
Pendekar berpakaian hitam itu terus tertawa dan baru benar-benar berhenti saat merasa lelah. Sungguh, yang tadi itu merupakan pemandangan menakjubkan hingga dia ingin menyaksikannya sekali lagi.
[".. Kalian sudah lihat kan? Itulah risiko sebenarnya dari teknik setan yang kalian pelajari. Nah, sekarang bagaimana cara kalian mengatasinya?"]
Nada suara dari pendekar itu mengandung penghinaan. Matanya berkilat saat menatap salah satu murid Partai Pedang Tengkorak yang nampak pucat. Murid itu tidak bergeming, tatapan matanya terus mengarah ke depan dan dia seperti sulit menelan ludah. Bila diperhatikan dengan baik, tangannya yang memegang pedang nampak bergetar.
Pria berpakaian hitam yang merupakan pendekar dari sebuah partai Aliran Hitam di Kekaisaran Langit Tengah itu terlihat berjalan mendekat. Dia membisikkan sesuatu di telinga pendekar dari Partai Pedang Tengkorak.
["Aku rasa.. Kau juga sudah berpikiran sama dengan rekanmu yang tubuhnya meledak tadi. Orang yang memberimu tubuh abadi ini rupanya menanamkan kutukan mengerikan yang bahkan kau sendiri tidak sadari. Aah.. Aku bisa melihat di wajahmu, kau tidak menyangka ini.."] senyuman pria berpakaian hitam itu mengembang, dia mempunyai teknik yang lebih berguna melawan musuh daripada menggunakan senjata.
[".. Aku juga melihat kau takut. Kau mulai meragukan orang itu, kan? Siapa namanya..? Qian Kun..?"]
!!
["Tidak, tidak..! Menjauh dariku!"]
Murid dari Partai Pedang Tengkorak mengayunkan pedangnya, namun ditangkis dengan mudah oleh pria berpakaian hitam tersebut. Dia hendak menyerang lagi, namun tiba-tiba dadanya terasa sesak.
!!
Kejadian yang dialami Tong Due kembali terjadi pada murid dari Partai Pedang Tengkorak. Dia merasakan panas pada tenggorokan dan perutnya. Tangan, kaki, dan kini wajahnya nampak membengkak.
Ada dua tangan besar berwarna hijau kehitaman yang muncul di dadanya. Terdapat mulut yang menyeringai pada telapak tangan besar itu. Detik berikutnya, salah satu tangan mencengkeram kepala murid Partai Pedang Tengkorak dan lalu memakannya.
!!
Suara saat kepalanya dikunyah membuat yang mendengarnya merinding ketakutan. Tidak beberapa lama, tubuh murid itu meledak dan hanya menyisakan potongan daging berserakan. Sementara jantung yang menjadi kelemahannya dan tersembunyi di suatu tempat nampak berubah hitam kelam, sebelum ikut meledak.
Pendekar dan kultivator dari Aliran Hitam yang menyaksikan kejadian tersebut langsung bisa mengerti. Mereka harus membuat musuh berpikir untuk mengkhianati Qian Kun atau meragukan sosok itu.
Dengan cara demikian, mereka bisa membuat kutukan di tubuh lawan aktif hingga tidak perlu lagi mencari jantung yang disembunyikan di berbagai tempat agar bisa menang.
!!
Ada sekitar empat orang murid Partai Pedang Tengkorak yang menyaksikan tubuh saudara seperguruan mereka dan tubuh Tong Due meledak. Walau kini mereka tahu bahwa ada pantangan yang tak boleh dilanggar, namun tetap saja hati mereka goyah.
Para murid dari Partai Pedang Tengkorak mulai mempertanyakan identitas Qian Kun pada diri sendiri. Ada setitik kecil perasaan tak percaya pada sosok bertopeng rubah itu yang membuat mereka ragu.
Sayang tindakan mereka justru malah mengaktifkan kutukannya. Para murid tersebut seketika merasa sesak, satu orang di antara mereka berteriak dan mengatakan tidak ingin mati. Hanya saja selanjutnya, pembuluh darahnya tiba-tiba pecah, sekujur tubuhnya memuncratkan darah dan seperti baru saja terkena sayatan puluhan pedang.
!!
Pemandangan yang mengerikan, apalagi wajahnya mulai menghitam sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.
Sebuah tangan besar keluar dari punggungnya. Kemunculan tangan itu bagai pohon yang tiba-tiba saja menembus kulit, merobek pakaian, dan lalu memperlihatkan seringai mengerikan yang ada pada telapaknya.
Kepala murid itu dimakan, ini juga dialami oleh ketiga rekannya. Sementara di sisi lain, para pendekar yang tidak termasuk dalam pengikut Qian Kun hanya bisa menyaksikan tanpa tahu harus berbuat apa.
Siu Yixin juga tidak mengatakan apa pun. Dia terlalu banyak mendapat informasi sampai-sampai bibirnya kelu untuk bicara dengan nada penuh gaya miliknya.
["Ha ha ha.. Ini mengagumkan. Siapa pun otak yang memerintah mereka, dia pasti tidak mau identitasnya terungkap. Dia menanamkan kutukan yang tanpa ampun sama sekali.. Ha ha ha, mengagumkan."]
["Kenapa kau tertawa dan terlihat semangat begitu? Apa ini lucu bagimu?"]
Seorang pendekar menegur pria berpakain hitam itu. Tidak seharusnya kemalangan yang dialami musuh ditertawakan semacam ini. Biar bagaimana pun juga, murid Partai Pedang Tengkorak hanyalah korban yang dimanfaatkan.
[".. Kita harusnya membantu mereka. Orang-orang itu masih layak mendapat kesempatan kedua,"]
["Hmph, kesempatan kedua katamu..? Apa kau-"]
["Anu.. Aku tidak bermaksud mengganggu percakapan kalian, tapi Lihat Di Sana!"] pendekar berpakaian hitam dengan rompi putih itu menunjuk mayat kultivator yang tewas dan berserakan tidak jauh dari jangkauan penglihatannya.
Mayat-mayat itu bergerak dan kemudian bangkit lagi. Yang leher serta bagian tubuhnya terpisah, kini tersambung kembali oleh seutas benang merah yang entah berasal dari mana.
["Ya ampun. Masalah satu belum selesai dan kini ada lagi.."]
["Entah kesalahan apa yang kulakukan di kehidupan terdahuluku hingga harus melalui kesulitan serumit ini.."]
Dua orang pendekar dari Aliran Putih menyentuh dada mereka sambil mengembuskan napas. Wajah keduanya pucat dan sorot mata mereka tidak lagi memperlihatkan semangat apa pun.
Mereka semua lelah dan ingin istirahat sekarang, tetapi sepertinya musuh tidak mengizinkan mereka melakukan itu.
Pria berpakaian hitam yang bersama mereka hanya menatap lurus dan seperti bersiap untuk bertarung lagi. Dia tidak peduli dengan keluhan rekan-rekannya atau keluhan dari pendekar lain. Dirinya suka bertarung. Dia suka pertarungan yang membuat darahnya mendidih.
["Baiklah, sekarang ini mulai seru."] senyuman terlukis pada wajahnya, sorot matanya nampak berkilat aneh.
__ADS_1
Siu Yixin berkedip, pemuda itu membuat dia ingat pada seseorang yang juga amat menyukai pertarungan. Sosok yang kemungkinan besar akan merasa gemetar saking senangnya bila melihat pemandangan sekacau ini.
!!
Pendekar dari Aliran Hitam itu tiba-tiba saja melesat lebih dahulu. Dia menyerang mayat-mayat hidup dengan gerakan berpedang yang terkesan liar. Siu Yixin terpukau, namun detik berikutnya dia sadar harus ikut andil menjadi pusat perhatian.
Dia pun melesat. Siu Yixin menarik pedangnya saat berada di udara dan langsung menebas empat mayat dengan sekali serangan.
Dia mendapat pujian dari kultivator Aliran Hitam yang sebelumnya lebih dulu menyerang. Mereka berdua kini bekerja sama untuk menghadapi mayat-mayat pendekar yang hidup itu.
!!
Pedang Siu Yixin berbenturan dengan senjata lawan. Dia tersentak sebab mayat yang dihadapinya mempunyai gerakan gesit, seolah tidak kehilangan kemampuannya dalam berpedang setelah mati.
Ini sangat aneh. Mayat hidup harusnya memiliki gerakan yang lambat dan kacau, bukan penuh dengan teknik bertarung semacam ini. Siu Yixin bahkan nyaris tertebas andai tidak berhati-hati.
Dia berkedip dan mulai melompat mundur. Di udara, secara cepat serangga terbang muncul di tubuh Siu Yixin dan semakin banyak. Tubuhnya pun menghilang dan serangga terbang yang merupakan Semut Neraka itu mulai menyerang musuh.
Alur pertarungan semakin tidak teratasi. Di saat yang bersamaan Nie Shang juga makin panik melihat kondisi penginapannya yang benar-benar telah porak-poranda.
Wajah Nie Shang terlihat amat pucat, pakaiannya kotor dan penampilannya begitu kacau. Belum lagi Mo Huai yang entah bagaimana keadaannya sekarang, pemuda itu kemungkinan masih terjebak dalam kerumunan atau bisa saja telah tewas terinjak-injak.
"Ya Tuhan.. Mo Huai masih muda. Tubuhnya pendek dan lebih lemah dari ranting kayu. Aku tidak ingin membayangkan yang bukan-bukan, tapi sudah lama aku menunggu dan dia belum juga kemari.."
Nie Shang membungkuk dan memegang lututnya. Dia berusaha mengatur napas dengan baik walau dadanya sekarang ini begitu sesak. Debu dari pertarungan para pendekar dan berbagai suara nyaring telah menyiksa dirinya.
".. Aku benar-benar akan mati. Ini sangat buruk.. Kenapa harus ada kekacauan saat Saudara Xiao dan yang lainnya tidak ada di Benua Tengah?!" Nie Shang mengusap-usap wajahnya, dia ingin pingsan saja, tapi tidak tahu bagaimana caranya.
Tidak ada tempat aman di sini, bahkan sekarang dia masih harus berhati-hati dengan serangan nyasar yang datang. Apalagi dia bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga bertanggung jawab menjaga para tamu di penginapannya supaya bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.
Nie Shang menatap dinding setinggi tujuh meter di hadapannya. Dia sebenarnya bisa melompat keluar dengan mudah, namun orang-orang yang bersamanya termasuk anak-anak kecil akan kesulitan memanjat dinding tersebut.
Nie Shang memang lemah, dia tidak bisa ikut andil dalam pertarungan. Namun dia masih yakin dapat membuat lubang bedar pada dinding di hadapannya, tentu ini bukan pekerjaan yang mudah.
Penampilan Nie Shang yang berantakan pun berasal dari usahanya merobohkan dinding tebal di depannya itu. Sudah lama dia melakukannya dan hanya membuat sedikit perubahan.
"Tuan Nie Shang! Berusahalah dan coba lagi..!"
"Tuan Nie Shang, hanya kau kultivator di sini. Kau satu-satunya harapan kami..!"
"Tuan Nie Shang..!"
Andaikan dindingnya tidak setinggi itu, mereka mana mungkin meminta bantuan Nie Shang. Dinding belakang dari wilayah Penginapam Seribu Tahun terlalu tinggi dibandingkan dengan dinding yang ada di bagian depan. Hanya saya area depan merupakan medan pertempuran yang entah kapan baru bisa berakhir.
Nie Shang membuka kipasnya, dia menyuruh orang-orang disekitarnya untuk mundur dan memberinya ruang. Dia pun kembali fokus dan kali ini memakai seluruh kekuatan miliknya.
"Aku ini tidak punya bakat menjadi pendekar, asal kalian tahu itu. Jadi bila sekarang dindingnya roboh, maka kalian harus pergi dan berusalah untuk mempertahankan nyawa sendiri-sendiri..!"
Tangan Nie Shang terayun kuat dan sebuah serangan mengenai dinding tebal tersebut. Suara keras terdengar bersamaan dengan terbentuknya lubang yang lumayan besar.
Nie Shang terbatuk akibat debu yang dihasilkan dari serangannya. Dia tidak punya waktu untuk merasa senang sebab butuh belasan kali percobaan hingga serangannya membuahkan hasil. Sungguh, siapa pun yang dia sewa hari itu untuk membuat dinding penginapan yang kokoh adalah sosok ahli bangunan yang hebat.
!!
Orang-orang yang bersama Nie Shang merasa senang karena mereka dapat terbebas. Mereka semua berlomba-lomba keluar melewati lubang pada dinding itu meski debu yang ada masih amat tebal.
Belum selesai Nie Shang terbatuk-batuk, sebuah teriakan terdengar dari dalam debu yang mengepul. Hal ini spontan membuat dia dan yang lainnya kembali merasa awas.
!!
Ada sesuatu yang terlempar keluar dari dalam debu dan menghantam seorang pria dewas yang berada tepat di samping Nie Shang. Itu adalah seorang kultivator berseragam abu-abu dengan berbagai luka di tubuhnya.
!!
Banyak orang yang kembali berlari masuk. Nie Shang baru ingin bergerak saat pria di dekatnya tiba-tiba saja berteriak kesakitan.
Matanya terbelalak saat tahu bahwa kultivator yang menghantam salah satu tamunya ini merupakan sosok yang telah mati dan rupanya adalah-
["Mayat Hidup..!! Selamatkan diri kalian..!"]
"Lari..!!"
!!
Andai saja jantung Nie Shang tidak kuat, dia mungkin sudah benar-benar tiada saat ini. Belum selesai sakit kepalanya, dan masalah di penginapannya, sekarang muncul masalah yang lebih rumit lagi.
__ADS_1
["Tolong..! Aakh..!"]
Nie Sang melangkah mundur dengan wajat yang sangat pucat dan napas yang tersendat. Dia kesulitan menelan ludah saat melihat bagaimana usaha tamu penginapannya itu berjuang dari serangan mayat hidup.
Kultivator berpakaian abu-abu itu mempunyai wajah yang mengerikan. Dia tidak berniat melepaskan mangsanya dan terus menggigit. Karena suasana tidak terlalu gelap, atau bisa dikatakan ini bukanlah malam hari--pemandangan mengerikan itu terlihat amat jelas.
!!
Nie Shang sebenarnya ingin menolong, tetapi dia bukan kultivator yang berkompeten. Sekali pandang saja dia sudah tahu bahwa mengganggu mayat hidup itu akan menjadi akhir dari kematiannya.
"Aku.. Aku minta maaf.." suara Nie Shang gemetar, dia lagi-lagi melangkah mundur dan seperti merasa ini sudah berada dalam batas kemampuannya.
Nie Shang berbalik dan berniat menyelamatkan diri sendiri saat tiba-tiba seseorang menubruknya hingga terjatuh. Punggung, bokong, dan kepalanya sakit. Dia meringis, namun mendadak firasatnya menjadi tidak enak.
Nie Shang baru memperhatikan dengan baik siapa yang menubruknya. Ekspresi wajahnya tidak dapat diungkapkan lagi. Seluruh tubuhnya gemetar kala tahu siapa yang ada di atasnya dan tengah mencengkeram kuat bahu miliknya.
!!
Rupa orang yang menubruk Nie Shang sebenarnya cukup tampan andai tidak mempunyai luka tiga sayatan di wajahnya, tidak ada urat-urat tipis kehitaman, berkulit tidak terlalu pucat, dan memiliki mata yang utuh.
Sosok ini bahkan bisa mendapat beberapa gadis cantik jika lehernya tersambung dengan benar, termasuk dengan beberapa bagian tubuhnya.
Sosok itu mulai membuka mulutnya dengan lebar. Dia memperlihatkan gigi-gigi tajamnya pada Nie Shang dan kedalaman mulut yang seperti gua hitam kemerahan.
Nie Shang berteriak dengan mata yang tertutup. Dia sungguh tidak mampu bergerak apalagi melawan. Teriakannya makin kencang saat dia merasakan sosok dihadapannya mulai menunduk.
Nie Shang merasakan jantungnya akan melompat keluar dari telinga. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya meskipun ingin. Bahu kirinya terasa sangat sakit hingga membuatnya hampir mati.
Saat merasa hidupnya sudah berakhir, Nie Shang melihat sebuah cahaya putih melintas lewat buramnya air mata. Tubuh sosok di atasnya seketika terpental dan menghantam tubuh mayat hidup yang nyaris membunuh salah satu tamu di penginapannya.
Seorang pemuda menapakkan kakinya di tanah. Pakaian putih bersihnya terlihat berkibar dimainkan oleh angin. Dengan kedatangannya, dia telah mencuri perhatian para mayat hidup untuk menyerangnya.
Nie Shang belum dapat bangun, tetapi sebuah tangan terulur dan membantunya berdiri. Dia baru melihat dengan jelas wajah sosok penolongnya yang ternyata adalah Ling Lang Tian.
!!
Tangisan Nie Shang pecah, dia memeluk pemuda itu dengan penuh rasa syukur karena tidak menjadi makanan dari mayat hidup. Dia memeluk patriarch dari Sekte Pagoda Langit itu dengan sangat erat.
Ling Lang Tian sendiri agak kaget dengan pelukan ini, namun respon tersebut tidak nampak pada raut wajahnya yang datar. Dengan suara dingin khasnya, dia meminta Nie Shang untuk berhenti menangis.
!!
Ling Lang Tian sedikit menyipitkan mata dan kemudian mengeluarkan Aura Pendekar miliknya. Dia membuat para mayat hidup itu kesulitan bergerak dan orang-orang yang berada dalam jangkauan auranya bisa merasakan kehadirannya.
Sebenarnya siapa pun yang masuk ke dalam jangkauan Aura Pendekar akan merasa seperti dihantam batu yang besar, tergantung dari sekuat apa pelaku yang mengeluarkan aura tersebut. Jika orang itu mempunyai praktik yang tinggi. Aura Pendekar mampu membuat lawan merasakan sesak di dadanya, muntah darah, tidak sadarkan diri, atau yang lebih buruk daripada itu.
Jangkauan dari aura ini pun berbeda-beda. Semakin dekat dengan posisi pengguna aura tersebut, maka dampaknya akan semakin berbahaya. Jujur saja, sebenarnya tidak banyak kultivator yang mengeluarkan aura pendekarnya dengan jangkauan maksimal. Hal itu karena Aura Pendekar yang dikeluarkan juga mempengaruhi rekan sendiri hingga ikut mengalami apa yang tengah musuh rasakan.
Berbeda dengan Ling Lang Tian. Dia sudah banyak mengalami peningkatan sejauh ini. Bahkan sekarang dia mampu mengontrol Aura Pendekarnya agar tidak berbahaya bagi rekan-rekannya.
"Rawat lukamu," Ling Lang Tian perlahan melepaskan pelukan Nie Shang. Tidak banyak waktu untuk mengobrol sekarang, dia masih harus mengatasi kekacauan yang terjadi.
"Jangan pergi. Tolong jangan tinggalkan aku.. Aku tidak mau mati," Nie Shang sudah melihat penolongnya tiba, dia tidak mau ditinggal sendirian. Tatapan matanya penuh harap, dia memegang erat lengan Ling Lang Tian.
"Kau pergilah ke Sekte Pagoda Langit. Kau akan aman di sana,"
"Tapi perjalanannya begitu jauh, aku tidak sanggup memakai pedang terbang terlalu lama. Siu Yixin yang biasanya mengantarku ke sana, dan sekarang aku tidak tahu di mana dia.."
Ling Lang Tian berkedip. Nie Shang menangis dan benar-benar ketakutan sekali. Dia pun mengembuskan napas dan lalu menggeleng pelan.
"Kau ini merepotkan."
"A-aku tahu, karena itulah aku memohon padamu. Tolong selamatkan aku.."
"Kalau begitu lepaskan rangkulanmu,"
Nie Shang enggan melepaskan rangkulannya, tetapi dia tetap menurut. Meski kehadiran Ling Lang Tian bagai sebuah keajaiban untuknya, namun dia masih sadar bahwa pemuda ini tidak boleh sampai disinggung.
"Tetaplah berada dalam jangkauan penglihatanku, maka kau akan tetap aman." suara Ling Lang Tian dingin dan penuh wibawa. Dia pun melesat ke arah para mayat hidup dan menyerang mereka.
Tanah di Benua Tengah memang tidak cocok dengan kultivator, tetapi Ling Lang Tian yang sudah seumur hidupnya tinggal di sini--dia telah terbiasa. Jadi melawan para mayat hidup yang gesit tersebut bukanlah masalah besar untuknya.
!!
Ling Lang Tian benar-benar mengagumkan. Langkah kakinya terukur dengan baik hingga tidak ada gerakan yang berlebih. Dia dengan mudah merampas pedang salah satu mayat dan menggunakannya untuk menyerang. Pedang pusaka miliknya sendiri masih berada di dalam sarungnya dan belum ditarik keluar. Kemungkinan dia baru akan melakukannya saat melawan musuh yang pantas.
__ADS_1
Di sisi lain, Miao Gang merasakan angin berhembus berlawanan arah. Firasatnya mengatakan bahwa waktu yang besar sudah hampir dekat, saat-saat di mana kekacauan ini akan berada pada tahap ketiga.
***