
Malam hari,
Sima rui bersiap keluar menuju tempat yang di laporkan oleh pengawal bayangannya tadi siang. Ia akan melihat bagaimana situasi tempat itu.
" Pangeran, Apakah kau yakin hanya akan mengajak Aying? Aku yakin tempat itu sangat berbahaya. " Ucap junyi sambil melirik Aying. Ia merasa pria itu sudah merebut posisinya yang selalu berada di samping Sima rui.
" Justru karena tempat itu berbahaya, kau tak perlu ikut. Semakin banyak orang, semakin mudah ketahuan. Lagi pula apa kau tak suka dengan tugas yang ku berikan? "
Junyi buru-buru menggeleng. Ia tak ingin menerima kemarahan sang tuan yang amat mengerikan itu. " Tidak pangeran, aku justru sangat senang, karena bisa melindungi calon nyonya masa depan. Karena itu serahkan keselamatan nona Mo padaku. " Junyi menepuk dadanya dengan percaya diri.
"Baiklah. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Yaner. Kau yang akan aku kuliti. " Ancam Sima rui dan junyi hanya bisa menelan kembali rasa percaya dirinya karena baru menyadari betapa berat konsekuensi dari tugasnya.
Sementara di bagian lain istana.
" Apa kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan? aku takut jika sampai kau terluka, pangeran pertama akan membunuh ku. " Ucap shuwang khawatir. Ia khawatir dengan ziyan namun tidak munafik ia lebih khawatir dengan nyawanya jika sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu.
" Tenang saja. ia sudah mengijinkan ku berada di sini, itu berarti ia percaya padaku. " Ziyan menepuk pelan bahu shuwang.
Merasa percuma terus membujuknya, shuwang pun keluar dan meninggalkan ziyan sendiri di kamar.
Dalam gelapnya malam, Dua bayangan hitam melompat dari satu atap ke atap lain. Hingga tiba di sebuah kamar yang menjadi tempat tujuan keduanya. Salah seorang dari mereka menusukan bambu ke dalam kamar melalui jendela lalu meniup asap yang merupakan zat tidur. Setelah memastikan pemilik kamar tertidur, keduanya menyelinap masuk dan berjalan mendekati ranjang. Tampak seorang wanita tidur dengan posisi menghadap belakang.
Keduanya saling berpandangan dan mengangguk. Dan ketika mereka kembali melihat ke arah ranjang. Mereka di kejutkan dengan serangan tiba-tiba yang membuat mata mereka buta.
Saat keduanya lengah, ziyan segera melempar keduanya dengan bubuk yang akan membuat mata mereka buta sementara. Ia tahu bahwa seseorang pasti akan mencoba membunuh shuwang, dan siapa lagi jika bukan menteri guan. Jadi ia sengaja bertukar tempat dengan shuwang dan menyiapkan jebakan.
Kedua orang itu mengeram sakit. salah seorang hendak melarikan diri, namun ziyan lebih cepat bergerak dan menendang hingga terpental masuk kembali ke kamar. Tak ingin terus membuat gaduh, ziyan segera memukul leher mereka hingga pingsan.
Ziyan mengambil senjata mereka lalu memeriksa tubuh keduanya. Terdapat tato dengan gambar singa di dada mereka. Karena bentuk tato yang sama persis, ziyan yakin ini adalah tanda keanggotaan suatu organisasi.
" Sepertinya besok aku harus bertanya pada pangeran. " Gumamnya.
__ADS_1
Setelah mengikat dan menyimpan kedua orang tersebut dalam lemari. Ziyan kembali meneruskan tidurnya. Besok akan menjadi hari yang panjang. Karena itu ia harus menyiapkan energinya malam ini.
Junyi yang baru tiba, berjaga di luar tanpa tahu ada dua pria terikat di dalam kamar calon nyonya tersebut.
*******
Utusan Kerajaan wei kembali pagi ini. Setelah berpamitan pada permaisuri dan raja. Shuwang segera masuk ke dalam kereta kuda miliknya bersama ziyan yang menyamar menjadi pelayan. Tentu saja dengan sedikit make up membuat tampilannya tidak di ketahui.
Menteri guan bersikap biasa layaknya orang tanpa rasa bersalah, " Putri. Kita akan segera kembali. Harap anda berhati-hati saat perjalanan nanti. "
Shuwang jelas tahu maksud menteri guan. " Tentu saja. Terima kasih atas perhatiannya menteri guan. "
Menteri guan melirik ke dalam kereta kuda shuwang dan melihat bahwa ada pelayan yang bersama dengannya. " Sepertinya perjalanan anda tidak akan membosankan karena di temani seseorang. Kalau begitu saya permisi putri. "
Shuwang hanya mengangguk lalu menutup kembali tirai kereta kudanya lagi.
Ziyan bisa melihat tangan shuwang yang gemetar. Ia pun menggenggamnya, memberikan kekuatan pada gadis itu. Setelah mengetahui serangan semalam, shuwang yakin menteri guan masih akan terus mencoba menyingkirkannya. Tak masalah jika
pria itu hanya menyingkirkannya saja asal tidak menyentuh Kaisar wei.
" Kenapa kau bisa yakin? "
" Lihatlah. " Ziyan membuka tirai dan menunjuk barisan belakang rombongan. " Ada tentara kerajaan jin. Pangeran pertama memerintahkan puluhan prajuritnya untuk mengawal utusan wei sampai perbatasan, dengan dalih insiden penyerangan saat keberangkatan mereka. Oleh karena itu. Setidaknya kita bisa tenang sampai dengan perbatasan." Jelas ziyan. Ia juga melihat junyi yang menunggang kuda memimpin para prajurit jin. Meski Sima rui tidak bisa ikut dengannya ke kerajaan wei. Tapi ia memerintahkan junyi untuk menjaganya.
Shuwang akhirnya bisa bernapas lega meskipun hanya sejenak. " Terima kasih yaner, atas semuanya. Jika bukan karena kau dan pangeran pertama pasti nasibku dan kerajaan wei tidak akan berjalan baik. "
" Jangan begitu cepat mengucapkan terima kasih. pertarungan kita masih belum selesai. Justru badai yang sebenarnya akan terjadi di kerajaan wei. "
Sementara di tempat lain,
Sima rui melihat kepergian ziyan dari teras istana. Dari tempat tinggi tersebut ia bisa melihat rombongan yang berjalan semakin jauh.
__ADS_1
" Bagaimana persiapannya? " Ucap Sima rui saat menyadari kedatangan Aying.
" Semuanya sesuai perintah anda pangeran. "
" Bagus. Lalu bagaimana dengan dua orang yang yaner serahkan tadi pagi. "
" Kami sudah menyelidikinya. Tato mereka sama dengan orang-orang di tempat itu. "
Sima rui mengangguk, dan berpikir sejenak. " Kalau begitu, bunuh keduanya. Kita sudah tidak memerlukannya lagi. "
Aying segera pergi menjalankan perintah. ' Yaner, tunggu aku. Aku akan segera menyusul mu. ' Batin Sima rui.
**********
Kerajaan wei.
Tampak dua orang sedang berjalan membawa kotak makanan. Mereka hendak membuka pintu sebuah kamar namun dua penjaga yang bertugas di depan pintu langsung menghentikan keduanya.
" Tunggu. Kalian harus di periksa. " Ucap salah satu penjaga.
" Kalian ini. Setiap hari kita bertemu. Tapi kenapa masih harus di periksa. " Keluh sang wanita yang berpakaian pelayan tersebut.
" Itu adalah perintah perdana menteri. Jika ingin mengeluh kau katakan saja padanya. "
" Baiklah. Ini lihatlah. Masih sama seperti kemarin. " pelayan wanita tersebut membuka penutup kotak dan tampak semangkuk tonik di dalamnya.
Setelah melihat barang bawaan pelayan wanita. Kini giliran pelayan laki-laki yang ada di sampingnya.
Tanpa menunggu penjaga itu berbicara, si pelayan pria langsung menunjukkan baskom berisi air hangat dengan handuk kecil di dalamnya.
" Baiklah. Kalian boleh masuk. " Rekan penjaga itu membuka pintu. Kedua pelayan itu pun masuk.
__ADS_1
" Orang tidak sadarkan diri untuk apa setiap hari di beri tonik dan di bersihkan. Sungguh merepotkan. Apalagi kita yang harus berjaga. Untuk apa menjaga orang yang hidup tapi seperti mayat itu. "
" Jangan bicara sembarangan. Bagaimanapun juga dia adalah kaisar kerajaan wei. "