
Gong Zitao terkejut, tetapi bukan karena ucapan dari Qian Kun. Dia terkejut karena kemampuan sosok misterius ini.
Tidak pernah sekali pun dia kehilangan kewaspadaan dalam bertarung dengan tetua sekte yang saat ini sudah menjadi mayat gosong. Meski dirinya memakai Pedang Pembeku Jiwa, tua bangka itu tetaplah lawan yang menyulitkan.
Gong Zitao bahkan mengakui bahwa jika bukan karena Pedang Pembeku Jiwa serta tubuh abadinya, dia pasti sudah lama tewas. Apalagi pertarungan dengan tua bangka busuk itu tadi membuatnya tertebas sebanyak tiga kali.
Tangannya memegang kuat Pedang Pembeku Jiwa, urat-urat dahinya nampak menegang. Dia pun mulai menatap baik-baik sosok bertopeng di hadapannya, wajah Gong Zitao nampak sangat serius.
"Aku setidaknya memerlukan lebih dari puluhan teknik berpedang untuk mendekati dan memberi serangan fatal pada seorang tetua. Tapi dia hanya butuh satu tarikan napas dan sudah membunuhnya? Qian Kun ini.. Sekuat apa dirinya?"
"Kenapa kau diam? Ayo ikuti aku."
!
Gong Zitao tersentak dan kemudian mengangguk. Dia mengikuti sosok berjubah dan bertudung hitam itu ke tempat Gou Yun Fei dan Rou Mei Qi. Kedua kultivator tersebut terlihat menikmati pertarungan mereka melawan musuh yang kuat.
Saat Gou Yun Fei bertemu Qian Kun dan mendengar bahwa mereka harus ke Benua Timur--dia merasa agak keberatan. Kehancuran Partai Pasak Bumi sudah di depan mata, mereka sebentar lagi akan menang, lantas mengapa harus pergi sekarang?
Rou Mei Qi juga tidak setuju. Partai Pasak Bumi harus rata dengan tanah, tidak boleh ada satu pendekar dari kubu lawan yang masih memiliki kepalanya, mereka semua harus tewas. Baru setelah itu dia akan pergi ke Benua Timur.
Qian Kun tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk pergi di saat kemenangan hampir seratus persen ada di genggaman mereka, namun dia harus melakukannya. Targetnya jauh lebih besar daripada ini semua, dan bisa dibilang--pendekar dari Partai Pedang Tengkorak saja sudah cukup untuk menyelesaikan semuanya.
"…"
"…"
Beberapa pendekar yang tahu musuh mereka berkumpul di satu tempat dan nampak sedang bicara, menggunakan kesempatan ini untuk memberi serangan balasan.
Mereka melesat dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Permukaan tanah terkikis oleh angin dari pergerakan yang mereka hasilkan, bahkan batang pepohonan juga ikut terkena dampaknya.
Angin itu mengeluarkan suara yang nyaring. Ada lebih dari enam orang pendekar dari berbagai perguruan dan bermaksud membunuh Qian Kun, Gong Zitao, Gou Yun Fei, dan Rou Mei Qi dalam sekali serangan.
?!
Entah ini salah satu dari strategi perang atau karena telah putus asa dengan keadaan hingga mereka menyerang secara langsung.. Tetapi bagi Qian Kun, justru ini merupakan tindakan yang bodoh.
Meski bicara dengan rekan sesama Scarlet Darah, namun Qian Kun, Gong Zitao, maupun yang lainnya--tidak ada yang menurunkan kewaspadaan.
"Dasar pengganggu," Rou Mei Qi mulai menarik senjata yang sebelumnya tidak pernah dia keluarkan. Baru setengah yang terlihat, namun Qian Kun segera menghentikannya karena pusaka itu tidak pantas dipakai sekarang ini.
"Biar aku yang hadapi mereka.." Gou Yun Fei berjalan selangkah, tetapi lagi-lagi Qian Kun menghentikannya.
"Tidak perlu, tugas kalian di sini sudah selesai."
Saat Qian Kun berucap demikian, sebuah Cermin Pemindah muncul tepat di belakang Gou Yun Fei. Dia membuat yang bersangkutan, Rou Mei Qi, termasuk Gong Zitao tersentak.
"Masuklah, biar aku yang mengurus mereka.." suara Qian Kun datar, dia berbalik dan bersamaan dengan itu--para pendekar yang hanya selangkah lagi menebasnya terjatuh tiba-tiba.
!!
Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Seketika saja tubuh mereka seperti ditimpa sesuatu yang berat. Kejadian tersebut sangat mengejutkan, apalagi pendekar yang berusaha bangun--mulai memuntahkan darah karena terlalu memaksakan diri.
"Si-Sialan..! Apa-apaan ini..! Ukh..!"
["Kurang Ajar..! Apa yang terjadi--ukh! Dengan tubuhku?!"]
Para pendekar itu mengumpat, namun Qian Kun hanya bisa menangkap dua umpatan saja. Dirinya mendapat tatapan rasa tak percaya serta keterkejutan dari Gong Zitao dan Rou Mei Qi.
"Apa yang baru saja kau lakukan?" Gong Zitao bertanya karena sama sekali tidak mengerti.
Sosok di depannya tidak mengeluarkan Aura Pembunuh apalagi Aura Pendekar untuk menjatuhkan para penyerang itu. Yang dia lihat, Qian Kun hanya berbalik dan semua pendekar yang melesat ingin menyerang tadi tiba-tiba saja terjatuh.
Qian Kun tidak menjawab pertanyaan Gong Zitao, dia hanya menyuruh pemuda itu beserta Gou Yun Fei dan Rou Mei Qi untuk masuk ke dalam cermin.
Para pendekar yang lain berusaha menyerang, mereka bermaksud menyelamatkan tetua mereka yang sama sekali tidak dapat bergerak di hadapan Qian Kun.
!!
Hanya saja saat hampir dekat dengan Qian Kun, sosok itu pun berjalan masuk ke dalam cermin. Ge Yu Han yang sebelumnya bertarung dan melihat Gong Zitao memasuki cermin--juga ikut menyusul. Dia mempunyai tugas untuk selalu menjaga tuan mudanya tersebut.
Cermin besar itu pun memudar dan kemudian menghilang. Para tetua yang sebelumnya terjatuh dan tidak bisa bergerak akhirnya dapat bangun kembali. Meski demikian, raut wajah mereka mengandung keterkejutan dan rasa keheranan yang amat sangat.
Jelas saja heran. Pasalnya mereka bisa saja langsung ditebas oleh sosok itu, atau dibunuh dengan cara paling mengerikan. Namun yang terjadi justru sosok tersebut sama sekali tidak melakukannya.
["Kenapa dia.. Mengampuni nyawa kita?"] seorang tetua bersuara agak serak, terdapat bekas darah pada bibirnya, dan pakaiannya pun nampak koyak.
["Bukannya mengampuni. Tapi kurasa.. Dia sepertinya menganggap membunuh kita tidaklah menyenangkan."]
["Maksudmu 'menggairahkan'? Hanya makhluk di tingkatan iblis yang bisa tidak bergairah dalam membunuh lawan. Baginya, kita tidak lebih dari serangga yang lemah."]
Pembicaraan ketiga pendekar itu membuat yang mendengarnya semakin yakin bahwa lawan mereka bukanlah manusia biasa.
__ADS_1
Berbagai kemungkinan mulai muncul, utamanya yang menganggap sosok berjubah hitam dengan topeng rubah tersebut adalah makhluk dari dunia bawah. Sesosok monster dalam legenda yang menginginkan kehancuran dunia ini.
*
*
Para murid Partai Pedang Tengkorak yang masih bertarung sengit tidak menyadari bahwa Gong Zitao, Ge Yu Han, Gou Yun Fei, dan Rou Mei Qi sudah tidak lagi bersama mereka.
Keempat orang itu telah pergi ke benua yang berbeda, meninggalkan mereka tanpa pemberitahuan sama sekali.
Trang..!
Trang..!
Suara pedang berbenturan masih saja terdengar, namun ada satu kejadian yang kemungkinan besar akan mengubah keseluruhan alur pertempuran ini.
Salah satu kamar yang ada di bangunan Partai Pasak Bumi dibuka dengan paksa. Dua orang pendekar terkejut saat disambut oleh gumpalan daging yang diselimuti asap tipis hitam kemerahan.
!!
Keduanya terkejut, tidak menduga telah menemukan apa yang mereka cari selama ini. Gumpalan daging yang nampak berurat dan masih berdetak itu tidak lain adalah sebuah organ dalam--jantung manusia!
"Kita menemukannya..!"
"Ternyata benar apa yang diduga selama ini. Alasan kenapa pertarungan semakin mengarah ke hutan adalah untuk menjauhkan para pendekar dari bangunan murid. Mereka ternyata menyembunyikan kelemahannya di sini,"
Kedua pendekar itu mulai mendekati gumpalan daging yang tergeletak di lantai. Mereka memperhatikan dengan seksama gumpalan daging yang diselimuti asap merah kehitaman tersebut dan kemudian saling berpandangan.
"Hanya satu, kemungkinan masih ada lagi. Apa kita langsung menebasnya saja?" terdapat keraguan pada salah satu pendekar. Dia sudah menarik pedangnya, tinggal menusuk gumpalan daging itu atau menebasnya menjadi dua potongan.
"Tunggu dulu. Bukankah ini aneh? Jika ini adalah kelemahan musuh, lantas mengapa diletakkan di lantai begitu saja? Bahkan kita langsung melihatnya saat membuka pintu. Apakah menurutmu ini.. Tidak mencurigakan? Bagaimana jika ini hanya jebakan?"
"Kau benar. Tapi kita harus menebasnya untuk tahu ini jebakan atau bukan. Kau mundurlah, setidaknya bila ini memang jebakan--salah satu dari kita bisa hidup dan memperingatkan pendekar yang lain."
"Saudaraku?!"
"Mundur..!!"
!!
Pendekar tersebut mulai mengayunkan pedang kala rekannya telah mengambil beberapa langkah mundur. Dia menebas gumpalan daging itu dengan sangat kuat hingga daging tersebut langsung terbelah dua, bahkan tebasannya berbekas pada lantai kayu.
Pendekar itu melihat darah segar keluar dari gumpalan daging yang ditatapnya beserta kebenaran bahwa organ dalam tersebut ternyata bukanlah sebuah jebakan. Ini tentu adalah kejadian yang melegakan sekaligus kabar menggembirakan.
Jauh di tempat lain, salah seorang murid Partai Pedang Tengkorak yang tengah menertawai lawannya tiba-tiba saja diserang rasa sakit yang amat sangat. Dia menyentuh dadanya dan seperti kesulitan bernapas.
Kultivator yang sudah terluka parah dan nyaris binasa di bahwa kakinya berusaha menggerakkan tubuh untuk mundur. Dalam pandangan mata yang kabur, kultivator itu melihat bagaimana murid dari Partai Pedang Tengkorak menekan dada sendiri sambil menengadah ke langit.
["Saudaraku, kau baik-baik saja? Ayo..!"]
?!
Seorang kultivator datang dan membantu rekannya berdiri. Dia mengalirkan Qi untuk membantu memulihkan luka dalam yang dialami rekannya.
!!
Kultivator itu terkejut melihat wajah murid Partai Pedang Tengkorak yang begitu pucat dan seakan tidak ada darah tersisa di tubuhnya. Mata murid itu nampak terselip ke atas dan hanya dalam hitungan detik--dia ambruk ke tanah begitu saja.
!!
["Ti-tidak mungkin..? Apa dia benar-benar mati..?"]
Kultivator itu jelas tidak percaya. Sangat tidak percaya bahwa lawannya bisa mati begitu saja. Jujur, sebelumnya musuh yang dia lawan selalu bisa membentuk ulang tubuhnya meski telah tertebas beberapa kali. Karenanya kejadian yang terpampang nyata di depannya ini terlalu mengejutkan dan sulit untuk dipercayai.
["Sepertinya.. Sepertinya ada orang yang berhasil menemukan kelemahan musuh. Mereka berhasil melakukannya.."]
Kultivator yang tengah terluka itu nampak terbatuk dengan napasnya tersendat-sendat. Dia masih saja tersenyum walau kemudian memuntahkan darah segar. Luka dalamnya terlalu parah, dia kini hanya punya sepuluh napas tersisa.
[".. Kuserahkan pertarungan akhirnya padamu.. Kalian harus menang.."]
!?
["A-apa maksudmu Saudaraku?! Kita akan bertarung bersama-sama! Kau bertahanlah, aku pasti bisa menyembuhkanmu!"]
["Tidak perlu.."] suara dari kultivator itu sangat lemah, dia pun mendengus sambil tersenyum tipis. [".. Satu yang kusesalkan.. Aku tidak bisa melihatmu menikah.. Maaf,"]
!!
["Sa-Saudaraku..?! Saudaraku..!!"]
__ADS_1
Kultivator muda itu memanggil-manggil saudara seperguruannya. Tubuh rekannya perlahan terasa dingin. Detak jantungnya memburu bersamaan dengan rasa penuh ketakutan menghampirinya.
Malam itu membawa rasa sesak, kesedihan, dan ketakutan bagi warga di dua Kekaisaran Langit di Benua Tengah. Sangat jauh berbeda dengan suasana penuh kebahagiaan di Kekaisaran Matahari di Benua Timur.
*
*
*
Qian Kun membawa Gong Zitao, Gou Yun Fei, Rou Mei Qi, dan Ge Yu Han ke sebuah pegunungan terlarang di Benua Timur.
Pengunungan itu merupakan wilayah dari Aliran Hitam. Memiliki gunung-gunung yang terjal, terlihat runcing, dan sangat mencekam. Dia membawa keempat rekannya ke sebuah bangunan kuno di salah satu gunung.
Seluruh bangunan itu terbuat dari batu hitam, termasuk pintu gerbangnya yang setinggi delapan meter. Gong Zitao dan yang lainnya mengerutkan kening saat samar-samar mencium aroma kayu manis.
!!
Tanah yang dipijak Gong Zitao seketika bergetar. Dia tersentak dan spontan mengarahkan pandangannya ke depan. Gerbang batu itu terbuka sendiri seakan menyambut kedatangan Qian Kun dan mereka semua.
Saat masuk ke dalam bangunan, suasana terasa menekan. Qian Kun mengeluarkan sebuah Api Biru kecil yang kemudian melesat untuk menyalakan obor di ruangan ini.
"Apa tempat ini rumah lamamu?" Rou Mei Qi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia terkesan sebab isi dalam bangunan tua ini seperti aula besar dengan sebuah singgasana di depannya.
Dia pun berjalan ke salah satu sisi ruangan dan memperhatikan ornamen dinding yang mempunyai tingkat seni tinggi. Dia bahkan sangat berani mengeluarkan kata-kata bernada komentar pada Qian Kun.
"Apa kau sering membersihkannya? Ini tanpa debu sama sekali.." Rou Mei Qi tersenyum, dia bersuara dengan nada ledekan. ".. Padahal kupikir ini akan menjadi bangunan terbengkalai, mirip seperti pintu besar tadi yang penuh debu,"
"Mn, aku lumayan suka bersih-bersih."
"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Pfft, kau suka bersih-bersih? Aneh sekali," Rou Mei Qi tertawa, dia tidak sanggup menahannya lagi. Tidak pernah dia bayangkan seseorang yang begitu misterius seperti Qian Kun bisa berkata demikian.
"Tempat ini luas, apa kau tinggal sendirian?" Gong Zitao akhirnya buka suara. Dia bertanya pada Qian Kun dan langsung dijawab gumaman oleh sosok tersebut.
Gou Yun Fei, "Aku masih belum mengerti kenapa kita harus meninggalkan pertempuran melawan musuh di Partai Pasak Bumi. Apa yang kau rencanakan?"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir pemuda berpenutup mata hitam itu jelas mengarah pada Qian Kun. Dia pun berbalik dan menatap satu demi satu kultivator di hadapannya.
"Benua Tengah sudah cukup mengalami kerusakan. Dan lagi, ada Miao Gang serta Enam Pendekar Bayangan di sana, jadi serahkan saja sisanya pada mereka. Lagipula target yang sesungguhnya ada di Benua ini.."
Qian Kun mengarahkan pandangannya pada Gong Zitao sebelum kembali bicara, ".. Bukankah kau suka pada Ling Qing Zhu?"
!?
Gong Zitao tersentak, namun seketika bisa menangkap maksud dari Qian Kun. Dia pun membuka topengnya dan kemudian tersenyum tipis. Ternyata sekarang adalah waktu yang sudah lama dirinya tunggu.
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga menginginkan Xiao Shuxiang," Rou Mei Qi tidak mau ikut-ikutan membantu Gong Zitao memenuhi hasratnya jika dia sendiri tidak bisa mendapatkan apa yang dirinya inginkan.
"Kau juga akan memilikinya," Qian Kun lalu menatap ke arah Gou Yun Fe dan Ge Yu Han, ".. Bagaimana dengan kalian?"
!?
Ge Yu Han ikut membuka topengnya, dia pun bicara dengan suara yang sedikit gugup. "Aku.. hanya mengikuti Tuan Muda Gong,"
"Hmph, pelayan setia." Rou Mei Qi menyindir, dia mengibas pelan rambutnya dan kemudian melanjutkan penelusurannya terkait isi bangunan ini.
Qian Kun, "Yun Fei..?"
"Yaah.. Aku hanya ingin lihat sekuat apa pendekar di Benua ini. Rasanya pasti menyenangkan bila mereka mati di bawah kutukan milikku," Gou Yun Fei tersenyum, dia membuat Qian Kun mendengus pelan.
Gong Zitao menatap aneh ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya, dia baru memperhatikan penampilan Gou Yun Fei dan merasa agak merinding, "Kau bahkan menutup matamu dengan kain hitam itu, bagaimana bisa melihat?"
"Tentu bisa, kau saja yang tidak menyadarinya,"
Gong Zitao sedikit kesal mendengar ucapan Gou Yun Fei yang seperti mengandung ledekan untuknya. Dia pun kembali bicara dan kini membahas tentang penampilan aneh Gou Yun Fei, mereka pun berakhir berdebat satu sama lain.
Qian Kun tidak ikut-ikutan. Dia meminta keempat pendekar itu untuk duduk atau beristirahat di tempat mana pun di dalam bangunan ini. Entah mereka mendengarnya berkata demikian atau tidak, tetapi Qian Kun setidaknya sudah bersikap seperti tuan rumah yang baik.
Dia pun melangkah ke lantai bawah dari bangunan ini. Qian Kun diikuti Api Biru kecilnya yang baru saja selesai menyalakan semua penerang ruangan. Suara langkah kakinya baru terdengar saat tidak lagi teredam oleh suara perdebatan Gong Zitao dan Gou Yun Fei.
Api Biru kecil itu melayang ke atas dan ke bawah, seakan sedang mengatakan sesuatu pada sosok berjubah dan topeng rubah di sampingnya.
".. Tuan..?"
"Sekarang aku tahu apa yang ada dipikiran anak itu. Xiao Shuxiang sangat keterlaluan, tidak kusangka dia akan bertindak senekat ini."
Di balik topengnya, mata Qian Kun berkilat merah. Dia mengepalkan kedua tangannya dan seakan berusaha menahan amarah. Tugasnya hanyalah membuat Xiao Shuxiang berada di garis takdirnya. Sebuah takdir yang telah kaumnya tetapkan untuk pemuda itu.
"Aku tidak bisa melupakan kesalahan fatal yang dia lakukan lebih dari seratus tahun yang lalu, dan sekarang dia ingin melakukannya lagi. Shuxiang benar-benar sudah menjadi pembangkang,"
Langkah kaki Qian Kun yang menginjak anak tangga makin terdengar jelas. Api Biru kecil yang melayang di sampingnya nampak naik-turun dengan pelan dan seakan mengangguk setuju.
__ADS_1
Api Biru kecil yang bersama Qian Kun sebenarnya adalah makhluk yang selama ini mendampingi Xiao Shuxiang. Jumlah keseluruhan mereka ada sepuluh dan nampak sangat patuh pada Koki Alkemis itu, walau faktanya mereka hanya mematuhi perintah dari Qian Kun.
***