siapa? Tidak ada alasan yang tepat untuk membuat mu melukai keluarga ku. Jika pun aku dan A Guang bukan saudara dan memiliki hubungan. Kau tetap tak bisa memaksa kehendak mu dan menyalahkan rasa cemburu mu atas hubungan ku. "

__ADS_1


" Selain itu, maaf aku tidak bisa menerima mu. Hati ku sudah tidak ada lagi. Seseorang sudah mencurinya dan aku hanya ingin dia yang mengembalikannya. Karena itu, lebih baik kau lupakan perasaan mu pada ku. Aku yakin kau akan menemukan gadis yang lebih baik dari ku. "


Hati Jinfu menciut saat mendengar kenyataan A Hua mencintai pria lain.


"Siapa pria itu? apakah latar belakangnya lebih baik dari ku? apakah ia lebih kaya dari ku? Apa ia lebih menyukai mu dari ku? katakan A Hua, katakan pada ku. " Nada suara Jinfu sedikit naik.


A Hua menggeleng melihat reaksi Jinfu. Sungguh ia heran dengan pria didepannya ini.


" Kau tahu, aku pikir kau sudah berubah karena permintaan tidak tulus mu tadi. Tapi nyatanya kau masih sama saja. " A Hua membuang napas berat, lalu lanjut berbicara.


" Mungkin bila dibandingkan dengan mu, latar belakang dan kekayaannya tidak sebanding dengan keluarga Jiang. Tapi satu hal yang bisa ku katakan. Aku tidak membutuhkan pria dengan latar belakang mengagumkan atau kekayaan yang melimpah. Karena aku sudah memilikinya. Aku hanya membutuhkan laki-laki yang hanya mencintaiku dan yang terpenting, ia bukalah pria sombong dan arogan seperti mu. "


Melihat Jinfu tidak merespon, A Hua kembali menambahkan. " Maaf jika kata-kata ku kasar. Karena tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan maka aku sudahi percakapan ini. Permisi. "


A Hua melenggang pergi meninggalkan Jinfu yang diam terpaku.


Penolakan A Hua bak pukulan berat yang baru saja menghantam kepalanya. Ia masih linglung dengan tatapan kosong menatap tempat dimana A Hua tadi berdiri.


Untuk pertama kalinya, ia jatuh cinta. Sayangnya rasa itu harus pupus sebelum berkembang.


Lalu apakah Jinfu menyerah? tentu saja tidak. Jinfu yang terbiasa memperoleh apa yang ia inginkan tak akan semudah itu menerima penolakan A Hua.


Tanpa Jinfu dan A Hua sadari, sejak tadi ada sepasang telinga yang ikut mendengarkan percakapan itu.


A Guang, berdiri tak jauh dari tempat mereka. Memenuhi tanggung jawab yang di berikan sang ayah agar menjaga sang bibi. Maka A Guang harus tahu apa saja yang di lakukan oleh A Hua.


" Sedang apa kau disini? " Tanya Jinfu sinis saat ia melihat A Guang.


Sedangkan A Guang yang tertangkap basah tengah menguping segera mengatur ekspresinya.


" Apa kau menguping pembicaraan ku dan A Hua? " Tebak Jinfu tepat sasaran. Sayangnya A Guang memilih mengelak.


" Bagian mana yang membuat mu berpikir bahwa aku sedang menguping? Aku baru saja menyelesaikan kelas. " Bohong A Guang.


Tak ingin melanjutkan perdebatan, Jinfu memilih pergi. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat A Guang berucap.


" Lebih baik kau lupakan bibi ku. Meski kau lebih kaya dan lahir dengan latar belakang sempurna, tapi hatinya sudah lebih dulu ia berikan untuk orang lain. Bahkan jika kau meminta paman Jiang untuk membantu mu. Itu tidak akan berguna. Kau tahu kenapa? Karena bagi keluarga Sima yang terpenting adalah kebahagiaan keluarga. Kami tidak memerlukan dua hal yang kau banggakan itu. Kami sudah memilikinya. Jadi saran ku lebih baik kau lupakan dan fokus pada belajar mu. "


Jinfu menekan amarahnya yang ingin sekali mengumpat pada pria yang baru saja pergi tersebut. Kedua tangannya mengepal kuat.


" Sial! ternyata dia mengupingnya. " Gerutunya lirih.

__ADS_1


Alih-alih mendengarkan saran A Guang, ia justru merasa tertantang untuk menaklukan hati putri tercantik di Kerajaan Jin itu.


__ADS_2