
Kedua pemain segera mendorong seluruh uang mereka ke tengah. Selain A Fei, semua orang tampak tercekak menahan napas membuat suasana semakin tegang.
Xiao Er bahkan terus merapal mantra budha berharap A Fei bisa keluar sebagai pemenang di ronde ini.
" Bagikan kartu. " Kata kakak wanita itu pada dealer dan kembali kartu di bagikan.
A Fei mendapatkan kartu As sebagai kartu pertama lalu menyusul kartu berikutnya dengan posisi tertutup. Mengintip satu persatu kartu miliknya. Ia menghembuskan napas kasar, putus asa dengan ekspresi kecewa menunjukkan jika A Fei mendapatkan kartu jelek.
Perubahan ekspresi A Fei membuat lawan dan semua orang bisa menebak bahwa A Fei mungkin mendapat kartu jelek dan tahu siapa pemenang ronde kali ini.
" Lihat bukan, kau hanya seorang pemuda sombong dan bermulut besar. Hahaha berlagak bermain All in hanya untuk memberikan uang pada lawan secara cuma-cuma. Akhirnya aku bisa melihat kemalangan orang seperti mu. "
Pria paruh baya yang sebelumnya mengejek A Fei kembali bersuara. Ia terlihat sangat puas melihat kekalahan A Fei yang menurutnya sudah di depan mata.
Samar-samar, A Fei juga bisa mendengar orang-orang juga mengatakan hal yang sama. Telinganya seolah tuli, A Fei memilih diam dan mengabaikannya. Ia hanya perlu menunggu untuk menampar semua orang dengan hasil pertandingan.
Senyum mengembang di wajah kedua orang di depannya. Pasangan kakak beradik itu terlihat sangat yakin jika mereka akan kembali menjadi pemenang. Mata mereka berbicara menatap tumpukan chip di depan.
" Kita kaya kak.. "
" Iya. Kau benar Meimei. Beruntung pemuda ini sangat bodoh. Jika tidak, ia pasti tak akan mau memberikan uangnya pada kita. "
Keduanya tak sabar untuk menyentuh tumpukan Chip di depannya. Air liur keduanya hampir saja menetes dengan mata berbinar.
" Sekarang lebih baik kita selesaikan pertandingan ini. Bagaimana pun juga pemenangnya sudah jelas. " Ucap Kakak wanita itu pada A Fei. Sikapnya sangat pongah membuat A Fei jengah.
A Fei menghela napas, " Kalau begitu mari kita buka kartunya. "
Pria itu membalik kartunya, " Straight Flush. " Katanya bersamaan dengan itu.
Semua orang bersorak, seolah itu adalah ejekan untuk A Fei yang sudah di pastikan kalah.
A Fei memegang kartunya, mengamati ekspresi sombong lawannya. Dan dengan sekali gerakan, ia melempar kartu tepat ke tengah meja.
" Royal Flush. " Ucap A Fei dengan seringai.
Wajah kedua orang di depan A Fei langsung membeku. Seolah seember es baru saja mengguyur kepala mereka. Reaksi yang sama juga terlihat dari orang-orang yang sedang menonton. Mereka tidak percaya bahwa situasi bisa berubah drastis. Pemuda yang baru saja mereka remehkan ternyata mampu membalikkan meja.
'Ya seperti itu. Ekspresi kalian saat ini lah yang ku tunggu sejak tadi. ' Sorak bahagia A Fei dalam hati.
" Tidak.. kau pasti curang. Jelas-jelas bukan ini kartu yang kau dapatkan tadi. " Elak pria yang menjadi lawan A Fei menolak kekalahan.
" Dari mana kau yakin jika ini semua bukan kartu-kartu ku. Tak mungkin kan, mata mu berpindah di belakang ku. " Ucapnya sembari mulai mengumpulkan tumpukan Chip di depannya.
A Fei berkata lagi, " Kau mungkin berpikir seperti itu karena melihat ekspresi putus asa ku. Sayangnya itu hanya tipuan untuk menyesatkan mu. Jika tidak, mana mungkin aku bisa mendapatkan semua ini. "
__ADS_1
Meraup semua hasil kemenangannya, A Fei mulai memasukkan satu persatu ke dalam sebuah kantong.
" Kau pasti sengaja bukan? pura-pura mengalah di ronde sebelumnya agar aku berpikir kau lemah? "
Memasang ekspresi terkejut, " Bagaimana kau tahu? " mata A Fei melotot dengan mulut menganga. Kemudian mengibaskan tangannya. " Ah sudahlah. Meski kau menyadari sekarang juga sudah terlambat. Uang ini sudah menjadi milik ku. "
Kedua tangan pria itu mengepal kuat. ' Dasar penipu. '
" Berhenti! lepaskan tangan mu dari uang-uang ku.. " Desisnya menatap tajam A Fei.
A Fei merengut mendengar ucapan pria itu. " Uang mu? Apakah kau mengalami delusi setelah kekalahan ini? jelas-jelas ini adalah uang ku, hasil kemenangan ku. "
" Kau ******! kau pasti bermain curang. " kali ini yang berbicara adalah sang adik. Wanita yang sebelumnya menghina A Fei.
Melihat wanita itu dengan ekspresi datar. A Fei berkata, " Kau wanita yang sangat jelek. Tidak hanya mulut mu yang kotor, bahkan perilaku mu juga sangat buruk. Ck.. aku yakin kau akan melajang seumur hidup jika sikap mu sama sekali tidak berubah. "
Brakk!
Pria itu menggebrak meja. Tidak hanya mencuri uangnya, ia juga sudah menghina adik perempuannya.
Semua orang menonton dengan antusias, seolah didepannya adalah panggung opera yang sedang menampilkan opera sabun.
Hanya Xiao Er yang panik, takut terjadi sesuatu dengan A Fei.
" Aku tidak bersalah, jadi untuk apa aku minta maaf. Lagi pula aku tidak peduli siapa keluarga mu, aku yakin mereka sangat menderita karena memiliki dua sampah dalam silsilah keluarga. "
A Fei sengaja memprovokasi untuk membuat keduanya marah. Dan usaha A Fei itu berhasil.
" Brengsek! akan ku habisi kau! " pria itu dengan cepat maju bermaksud memukul A Fei.
Namun sebelum kepala tangan itu mendarat di kulit A Fei, dua penjaga berbadan besar sudah lebih dulu datang. Salah satu berhasil menghentikan pukulan itu.
" Hentikan atau silakan pergi dari sini. Kalian pasti tahu aturan di sini. Jika masih berani membuat keributan maka bersiaplah kalian akan mendapatkan larangan masuk di masa depan. "
Sejak penutupan Shugua, Chuntian menjadi satu-satunya kasino di Kekaisaran Jin. Meski banyak rumah judi lain. Tapi permainan yang di tawarkan sangat membosankan.
Bagi orang awam mungkin Chuntian hanya sebuah tempat judi. Tapi tidak dengan sebagian orang, terlebih orang dari kalangan atas. Entah sejak kapan, lantai dua yang merupakan Bar menjadi tempat pertemuan dan transaksi kalangan atas. Mereka lebih suka mengadakan pertemuan di Bar dari pada rumah bordir. Karena itu, larangan masuk Chuntian merupakan mimpi buruk mereka yang paham arti penting tempat ini.
Wanita itu dan kakaknya memilih mundur. "Lihat saja, aku akan membalas mu. " Ancamnya pada A Fei sebelum pergi.
Ketika sedang menukar uang. Tanpa sengaja A Fei mendengar obrolan dua pria di sampingnya.
" Kau tahu, kau bisa mengajukan pinjaman besar hari ini. Kebetulan aku melihat pemilik kasino ini tadi. "
" Pemilik kasino ini? maksud mu bos zi? wanita pemilik Serikat dagang Zi. "
__ADS_1
" Benar. Jika dia datang, kau bisa mengajukan pinjaman besar dengan bunga kecil tentunya. Tapi kau harus membawa jaminan untuk pinjaman tersebut. "
" Kalau begitu aku akan gadaikan sertifikat rumah ku. "
Temannya menggeleng. " Itu bukan ide bagus. Bos Zi pasti akan menolaknya. Ia tidak menerima sertifikat rumah. Karena menurutnya jika rumah tergadai maka banyak orang di keluarga mu yang akan menderita karena kehilangan tempat tinggal. Lebih baik kau gadaikan surat toko. "
" Ck.. kenapa ia menganggap seolah aku tidak bisa mengembalikan uangnya? "
" Bukan tanpa alasan bos Zi bersikap demikian. Itu karena sebagian besar orang yang meminjam untuk berjudi memang tak bisa mengembalikan uangnya. "
A Fei menarik Xiao Er menjauh.
" Kau dengar tadi? sepertinya ibu ada di dalam. Lebih baik temui ibu terlebih dulu. "
" Jangan putri. Jika ratu tahu anda datang ke sini, beliau pasti marah besar. " Cegah Xiao Er.
" Tidak akan. Ibuku bukan wanita berpikiran kolot seperti ibu-ibu yang lain. Jika wanita dilarang masuk ke tempat ini lalu kenapa ibu ku menciptakan Chuntian? ayolah Xiao Er... sekarang aktifitas wanita tidak hanya terbatas seputar urusan rumah tangga dan suami. Kita juga bisa mencari uang dan bersenang-senang. Jadi jangan takut, ibuku tidak akan marah. "
Pada dasarnya, menanyakan pendapat Xiao Er hanya sebuah tindakan basa basi. Karena bagaimana pun hasilnya pada akhirnya akan sesuai dengan keinginan A Fei. Jadi meski Xiao Er menolak, ia tetap saja di seret untuk menemui Ziyan.
Langkah kaki A Fei menuju ke lantai dua. Dimana ruangan Ziyan berada. Terletak di ujung lorong dengan dua pintu saling berhadapan. Satu ruangan Ziyan, dan satu ruangan Wenran, sebagai penanggung jawab Chuntian.
A Fei mengernyit saat tak melihat satu penjaga pun di sana. Seharusnya setidaknya ada dua pengawal yang berjaga mencegah sembarang orang masuk ke dalam.
Tanpa permisi, A Fei langsung membuka pintu. Namun matanya langsung terbelalak terkejut dengan pemandangan di depannya.
"Paman Wenran, siapa yang melakukan ini? " Seru A Fei berlari menghampirinya.
A Fei tak menyangka akan menemukan Wenran tergeletak bersimbah darah di ruangan ibunya.
" Si.. a.. pa? " Tanya Wenran ditengah kesadarannya. Ia tak mengenali A Fei dengan pakaian pria.
" Aku A Fei, Sima Fei. Paman bertahanlah, aku akan segera membawa mu ke habib. Sekarang kau minum ini dulu untuk menghentikan pendarahan mu. " Kata A Fei panik bukan main. Ia berusaha mengambil Pil pembeku darah di dalam kantong obatnya. Tangannya yang gemetar membuatnya kesulitan.
" Pu.. tri.. pergi. Ini je..ba..kan. " Ucap Wenran terbata. Sayangnya peringatan Wenran tak di dengar A Fei. Wanita itu terlalu panik hingga telinganya tak bisa merangkai kata-kata Wenran.
" Apa maksud mu? " A Fei tak mengerti.
Sebelum Wenran menjawab, keributan datang dari belakang A Fei yang secara kebetulan saat itu pintu dalam keadaan terbuka.
" Pembunuh. Dia membunuh manajer Zhou. " Seru salah satu penjaga. Kemudian muncul seorang wanita bercadar dengan penampilan persis seperti ibunya. Tapi jelas sekali, A Fei bisa mengenali jika itu bukan Ziyan.
Sebelum A Fei mencerna apa yang terjadi, seruan lain terdengar. " Penjaga, cepat tangkap pembunuh ini. "
Semua terjadi begitu cepat. A Fei dan Xiao Er tersadar begitu mereka sudah di bawa ke biro penyidik.
__ADS_1