
Perbincangan antara Xiao Shuxiang dan kedelapan temannya dengan Grand Elder serta kedua Patriarch Sekte Bambu Perak menghasilkan sebuah kesepakatan.
Sekte Kupu-Kupu akan membantu membangun kembali Sekte Bambu Perak jika sekte tersebut berjanji menjadi bala bantuan yang paling setia pada Sekte Kupu-Kupu, dan juga berjanji mengikuti semua aturan yang ditetapkan oleh Xiao Shuxiang.
Memang terdengar seperti Sekte Kupu-Kupu tidak memberi kebebasan apa pun pada Sekte Bambu Perak dan seakan menekan mereka.
Namun, kesepakatan ini disetujui karena Grand Elder Sekte Bambu Perak tahu bahwa saudara Yang Fu ada di Sekte Kupu-Kupu.
Tidak akan ada masalah yang terjadi jika mereka mengikat hubungan dengan seorang kaisar yang begitu disenangi oleh rakyat Benua Utara.
Yang Fu tidak bisa menahan air matanya, sudah sangat lama dirinya berpisah dengan saudaranya, Yang Shu. Entah bagaimana sekarang keadaan kakaknya itu.
"... Untuk sekarang, kalian bisa tinggal di tempat kami. Dua temanku akan membawa beberapa pedang terbang yang bisa kalian gunakan." Xiao Shuxiang meminta Hai Feng dan Jing Mi pergi ke Cabang Asosiasi Bangau Merak untuk membeli pedang terbang.
"... Ro Wei, kau juga ikut dengan mereka."
Ro Wei mengangguk mengerti saat mendengar ucapan Xiao Shuxiang, dia lalu menyusul Jing Mi dan Hai Feng.
Xiao Shuxiang meminta izin untuk membantu murid-murid Sekte Bambu Perak yang terluka. Dirinya lalu diantar oleh salah satu Patriarch Sekte Bambu Perak.
Sambil berjalan-jalan, Xiao Shuxiang tersentak kala Yi Wen menarik lengan kanannya dan membisikkan sesuatu padanya.
Kening Xiao Shuxiang berkerut, dia lalu menatap Yi Wen dan bertanya apakah temannya ini tidak salah bicara. Hanya saja, Yi Wen begitu serius dan sangat yakin dengan ucapannya.
Wajah Xiao Shuxiang berubah, dia mengepalkan tangan kanannya dan berkata akan mengatasi ini saat mereka pulang nanti.
Sore harinya, Jing Mi, Hai Feng dan Zhi Shu kembali dengan membawa sebuah cincin spasial yang isinya 23 pedang terbang. Mereka membeli senjata tersebut di cabang asosiasi yang ada di Kekaisaran Matahari Terbit.
Setelah mendapat pedang terbang masing-masing, para murid Sekte Bambu Perak sekaligus Grand Elder dan kedua Patriarch mereka segera melesat menuju ke Sekte Kupu-Kupu.
Mereka baru tiba setelah lima hari. Cukup lama memang, sebab mereka harus berhenti beberapa kali untuk memberi istirahat murid-murid Sekte Bambu Perak.
Zong Ming dan Zhi Shu sebenarnya merasa gelisah, keduanya memikirkan keadaan Xiao Lu. Terlalu ditinggal lama membuat mereka membayangkan hal yang buruk. Bagaimana jika Xiao Lu disiksa atau bahkan sudah..
"Jangan khawatir. Jika mereka menculik gadis cerewet, itu artinya ada sesuatu yang mereka inginkan. Aku yakin dia akan baik-baik saja," Xiao Shuxiang menenangkan Zong Ming dan Zhi Shu.
Xiao Shuxiang meminta keduanya untuk pergi ke kamar mereka masing-masing, karena ini sudah waktunya untuk tidur.
Xiao Shuxiang kemudian berjalan-jalan di sekitar bangunan tempat Yang Shu tinggal, dia menuju ke salah satu ruangan yang merupakan kamar Ro Wei.
Di dalam ruangan tersebut, terlihat Ro Wei sedang melipat sebuah kertas dan memasukkan dua butir pil berwarna emas ke dalam kantong kain kecil.
Tidak berselang lama, seekor burung hantu berwarna abu-abu kehitaman hinggap di jendela kamar Ro Wei.
Dirinya langsung mengalungkan kantong kecil tersebut ke leher burung hantu dan mengikat kertas yang tadi ditulisnya di kaki sang burung.
__ADS_1
Hanya saja, belum sempat Ro Wei menyelesaikan mengikat kertas di kaki burung tersebut... Sebuah jarum kecil melesat dan mengenai sebelah mata burung hantu, membuatnya terjatuh dengan bulu yang langsung berwarna ungu kehitaman.
!!
Ro Wei terkejut, jarum itu beracun. Saat dia menoleh, betapa terkejut dirinya ketika menyadari bahwa di belakangnya ada seseorang yang berdiri dan ternyata itu adalah Xiao Shuxiang.
"Sa-Saudara Xiao...? A-Apa yang kau lakukan di sini...?"
Ro Wei berusaha untuk terlihat tenang, tapi nada suaranya dan tatapan matanya tidak bisa membohongi Xiao Shuxiang.
"Ro Wei... Kau malam-malam begini sedang melakukan apa..? Kulihat tadi, kau sepertinya sibuk sekali..."
Xiao Shuxiang berjalan ke arah Ro Wei dan berhenti saat dirinya berada di depan jendela kamar Ro Wei.
"Hmm.. Bulan tidak terlihat dari sini.." Xiao Shuxiang menatap langit, pandangannya kemudian teralihkan pada burung hantu yang telah tewas karena terkena jarum beracunnya.
Ro Wei berusaha menahan gemetar di tubuhnya walau sebenarnya sia-sia. Wajahnya terlihat pucat dan jantungnya berdetak sangat cepat, dia... Ketakutan.
Xiao Shuxiang mengeluarkan api biru kecilnya.. Api tersebut melayang dan mengangkat bangkai burung yang telah tewas agar Xiao Shuxiang bisa memegangnya.
Dia lalu mengambil kertas yang ada di kaki burung hantu dan membaca isinya. Cukup mengejutkan, sebab kertas tersebut berisi angka-angka.. Semacam sebuah pesan rahasia yang hanya diketahui oleh pihak pengirim dan sang penerima pesan.
Xiao Shuxiang menatap angka di dalam kertas tersebut dan mulai mengerti apa yang tertulis. Dia lalu menatap Ro Wei sambil tersenyum tipis.
"Sa-Saudara Xiao, aku.. A-aku.."
Ro Wei tidak menyadari kakinya melangkah mundur, dia tidak tahu harus memberi penjelasan apa pada Xiao Shuxiang, karena terlihat saudaranya ini begitu marah.
"Ro Wei.. Xiao Shuxiang menunggu penjelasan darimu.."
"Saudara Xiao.." Ro Wei tidak bisa melanjutkan ucapnnya, bibirnya terasa kelu.
Xiao Shuxiang memperingati Ro Wei untuk tidak menguji kesabarannya. Dia mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang memiliki banyak kesabaran.
"... Kau ingin melaporkan perkembangan sekte kita pada siapa, Ro Wei?" Xiao Shuxiang bertanya lagi, namun Ro Wei hanya terus menyebut nama Xiao Shuxiang dengan gugup.
Segera, Xiao Shuxiang melesat dan mencengkeram leher Ro Wei. Gerakannya begitu tiba-tiba, bahkan Ro Wei sampai terkejut.
"Apa Kau Sedang Mengkhianatiku?!"
Ro Wei kesulitan untuk bernapas, dia hanya meneteskan air mata dan berusaha meminta maaf pada Xiao Shuxiang.
Braak!
Xiao Shuxiang melempar Ro Wei hingga tubuhnya menghantam meja, dia paling tidak suka dengan seorang pengkhianat.
__ADS_1
Ro Wei terbatuk sambil memegang lehernya, terlihat bekas merah hasil cengkeraman Xiao Shuxiang.
"Sebaiknya kau katakan kepadaku, siapa yang menyuruhmu untuk mengkhianati Xiao Shuxiang?!"
"Sa-Saudara Xiao, a-aku tidak bisa mengatakannya.." Ro Wei menangis, tubuhnya gemetar, dia merasa tertekan dan begitu ketakutan.
"Tidak bisa mengatakannya..?"
Xiao Shuxiang mengerutkan kening, dia mendengar dari Yi Wen bahwa Ro Wei bertingkah aneh belakangan ini. Bahkan, saat mereka menyerang Sekte Serigala Iblis.. Ro Wei hanya melukai sedikit kultivator tanpa ada niatan untuk membunuh mereka.
Xiao Shuxiang memperhatikan lebih teliti bangkai burung hantu yang telah dibunuhnya, dia kemudian menggumamkan sesuatu dan berjalan ke arah Ro Wei.
Xiao Shuxiang menyuruh Ro Wei untuk mengeluarkan lidahnya, ucapannya membuat Ro Wei terkejut.
"Apa kau juga tidak mau mengikuti perintah dariku? Cepat keluarkan lidahmu atau aku yang akan memaksamu untuk mengeluarkannya..!"
!!
Ro Wei begitu gugup, dia perlahan membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya seperti yang diperintahkan Xiao Shuxiang.
Cukup mengejutkan, di lidah Ro Wei terdapat sebuah segel berbentuk tengkorak kecil.
Xiao Shuxiang mengepalkan kedua tangannya, dia sudah menduga-duga pemilik burung hantu yang dibunuhnya, dan segel pada lidah Ro Wei menguatkan dugaannya.
"Sekte Tengkorak Darah..!" Xiao Shuxiang menggertakkan giginya, dia segera pergi meninggalkan Ro Wei dengan wajah yang kesal.
Tepat ketika dia berada di luar, Xiao Shuxiang segera menaiki pedang terbangnya dan melesat pergi ke wilayah Aliran Hitam.
Di sebuah gunung yang memiliki tinggi menyamai Gunung Induk, namun terlihat berwarna sehitam malam dari kejauhan, dan ketika di dekati berubah warna menjadi merah darah.
Gunung terkenal di Kekaisaran Matahari Tengah, Gunung Tumpukan Mayat. Disebut seperti itu sebab aroma di gunung ini bagaikan mayat yang telah membusuk.
Untuk pergi ke Gunung Tumpukan Mayat membutuhkan waktu paling lama sepuluh hari dengan kecepatan yang sedang, sementara untuk kecepatan tinggi hanya butuh lima bahkan tiga hari.
Salah satu tempat di tengah-tengah Gunung Tumpukan Mayat, terletak jauh di kedalaman hutan... Terdapat lima buah bangunan yang terbuat dari batu hitam.
Salah satu bangunan bertingkat tiga, dan memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada bangunan lain merupakan tempat tinggal keluarga Grand Elder Sekte Tengkorak Darah.
Xiao Shuxiang terlihat melayang di udara dengan pedang yang mulai retak di kakinya. Untungnya letak Sekte Tengkorak Darah tidak berubah sama sekali.
"Sudah sejak lama.. Tapi aku tidak ke sini untuk bernostalgia.." mata Xiao Shuxiang berubah menjadi merah, asap hitam mengepul di bawah kaki dan naik menyelimuti tubuhnya.
Segera, Xiao Shuxiang melesat ke bangunan yang paling besar dengan kecepatan luar biasa.
***
__ADS_1