
Telah dikatakan bahwa Xiao Shuxiang tidak lebih dari sekedar wadah pengumpul kekuatan bagi makhluk dari Dunia The Fallen Angel. Jadi mustahil dia bisa menjalani hidup tanpa pengawasan mereka, dan Api Biru Kecil itulah yang selama ini selalu mengawasinya.
Xiao Shuxiang tidak tahu tentang kebenaran ini. Yang dia ketahui adalah Api Biru miliknya adalah pengikut setia seperti Hu Li. Api tersebut selalu mengikuti perintahnya, baik menyerang orang lain, mematahkan leher mereka, termasuk membakar sebuah perkampungan.
Tidak ada yang tak dapat dilakukan oleh Api Biru miliknya. Di tingkatan tertentu, mereka bahkan bisa bicara layaknya manusia pada umumnya. Sayang Api Biru tersebut juga tidak lebih dari sebuah wadah kekuatan bagi makhluk dunia itu.
Selama ini mereka hanya mengikuti satu perintah mutlak, dan itu bukan dari Xiao Shuxiang. Mereka bisa dipanggil oleh Qian Kun dan memberikan informasi apa pun yang mereka dapatkan untuk orang itu. Bila ada yang ingin disebut sebagai 'gunting dalam lipatan', justru makhluk kecil itulah yang pantas.
Hanya saja, sama seperti Xiao Shuxiang yang dapat berubah sikap menjadi sedikit lebih baik, maka itu juga berlaku untuk Api Biru miliknya.
Di kehidupan ini, untuk pertama kalinya mereka mengalami evolusi. Dua dari sepuluh Api Biru telah memiliki kesadaran pikirannya sendiri.
Satu di antara keduanya telah berevolusi menjadi Api berwarna kuning keemasan, dia sekarang bersemayam di dalam tubuh seorang bayi dan melepaskan diri dari Xiao Shuxiang. Karena itulah Koki Alkemis itu tidak lagi bisa memanggilnya, termasuk Qian Kun.
Satu Api Biru kecil yang lain juga berevolusi, dia memiliki sebuah petir ungu di dalam intinya. Dia mempunyai kesadaran sendiri dan api tersebutlah yang bertindak menyegel teman-temannya saat Xiao Shuxiang berada di Dunia lain.
Qian Kun pernah memanggil kesepuluh api tersebut, namun hanya delapan yang memenuhi panggilan miliknya. Dia pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi.
"Satu persatu dari kalian menyimpan kekuatan anak itu, ini hal yang mutlak dan dia tidak dapat mengambilnya kembali kecuali kalian sendiri yang memberikannya. Tapi entah dari mana dia punya pemikiran itu hingga berani membagi kekuatannya pada manusia lain.." Qian Kun semakin mengepalkan tangannya, dia ingat pada bayi berambut merah gelap yang pernah tidak sengaja dirinya lihat. Bayi tersebut membuatnya merasakan kehadiran Xiao Shuxiang.
".. Saat itu aku tidak mengetahui apa yang dia lakukan, tetapi sekarang aku sadar. Dia ternyata memberikan sebagian kekuatannya pada makhluk lain agar dia tidak kehilangan kendali. Dan sekarang dia bermaksud melakukan hal yang sama dengan menikahi gadis itu. Xiao Shuxiang.. Dia sangat keterlaluan."
"Tuan.. Tenanglah,"
"Aku baik-baik saja. Aku hanya kesal pada anak itu. Diberi makan apa dia oleh para manusia hingga berani berbalik arah dan mengkhianati kaumnya sendiri? Dia bahkan tidak lagi menganggap Lumière ada."
"Shuxiang.. Tidak pernah melupakannya,"
Qian Kun menatap Api Biru yang melayang di sampingnya sebelum mengarahkan pandangan ke depan. Dia kini telah ada di lantai bawah tanah, sebuah tempat yang dipenuhi dengan aroma pekat darah.
Tempat ini berdebu. Bisa dilihat dari tumpukan senjata tua yang juga dalam kondisi rusak dan tumpukan tulang belulang makhluk seperti Demonic Beast dan manusia.
Ada juga sebuah kuali tua di tengah-tengah ruangan, benda itu terbuat dari besi dan mempunyai ukuran yang besar. Qian Kun baru berhenti berjalan saat berada di depan kuali tersebut. Karena tertutup topeng, ekspresi wajahnya sulit dilihat.
"Kau bilang Shuxiang tidak melupakannya..? Hh, apa kau yakin dengan itu? Tidakkah kau melihat bagaimana dia memperlakukan Lumière?"
Suara Qian Kun mengandung amarah, namun ini bukan berarti dia memiliki rasa simpati pada gadis itu. Hanya saja, jika Lumière sendiri tidak lagi dianggap ada oleh Xiao Shuxiang--maka itu juga berlaku untuk dia dan para makhluk di dunianya.
Qian Kun sadar dengan kemampuannya. Dia bisa membunuh siapa pun, termasuk menjungkir-balikkan sebuah benua dengan kekuatannya yang sekarang.
Tetapi penting diketahui bahwa dia tidak bisa mengambil nyawa Xiao Shuxiang sebelum pemuda itu berusia 39 Tahun di kehidupan ini. Dan menunggu sampai waktunya tiba dapat menjadi bahaya bagi kaum dari Dunia The Fallen Angel.
39 Tahun adalah usia di mana kekuatan Xiao Shuxiang akan membuatnya lepas kendali. Qian Kun hanya mencari cara lain untuk mempercepat kondisi itu terjadi. Dia benar-benar sudah bekerja sangat keras.
Jika ingin tahu, dialah yang meletakkan jantung murid Partai Pedang Tengkorak di sebuah lantai kamar hingga ditemukan dengan mudah. Itu merupakan salah satu langkah dari rencana besarnya.
Sulit sebenarnya untuk mengetahui tindakan Qian Kun karena dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Bahkan untuk sekarang, apa yang ingin dia lakukan di tempat ini masih terlalu awam untuk dimengerti.
*
*
*
Malam terasa dingin di luar, tetapi hangat di sebuah kamar berhiaskan selendang merah dan bunga di Sekte Kupu-Kupu. Deru angin menerbangkan bunga dan melambai-lambaikan berbagai selendang tipis itu sehingga menghasilkan pemandangan yang luar biasa menakjubkan.
Aroma bunga yang lembut menyelimuti ruangan luas ini. Berbagai hiasan kamar terlalu indah untuk diabaikan, namun seakan perhatian telah lebih dulu dicuri oleh sesosok insan yang duduk diam di pinggiran sebuah tempat tidur.
Dia memakai pakaian merah yang bagi masyarakat umum melambangkan kebahagiaan. Di balik kain yang menutupi kepala sosok itu, ada wajah seputih salju yang teramat lembut.
Bulu mata lentik dan mempesona yang dia miliki sedang menyembunyikan mutiara sebiru langit. Sebuah keindahan yang dapat memberi ketenangan terdalam bagi siapa pun yang melihatnya.
Wajah yang seputih salju tersebut rupanya masih tertutupi oleh sebuah kain cadar tipis berwarna putih. Walau demikian, bayangan halus dari garis bibir yang indah itu masih bisa terlihat jelas.
Selain suara kibaran dari selendang yang melambai, samar-samar sosok itu mendengar suara dari langkah kaki seseorang. Matanya perlahan terbuka dan memperlihatkan warna mutiara sebiru langit.
Suasana yang sebelumnya tenang kini mulai mendebarkan. Tangan kanan sosok itu bergerak ke belakang dan memegang Baiyi, sebuah pedang lentur yang dapat dijadikan sebagai sabuk pinggang.
Suara langkah kaki itu makin terdengar jelas. Di balik lambaian selendang merah, terlihat sosok pemuda berpakaian hitam tengah berjalan dengan aura yang penuh wibawa. Rambut hitam panjangnya nampak dilambai-lambaikan angin. Entah mengapa, tetapi suasana tiba-tiba penuh nuansa ketegangan.
Tangan yang memegang Baiyi merupakan tangan lembut seorang gadis. Dia memegang kuat pedangnya saat melihat sosok pemuda berdiri tepat di hadapannya.
Tangan pemuda itu mulai terulur dan menyentuh kain yang menutupi kepalanya. Gadis bermata biru tersebut masih belum menarik keluar pedangnya dan seakan menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.
__ADS_1
Kain yang menutupi kepala gadis itu mulai diangkat dengan pelan, lambaian selendang dan bunga yang berjatuhan membuat pemandangan indah.
Dua pasang mata berbeda warna kini saling berpandangan. Masing-masing mempunyai pesonanya sendiri dan nampak mengagumkan. Perlahan, suara lembut dan manis seorang pemuda terdengar.
"Maaf membuatmu menunggu.."
Tidak bisa tergambarkan bagaimana wajah dan senyuman di bibir pemuda itu mampu memikat hati. Dia seakan-akan adalah malaikat yang baru saja keluar dari sebuah lukisan.
Postur tubuh dan wajahnya bagai pahatan sempurna dari langit. Dia seperti dianugerahi sebuah pesona yang tak terbantahkan. Garis bibir yang membentuk senyuman tulus itu bahkan dapat melelehkan hati yang beku.
"Mn.."
Gumaman pelan seorang gadis terdengar. Sosok yang memegang pedang Baiyi itu mulai mengendur. Dia seperti tidak lagi berniat untuk menarik keluar pusakanya. Seluruh kegugupannya menghilang ketika melihat wajah sempurna dari pemuda di hadapannya.
Ada dua keindahan dunia di dalam ruangan ini. Wajah gadis yang melambangkan langit biru di atas salju putih lembut. Dan sosok pemuda yang merupakan kesempurnaan malam dengan cahaya halus bulan di wajahnya.
Keindahan itu nampak saling bersaing, walau sebenarnya melengkapi.
Keindahan itu terpisah, namun bersatu dalam ruangan ini.
Keberadaan mereka, bahkan tidak memiliki kata-kata yang sempurna untuk menggambarkannya.
Suasana ini terlalu indah, dan sayang bila dirusak. Hanya saja tiba-tiba..
"Adu duh! Bokongku benar-benar pegal harus duduk lama dengan gaya yang kaku. Mempertahankan wibawa itu benar-benar sulit, sama sekali bukan gayaku. Adu duh!"
!!
Xiao Shuxiang memang berbakat merusak suasana yang puitis. Setelah membuka kain yang menutupi kepala Kucing Putihnya, dia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur dan merintih sambil mengusap-usap bokong berisinya.
Ling Qing Zhu berkedip, baru saja dia melihat Wali Pelindungnya sebagai sosok yang mengagumkan, tetapi tiba-tiba bayangan itu langsung memudar.
Haah.. Seharusnya dia tidak terlalu banyak berharap. Lagipula, sosok seperti Xiao Shuxiang sangat mustahil bisa mempertahankan wibawanya dalam waktu yang lama.
"Kucing Putih.. Kau sebaiknya tidur. Aku terlalu lelah saat ini. Anak-anak itu tidak mau melepaskanku, terlalu banyak penggemar Xiao Shuxiang di luar sana. Aku benar-benar luar biasa,"
!!
Ling Qing Zhu tersentak, dia bangun dari duduknya dan berkedip sekali lagi kala melihat Wali Pelindungnya merayap seperti ulat bengkok. Ini membuktikan bahwa pemuda tersebut memang sangat kelelahan hingga tingkahnya seperti itu untuk mencari posisi yang ternyaman.
"Tidak.." Xiao Shuxiang bergumam, dia hampir setengah jalan menuju alam mimpi, namun masih membalas ucapan orang yang mengajaknya bicara.
".. Kau saja yang mandi. Aku terlalu lelah untuk bergerak.. Mmm.. Biasanya Lan Zhi yang memandikanku kalau aku sudah malas bergerak. Dia tidak suka aku tidur tanpa mandi terlebih.. Dahulu.."
"Shuxiang..?"
"…"
!!
Wali Pelindungnya sudah tertidur! Ling Qing Zhu tidak mengerti dengan maksud gumaman terakhir nan panjang dari Xiao Shuxiang. Jika dia tidak salah dengar, Wali Pelindungnya menyebutkan nama Tuan Muda Lan dan kata seperti 'memandikan'.
"Shuxiang..?"
"…"
Dia benar-benar telah tidur! Ling Qing Zhu berusaha mempertahankan ketenangannya. Dia mengembuskan napas walau isi kepalanya terlalu sensitif untuk menangkap maksud gumaman Wali Pelindungnya barusan.
Pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Ling Qing Zhu mendengar fakta yang kemungkinan tidak semua orang tahu. Wali Pelindungnya bukan pemuda yang suka berbohong, jadi yang dia dengar tadi pasti benar-benar pernah terjadi.
Alis Ling Qing Zhu sedikit bertaut. Sebagai orang yang suka bersih seperti Lan Guan Zhi, dia juga risih melihat keadaan Xiao Shuxiang yang seperti ini.
Dia bisa saja menyeret Wali Pelindungnya dan memasukkan pemuda itu ke dalam bak berisi air, tetapi dia tidak yakin bisa memandikannya.
"…"
Ling Qing Zhu sejenak menatap pemuda yang tengkurap dan sedang tertidur pulas di hadapannya sebelum dia melangkah ke arah sebuah sekat kayu. Kejadian di dalam ruangan ini diperhatikan oleh dua orang yang tengah berada di atap kamar.
Potongan genting mulai di pasang kembali. Dua orang itu yang tak lain adalah Yi Wen dan Bocah Pengemis Gila kembali melompat turun karena tidak bisa melihat kejadian yang menarik.
"Menyebalkan. Kenapa Saudara Xiao cepat sekali tertidur?! Aku kan ingin melihat dia dan nona Ling melakukan itu..! Tsk, mengesalkan sekali..!" Yi Wen bersungut-sungut, dia menyilangkan tangannya sambil menendang kerikil.
Dia sudah mengatur kamar pengantin Saudara Xiao-nya sedemikian rupa dengan bantuan Zhi Shu, Rou Wei, dan Bocah Pengemis Gila. Dia bahkan sudah memberi beberapa saran pada pengantin wanita yang tidak boleh dilewatkan, tetapi semua usahanya seakan terbuang begitu saja.
Bocah Pengemis Gila menghela napas, "Haah.. Kan sudah kubilang, ini tidak akan berhasil. Kau terlalu berharap pada pemuda yang sama sekali tidak mengerti hal-hal romantis.."
__ADS_1
Dia mengapit tongkat bambunya di antara tangan yang disilangkan. Bocah Pengemis Gila sebenarnya tidak keberatan berjalan berdua dengan seorang gadis, apalagi Yi Wen. Tetapi tentu ada jarak batas yang tidak boleh dilanggar. Bocah Pengemis Gila pun melanjutkan ucapannya.
".. Belum lagi Ling Qing Zhu, gadis itu bahkan tidak tahu apa-apa. Jangankan menyuruhnya mengeluarkan ucapan penuh rayuan, mengatakan kata 'sayang' saja tidak ada rasanya. Dia itu tipekal gadis yang lebih parah dalam mengenal hal-hal romantis,"
Yi Wen memanyunkan bibirnya saat mendengar ucapan Bocah Pengemis Gila, "Padahal yang tadi itu situasi dan kondisinya pas sekali, tapi.. Haah.. Kurasa inilah akibatnya jika terus bergelut dengan pedang dan teknik berpedang, mereka jadi tidak tahu apa itu cinta. Padahal bukankah Saudara Xiao sering bersikap romantis pada Tuan Muda Lan? Kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama pada Nona Ling?"
"Haiih, kau ini. Melakukan hal romantis pada sesama lelaki itu sangat berbeda dengan prakteknya bersama lawan jenis. Setidaknya dengan laki-laki, tidak ada rasa di dalamnya, semua jadi lepas begitu saja. Bagi pelaku, itu semua sekadar candaan dan godaan ala pertemanan antar kaum laki-laki. Dunia kami ini bebas dan liar, kau tahu. Hanya saja kadang orang yang melihatnya sering berpikiran negatif dan meng-cap kami berperilaku menyimpang. Terdapat diskriminasi laki-laki di sini, bung."
"Aku tidak percaya kau bisa bicara sebanyak itu.." Yi Wen menoleh ke arah Bocah Pengemis Gila, dia terkesan karena telah menemukan pemuda yang cerewetnya melebihi Saudara Xiao-nya.
Yi Wen lalu memikirkan ucapan Bocah Pengemis Gila. Dia memang memiliki bayangan tentang apa yang baru saja dirinya dengar. Saat dua orang wanita saling bergandengan tangan dan memanggil satu sama lain dengan kata 'sayang', maka orang yang melihat mereka akan menganggap itu adalah hal yang wajar.
Sementara bila yang melakukannya adalah laki-laki dengan perempuan, maka akan terlihat romantis. Berbeda saat pelakunya adalah sama-sama lelaki. Jadi tentang diskriminasi itu memang jelas adanya.
"Yaah.. Tapi memang menggelikan saat melihat ada dua laki-laki berpegangan tangan. Itu hal yang tidak normal."
"Jadi kalau dua gadis berpegangan tangan, saling merangkul, dan sayang-sayangan itu hal yang wajar?" Bocah Pengemis tidak terima, dia mengatakan perempuan juga memiliki kemungkinan besar untuk berperilaku menyimpang.
"Aku sering melihatmu bergandengan tangan dengan Zhi Shu. Kau bahkan dengan tidak tahu malunya merangkul lengan Xiao Lu, apa-apaan itu? Bukannya kalian sama-sama perempuan? Itu kan juga termasuk tindakan yang menggelikan?"
?!
Yi Wen tersentak, dia berkedip dan menatap pemuda yang berjalan bersamanya, alisnya sedikit mengerut. "Jadi selama ini kau memperhatikanku..?"
Melihat Bocah Pengemis Gila tersentak dan matanya tiba-tiba memandang ke arah lain membuat bibir Yi Wen tertarik membentuk senyuman aneh. Ada ekspresi gugup pada wajah pemuda ini, itu sudah menjadi jawaban dari pertanyaannya.
"Heeh.. Tidak kusangka kau memata-mataiku selama ini. Bukannya kau bilang tidak tertarik dengan gadis, huh? Apa sekarang kau mulai tertarik padaku, hm..?"
!!
"Si-siapa bilang..! Itu hanya kebetulan saja. Ka-kau seperti serangga yang berkeliaran di hadapanku, ja-jadi bagaimana mungkin aku tidak melihatmu."
"Mm.. Lalu kenapa kau gagap begitu?"
!!
Bocah Pengemis Gila segera melangkah menjauh saat Yi Wen tiba-tiba mendekat padanya. Dia dengan gugup memperingatkan batas jarak yang tidak boleh dilanggar oleh gadis itu.
"Satu setengah meter! Awas jika kau berani mendekat selangkah lagi."
"Bocah Pengemis Gila! Aku mendekat pun tetap tidak mungkin memakanmu. Kau ini penakut sekali.." Yi Wen menggelembungkan pipinya, dia tidak melanggar jarak sebab masih ingin pemuda ini bersamanya untuk waktu sedikit lebih lama.
Bocah Pengemis Gila mengembuskan napas, dia mengusap-usap dadanya dan berusaha menelan ludah. "Jantungku hampir saja membeku gara-gara gadis ini. Entah seperti apa ibunya mengidam dahulu, dia benar-benar bisa memicu adrenalin.."
Bila pemuda bertongkat bambu itu bisa menggumam, maka Yi Wen juga demikian. Dia mengeluhkan banyak hal meski suaranya tidak terdengar jelas.
Cukup lama mereka melakukannya dan seperti sibuk dengan diri masing-masing. Yi Wen menggerutukan Bocah Pengemis Gila dan begitu juga sebaliknya. Barulah setelah berpapasan dengan Hu Li dan di sapa oleh pemuda itu, keduanya kembali normal.
Hu Li sebenarnya tidak menyangka bisa melihat Bocah Pengemis Gila berjalan hanya berdua dengan Yi Wen. Meskipun kedua insan itu tidak terlalu dekat, namun tetap saja mereka dianggap tengah jalan bersama.
Hu Li rupanya memang ingin mencari Bocah Pengemis Gila. Dia berkata akan ke Benua Tengah, memulangkan Ling Lang Tian, Grand Elder Sekte Pagoda Langit, Ling Shen Yue, dan Wang Rui Chan. Kedatangannya mencari Bocah Pengemis Gila tentu bermaksud menanyakan apakah pemuda itu juga ingin ikut atau tidak.
Bocah Pengemis Gila keheranan. Masih ada perayaan pernikahan selama enam malam, jadi mengapa Hu Li harus memulangkan mereka secepat itu?
"Tuan, ini bukan saya yang meminta. Tapi justru Tuan Muda Ling yang berkata ingin pulang. Tuan Ling Chu Zhen juga mengkhawatikan kondisi sektenya, jadi karena itulah saya kemari. Kalau mengingat sifat Tuan Muda saya.. Dia tidak akan ke Benua Tengah untuk beberapa hari ke depan ini."
"Tapi aku tidak mau pergi. Kau duluan saja," Bocah Pengemis Gila menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia pulang pun tidak ada yang menunggunya di rumah. Lagipula dia masih ingin bicara dengan Duan De, bermain-main di tempat ini, dan mengintipi Xiao Shuxiang.Tentu saja niatan terakhirnya itu tidak akan dia katakan pada Hu Li.
"Tuan yakin..? Sekali lagi saya katakan, tidak ada yang akan memulangkan Anda ke Benua Tengah. Tuan Muda Xiao saya itu tidak mungkin mau. Dan kalau bukan keinginannya sendiri, Beliau sangat sulit dibujuk."
"Bukan masalah, aku bisa mengatasi Wuxian. Pergilah,"
"Baik kalau begitu, saya pamit dulu.." Hu Li menyatukan tangannya dan memberi salam. Dia pun berjalan meninggalkan Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen yang melambai-lambaikan tangannya sambil mengingatkan pada dirinya untuk selalu berhati-hati.
Saat Hu Li pergi, Bocah Pengemis Gila mulai merentangkan tangannya dan menguap. Ini adalah waktunya tidur. Dia sudah begadang semalaman dan kemungkinan dia hanya punya waktu istirahat selama beberapa jam sampai matahari terbit kembali.
Yi Wen sendiri tidak ikut. Dia melihat Bocah Pengemis Gila yang sudah melangkah pergi meninggalkannya sendirian. Wajahnya lalu menengadah ke langit dan tahu bahwa bulan memang hampir selesai dengan tugas alaminya.
"Sekarang aku baru merasakan dinginnya angin.." Yi Wen memain-mainkan sedikit rambut depannya, dia memperhatikan suasana di sekitar dan dengan ekspresi wajah yang seperti memikirkan sesuatu.
Dia ingat dengan Scarlet Darah dan juga Qian Kun. Entah apa yang mereka lakukan di Benua Tengah sekarang itu, tetapi semoga saja mereka belum memutuskan untuk bergerak.
".. Malam ini terlalu indah bila dilewatkan. Dan kedamaian ini semoga saja tidak dimanfaatkan oleh mereka. Jika dipikirkan lagi, sebenarnya suasana sekarang cocok untuk melakukan pembantaian. Tapi kuharap Qian Kun tidak sekejam itu, yaah.. Paling tidak dia harusnya menungguku,"
***
__ADS_1