
Xiao Shuxiang menghela napas berat, wajahnya pucat dan tatapan matanya terlihat lelah. Zong Ming mengalirkan Qi miliknya untuk membantu mengurangi rasa mual yang diderita oleh Xiao Shuxiang.
"Saudara Zong, itu sama sekali tidak berguna. Kau tidak perlu lagi mengalirkan Qi padaku,"
"Saudara Xiao, tidak apa-apa..." Zong Ming tetap melakukannya, namun Xiao Shuxiang meminta agar dia berhenti dengan alasan mengalirkan Qi justu makin membuatnya ingin muntah.
Zong Ming, "Kalau saja kita sedang mengarungi laut, pasti akan kuanggap tingkahmu ini wajar Saudara Xiao. Seseorang yang pertama kali mengarungi laut apalagi seorang anak kecil, tentulah akan merasa mabuk. Tapi kita saat ini mengarungi danau yang sejujurnya memiliki air tenang dengan angin yang sejuk beserta pemandangan indahnya. Jadi bagaimana mungkin kau bisa seperti ini?"
Zong Ming bertanya, "Apa kau... Sungguh bisa mabuk laut meski keadaannya lingkungannya begini?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" suara Xiao Shuxiang lemah, wajahnya benar-benar pucat. "Aku... bukannya mabuk laut. Aku hanya tidak suka berada di tempat yang dikelilingi air."
Xiao Lu yang mendengar jawaban Xiao Shuxiang, langsung meledek adiknya. "Kau ini kucing-kucingan yah? Hanya kucing yang benci air!"
Xiao Shuxiang, "Bukan airnya. Tapi yang ada didalamnya..."
Qi Xuan, "Kau benci ikan?"
Xiao Shuxiang, "Hampir mendekati..."
Jing Mi, "Demonic Beast berwujud ikan?!"
Xiao Shuxiang, "Kurang lebih..."
Xiao Shuxiang menjawab pertanyaan teman-temannya sambil memijat kening dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia sangat ingin cepat-cepat turun dari kapal ini, sungguh! hari ini merupakan hari terburuk dalam hidupnya.
Yang Shu dan Gu Ta Sian baru sampai di tempat Xiao Shuxiang dan teman-temannya berada, mereka berdua menanyai keadaan Xiao Shuxiang, namun Jing Mi dan Zong Ming-lah yang menjawabnya.
Yang Shu, "Ada apa dengan Xiao'Er?"
"Dia muntah, sepertinya mabuk laut Guru..."
"Bukan, kurasa dia mabuk air."
Kening Yang Shu mengerut, "Mabuk air...?"
"Sebaiknya, kita bawa Xiao'Er untuk beristirahat. Wajahnya benar-benar pucat," Gu Ta Sian baru pertama kali melihat ada anak yang hampir berwajah seperti mayat hidup, dia terlalu ngeri melihat kondisi Xiao Shuxiang saat ini.
Yang Shu mengangguk, "Baiklah. Kita akan bicara nanti. Kemari, biar Kakek gendong."
"Aku tidak mau. Biarkan aku jalan sendiri," Xiao Shuxiang menolak Dia merasa akan muntah jika digendong saat dirinya berada di kapal yang bergerak.
Untung saja perjalanan menuju Sekte Bunga Lotus dengan menaiki kapal ini tidak terlalu lama. Tidak ada hambatan apa pun saat kapal sedang berlayar, sehingga Xiao Shuxiang tidak harus sampai bermalam di dalam kapal tersebut, bisa-bisa... dia tidak akan tidur.
Hari sudah gelap saat kapal yang membawa Gu Ta Sian beserta para pendekar dan pedagang berlabuh di pulau tempat Sekte Bunga Lotus berada.
Meski begitu, mereka disambut oleh murid-murid Sekte yang setia berdiri sambil menunggu kedatangan mereka. Tak hanya kapal yang ditumpangi oleh Gu Ta Sian, tetapi terlihat juga kapal lainnya yang ikut berlabuh didekat kapal mereka.
"Selamat datang Senior..."
Salah seorang murid Sekte Bunga Lotus menghampiri Yang Shu dan Gu Ta Sian. Ia menyapa mereka dan berbasa-basi sebentar, sebelum menanyakan undangan yang dibawa oleh Yang Shu dan Gu Ta Sian.
__ADS_1
Ini sudah menjadi aturan dari Sekte Bunga Lotus bahwa setiap tamu yang datang akan melalui pemeriksaan terlebih dahulu.
Yang Shu dan Gu Ta Sian masing-masing menyerahkan sebuah undangan berwarna biru. Saat membuka undangan Gu Ta Sian, terlihat cap segel berbentuk bunga plum milik Sekte Bunga Lotus.
Dan saat membuka undangan milik Yang Shu, bukan cap segel yang terlihat disudut pinggir kertas undangan tersebut----melainkan sebuah sidik jari berwarna emas.
"I-ini...?!"
Murid Sekte Bunga Lotus tersentak, dia menatap Yang Shu penuh keterkejutan. Hal ini membuat Yang Shu dan Gu Ta Sian saling berpandangan karena merasa heran.
"Ini segel pribadi GrandElder!! Itu artinya..."
Murid Sekte Bunga Lotus memberi tanda kepada dua orang temannya untuk datang mendekat, ia kemudian meminta untuk mengantarkan Gu Ta Sian menuju penginapan sementara dia sendirilah yang akan mengantar Yang Shu.
"Mari Senior," ajaknya sambil mempersilahkan Yang Shu untuk mengikutinya.
Yang Shu dan Gu Ta Sian saling berpamitan, mereka harus berpisah untuk sementara. Zong Ming dan Ying Liu juga ikut berpamitan kepada teman-teman baru mereka.
"Aku tidak mengharapkan kita menjadi lawan di Turnamen nanti Saudara Jing. Tapi jika kita benar-benar harus bertemu... kau tidak perlu sungkan,"
"Aku malah berharap bisa bertarung denganmu Saudara Zong, waktu itu kau menahan kekuatanmu. Kumohon jangan lakukan lagi..."
Jing Mi lalu memeluk Zong Ming secara tiba-tiba, dia menepuk-nepuk punggung Zong Ming dan berkata, "Aku pasti akan menjadi lebih kuat lagi."
"AH! Tentu Saudara Jing, kau pasti akan menjadi kuat..!"
Zong Ming kemudian berpamitan kepada Qi Xuan dan Xiao Shuxiang. Dia berkata, "Saudara Xuan... Saudara Xiao... kalian harus berlatih lebih giat lagi."
Yang Shu memanggil murid-muridnya karena sampai sekarang keempat anak ini belum juga mengikutinya.
Murid dari Sekte Bunga Lotus mengajak Yang Shu dan murid-muridnya ke sebuah rumah, tempat yang disediakan oleh para tamu undangan.
Rumah sederhana, namun memiliki pekarangan yang luas. dihiasi oleh empat pohon plum dan sebuah kolam ikan kecil.
Murid dari Sekte Bunga Lotus mempersilahkan Yang Shu dan murid-muridnya untuk beristirahat, dia juga mengatakan bahwa makanan dan pakaian sudah ada di dalam rumah tersebut.
Mendengar murid Sekte Bunga Lotus menyebut makanan, membuat Jing Mi langsung berlari kegirangan masuk ke dalam rumah tersebut.
Xiao Lu juga sama girangnya, dia sudah lama tidak mengganti pakaiannya, dan selama perjalanan Xiao Lu hanya mandi tiga kali saja, pertama di sungai, kedua di Pondok Pengelana, dan ketiga di Desa Peristirahatan. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya kakak perempuan Xiao Shuxiang ini.
"Kalau begitu saya pamit dulu Senior," murid dari Sekte Bunga Lotus memberi hormat kepada Yang Shu.
Yang Shu, Qi Xuan dan Xiao Shuxiang membalas hormat murid Sekte Bunga Lotus. Saat murid itu pergi Yang Shu mulai masuk bersama dengan Qi Xuan dan Xiao Shuxiang.
Murid dari Sekte Bunga Lotus masih berjalan tenang, dan saat dia sudah berada cukup jauh dari rumah kecil tersebut langkahnya mulai cepat. Bahkan dia melompat sangat tinggi kesebuah dahan pohon, melompat lagi ke dahan pohon yang lain. Tujuannya saat ini adalah pergi ketempat Grand Elder Sekte Bunga Lotus.
Jika dilihat dari atas, tempat Sekte Bunga Lotus berada adalah sebuah gunung kecil yang terletak di tengah-tengah danau. Kebanyakan pohon di sini adalah plum dan cuma tempat Grand Elder saja yang memiliki pohon persik di halamannnya.
Bangunan tempat Grand Elder besar dan luas, terlihat seperti bersembunyi di antara banyaknya pohon plum di sekelilingnya.
Saat murid Sekte Bunga Lotus itu berhenti pada salah satu dahan, dia bisa melihat kolam yang dipenuhi oleh bunga teratai berada disisi kiri dan kanan bangunan. Terlihat juga saudara-saudara seperguruannya.
__ADS_1
Murid tersebut kemudian melangkah dan kini menuju bangunan paling tengah, tempat Grand Elder-nya berada.
"Tetua, Tetua!?"
Murid Sekte Bunga Lotus memanggil-manggil Grand Elder, hal ini membuat Huan Fei yang sedang berbincang dengan tamu istimewanya tiba-tiba tersentak.
"Tetua, Tetua!"
Murid Sekte Bunga Lotus membuka pintu. Dia masih memanggil Grand Elder-nya, dan saat sampai di dalam dia sedikit terkejut ketika menyadari bahwa Grand Elder-nya sedang kedatangan seorang tamu.
"Fen Fang, kenapa berteriak seperti itu?!" Huan Fei memperlihatkan wajah masam kepada muridnya.
"Ah, ma-maafkan saya Tetua. Ma-maaf Patriarch Lan,"
Suara Fen Fang terdengar gugup, dia sebenarnya sangat kaget dengan tamu Grand Eldernya yang merupakan salah satu Patriarch Sekte Pedang Langit. Sekte Aliran Netral yang begitu berpengaruh di Tiga Kekaisaran.
"Tidak masalah, kau sepertinya ingin melaporkan sesuatu yang penting,"
Patriarch Lan tersenyum tipis, dia memang memiliki wajah menawan dan termasuk pemuda yang berbakat. Di usianya yang terlihat 32 tahun, dirinya menduduki salah satu kursi Patriarch Sekte Pedang Langit.
Beruntung Patriarch Lan bukanlah orang yang mudah marah, meski sebenarnya Fen Fang tidak merasa lega sedikitpun sebab sudah menganggu Grand Eldernya.
Huan Fei masih menatap penuh kemarahan padanya, dengan tangan yang bergetar Fen Fang menyerahkan undangan Yang Shu kepada Grand Eldernya ini.
Bisa dibilang Fen Fang beruntung karena Huan Fei mau mengambil surat yang diberikannya, sebab biasanya ketika Grand Elder-nya ini marah, dia tidak akan pernah mau mendengar alasan apa pun.
Saat membuka surat di tangannya, raut wajah Huan Fei berubah. Senyum lebar menghiasi wajahnya, tamu yang sudah lama ditunggunya sudah datang.
"HAHAHA, Shu'Er benar-benar datang...!"
Fen Fang tersentak kaget, ini pertama kalinya dia mendengar Grand Eldernya tertawa begitu keras. Patriarch Lan hanya mengerutkan kening dan memandang Huan Fei dengan keheranan.
"Sepertinya Anda memiliki tamu yang lebih istimewa dariku, Senior Fei..."
Patriarch Lan sedikit meledek Huan Fei sambil menyeruput tehnya. Hal ini membuat Huan Fei mendadak tersedak sebab Patriarch Lan menyebutnya 'Senior', yang mana usia Patriarch Lan jauh lebih tua dari dirinya.
Antara Patriarch dan Grand Elder, memang posisi Grand Elder-lah yang tinggi. Namun tidak begitu ketika membahas Sekte Pedang Langit, sebab posisi Patriarch sekte ini setara dan bahkan lebih tinggi dari posisi Grand Elder sebuah Sekte Besar.
"I-itu..." Huan Fei tidak tahu harus mengatakan apa, ekspresi wajahnya membuat Fan Feng terbelalak, sepertinya yang dikatakan oleh Patriarch Lan benar.
Huan Fei menoleh kearah Patriarch Lan, dia mencoba memberi penjelasan, hanya saja caranya mirip seperti suami yang sedang membujuk istrinya agar tidak merajuk.
"Adik Fei, jangan lakukan itu lagi. Kau bisa membuatku salah paham," Patriarch Lan menahan tawanya, dia malah membayangkan Huan Fei adalah seorang bayi tua berjanggut dan berkumis tebal.
Fen Fang yang masih berada di dalam ruangan seakan memberi pandangan yang aneh kepada GrandElder dan Patriarch Lan saat mendengar ucapan Patriarch dari Sekte Pedang Langit itu. "Mungkinkah gosip itu benar, bahwa mereka memiliki hubungan terlarang?!"
Raut wajah Fen Fang berubah pucat, pikirannya mulai kemana-mana. Secepat mungkin dia menepis pikiran aneh nan berbahayanya itu. "Mereka hanya terlihat seperti seorang Kakek dan Cucu, benar! Hanya hubungan Kakek dan Cucu."
"Tapi yang mana cucunya...?" Fen Fang bergumam sambil memperhatikan Grand Elder-nya dan Patriarch Lan.
***
__ADS_1