
Hari keberangkatan sima rui tiba. Ia harus memeriksa perbatasan dan memastikan bahwa keamanan disana masih terkendali.
Ziyan datang lagi ke istana rixi untuk mengantar keberangkatan sima rui. Setelah kejadian tempo hari, hubungan keduanya semakin baik. Ia mungkin harus berterima kasih pada seseorang yang sengaja mengirim surat anonim tersebut. Jika bukan karena surat itu, mungkin hubungan mereka tak akan sedekat sekarang.
"emm..... Ahh.. sudah. Sudah cukup. " Ziyan mendorong tubuh sima rui. Ia terengah-engah kehabisan napas. Sima rui tertawa ringan saat melihat tunangannya tersebut mengibarkan bendera putih.
Gadis itu hampir dibuatnya pingsan, Sima rui benar-benar tidak memberinya jeda untuknya mengambil napas. Keahliannya tidak terlihat seperti pemain baru. Sima rui menciumnya dengan sangat baik dan bahkan begitu lihai.
"Kadang aku ragu. Bagaimana kau bisa berciuman dengan sangat baik? apakah kau pernah melakukannya sebelumnya? " Ziyan menatap curiga pria didepannya tersebut.
Sima rui ingin sekali tertawa mendengar kecurigaan tunangannya tersebut. Namun ia hanya memberikan sentilan ringan pada keningnya dan menatapnya dengan penuh kelembutan.
"Apakah kau tidak tahu. Ada beberapa hal yang secara otomatis bisa di pelajari oleh manusia. Karena itu aku anggap pertanyaanmu sebagai pujian atas kemampuanku. "
Pria ini benar-benar tidak tahu malu. Ia bahkan membuat pertanyaannya sebagai pujian.
Melihat tunangannya yang sudah menyerah, Sima rui tak ingin melanjutkan penyiksaannya lagi Jadi ia memutuskan mengambil sebuah cangkir lalu menuangkan teh untuk ziyan.
Ziyan menerima teh tersebut dan menengguknya dalam sekali teguk.
"Aku akan berada di perbatasan sekitar dua minggu. Jika tidak ada halangan aku akan berusaha untuk pulang secepatnya. " ( sima rui)
" Aku tak keberatan meski kau pulang sebulan atau setahun kemudian. Hanya kembalilah dengan selamat. "
Mendengar jawaban gadis itu, wajah sima rui justru terlihat masam. Ia merasa tunangannya itu akan baik-baik saja meski dirinya akan segera pergi dan butuh waktu lama bagi mereka sampai bertemu lagi. Apakah hanya dirinya yang merasa begitu berat berpisah? Bukan berarti sima rui ingin gadis itu merana atau menderita karena kepergiannya. Tapi bukankah setidaknya ia merasa sedikit kesedihan. Tapi lihatlah sekarang, gadis itu justru dengan wajah penuh kepuasan memandang kamar yang baru saja ia siapkan untuknya di istana rixi. Meski status mereka belum secara resmi terikat oleh pernikahan. Tapi berdasarkan dekrit Kekaisaran ia sudah dianggap sebagai putri di istana rixi. Jadi ia memiliki hak untuk tinggal di sini.
"Apakah kau menyukai kamarnya? "
__ADS_1
Ziyan mengangguk. "Iya. Aku suka. Tapi kenapa tiba-tiba menyiapkan kamar untukku. Aku tak yakin akan berada di sini saat si pemilik istana tak ada di tempat. "
"Aku ingin setelah kembali dari perbatasan. Bisa melihatmu disini lebih sering. "
Melihat lebih sering bukankah berarti mereka harus bertemu hampir setiap hari. Wajah ziyan memerah. Pasalnya setelah kejadian dua hari yang lalu, sikap sima rui semakin berbeda. Ia terlibat lebih lembut dan perhatian, tapi yang paling utama adalah ia jadi semakin berani. Berani mengambil kesempatan di saat mereka hanya berdua saja. Bahkan kemarin mereka sudah melakukan ciuman yang tak terhitung jumlahnya. Membuat bibir ziyan terlihat sedikit bengkak. Hal itu memancing pertanyaan nakal dari snowy ketika kembali.
"Kenapa dengan bibirmu? Apakah ada sesuatu yang menggigitnya? "
Ziyan membuang mukannya mencoba menyembunyikan rona merah diwajahnya, menghindari lebih banyak pertanyaan dari kucing itu. " Kau bicara omong kosong apa? Tak ada apa-apa dengan bibirku. Tak ada yang menggigitnya. Bahkan sima rui juga tidak. "
Hah?! kenapa menyebut nama sima rui? Seakan tercerahkan dari kebingungannya, akhirnya snowy mengerti apa yang sedang terjadi. Ia menyeringai, 'Pria itu, hebat juga. '
Sima rui memperhatikan ziyan yang masih tenggelam dengan pikirannya. Ia memeluk pinggang gadis itu dari belakang dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Tunggu aku. "
"Ah.. "
Sima rui terkejut. Tapi keterkejutannya tak bertahan lama. Karena segera ia mendaratkan ciuman pada telinga gadis itu.
Ziyan menggeliat, sensasi geli dan sentuhan panas bibir Sima rui membuatnya kehilangan tenaganya, dan hampir membuat kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
" Aku... tidak kuat lagi. " ( ziyan)
Sima rui mempererat pelukannya agar gadis itu tidak terjatuh. Lalu mencium tengkuk ziyan.
" Aku pasti akan sangat merindukanmu. Aku... "
__ADS_1
Sima rui tak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya ingin menyimpannya dalam hati. 'Aku merasa hampir gila. ' Sima rui tak tahu sejak kapan kehadiran gadis ini sangat berarti dalam hidupnya. Awalnya ia setuju dengan pertunangan mereka karena menteri mo berada di pihak ayahnya. Jadi siapapun gadis di keluarga mo yang akan menikah dengannya, itu bukan masalah baginya. Namun setelah tanpa sengaja melihat ziyan di paviliun manyue. Perasaan penasaran membuat Sima rui tertarik untuk mencari tahu mengenai gadis itu. Ia bahkan meminta junyi untuk melaporkan semua informasi mengenai nona besar mo itu. Dan entah sejak kapan, ia mulai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Semua gerak geriknya selalu menarik perhatian mata Sima rui.
Bibir gadis ini yang manis, seperti opium yang membuat orang kecanduan. Sima rui bahkan tidak bisa menghentikan hasratnya untuk terus menyesapnya. Membuat dirinya seperti binatang buas yang kelaparan dan ingin segera menerkamnya. Perjalanan selama dua minggu ini pasti akan membuatnya sangat merindukan gadis ini.
Sima rui menenggelamkan kepalanya di pundak ziyan. Memikirkan segala kemungkinan yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi. Kegelisahan bahwa ia akan menarik perhatian pria lain saat dirinya tidak ada. Meski ziyan bukan gadis yang amat sangat cantik. Tapi ia masih tergolong gadis cantik. Apalagi kecerdasan dan kepribadiannya lebih dari gadis lain. Itulah kenapa ia tidak heran kalau adiknya, Sima yan juga menyukainya.
Ziyan menyadari Sima rui sedang mengkhawatirkan sesuatu. " Apa yang kau khawatirkan? aku akan baik-baik saja. "
"Bagaimana kau tahu aku mengkhawatirkan sesuatu? " Wajah Sima rui masih bersembunyi di pundak ziyan.
" Karena aku wanita hebat. "
Mendengar jawaban tak terduga ziyan membuat Sima rui tertawa geli. Gadis ini selalu bisa membuatnya merasa tenang. Sima rui melepaskan pelukannya dan memutar tubuh ziyan.
" Aku akan segera pulang. Tunggulah aku. "
Ziyan mengangguk. Ia menutup matanya ketika wajah Sima rui semakin dekat.
" Tuan persiapan sudah selesai. Kita bisa berangkat sekarang. " (junyi)
Suara Junyi mengejutkan keduanya. Ziyan tertawa melihat perubahan wajah Sima rui, kesal dan kekecewaan terlihat jelas. Dengan penuh kekuatan Sima rui membuka pintu dan menatap tajam pengawalnya tersebut. Pandangannya dan auranya gelap seakan ingin menelan pria didepannya hidup-hidup.
Sementara junyi yang tidak menyadari kesalahan apa yang sudah ia perbuat sehingga membuat tuannya itu marah. Mungkinkah ia datang di waktu yang tidak tepat. Jika benar, maka ia harus mempersiapkan diri dengan hukuman yang akan tuannya ini berikan.
*************
Slow update. Lagi sibuk banget sampai tanggal 4. Jadi berubah menjadii kura-kura dulu. Terima kasih..
__ADS_1