
Di dalam kamar Xiao Shuxiang, dia benar-benar berendam dalam sebuah bak mandi sambil punggungnya digosok oleh Yi Wen. Koki Alkemis itu menutup mata dan nampak sangat menikmatinya, dia juga sesekali meminta Yi Wen untuk menggosok punggungnya sedikit lebih keras.
"Kau memang berbakat, Wen'Er. Suamimu nanti pasti akan sangat bangga padamu,"
"Aku tahu, tapi tidak bisa dibandingkan dengan dirimu Saudara Xiao.." Yi Wen terengah-engah, dia sudah menggosok punggung saudaranya tanpa henti dan saat ini pakaiannya begitu sangat basah.
Kulit punggung Xiao Shuxiang terasa halus dan lumayan berotot, terdapat lukisan phoenix api di punggungnya dan itu nampak bergerak seakan hidup.
"…"
Yi Wen memperhatikan punggung saudaranya dengan seksama. Tidak lama lagi, tempatnya akan digantikan oleh Ling Qing Zhu.
"Saudaraku, pernikahanmu dengan Nona Ling akan dilangsungkan secara besar-besaran. Apa kau tidak mencemaskan penyerangan di acara pernikahanmu nantinya? Orang yang sudah membuat kekacauan di tempat ini belum diketahui siapa dalangnya, bukan?"
Mata Xiao Shuxiang perlahan terbuka saat mendengar ucapan Yi Wen barusan, "Kau benar. Tapi pernikahan ini harus secepatnya terlaksana.."
Tidak ada yang lebih berbahaya selain Xiao Shuxiang sendiri. Dia sudah mendapatkan kekuatan aslinya dan itu dapat membebaninya saat dia mulai belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Keinginannya sekarang adalah memecah kekuatan yang ada dalam dirinya supaya penyakit lamanya tidak mengambil alih hati dan pikirannya.
Xiao Shuxiang sudah mempunyai tujuan baru. Dia telah memutuskan untuk memberikan sebagian kekuatannya pada darah dagingnya dan itu dapat terjadi saat dia menikah dengan Ling Qing Zhu.
Adik dari Ling Lang Tian itu sebenarnya adalah gadis yang malang. Kekuatan Xiao Shuxiang tidak bisa dipindahkan begitu saja. Jika tidak dapat menahannya, Ling Qing Zhu akan mati.
Xiao Shuxiang akui dia suka dengan Kucing Putihnya, namun jika disuruh memilih--dia lebih menyayangi dirinya sendiri. Xiao Shuxiang hanya berharap, semoga Ling Qing Zhu tidak termasuk ke dalam golongan gadis-gadis yang lemah.
"Saudara Xiao, kau jangan tidur." Yi Wen menepuk punggung saudaranya dan mulai melangkah keluar dari bak mandi. Lekuk tubuhnya sangat jelas dan mampu merangsang sadisme siapa pun yang melihat. Namun sepertinya itu tidak berlaku pada Xiao Shuxiang.
"Aku harus pergi. Sebaiknya kau istirahat dan kumpulkan banyak tenagamu untuk acara pernikahanmu nanti, aku tidak ingin kau pingsan karena kehabisan tenaga."
"Yi Wen, kau sedang meledekku? Pergi sana, tapi ganti dulu pakaianmu. Aku bahkan bisa melihat semuanya,"
"Saudara Xiao, normalnya seorang pria akan langsung menyerang dan menindih gadis sepertiku hingga tidak bisa kabur. Tetapi kau terlihat tak mempunyai gairah sama sekali, apa kau pria normal?"
"Justru karena aku pria normal maka kuminta kau mengganti pakaianmu sebelum keluar dari sini. Ayo sana!"
Xiao Shuxiang masih ingin berendam, dia tidak mau mendengar rutukan dari Yi Wen apalagi memperhatikan bagaimana saudara seperguruannya itu melangkah pergi meninggalkannya.
Yi Wen baru saja menggeser pintu kamar Xiao Shuxiang saat dia tiba-tiba saja berhenti, "Saudara Xiao. Tidak peduli sekuat apa dirimu--kau harus tetap berhati-hati."
Xiao Shuxiang bisa mendengarnya. Bahkan tanpa diperingatkan oleh Yi Wen sekali pun, dia tetap akan lebih hati-hati dalam bertindak. Saat ini, lawannya mungkin sedang mempersiapkan sesuatu yang buruk untuknya.
"Haah.. Akan jauh lebih baik jika Qian Kun meledakkan semua orang saat pernikahanku nanti. Setidaknya aku bisa mati tanpa perlu bertarung.."
Xiao Shuxiang menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi selama beberapa menit. Dia merasakan dingin dan nyamannya air yang menyentuh kulit tubuhnya. Sesekali dia menggumamkan kata-kata yang tidak terlalu jelas apa maksudnya.
*
*
Musuh utama Xiao Shuxiang adalah Qian Kun. Makhluk yang berasal dari Dunia The Fallen Angel itu merupakan sosok berbahaya yang tidak seharusnya dibiarkan hidup lama di dunia ini.
Sayang, bahkan kekuatan Xiao Shuxiang sendiri tidak mampu menandinginya. Ini sebenarnya bukan karena dia tidak mampu, tetapi lebih kepada karena kekuatannya merupakan pemberian dari sosok itu.
"Le-lepaskan aku.. Kumohon.. Lepaskan aku.."
Mata seorang pria yang dipenuhi ketakutan terlihat begitu indah di hadapan sosok berjubah hitam itu. Kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman kuat pada lehernya.
"Kau tahu.." suara sosok itu terdengar dingin dan mengerikan, ".. Aku sebenarnya tidak suka menodai tanganku dengan darah manusia, makhluk yang kotor sepertimu."
"Ja-jangan Tuan.. Kumohon ampuni aku.. Ukh!"
"Hmph, kenapa harus memohon pengampunan dariku? Kau tidak berbuat salah. Hanya saja aku memang membenci manusia."
Kuku jari Qian Kun memanjang dan menancap tepat di leher pria di hadapannya. Dalam beberapa tarikan napas, jeritan tidak tertahankan mulai terdengar.
Sekujur tubuh pria itu gemetar. Perlahan warna kulitnya berubah menjadi ungu kehitaman. Asap hitam keluar dari mulut, hidung dan matanya. Dia tewas dalam kondisi yang mengerikan.
Qian Kun melepaskan cengkeramannya saat korbannya sudah tidak lagi bernyawa. Tubuh pria itu terjatuh tepat di bawah kakinya dan ternyata--ada puluhan mayat lain dengan kondisi sama yang tergeletak di sepanjang jalan, tepat di belakang Qian Kun.
Matahari belum kembali ke tempat peraduannya dan Qian Kun sudah menjadi penyebab kematian seluruh warga sebuah desa yang ada di salah satu kota milik Kekaisaran Langit Tengah.
__ADS_1
Tidak hanya manusia biasa yang menjadi korban Qian Kun, bahkan pendekar dan kultivator yang singgah di desa ini turut serta menjadi mayat karena ulahnya. Dia juga tidak melepaskan seekor hewan pun.
"Tuan.."
Kaki seorang wanita menapak indah di tanah, pakaiannya sedikit berkibar karena angin. Di tangannya, dia memeluk sebuah boneka kain dan wajahnya sendiri memperlihatkan kesedihan yang amat dalam.
"Tuan.. Apa perlu melakukan ini semua? Mereka.. Sama sekali tidak bersalah. Aku sangat sedih sampai ingin menangis,"
"Miao Gang, satu-satunya kesalahan yang diperbuat manusia adalah karena mereka memilih untuk dilahirkan. Dunia ini harusnya jadi lebih baik saat mereka semua tiada,"
Miao Gang hanya mengerti ucapan terakhir Tuannya. Dia mengusap-usap boneka kain miliknya yang membuat Segel Pemerangkap di desa ini terlepas. Seluruh mayat yang berada di sekitarnya seketika berubah menjadi abu dan menyatu dengan angin.
"Tuan, kudengar dia akan segera menikah. Itu akan dilangsungkan, tepat di purnama kedua."
"Mn, aku tahu. Dia hanya ingin lepas dari belenggunya. Pernikahan pasti terjadi, tapi aku ragu itu akan berjalan dengan baik."
"Tuan.. Apa kau akan mengacaukannya?"
"Hmph, bukan aku. Tapi seseorang yang paling tidak terima dengan pernikahan itu."
Qian Kun hanya menginginkan satu, yakni membuat Xiao Shuxiang menjadi penyebab kehancuran benua ini. Untuk mewujudkannya, dia ingin pemuda itu benar-benar jatuh hati pada Ling Qing Zhu.
Selama ini, Qian Kun tahu putranya hanya memperlakukan gadis itu tidak lebih dari sebuah tanggung jawab seorang Wali Pelindung. Kalaupun ada hal lain, itu hanya sekadar guyonan biasa. Pada akhirnya, tidak ada yang dianggap berharga oleh putranya selain diri sendiri.
"Miao Gang, cinta dapat menjadi kekuatan besar sekaligus racun yang paling mematikan. Kau pasti tahu, berapa banyak pendekar kuat yang memilih mati demi keselamatan kasihnya, bukan? Mereka dapat menyerahkan segalanya termasuk hidupnya sendiri demi wanita yang mereka cintai, dan aku ingin Xiao Shuxiang juga merasakan itu.."
".. Akan sangat menyenangkan bisa melihat putraku menggila dan menghancurkan segalanya demi seorang gadis. Dan saat waktunya tiba, aku akan datang lalu merampas semua yang dia miliki,"
Qian Kun mulai melangkah pergi diikuti oleh Miao Gang dari belakang. Sosok berjubah hitam itu masih memakai topeng rubahnya.
Dia sudah berusaha keras selama ini dan mengatur rencana sematang mungkin. Qian Kun memberikan misi pada anggota Scarlet Darah untuk memburu setiap kultivator dan pendekar terkuat lalu mengajak mereka bergabung dengannya.
Siapa pun yang menolak, jelas akan langsung dibunuh. Kali ini, Qian Kun sudah tidak mau lagi bersikap lembut.
Sejujurnya, keberadaan Scarlet Darah sudah menjadi buah bibir masyarakat di Benua Tengah, termasuk menjadi incaran Partai Pasak Bumi yang merupakan partai perlindungan benua ini. Namun sampai sekarang, tiap kali ada mata-mata mereka yang mengawasi gerak-gerik anggota Scarlet Bayangan, maka selalu saja berakhir dengan kehilangan nyawa.
Qian Kun bukan orang yang bodoh. Walau kekuatannya amat besar, namun merupakan tindakan yang fatal bila meremehkan manusia. Karenanya, demi mewujudkan impian besarnya itu--dia pun memanfaatkan keserakahan manusia akan kekuatan.
Setiap rencana penyerangan ataupun keributan yang ditimbulkan, tidak boleh sampai ke telinga Grand Elder Sekte Pagoda Langit. Itulah sebabnya, untuk urusan Kekaisaran Langit Tengah--menjadi tanggung jawab Qian Kun sendiri.
"Miao Gang, kau tahu di mana Yi Wen sekarang?"
"Kurasa dia bersama Shuxiang.." Miao Gang mengusap boneka kain miliknya sambil terus berjalan, dia sebenarnya tidak suka dengan keberadaan Yi Wen. Gadis dari Sekte Kupu-Kupu itu sulit untuk dipercayai.
"Gadis itu terlihat tidak benar-benar berada di pihak kita. Apa Tuan yakin akan memberinya kepercayaan yang besar..? Aku.. Khawatir-"
"Dia menjadi pengkhianat?" Qian Kun memotong ucapan Miao Gang, dia tersenyum tipis dibalik topeng rubahnya dan lalu lanjut bicara.
".. Harusnya saat ini, Yi Wen pergi ke Benua Barat dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai salah satu Pilar Dunia. Tapi yang terjadi justru dia tidak peduli dengan kondisi tempat kelahirannya itu, jadi apa kau pikir dia akan peduli dengan keselamatan benua ini?"
Miao Gang menggeleng, dia tahu jawaban dari pertanyaan sosok berjubah hitam di depannya. Untuknya sendiri, di antara para manusia--Yi Wen adalah yang terburuk.
"Miao Gang, pergilah ke desa seberang dan lakukan seperti yang telah direncanakan. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan,"
"Baik Tuan,"
Qian Kun dapat melihat bagaimana Miao Gang menghilang saat diselimuti asap. Dia hanya sedikit menggerakkan jari telunjuk kirinya dan seluruh desa yang telah kosong ini mulai diselimuti kabut ilusi.
Jika ada manusia yang memasuki desa, entah mereka mempunyai kekuatan spiritual atau bukan--desa ini akan terlihat seperti desa biasa. Padahal kenyataannya, desa tersebut sudah mati.
Tanah di Benua Tengah memang tidak cocok dengan kultivator, ini karena sulit menyerap Qi di sini. Namun Qian Kun dapat mengisi kembali kekuatannya yang terkuras dengan menyerap energi kehidupan makhluk hidup jenis apa pun.
Dengan kemampuannya itu, bisa saja Qian Kun langsung menyerang Sekte Pagoda Langit, menculik Xiao Shuxiang dan merampas semua kekuatan serta ingatan dari putranya. Namun itu tidaklah menyenangkan. Dia ingin Xiao Shuxiang tahu, bahwa mengikat hubungan dengan manusia selalu berakhir kematian yang menyedihkan.
*
*
Xiao Shuxiang tahu betul musuhnya tidak akan pernah tinggal diam. Apa pun rencana mereka yang jelas target terakhir pasti akan mengarah padanya. Dia hanya tidak ingin memperburuk keadaan dengan menyerang lebih dahulu.
Meski terlihat menikmati hidupnya yang tenang dan damai, namun nyatanya Xiao Shuxiang terus memikirkan tentang apa yang akan diperbuatnya di masa depan.
__ADS_1
".. Kepalaku sakit jika memikirkan banyak hal. Mungkin aku harus ke kamar Lan Zhi dan mengobati ini dengan tidur bersama Lan Xiao," Xiao Shuxiang merapikan pakaiannya, dia baru saja selesai berendam dan saat ini sedang mengencangkan sabuk pinggangnya.
!!
Xiao Shuxiang terkejut dan spontan melompat mundur saat sebuah panah melesat dan nyaris melubangi kepalanya. Untung saja celananya tidak sampai melorot, walau demikian jantungnya tetap berdebar kencang.
"Gila, siapa yang berani menyerangku tiba-tiba begini?" Xiao Shuxiang mengarahkan pandangannya ke arah jendela, dia bisa melihat sekelebat bayangan yang baru saja pergi dan lantas berseru.
Baru saja Xiao Shuxiang ingin mengejar, namun tiba-tiba terdengar bunyi benda yang jatuh. Dia membalikkan badannya dan tersentak kala menyadari anak panah barusan rupanya membawa setangkai bunga dan sepotong kertas kecil.
Xiao Shuxiang berjalan dan tanpa ragu mengambil kertas yang terikat pada batang anak panah itu. Sebelah alisnya terangkat saat membaca isi tulisan pada kertas tersebut. Dia pun melangkah keluar meninggalkan kamarnya, tentu dirinya lebih suka menggunakan jendela.
Tujuan Xiao Shuxiang adalah kamar teman baiknya, Lan Guan Zhi. Kebetulan sekali kultivator muda itu sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya sambil membaca sebuah buku.
Tempat tidur Lan Guan Zhi berdekatan dengan jendela dan Xiao Shuxiang paling suka masuk lewat sana. Namun saat ini, kemampuan Koki Alkemis itu dalam menyembunyikan hawa keberadaan lebih hebat dibandingkan dengan kewaspadaan Lan Guan Zhi terdapat lingkungan sekitar.
!?
Lan Guan Zhi tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan merangkulnya dari belakang. Dia tidak bergerak sedikit pun karena tak merasakan ada niatan membunuh dari sosok ini.
"Shuxiang.."
Tanpa menoleh pun, Lan Guan Zhi tahu pelaku yang menerobos masuk lewat jendela kamarnya tidak lain adalah teman baiknya sendiri. Dia segera menutup buku yang dibacanya dan meminta temannya untuk tidak lagi bertingkah seperti perampok yang datang lewat jendela.
"Lan Zhi.. Terakhir kali aku kemari, aku tersandung dan menabrakmu. Kali ini aku sudah sudah belajar dari kesalahan," Xiao Shuxiang sepertinya tidak mendengarkan permintaan dari teman baiknya.
"Aku tahu, jadi singkirkan tanganmu."
Walau berkata demikian, nyatanya Lan Guan Zhi tidak memberontak dengan perlakuan teman baiknya. Dia bahkan masih duduk dengan tenang walau saat ini punggungnya hangat karena bersentuhan dengan dada bidang temannya.
".. Kau.. Habis mandi?"
"Mm, aku kemari ingin menanyaimu sesuatu,"
"Menjauh sedikit, kau tidak perlu sedekat ini." Lan Guan Zhi bergeser, dia dapat mencium aroma lembut dari tubuh teman baiknya. Wangi itu membaur dengan baik dengan keharuman kayu cendana.
"Kau ingin menjauh dariku? Teman yang kau anggap berharga ini?" Xiao Shuxiang tidak bergeming, dia malah mengeratkan rangkulannya pada leher teman baiknya, pipinya bahkan nyaris bersentuhan dengan milik temannya.
"…"
Lan Guan Zhi memang tidak bisa menang berdebat jika Xiao Shuxiang sudah mengungkit hubungan mereka. Dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan dari teman baiknya.
"Nah, sekarang katakan padaku kawan.." Xiao Shuxiang akhirnya melepaskan rangkulannya dan duduk sangat dekat di samping Lan Guan Zhi, ".. Kau kenal tulisan tangan ini?" dia menyerahkan secarik kertas yang sejak awal sudah dibawanya pada teman baiknya ini.
Lan Guan Zhi memperhatikan tulisan tangan itu dan mengatakan bahwa tulisan tersebut merupakan milik Ling Qing Zhu. Dia tidak pernah salah mengenali tulisan dari adik Ling Lang Tian itu.
"Kau yakin, Lan Zhi? Apa aku tadi memberitahumu bahwa secarik kertas ini terikat pada sebuah anak panah yang hampir melubangi kepalaku?"
"Ini memang tulisan tangan Nona Ling. Tidak mungkin salah."
Xiao Shuxiang berkedip, dia lalu mengembuskan napas pelan dan kemudian mengangguk. Dia percaya pada ucapan teman baiknya ini.
"Berarti Kucing Putih ingin aku menemuinya malam ini, tapi dia benar-benar kelewatan karena menggunakan anak panah. Kalau saja aku tidak cepat menghindar, kepalaku sudah pasti berlubang sekarang.."
Xiao Shuxiang turun dari tempat tidur teman baiknya dan kemudian pamit. Dia tidak lupa mencari Lan Xiao, namun rupanya Harimau Bulan itu sedang menginap di kamar Zhi Shu.
Sebelum menggeser pintu kamar teman baiknya, Xiao Shuxiang membalik badan dan mengajak Lan Guan Zhi untuk ikut bersamanya. Sayang pemuda berpita dahi itu menolak pergi lantaran sadar bahwa isi surat tersebut hanya ditujukan pada satu orang, yakni Xiao Shuxiang sendiri.
"Lan Zhi, kenapa kau tidak mau ikut? Rasanya pasti sangat membosankan jika tidak ada kau,"
"Pergilah,"
Lan Guan Zhi kembali membaca bukunya. Surat dari Ling Qing Zhu untuk teman baiknya jelas merupakan undangan pribadi dan hanya ditujukan pada satu orang, mana mungkin dia mau merusak suasana dengan ikut bersama Xiao Shuxiang dan menjadi pengusir serangga di antara mereka. Didesak seperti apa pun, dirinya tidak akan pernah ikut.
Xiao Shuxiang akhirnya menyerah, sepertinya dia harus menghadapi Kucing Putihnya sendirian. Ini mungkin dapat menjadi kesempatannya untuk dekat dan mengenal gadis itu lebih dalam. Yaah.. Setidaknya itulah yang dirinya harapkan.
"Kalau begitu aku pergi dulu,"
"Mn, jaga dirimu baik-baik."
Xiao Shuxiang mengangguk. Dia menggeser pintu kamar Lan Guan Zhi dan segera keluar. Aneh memang, padahal sebelumnya dia masuk lewat jendela.
__ADS_1
***