
Xiao Shuxiang mengenalkan dirinya seperti biasa dan kali ini dia menyebut marganya. Yang Chai Jidan tersentak, nama tersebut terkenal selama dua tahun belakangan ini.
Dirinya baru mengingat, cucunya juga tadi memperkenalkan Xiao Shuxiang padanya, namun dia seperti tidak terlalu menyadarinya.
Sebenarnya, nama 'Xiao Shuxiang' sudah cukup akrab di telinga warga Benua Utara.
Ini karena kisah tentang Sang Bintang Penghancur terasa seperti selimut bagi para pedagang, sehingga setiap kali ada orang yang berbelanja--mereka dua atau tiga kali pasti akan mendengar nama tersebut.
Kisah Sang Bintang Penghancur itu pernah tenggelam beberapa lama, namun dua tahun belakang nama 'Xiao Shuxiang' kembali naik daun. Ini seperti Gunung Berapi yang pernah meledak, kemudian tenang dan dilupakan, lalu kembali meledak.
Namun untuk ledakan yang kedua ini--Xiao Shuxiang dikenal dengan gelarnya yang baru, 'Sang Bintang Pelindung dan Murid Alkemis Zhou Yan'.
Yang Chai Jidan memperhatikan Xiao Shuxiang lebih dalam, ada sesuatu di dadanya yang seperti akan tumpah. Rasanya menyesakkan saat ditahan, tenggorokannya juga merasakan hal yang sama.
Yang Chai Jidan menepuk pundak kanan Xiao Shuxiang, mencengkeramnya pelan dan kemudian memeluknya erat.
Matanya memerah dan nampak berair, rasanya sulit untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Sungguh, apa yang dialaminya ini benar-benar tidak bisa dia percayai.
Xiao Shuxiang sebenarnya tersentak saat dipeluk tiba-tiba, namun dia sama sekali tidak menolak. Dirinya tidak mengerti bagaimana hati manusia berperan, itu adalah sesuatu yang sulit dia temukan jawabannya.
Namun, belakangan ini dirinya sedikit bisa merasakan--bagaimana tidak mengenakkannya arti kata 'rindu' itu. Rasanya seperti ada luka di dalam hati, sakitnya naik ke tenggorokan dan tertahan di sana, bila ingin menarik napas terasa sulit sekali.
Xiao Shuxiang diselimuti perasaan itu ketika berada di Dunia Elf, saat dirinya rindu ingin pulang. Tetapi kerinduan macam apa yang membuat Kaisar sampai memeluknya begitu erat?! Ini kemungkinan sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh pemula seperti dirinya.
"Apa kau.. Cucu Yang Shu?"
Suara dari Yang Chai Jidan sedikit parau, dia masih setia memeluk dan mengusap pelan pungggung Xiao Shuxiang.
".. Mn,"
Butuh jeda beberapa detik sebelum Xiao Shuxiang bersuara. Dia kemudian membalas mengusap punggung Yang Chai Jidan dan mengatakan Kakeknya pasti senang bila mendengar Yang Chai Jidan hidup dengan sehat dan dalam keadaan yang baik.
Yang Chai Jidan perlahan melepaskan pelukannya dari Xiao Shuxiang, dia mengusap pelan pipi gadis jadi-jadian di depannya dan memperhatikan setiap inci dari wajah yang begitu mempesona tersebut.
"Andai aku tidak tahu kau ini pria, aku pasti sudah menyebutmu 'Gadis yang sangat cantik'. Kau bahkan hampir membuatku jatuh hati,"
!!
Xiao Shuxiang dan Hu Li terkejut, penyamaran mereka ternyata diketahui oleh Kaisar. Tapi bagaimana mungkin?!
Keduanya tidak merasa telah melakukan hal yang dapat membokar identitas mereka. Jadi mustahil Tua Bangka ini dapat menyadarinya, kecuali dia bisa melihat menembus pakaian Xiao Shuxiang dan menyapa 'Kebanggaannya'.
"Yang Mulia tahu dari mana kalau aku.."
Suara Xiao Shuxiang masih sangat feminim, jelas sekali bahwa efek dari pil yang dikonsumsinya belum menghilang. Ada kebingungan dan ketidak-percayaan pada wajahnya saat dia tahu Kaisar ternyata sadar akan identitas disembunyikannya.
Yang Chai Jidan tersenyum lembut di balik matanya yang berair. Dia lalu mengajak Xiao Shuxiang dan Hu Li untuk berjalan-jalan di sekitar kediamannya sambil menjelaskan mengapa dia tahu identitas Xiao Shuxiang yang seorang pria.
Yang Chai Jidan sebenarnya tidak mengungkapkan secara detail, dia hanya berkata pada Xiao Shuxiang bahwa ada kultivator yang menjadi mata dan telinganya. Istananya yang luas dan megah ini tidak pernah luput dari pengawasan kultivator terpercayanya.
Mendengarnya membuat Xiao Shuxiang dan Hu Li tersentak, itu berarti mereka sudah ketahuan bahkan saat keduanya belum menyamar menjadi perempuan.
"Tapi kenapa Yang Mulia tidak menangkap kami? Padahal aku juga membunuh satu penjaga milikmu,"
"Itu karena aku mau tahu apa yang sebenarnya kalian inginkan,"
Seorang penyusup bisa bebas memasuki istana namun jangan harap dirinya bisa melakukan hal yang sama saat keluar. Karenanya, Kaisar masih dapat bersikap tenang bila kedatangan penyusup. Yaah.. Itu berlaku pada semua orang, tetapi tidak ketika Penyusup tersebut adalah cucu yang tidak pernah disangkanya.
Selama seharian penuh, Xiao Shuxiang dan Hu Li terus bersama Yang Chai Jidan. Kaisar Salju Putih ini selalu memegang tangan Xiao Shuxiang seakan takut bahwa pertemuannya dengan Sang Cucu hanyalah mimpi.
Xiao Shuxiang tidak keberatan, dia bahkan menceritakan bagaimana kehidupannya di Benua Timur saat Yang Chai Jidan meminta, tentu ada beberapa hal yang tetap dia rahasiakan.
Yang Chai Jidan akhirnya tahu bahwa putra yang dia cari-cari selama ini telah menjadi GrandElder. Namun meski rindu, dia tidak akan ke Benua Timur untuk menjemput Yang Shu.
Xiao Shuxiang telah membuatnya berjanji, cucunya ini telah mengatakan bahwa putranya akan datang ke Benua Utara dengan kekuatannya sendiri.
"Aku merasa senang mendengar Shu'Er akan pulang. Dia memang putraku yang tidak bisa apa-apa, dia payah dalam berpedang dan terus tertinggal oleh para saudara-saudaranya yang lain. Aku tidak pernah menaruh perhatian khusus padanya, dia hanyalah pangeran lepas di istana ini.."
Yang Chai Jidan menceritakan tentang putranya pada Xiao Shuxiang. Yang Shu disebut pangeran lepas karena dia lebih menyukai dunia di luar lingkungan istana dan tidak pernah mau terlibat dengan urusan politik.
".. Meski begitu, putraku merupakan orang yang cerdas. Aku tidak pernah berpikir dia pergi untuk keselamatannya sendiri. Shu'Er.. Hanya ingin melindungiku dan ibunya.."
Yang Chai Jidan terus bersama Xiao Shuxiang dan Hu Li sampai matahari kembali terbit, ketiganya duduk di pinggir sebuah kolam ikan, tepat di dalam ruangan pribadi Yang Chai Jidan.
Kedatangan Xiao Shuxiang kemari membuat Yang Chai Jidan mengerti maksud putranya. Pria yang masih berpakaian pelayan ini pasti datang untuk mengambil tahta yang seharusnya adalah miliknya.
Saat mendengar Sang Kaisar berniat membuat upacara penyambutan sekaligus penobatannya--dengan segera Xiao Shuxiang menolak. Dia merasa tidak pantas duduk di atas sebuah singgasana.
".. Aku tidak sebaik Kakek. Tempat ini hanya akan menemui akhirnya bila berada di tanganku,"
Xiao Shuxiang mengatakan bahwa dia tidak datang untuk menduduki tahta. Dirinya hanya bertugas menjadi pengantar pesan, lagipula masih ada misi yang harus di selesaikan.
"Jadi kau akan pergi?"
__ADS_1
"Begitulah, kuharap Yang Mulia tidak menahanku di tempat ini.."
Xiao Shuxiang bisa merasakan pegangan tangan Yang Chai Jidan mengerat. Wajah yang cukup mengendur dengan janggut dan kumis yang sudah putih telah memberinya tatapan mata yang seakan tidak rela melepaskannya.
"Manusia.. Mereka makhluk yang menarik,"
Xiao Shuxiang memperhatikan wajah Kakek Tua di depannya. Dengan penuh kelembutan, dirinya mengatakan agar Kaisar tidak boleh bersedih hati, sebab mereka kini bertemu. Kelak akan ada waktu bagi mereka untuk bisa bersama-sama lagi.
".. Ini bukan pertemuan yang terakhir antara aku dengan Yang Mulia. Tolong jangan memasang wajah yang sesedih ini,"
Xiao Shuxiang tersenyum lembut dan mengusap pelan pipi Yang Chai Jidan. Hu Li dari tadi tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya duduk sambil terus mendengar dan menyaksikan tindakan Tuan Mudanya.
"Kalau ini salah satu sandiwara Tuan Muda Xiao, maka nilai seratus terlalu sedikit untuknya.."
Hu Li begitu tenangnya memperhatikan setiap tindakan Xiao Shuxiang. Dibanding dengan kehidupan pertama Tuannya, Hu Li lebih menyukai kehidupan Tuan Muda Xiao-nya yang sekarang.
Hu Li jadi memikirkan masa lalu sehingga tidak lagi fokus pada pembicaraan Xiao Shuxiang dengan Yang Chai Jidan.
Karena ketiganya adalah kultivator, begadang seharian bukanlah masalah. Yang Chai Jidan baru tersadar saat seorang pelayan datang dan memberinya pesan bahwa seorang pria telah ditangkap karena mencuri emas di salah satu gudang.
Saat ini, pria tersebut berada di Aula Pengadilan beserta para saksi. Mereka menunggu keputusan dari Yang Mulia Kaisar.
Yang Chai Jidan meminta pelayannya untuk kembali, dia berkata akan bersiap-siap terlebih dahulu.
Dirinya lalu memanggil dua pelayan khusus dan memberi mereka perintah melayani Xiao Shuxiang dan Hu Li dengan baik.
"Kapan kau akan pergi, Nak?"
Yang Chai Jidan bertanya pada Xiao Shuxiang, dia tahu tidak bisa menahan cucu dari putranya. Dia ingin pemuda berpakaian pelayan ini tetap tinggal bersamanya, namun seperti yang dikatakan Xiao Shuxiang--dirinya mempunyai misi yang harus diselesaikan.
Xiao Shuxiang berkata dia akan pergi hari ini, sebab dirinya sudah menghabiskan seharian penuh bersama Yang Chai Jidan. Perjalanannya masih panjang dan dia tidak ingin menundanya lagi.
Suara Xiao Shuxiang entah sejak kapan kembali normal, semburat kemerahan di pipinya juga sudah tidak ada.
Dua pelayan yang ditugaskan melayani dirinya nampak terpaku, dan detik berikutnya mereka tertunduk malu. Ini pertama kalinya mereka bertemu pemuda yang begitu mempesona bahkan saat memakai pakaian wanita.
Xiao Shuxiang dan Hu Li dibawa ke sebuah ruangan khusus di dalam kediaman Kaisar. Tubuh mereka dibersihkan dengan telaten oleh pelayan-pelayan muda nan cantik yang telah menunggu di dalam ruangan.
Xiao Shuxiang dan Hu Li diberi pakaian baru, namun keduanya meminta agar pakaian tersebut diganti. Identitas mereka sebagai seorang pria masih harus disembunyikan.
Pada akhirnya, Xiao Shuxiang dan Hu Li tetap menyamar menjadi pelayan perempuan. Kali ini, keduanya mendapat riasan di wajah yang tidak pernah dilakukan Xiao Shuxiang dan Hu Li seumur hidup mereka.
Awalnya, Xiao Shuxiang membuat semburat kemerahan di pipinya dengan Qi. Dia mengalirkan Qi pada titik tertentu di wajahnya yang mana dirinya gunakan untuk memberi luka pada pori-pori kulitnya hingga memerah.
Sulit dan rasanya cukup sakit. Ini juga berbahaya sebab bila tidak mengontrol Qi dengan baik, Xiao Shuxiang dapat membuat pipinya lebam sampai berdarah.
Sedikit kesalahan saja, maka dapat berimbas pada mata dan juga hidungnya. Penyamaran pertama Xiao Shuxiang benar-benar totalitas sampai mau mengambil risiko seberbahaya itu.
Tetapi kali ini, karena riasan yang diberikan padanya--Xiao Shuxiang tidak perlu lagi menggunakan Qi untuk memberi luka kecil pada wajahnya. Pipinya diberi pewarna yang dia tidak tahu terbuat dari apa, namun terlihat sangat cantik.
Xiao Shuxiang dan Hu Li jelas didandani habis-habisan, mulai dari pipi, kelopak mata, sampai bibir. Rasanya sangat aneh, seakan keduanya memakai topeng. Padahal riasan yang diberikan tidak terlalu tebal bahkan nampak alami.
Namun mengingat Xiao Shuxiang dan Hu Li pertama kali melakukannya, jelas keduanya merasa demikian. Saat melihat wajahnya di cermin, Xiao Shuxiang sampai mematung beberapa saat sebelum dia refleks menutup hidungnya.
Hu Li melihat telinga Tuan Mudanya memerah, dia tahu Xiao Shuxiang pasti sedang malu pada dirinya sendiri. Sepanjang sejarah, Tuan Muda Xiao-nya kemungkinan adalah kultivator Aliran Hitam pertama yang berdandan seperti wanita.
Xiao Shuxiang menegur Hu Li saat tahu rekannya sedang menahan tawa. Dia lalu memperhatikan kembali wajahnya di cermin. Sungguh, ini sangat memalukan. Lebih memalukan daripada dirinya dianggap memiliki hubungan terlarang dengan Lan Guan Zhi.
Xiao Shuxiang mengeluarkan kembali sebuah pil dari dalam Gelang Semestanya. Pil tersebut mempunyai rasa manis dan segar, dia menguyahnya seperti permen.
Dalam tiga tarikan napas, suara Xiao Shuxiang kembali berubah. Di luar ruangan mereka, Yang Chai Jidan telah menunggu dengan pakaian kebesaran di tubuhnya.
Bersama Xiao Shuxiang dan Hu Li, Yang Chai Jidan menuju ke Aula Pengadilan. Setiap orang memberi hormat padanya, tetapi memberi tatapan aneh pada Xiao Shuxiang dan Hu Li.
Baru kali ini mereka melihat ada pelayan wanita yang tidak seperti pelayan. Ada aura layaknya bangsawan pada kedua gadis yang mengikuti Kaisar dari belakang ini, keduanya juga terlihat begitu mempesona.
Saat berada di dalam Aula Pengadilan, Xiao Shuxiang dan Hu Li dapat melihat ada sekitar lima belas orang anggota keluarga Kaisar, mereka bisa dikenali dengan kursi serta pakaian mewah yang mereka kenakan.
Ada dua orang pria yang menurut Xiao Shuxiang merupakan penasehat Kaisar, seorang kepala prajurit yang berpakaian putih, dan satu lagi adalah pria berusia 48 Tahun. Pakaiannya begitu tua, dia nampak berlutut di lantai dengan tubuh gemetar.
Xiao Shuxiang dan Hu Li berdiri di sisi Yang Chai Jidan saat dirinya telah duduk di singgasana. Semua orang yang hadir nampak lebih fokus menatap Xiao Shuxiang dan Hu Li.
!!
Yang Ni, salah satu pangeran yang juga berada dalam Aula Pengadilan tersentak ketika melihat Xiao Shuxiang kini berdiri di samping kakeknya. Dia dapat mendengar gumaman dan decakan kagum salah satu saudaranya.
"Siapa pelayan itu? Dia sangat cantik,"
"Yang satu itu masih terlihat muda. Dia menggemaskan sekali,"
Yang Ni menegur kedua adiknya, tidak baik untuk membicarakan hal lain saat berada di Aula Pengadilan. Tatapan matanya kemudian kembali mengarah pada Xiao Shuxiang.
?!
Menyadari sedang menjadi pusat perhatian, Xiao Shuxiang dan Hu Li menundukkan kepala dengan malu-malu. Dalam hati keduanya memiliki pemikiran yang sama, yakni ingin mencolok mata setiap orang yang menatap mereka.
__ADS_1
Harusnya Xiao Shuxiang dan Hu Li sudah berpamitan untuk pergi, tetapi Yang Chai Jidan mengatakan mereka baru boleh pergi setelah masalah penyusup diselesaikan. Akhirnya di sinilah keduanya, harus terperangkap dan menjadi pusat perhatian.
"Yang Mulia,"
Suara kepala prajurit yang terlihat berusia 37 Tahun menyadarkan Xiao Shuxiang dan Hu Li. Dia menjelaskan bahwa pria yang berlutut dengan tubuh gemetar di sampingnya ini merupakan pelaku pencurian dan buktinya sudah dia miliki.
"Benar apa yang dikatakan orangku ini?"
Suara Yang Chai Jidan serius dan mengandung aura seorang pemimpin. Dirinya sekarang seperti bukan orang yang sama dengan Tua Bangka yang memeluk dan berbicara lembut pada Xiao Shuxiang beberapa saat lalu.
Pria dengan pakaian lusuh, penuh keringat dingin, dan bersuara gemetar langsung meminta maaf pada Yang Chai Jidan. Wajahnya memperlihatkan ketakutan, seakan ini pertama kali baginya melakukan pencurian.
".. Ampuni aku Yang Mulia..!" suaranya parau bersamaan dengan air yang mulai mengucur di kening dan matanya. ".. Istriku sakit dan tiga anakku kelaparan, Yang Mulia. Aku berhutang pada seorang rentenir dan tidak bisa membayarnya, terpaksa aku.."
Xiao Shuxiang mengerjap setelah mendengar cerita dari pria tersebut. Kalau dia yang duduk di singgasana Kaisar, dirinya pasti akan berkata, 'Itu bukan urusanku. Salahmu karena meminjam uang pada rentenir. Bagiku, kau adalah pencuri dan seorang pencuri layak dihukum..'
Xiao Shuxiang mencubit sedikit pakaiannya, dia sudah lama ingin menyiksa seseorang. Mungkin ini bisa dimulai dari menarik keluar semua kuku pada jari tangan pria tua itu.
".. Sayangnya bukan aku yang mengadilimu,"
Xiao Shuxiang menghembuskan napas pelan. Dia perlahan mengedarkan pandangannya ke arah cucu Yang Chai Jidan sebelum tatapan matanya bertemu dengan milik Yang Ni.
Xiao Shuxiang kembali tertunduk malu, pria itu sepertinya telah menargetkan dirinya. Berbahaya bila identitasnya sebagai batangan ketahuan.
Yang Chai Jidan mengusap pelan kumis dan janggutnya setelah mendengar cerita dari pria lusuh di depannya. Kedua penasehatnya tidak ada yang mengeluarkan suara sebab kejadian seperti ini sudah sering mereka alami dan Sang Kaisar selalu bisa menyelesaikannya.
"Yang Mulia, keputusan Anda.."
Salah satu penasehat akhirnya membuka suara. Ucapannya membuat pria yang menjadi terdakwa semakin ketakutan. Bila dirinya dihukum mati atau mungkin penggal tangan--entah bagaimana dia dapat memberi makan keluarganya.
Yang Chai Jidan memanggil seorang prajuritnya bersamaan saat pria berpakaian lusuh tersebut memejamkan mata bahkan tak sadar telah bersujud penuh ketakutan.
Suara langkah kaki dan benturan besi terdengar semakin mendekat ke arahnya, detik berikutnya dia bisa merasakan sesuatu yang jatuh tepat di samping kiri atasnya.
!!
Tidak terjadi apapun padanya, lehernya masih berada di tempat dan tak ada sakit yang dia rasakan. Perlahan, kepalanya mulai mendongak.
Dua buah karung dari serat goni terpampang di depannya. Dengan keberanian kecil dirinya menatap Sang Kaisar.
"Satu karung adalah makanan dan sekarung lagi merupakan benih. Jika kau bisa panen ginseng Es di musim ini, aku akan membelinya dengan harga yang terbaik,"
!!
Xiao Shuxiang meski tetap berwajah tenang, tetapi dia sebenarnya terkejut. Pencuri dilepaskan begitu saja bahkan diberi modal penghidupan. Apalagi itu ginseng.. Es?!
".. Satu karung dan itu benih Ginseng Es?! Gila..!"
Ginseng Es merupakan herbal yang langka, tetapi sepertinya tidak berlaku di Benua Utara. Seorang Kaisar dapat memberi sekarung benih ginseng es begitu saja adalah hal yang tidak bisa Xiao Shuxiang percayai.
Terdakwa yang sebelumnya ketakutan juga nampak terkejut. Dia sudah mencuri tetapi malah tidak dihukum, dirinya ingin berucap tetapi rasanya sulit sekali.
"Yang.. Mulia. Bagaimana bisa aku membalas kebaikan Anda..!"
Akhirnya suaranya pun keluar. Yang Chai Jidan tersenyum dan berkata bahwa bila rakyatnya bisa hidup tentram, itu merupakan balasan yang tidak ternilai.
Terdakwa yang sebelumnya begitu takut kini menatap Sang Kaisar dengan penuh rasa kekaguman. Dia bahkan berseru dan mengatakan mulai sekarang nyawanya adalah milik Kaisar.
Mendengarnya membuat Xiao Shuxiang menggeleng kecewa di dalam hati, padahal dia sudah tidak sabar melihat hukum potong tangan atau sejenisnya.
Setelah merasa urusannya selesai, Yang Chai Jidan bangun dari tempat duduknya dan mulai melangkah pergi. Dia diikuti Xiao Shuxiang dan Hu Li dari belakang.
Berada di luar ruangan, Yang Chai Jidan beberapa kali disapa oleh cucu kecil dan putra-putranya. Sampai akhirnya tiga orang pangeran dan tiga orang putri menyusul dirinya.
Para pangeran dan putri ini memiliki usia dua puluh tahun ke atas, mereka begitu sopan menyapa Yang Chai Jidan dan kemudian menanyakan dua pelayan yang saat ini menjadi pendampingnya.
".. Tidak biasanya Yang Mulia dikawal seperti ini. Apa ada alasan khusus?"
Salah satu Putri yang memiliki tahi lalat kecil di pipi sebelah kanannya memperhatikan Xiao Shuxiang dan Hu Li lebih dalam, entah mengapa dia merasa Kakeknya mempunyai hubungan aneh dengan kedua pelayan muda ini.
"Din'Er, kau terlalu curiga bahkan pada Kakekmu sendiri. Jangan khawatir, aku tidak akan menikahi mereka berdua.."
Yang Chai Jidan malah bercanda dengan cucu-cucunya. Xiao Shuxiang dan Hu Li hanya bisa diam sambil mulai memperhatikan sekeliling mereka.
Meski butiran salju tetap turun, namun Xiao Shuxiang bisa tahu bahwa matahari sudah semakin tinggi. Dia kemudian memanggil Yang Chai Jidan dengan suara feminimnya.
"Aku sampai lupa. Baiklah, nanti kita bicara lagi. Kakek masih ada urusan,"
Yang Chai Jidan mulai berjalan pergi, disusul oleh Xiao Shuxiang dan Hu Li. Awalnya, mereka dihentikan oleh keenam cucu Kaisar karena ada yang ingin para pangeran dan putri ini tanyakan, namun Yang Chai Jidan berkata bahwa nanti mereka juga bisa bertemu lagi.
Yang Ni dan saudara-saudaranya hanya bisa memperhatikan Xiao Shuxiang dan Hu Li yang perlahan semakin menjauh dari mereka.
Yang Ni sebenarnya ingin menyapa pelayan tersebut secara pribadi, namun niatannya terhenti karena kelima saudaranya menjadi pengganggu.
***
__ADS_1