
Pelabuhan di Kekaisaran Salju Putih yang ada di Benua Utara begitu ramai. Ini memang waktu tersibuk bagi para warga, apalagi mereka yang memiliki profesi sebagai pedagang.
Selain kapal besar pengangkut barang, di pelabuhan ini juga terdapat kapal para nelayan yang mempunyai ukuran berbeda-beda. Kebisingan di pelabuhan ini seakan tidak pernah berkurang.
"おじさん..!おじさんがやっと来ました!"
["Ojisan.. ! Ojisan ga yatto kimashita!"]
["Paman..! Paman akhirnya datang!"]
Seorang gadis berpakaian hijau pudar berseru, dia gembira melihat sebuah kapal berukuran sedang mulai berlabuh. Dia melambai-lambaikan tangan ke arah kapal tersebut, orang-orang di sampingnya juga ikut melakukan hal yang sama.
"ただいま。。!"
["Tadaima.. !"]
["Aku kembali..!"]
Banyak ucapan yang diserukan para nelayan yang ada di kapal, namun kata semacam, 'Aku kembali..!' dan 'Kami pulang..!' yang bisa terdengar jelas.
Setiap kali ada kapal nelayan yang berlabuh, pasti kebisingan di pelabuhan ini semakin bertambah. Pemandangan tersebut selalu ada dalam kehidupan sehari-hari tempat ini.
Gadis nelayan berusia sekitar 19 Tahun yang rambutnya terbungkus kain itu mulai menaiki kapal dan membantu menurunkan peti kayu berisi hewan laut hasil tangkapan para nelayan.
"おじさん、一番大きな魚が欲しい..!"
["Ojisan, ichiban ōkina sakana ga hoshī.. !"]
["Paman, aku ingin ikan paling besar..!"]
"おじさん、 私 も!"
["Ojisan, watashi mo!"]
["Paman, aku juga!"]
Walau dikerumuni, nyatanya para nelayan tidak keberatan. Mereka terlihat senang saat banyak anak berbeda-beda usia yang berebut ingin ikan segar.
Kesibukan terjadi di atas kapal, bahkan mereka tidak menyadari ada sebuah titik-titik air yang muncul, memadat dan lalu membentuk sebuah cermin setinggi orang dewasa.
Tap
Seorang wanita berpakaian ungu muda keluar dari balik cermin. Pakaian dan rambutnya dalam keadaan basah, dia memegang pedang yang belum tersarungkan.
Terdapat beberapa koyakan di pakaiannya, namun itu tidak membuatnya terlihat menyedihkan. Wanita tersebut nampak seperti pendekar yang baru saja selesai bertarung.
Tap
Tap
Wanita ini tidak lain adalah Xiao WeiWei, ibu dari Xiao Shuxiang. Dia berjalan tenang dan lalu diikuti oleh kultivator lain yang juga keluar dari dalam cermin.
Awalnya tidak ada yang menyadari kehadiran mereka, namun saat orang yang keluar dari cermin semakin banyak----beberapa anak dan nelayan mulai tersadar.
!!
Para nelayan berbagai usia, serta gadis muda yang tadi nampak terkejut. Mereka tanpa sadar tertegun dengan pandangan mata mengarah pada orang-orang yang keluar dari dalam cermin, benda yang tidak diketahui muncul entah dari mana.
"彼らは誰なの..?"
["Karera wa darena no.. ?"]
["Siapa mereka..?"]
Jelas sekali para nelayan termasuk gadis muda berpakaian hijau pudar itu bertanya-tanya. Bagaimana mungkin ada banyak orang yang seakan mengantri keluar dari sebuah cermin, dan itu benar-benar cermin!
"これ わ うそだろ?"
["Kore wa usodaro?"]
["Ini bohong, kan?"]
Salah satu anak mengusap-usap matanya, dia bahkan dengan sengaja mencubit dan menampar pipinya pelan untuk membuatnya sadar bahwa apa yang dia lihat ini bukanlah sebuah mimpi.
"ああ!それは痛い!"
["Ā! Sore wa itai!"]
["Ah! Ini sakit!"]
Banyak anak yang juga mencubit pipinya, namun apa yang mereka lihat sama sekali tidak menghilang. Anak-anak tersebut tetap memperhatikan bagaimana orang-orang mulai keluar dari dalam cermin.
"Ibu..."
"Tenanglah, Nak. Kita sudah selamat..."
"Kita benar-benar sampai di Benua Utara... Aku ingat pelabuhan ini,"
Banyak penumpang kapal yang sebelumnya nyaris tenggelam karena Demonic Beast berwujud gurita. Syukurlah mereka semua masih bisa mempertahankan nyawa.
"Hok ohok! Hah... Hah... Kupikir aku sudah mati,"
"Tahanlah sebentar, aku akan membawamu menemui tabib..."
Ada juga pendekar yang dalam keadaan luka berat, dia harus dipapah oleh rekannya saat berjalan. Awalnya dia mengganggap akan mati ditelan gurita besar, namun beruntung langit masih membiarkannya hidup.
Yang Hao, Yang Shu dan Yang Fu juga ikut keluar dari cermin, di belakang mereka ada beberapa awak kapal dan juga Harimau Bulan yang telah berukuran layaknya anak kucing.
Nyawn~
__ADS_1
Lan Guan Zhi sendiri berjalan di belakang Harimau Bulan, diikuti oleh Xiao Qing Yan dan beberapa penumpang yang hanyalah manusia biasa.
Orang yang keluar paling belakang adalah Bocah Pengemis Gila dan Xiao Shuxiang. Kedua pemuda itu nampak memikul anggota tubuh Demonic Beast yang berhasil mereka kalahkan.
"Aku akan membakarnya, ini akan kubuat sup belut bakar..." Xiao Shuxiang sudah tidak sabar, dia memikul sisi kanan tubuh belut listrik yang secara sengaja dipotong hingga berukuran sesuai dengan tinggi tubuhnya.
"Kau bisa membuat makanan enak dengan kaki gurita ini? Kau harus melakukannya! Ini sangat enak, aku bahkan bisa merasakan air liurku menetes..."
Bocah Pengemis Gila tidak mau kalah, dia memikul sebuah tentakel gurita yang juga setinggi tubuhnya. Tentakel tersebut masih bergerak, namun tidak lagi membahayakan.
"Tentu saja. Aku bahkan bisa mengolahnya sekarang..." Xiao Shuxiang tersenyum lebar, dia melihat tentakel gurita yang dibawa Bocah Pengemis Gila nampak menggeliat.
"... Dia bertenaga sekali, apa kau butuh bantuan?"
"Tidak perlu, aku masih sanggup. Demi makanan...! Demi makanan...!"
Xiao Qing Yan mendengar seruan penuh semangat dari Bocah Pengemis Gila, dia menoleh dan menatap sebentar pemuda berpakaian hitam bercampur merah tersebut. Dia juga menatap ke arah Xiao Shuxiang, Koki Alkemis yang warna pakaiannya serba hitam.
"Haah... Mereka terlihat seperti saudara kembar saja. Satunya gila dan satunya lagi tidak waras. Entah bagaimana langit bisa mempertemukan dua orang tidak tahu malu itu..." Xiao Qing Yan mengembuskan napas pelan dan lalu mengikuti para awak yang mulai turun dari kapal.
Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila seakan memiliki dunia sendiri, mereka membahas sesuatu yang sepele dan tidak penting, namun tetap dianggap serius.
Keduanya berdebat tentang cara Gurita berkembang biak. Xiao Shuxiang mengatakan hewan itu melakukannya dengan cara membelah diri, sementara Bocah Pengemis Gila mengatakan Gurita berkembang biak dengan cara bertelur. Mereka punya alibi masing-masing.
Bocah Pengemis Gila, "Kau bisa lihat ayam dan burung, mereka lahir dari telur. Sama seperti manusia dan hewan lainnya, mereka semua lahir dari telur. Jadi Demonic Beast ini juga sama,"
Xiao Shuxiang mendengus tidak percaya, "Mana ada manusia yang bertelur, itu sangat mustahil..!"
"Heh? Tapi kau punya telur,"
!
"Cakrabuana...!"
BLAAAAR...!!
!!
Suara menggelegar yang seakan memecah langit mengejutkan semua orang termasuk Xiao Shuxiang sendiri. Suasana di pelabuhan yang awalnya penuh suara riuh, kini mendadak diam. Mereka semua mendongak dan menatap langit.
Tidak ada awan yang gelap, malahan langit terlihat cerah dengan matahari bersinar indah. Lalu dari mana suara yang memekakkan telinga itu berasal? Jelas sekali bahwa mereka tidak salah dengar, tanah yang mereka pijak bahkan seperti bergetar.
"Anak menyebalkan! Sudah kubilang untuk tidak menyebut namaku, apa kau lupa?! Kau bisa membunuhku bila melakukannya...!" Bocah Pengemis Gila hanya bisa memarahi Xiao Shuxiang, dia tidak dapat memukul apalagi menendang bokong pemuda ini meski dirinya ingin.
"... Kalau saja aku tidak membawa masalah lezat ini, aku pasti sudah mengirimmu masuk ke dalam perut Kakekmu. Kau benar-benar keterlaluan...!"
Xiao Shuxiang, "Justru aku yang harusnya bilang begitu, kau berucap sangat tidak tahu malu...!"
Koki Alkemis ini bukanlah pemuda yang baru lahir kemarin, dia jelas tahu ke arah mana ucapan Bocah Pengemis Gila barusan. Itulah sebabnya Xiao Shuxiang kesal karena pikirannya yang dia anggap suci murni telah ternoda entah sejak kapan.
Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila mulai saling meledek, keduanya tidak menghiraukan menjadi pusat perhatian para nelayan juga pedagang yang lain.
Hal kedua tentu saja merupakan benda yang dipikul dua pemuda tampan tersebut. Mereka yakin salah satu benda itu adalah tentakel gurita, dan memiliki ukuran yang benar-benar besar.
Yang Fu dan Yang Shu sama sekali tidak menghiraukan pandangan orang-orang. Raut wajah mereka sulit diartikan, keduanya seperti bahagia sampai hampir menangis.
"Kakak..."
"Mm, benar Fu'Er... Kita akhirnya pulang..."
Yang Shu berusaha menahan air matanya. Sudah sangat lama dia tidak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya ini. Tempat di mana dia memiliki hidup sebagai seorang pangeran sekaligus menjadi alasan kepergiannya.
"Fu'Er... Aku minta maaf..." Yang Shu tiba-tiba saja bersuara pelan, namun adiknya masih bisa mendengarkannya dengan jelas.
"Kakak..."
"Selama ini aku sudah merepotkanmu. Akibat kau mengikutiku pergi... Kau jadi terpisah dari ibu yang melahirkanmu dan harus melewati bahaya bersamaku. Saat ini... Mungkin banyak orang yang sudah tiada..."
Yang Shu tahu dan sadar betul, Benua Utara sudah banyak berubah, termasuk masyarakatnya. Dia bisa tahu banyak orang yang dekat dengannya kini telah tiada, apalagi mereka yang dahulu menentangnya menjadi 'Kaisar'. Kalau pun ada yang bertahan, mereka pasti telah mempelajari kultivasi.
"Kakak, kau sama sekali tidak perlu meminta maaf. Aku tidak pernah menyesal mengikutimu dan meninggalkan tempat ini..." Yang Fu menengadah ke langit sebelum kembali bersuara.
"... Kau tahu, Kak. Aku anak yang paling buruk. Jujur saja----Saat kuputuskan untuk mengikutimu pergi, aku sama sekali tidak memikirkan tentang ayah, apalagi ibuku. Waktu semakin berlalu dan kita telah bertambah tua, bahkan sehari pun... Aku tidak pernah memikirkan bagaimana khawatirnya mereka... Aku buruk, bukan?"
"Kalau begitu, maka aku juga sama. Kupikir pelarianku tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun, namun kenyataannya sangat berbeda..." Yang Shu menepuk pundak adiknya dan kembali bersuara.
"... Kita berdua adalah yang terburuk, Fu'Er... Tapi tetap saja semua sekarang berbeda. Kita akhirnya pulang dan jangan biarkan penyesalan menyelimuti hati ini, Adikku..."
"Kakak..."
Yang Fu selalu kagum dengan kakaknya, baik dulu maupun sekarang. Entah mengapa, tetapi dia tidak pernah tidak mengagumi Saudaranya ini. Baginya, Yang Shu adalah sosok orang yang tidak terikat kenangan masa lampau, selalu berpandangan ke depan, sosok dari pemilik hati yang kokoh.
"Kakak, kau adalah sosok yang kukagumi--sekaligus orang yang membuatku iri. Kau terlihat tidak pernah memiliki penyesalan, sangat berbeda denganku..."
Yang Shu tidak menoleh ke arah adiknya, dia hanya fokus berjalan di samping Yang Fu sambil mengusap-usap kumis dan janggutnya. Pandangan matanya sesekali melirik ke arah pedagang yang begitu semangat memanggil pembeli.
"Dibandingkan denganmu, akulah orang yang paling buruk Fu'Er... Seseorang pasti akan sedih bila meninggalkan rumah dan keluarganya, tetapi yang aku rasakan adalah 'Kebebasan'. Kehidupan di istana memang terjamin, apa pun yang kuinginkan selalu ada, termasuk kasih seorang ibu...
Aku memang tidak akrab dengan ayah, beliau terlalu sibuk mengurus banyak hal dan aku sendiri terlalu fokus bermain-main di luar istana. Ayah memang tidak pernah melarang anak-anaknya pergi, dia tidak menerapkan aturan ketat untuk kita----tetapi akulah yang merasa seperti dikekang,"
Yang Shu tersenyum dan lalu mengusap punggung adiknya yang tatapan matanya terlihat sendu. "Jangan menangis, Fu'Er. Ini bukan cerita yang sedih. Wibawamu... Jaga wibawamu..."
"Aku tidak menangis, mataku hanya sedikit berair..." Yang Fu memperbaiki pakaiannya dan lalu mengusap-usap kumis tebal nan menyeramkannya. Dia membuat Kakaknya menggelengkan kepala.
Yang Fu seperti orang yang garang, tetapi ternyata dia adalah sosok berhati terlalu lembut. Bahkan ketegaran hatinya masih sama saat usianya semakin menua. Yang Shu merasa adiknya orang yang sangat baik.
Sebenarnya, sebelum Yang Shu meninggalkan Benua Utara dahulu---dia pernah berpikir akan memberikan tahta pada adiknya, Yang Fu. Dia merasa adiknya merupakan pangeran paling baik dan tidak pernah berambisi memperoleh tahta.
Namun, keputusan itu tidak dia lakukan sebab yang dibutuhkan dalam menjadi 'Kaisar' tidak hanya kebaikan hati. Yang Fu terlalu lunak, kelemahannya adalah dia sangat pengasih.
__ADS_1
"Akulah-!!"
"Aku tidak peduli manusia itu lahir dari telur atau bukan, tapi yang jelas Xiao Shuxiang akan makan enak hari ini...!"
"Kalau begitu akui kekalahanmu...! Kau memang tidak bisa mendebatku,"
Xiao Shuxiang, "Siapa juga yang mau mendebat orang gila sepertimu..."
Yang Shu dan Yang Fu mengerjap saat tiba-tiba Xiao Shuxiang berjalan mendahului mereka, terlihat pemuda itu sedang saling mengatai dengan Bocah Pengemis Gila.
Yang Fu jadi ingat dengan nasib kapten dan para awak kapal yang ditumpanginya. Dia lalu berbalik dan menemukan Yang Hao bersama Xiao WeiWei sedang bicara dengan kapten kapal tersebut.
"Fu'Er, aku akan ke sana sebentar. Kau pergilah dan cari penginapan terdekat, aku akan menyusulmu nanti,"
Yang Fu mengangguk, dia lalu berjalan mengikuti Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila. Kedua pemuda itu terus saja membicarakan banyak hal dan terkadang saling meledek, Yang Fu hanya bisa mengembuskan napas pasrah melihat tingkah mereka.
Di sisi lain, Yang Shu berbicara dengan kapten kapal dan lalu memutuskan untuk mengganti kapal yang rusak serta memberi pengobatan pada para awak dan penumpang yang terluka, termasuk para pendekar.
Kedua muridnya, yakni Hai Feng dan Zhi Shu adalah pemegang uang paling banyak di Sekte Kupu-Kupu. Sebuah kapal berukuran paling besar dan terbuat dari kayu berkualitas dapat mereka beli dengan mudah. Yang Shu hanya tinggal memberi perintah saja.
Bila ingin ditanya tentang bagaimana Hai Feng dan Zhi Shu punya uang sebanyak itu----maka jawabannya ada pada bisnis mereka dengan Asosiasi Bangau Merak dan Wali Kota Embun Bunga. Penjualan pil benar-benar laku keras, apalagi pada bisnis arak yang tidak diketahui Yang Shu.
Tua Bangka itu hanya tahu muridnya berbisnis pil dengan Asosiasi, namun hal tersebut bahkan sudah cukup untuk bisa disombongkan. Dua atau tiga kapal besar dengan kabin yang lebih dari 50 bahkan bisa mereka beli.
Tidak perlu bertanya, uang itu jelas adalah hasil dari jerih payah Xiao Shuxiang meracik pil dan arak. Koki Alkemis itu bahkan tidak menyimpan sepeser pun uang dari penjualan pil-nya, dia sudah memiliki harta yang begitu melimpah.
Walau begitu, jika Xiao Shuxiang mendengar Sang Kakek membelikan orang lain kapal baru----kemungkinan dia akan sangat terkejut. Koki Alkemis ini bukanlah orang yang suka menyumbangkan uangnya begitu saja.
"Feng'Er, kau bawa berapa banyak pil?" Yang Shu berniat memberikan pil pada kultivator dan manusia biasa yang terluka.
"Tidak banyak guru, tapi pil yang kubawa... Itu..." Hai Feng ragu menjawab, dia lalu membisikkan pada Yang Shu bahwa dia membawa Pil Napas Naga. Itu pil paling berharga dan Saudara Xiao-nya pasti sangat melarang.
Yang Shu mengerti, "Kalau begitu biarkan Xiao'Er yang mengobati mereka semua nantinya. Ayo ajak mereka mencari penginapan,"
"Baik Guru...!" Hai Feng terlihat semangat, dia diberi tatapan aneh oleh Zhi Shu.
"Aku tidak yakin Saudara Xiao mau mengobati mereka secara cuma-cuma.."
*
*
*
"Aku Tidak Mau...!" seruan Xiao Shuxiang membuat Bocah Pengemis Gila tersedak sup tentakel guritanya. Dia menampar gemas lengan pemuda di sampingnya.
Saat ini, Bocah Pengemis Gila, Yang Shu, Lan Guan Zhi, para pendekar serta manusia biasa lainnya berada di penginapan terbesar yang terkenal di pelabuhan. Penginapan ini bernama 'Semilir Bulan'.
Tempat yang begitu besar ini mampu menampung mereka semua dan biaya untuk menginap di sini telah ditanggung Yang Shu memakai uang yang dibawa Hai Feng dan Zhi Shu.
"Xiao'Er, apa salahnya berbuat baik. Mereka butuh bantuan dan Kakek tidak meragukan bakat Alkemismu, kau jangan membuat Kakek Kesayanganmu ini terus memintanya, Cucuku..."
"Aku juga tidak meragukan bakatku, tapi memberi pertolongan tanpa dibayar bukankah sia-sia? Bahan pembuatan pil milikku tidak datang dari langit begitu saja, Kakek..." Xiao Shuxiang memakan belut yang sudah dia olah sendiri tanpa bisa dinikmati dengan baik.
"Xiao'Er, apa kau tidak kasihan pada mereka?"
"Kau bertanya pada orang yang salah..." Xiao Shuxiang jelas tidak akan peduli dengan para pendekar atau pun manusia biasa yang terluka. Dia tidak mungkin memberikan sebutir pil berharganya untuk mereka tanpa imbalan.
Yang Shu mengembuskan napas pelan saat Cucu Kesayangannya tidak memberikan respon. Dia lalu dibantu oleh Yang Hao dan Xiao WeiWei.
Bocah Pengemis Gila juga melakukannya, dia membujuk Xiao Shuxiang agar mau menolong para pendekar. Lagipula tidak ada ruginya, toh nama Xiao Shuxiang akan semakin dikenal.
Nyawn~
Cukup lama dibujuk, akhirnya Xiao Shuxiang mau melakukannya. Pemuda mempesona itu mengobati banyak orang dan tindakannya memancing perhatian pengunjung yang lain.
Berita tentang seorang tabib muda yang dapat membuat pil yang tidak hanya bisa dikonsumsi kultivator, tetapi juga pendekar dan manusia biasa menyebar cepat di pelabuhan ini. Dalam waktu singkat, Penginapan Semilir Bulan menjadi semakin ramai.
Lan Guan Zhi duduk tenang sambil memperhatikan teman baiknya memeriksa satu persatu pendekar yang terluka, dia tersenyum samar saat melihat ada pendekar yang tidak ikut dalam pelayaran, tetapi mengantri untuk bisa mendapat pil milik Xiao Shuxiang.
"Apa hanya perasaanku atau antriannya semakin panjang..." Xiao Shuxiang berkedip dan kemudian kembali fokus memeriksa pria paruh baya di depannya.
Pria ini adalah seorang pendekar, namun dalam sebuah pertarungan dia harus kehilangan satu bagian tubuhnya.
"... Aku tidak bisa menggunakan pedang dan lenganku terkadang sangat nyeri. Sudah banyak obat yang kuminum. Awalnya memang baik, tetapi rasa sakitnya semakin menjadi saat aku hendak tidur. Apa kau bisa memberiku pil yang dapat meringankan rasa sakit ini...?"
Xiao Shuxiang merasa mulai aneh, para pelanggannya ternyata tidak hanya berasal dari penumpang kapal. Dia ingin mengomel, tetapi tidak jadi.
Dia lalu mengeluarkan sebuah Pil Napas Naga yang sebelumnya telah diubah sedikit. Efeknya masih tetap sama, namun waktu agar hasilnya terlihat adalah sekitar sepuluh menit.
Saat Xiao Shuxiang sibuk di Benua Utara, Yi Wen juga sibuk mencari masalah di Sekte Kecil Aliran Hitam---Benua Tengah. Gadis cantik itu hanya duduk di atap sambil menyaksikan bagaimana para murid sekte bertarung dengan mayat hidup yang dia bangkitkan.
Matahari yang terbenam terlihat begitu merah, Yi Wen sampai terpukau melihatnya. Dia lalu tersenyum dan kembali melihat pertarungan para murid.
!!
Yi Wen tersentak dan segera melompat menjauh kala sebuah serangan mengarah padanya. Beruntung dia dapat menghindar dengan tepat waktu.
Serangan tadi membuat atap yang sebelumnya Yi Wen duduki menjadi runtuh. Seorang pria berpakaian semerah darah dan terlihat berusia 48 Tahun tengah berdiri dengan sebuah pedang di tangan kanannya.
["Pencari masalah di partaiku.. Kau tidak akan kumaafkan..!"] pria itu terlihat sangat marah, suaranya begitu ketus dan jelas mengandung rasa kebencian pada Yi Wen.
["Aku juga tidak membutuhkannya. Anda tidak perlu memaafkanku karena aku lebih menunggu permohonan Anda agar tetap dibiarkan hidup,"] Yi Wen bersuara sedikit serak dan detik berikutnya dia menghilang.
!!
Gadis cantik itu tiba-tiba muncul di samping kanan lawan dengan senjata yang terhunus. Benturan pedang keduanya membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa tidak nyaman.
***
__ADS_1