XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
141 - Kenakalan [Revisi]


__ADS_3

Selama lima hari, sudah ada tiga belas urat di dalam tubuh Dai Chan yang berhasil dikembalikan oleh Xiao Shuxiang ke tempatnya semula.


Rasa sakit ketika proses pengobatan sudah begitu akrab dengan Dai Chan. Dia sering menyesal dan seperti patah semangat ketika merasakan sakit luar biasa di tubuhnya.


Dai Chan harus bisa menahan tangisan dan juga teriakannya Karena jika tidak, maka rasa sakitnya akan semakin parah. Sayangnya, setiap kali proses pengobatan----Dia pasti akan berteriak.


Terkadang, ingatan tentang dirinya yang menyakiti orang lain sering terbayang ketika proses pengobatan. Mengingat betapa kasar dan kejam perlakuannya selama ini, membuat Dai Chan mengutuk dirinya sendiri yang memang pantas mendapat hukuman dari langit.


"Kakak Xiao... Kau tidak perlu lagi melakukannya. Lagipula saat aku sembuh nanti, semuanya akan sama saja. Mereka .... tidak akan pernah menerimaku..." lirihnya.


Dai Chan menyadari. Andai ayahnya bukan pendiri sekte, pasti dia sudah banyak mendengar suara hinaan dan sumpahan dari orang-orang yang pernah disakitinya.


"... Aku sudah terlalu banyak berbuat kejahatan. Dosa yang tidak terampuni. Kau pergilah Kakak Xiao, jangan habiskan waktumu .... Menyembukanku."


Tatapan mata Dai Chan seperti orang yang telah kehilangan semangat hidup, dia sudah tidak kuat menahan sakit lagi. Lebih daripada itu... Hati terdalamnya mengatakan sekali pun dia sembuh, semua orang akan tetap membencinya.


Xiao Shuxiang menarik napas dan mengembuskannya perlahan, dia lalu menatap Dai Chan, "Bagus jika kau merasa bersalah, tapi tidak seharusnya kau kehilangan semangat begitu. Tidak ada yang berubah jika kau menyerah untuk hidup, semua orang akan tetap membenci dirimu. Kau masih muda, jadi belum terlambat memulai awal yang baru. Setelah pengobatan ini selesai, cobalah memperbaiki sikapmu pada orang lain,"


"Tapi... Aku tidak tahu cara memulainya..." Dai Chan menatap Xiao Shuxiang dari ekor matanya, anak laki-laki yang lebih tua dari dirinya ini----Entah kenapa membuatnya merasa lebih nyaman dibanding saat bersama ayah dan kakaknya sendiri.


Sikap ayah dan kakaknya terlalu kaku hingga dirinya selalu sulit untuk bicara pada mereka. Baru setelah dirinya cacat, kakak dan ayahnya bisa sedikit melembut. Tapi pada akhirnya tetap membuatnya kurang nyaman.


"Kau bisa memulainya dengan 'maaf'. Ucapkan dengan tulus pada orang-orang yang telah kau sakiti, setelah itu tugasmu selesai. Entah maafmu diterima atau tidak, semua tergantung pada mereka."


Xiao Shuxiang tidak berpikir lebih dulu sebelum mengatakannya, semuanya seakan keluar begitu saja dari mulutnya. Dia pun sempat terdiam beberapa lama dan merenungkan ucapannya barusan.


"Tapi aku takut, Kakak Xiao..." ucapan Dai Chan menyadarkan Xiao Shuxiang kembali.


Sambil mengusap tengkuknya Xiao Shuxiang meminta Dai Chan untuk tidak khawatir atau pun memikirkan hal yang lain, "Kita bisa membicarakannya lagi setelah pengobatan ini selesai."


Setelah melihat anggukan Dai Chan, Xiao Shuxiang kembali memulai pengobatannya lagi. Hari demi hari dia lalui di Sekte Akar Teratai, semua murid dan orang di luar sekte mulai mengenali dirinya.


Xiao Shuxiang sering berjalan-jalan di luar Sekte Akar Teratai, dia mengunjungi salah satu tempat penempa pedang untuk mengasah kemampuannya.


Keakrabannya dengan murid-murid Sekte Akar Teratai membuatnya bisa tahu banyak informasi, termasuk tempat menempa pedang dan kediaman tabib terkenal di lembah ini.


Tabib tersebut bukanlah kultivator, dia hanya wanita biasa berusia 96 tahun dengan rambut putih panjang, sedikit bungkuk, wajah yang sudah keriput dengan bau obat-obatan bercampur tanah pemakaman di tubuhnya.


Satu hal yang membuat Xiao Shuxiang tercengang adalah tabib wanita tua tersebut masih bisa bebas berjalan tanpa bantuan tongkat, meskipun tubuhnya tetap membungkuk.


Tempat tinggal para murid Sekte Akar Teratai sebenarnya tidak bisa dianggap tenang. Dalam seminggu, penduduk yang tinggal di luar sekte sudah tiga kali di serang oleh Demonic Beast berwujud Beruang berbulu landak berusia 500 tahun.


Ketidak-hadiran Grand Elder dan Dai Chen awalnya menjadi masalah bagi murid-murid Sekte Akar Teratai dan kekhawatiran para warga. Namun mereka akhirnya bisa bernapas lega karena mendapat bantuan dari Xiao Shuxiang.


Caranya bertarung yang begitu gesit dan terkesan tidak sayang nyawa disertai dengan senyuman lebar di wajahnya, entah mengapa membuat semangat murid-murid Sekte Akar Teratai memuncak.


Selama ini mereka tidak pernah bertarung dengan senyuman yang terus mengembang di wajah, melihat Xiao Shuxiang membuat rasa kekaguman tumbuh di dalam hati mereka.


Sayangnya, kekaguman tersebut tidak berlangsung lama sampai mereka melihat Xiao Shuxiang menguliti tubuh beruang hidup-hidup.


Walau beruang ini memiliki kulit berduri seperti landak, tetapi dia tidak bisa melesatkan duri tersebut untuk menyerang lawan. Dirinya hanya mampu mengeraskan duri di tubuhnya kemudian berguling ke arah lawan.

__ADS_1


Bagi Xiao Shuxiang, melawan seekor beruang berusia 500 tahun bukanlah masalah besar. Dia pernah bertarung dengan Beruang Berbulu Landak di kehidupan pertamanya. Bisa dibilang, dia cukup akrab dengan Demonic Beast yang satu ini.


Cara pengulitian Xiao Shuxiang bukanlah main-main. Setelah berhasil melumpuhkan beruang tersebut, dia mulai mencabuti satu persatu durinya.


Beruang tersebut mengerang begitu memilukan, dia sudah terluka parah dan penderitaannya malah semakin ditambah. Xiao Shuxiang sama sekali tidak kasihan dengan erangannya, malah tertawa senang dan begitu semangat mencabuti duri-durinya kembali.


"Yaah, setidaknya kau bisa sedikit menghiburku.." Xiao Shuxiang setengah berbisik, dia kembali mencabuti duri beruang dengan begitu pelan hingga rasa sakitnya bertambah berkali-kali.


Setelah puas mencabuti duri beruang, Xiao Shuxiang mulai menguliti kulitnya. Dia membuat warga yang menyaksikan merinding ketakutan, para murid senior Sekte Akar Teratai segera menghentikan dirinya sebelum benar-benar memperlihatkan tontonan yang mengerikan.


"Berhentilah, Saudara Xiao. Itu sudah cukup,"


"Jangan halangi aku! Tu-tunggu! Lepaskan! Aku belum selesai bersenang-senang! He-Hei..!" Xiao Shuxiang memberontak ketika dirinya dipisahkan dengan tubuh beruang yang belum selesai dikulitinya, dia hampir mencelakai murid Sekte Akar Teratai andai salah satu dari mereka tidak menyeru bahwa Dai Chan mencari dirinya.


Xiao Shuxiang akhirnya pasrah dibopong bak karung beras, sepanjang perjalanan dirinya terus menggerutu. Sampai sebuah seringai muncul di wajah Xiao Shuxiang, "Benar juga, masih ada Dai Chan yang bisa menghiburku."


!


Dai Chan yang terbaring di tempat tidurnya entah kenapa merasa gelisah, seperti ada sesuatu yang berbahaya sedang menargetkan dirinya.


Aaaaakh...!


Malam harinya, rasa sakit ketika pengobatan yang dilakukan Xiao Shuxiang bertambah dua kali lipat. Dai Chan merasakan uratnya dipelintir beberapa kali sebelum di tempatkan pada jalur yang sebenarnya.


Xiao Shuxiang terlalu nakal, sudah tahu Dai Chan hampir menyerah pada hidupnya tetapi dia malah menambah sakit yang diderita Dai Chan sebagai penghibur dirinya sendiri..!


Andai Dai Chen mendengar suara kesakitan adiknya karena ulah Xiao Shuxiang, dia pasti akan sangat marah. Sayangnya, Dai Chen baru kembali setelah dua puluh hari.


Itu tawa Dai Chan..!


Pintu digeser pelan nyaris tidak bersuara, dia bisa melihat adiknya bersandar di tempat tidur sambil tertawa begitu riang dan sesekali menanggapi cerita orang yang duduk pada sebuah kursi di dekatnya.


Dai Chen bisa melihat orang yang telah membuat wajah adiknya seperti hidup kembali ternyata adalah Xiao Shuxiang.


Xiao Shuxiang menceritakan pengalaman selama kehidupan keduanya pada Dai Chan, mulai dari para keledai yang takut padanya, dia yang hampir ditampar oleh ekor keledai, sampai pertemuan pertamanya dengan anak-anak aneh dari Sekte Kupu-Kupu.


Dai Chan tertarik dengan kepribadian anak-anak Sekte Kupu-Kupu, apalagi Xiao Shuxiang menceritakan secara gamblang kebiasaan buruk mereka semua.


"Kakak Xiao, aku ingin mendengar cerita tentang dirimu. Kau hanya menceritakan sedikit tadi,"


"Aku..? Tapi aku tidak akan menceritakan kebiasaan burukku padamu,"


"Kakak Xiao curang. Kau menceritakan kebiasaan buruk saudara seperguruanmu, tetapi kau sendiri tidak mau mengatakan kebiasaan burukmu. Sejak tadi aku bahkan tidak mendengar cerita tentang kebaikan mereka. Kakak Xiao, kau ini sebenarnya membenci saudara seperguruanmu, yah?"


Xiao Shuxiang menaikkan sebelah alisnya, dia mengeleng sambil berkata bahwa dia tidak membenci saudara seperguruannya. Tepat saat dirinya ingin bercerita kembali.. Xiao Shuxiang menyadari kedatangan Dai Chen.


"Kakak?! Kau sudah pulang?!" Dai Chan juga baru tersadar, dia begitu senang saat melihat kakaknya kembali.


Dai Chen menghampiri adiknya, dia pun duduk di tepi tempat tidur dan tersenyum lembut ke arahnya. "Kakak pulang menjengukmu, kau sudah terlihat lebih baik sekarang."


"Iya, meskipun tubuhku masih sakit. Tapi aku akhirnya bisa menggerakkan kedua tanganku dengan lebih baik."

__ADS_1


Dai Chen tidak tahan untuk memeluk adiknya, namun dia langsung dihentikan oleh Xiao Shuxiang sambil berkata bahwa retakan pada tulang Dai Chan belum sepenuhnya dipulihkan.


"Kalian bicaralah dulu..." Xiao Shuxiang berdiri dan kemudian berjalan keluar meninggalkan Dai bersaudara.


Ketika berada di luar bangunan Grand Elder, Xiao Shuxiang langsung melompat ke atas bangunan dan memanjat pohon berbunga lotus.


Dia memetik satu yang berbuah dan mulai duduk bersila dengan punggung disandarkan pada batang pohon. Dia penasaran dengan rasa teratai ini.


Ketika mencoba satu, terdengar suara seperti Xiao Shuxiang sedang memakan kerikil kecil. Biji teratai ini begitu keras namun dia tetap mengunyahnya.


Cukup lama dia duduk di dahan pohon, sudah ada lima buah teratai yang dimakannya dengan biji keras. Xiao Shuxiang lalu melihat Dai Chen keluar dari gedung Grand Elder, segera dia melemparkan buah teratai yang telah kosong ke arah Dai Chen.


Dai Chen secara spontan menangkap yang dilempar Xiao Shuxiang, dia langsung melompat untuk ikut naik ke tempat anak laki-laki itu berada.


"Sudah selesai dengan adikmu..?" Xiao Shuxiang memetik buah teratai lain dan kembali memakannya.


"Itu bukan teratai biasa, kau tidak akan sanggup mengunyahnya."


!


Xiao Shuxiang tanpa mempedulikan peringatan Dai Chen kembali memakan biji teratai tersebut, suara giginya yang seperti menguyah kerikil membuat Dai Chen bergidik.


"Apa kau tuli, hah? Itu Teratai Giok, kaya akan manfaat tapi hanya bisa dikonsumsi oleh Grand Master Tahap Bumi dan di atasnya. Gigimu benar-benar akan rontok jika-"


"Dai Chen, aku sudah memakannya banyak tadi. Dan kau lihat? Gigiku masih utuh," Xiao Shuxiang malah semakin asyik mengunyah biji teratai.


Dai Chen, "Aku jadi bertanya-tanya tentang praktikmu sekarang. Aku membaca praktikmu yang saat ini berada di Forging Qi tingkat 8, tapi bagaimana bisa kau mengunyah biji teratai seperti itu. Kau jangan memakan banyak, tubuhmu bisa meledak jika kau tidak mendengarku..!" Dai Chen berusaha merampas buah teratai yang dipegang Xiao Shuxiang, namun tangannya segera ditepis.


"Dai Chen, kultivator biasa tidak sanggup memakan lebih dari satu biji Teratai Giok, tapi tidak untukku. Sebaiknya jangan mencoba meniruku dengan praktikmu sekarang, tunggu sampai kau berada di praktik yang kau sebut tadi baru meniru Xiao Shuxiang."


"Aku tidak berencana menirumu, hentikan kunyahanmu itu, kau membuatku tidak nyaman."


Xiao Shuxiang akhirnya berhenti memakan makan biji Teratai Giok, dia lalu meminta Dai Chen melaporkan keadaan sektenya.


"Bagaimana kondisi sekteku?"


Dai Chen menghela napas, "Sekte Kupu-Kupu berada dalam kondisi stabil. Aku cukup kagum dengan sektemu yang walau terlihat sederhana tetapi mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki sekte lain. Saudara seperguruanmu begitu rukun dan juga kuat. Ada dua orang yang mempunyai hubungan baik dengan Asosiasi Bangau Merak dan hubungan kalian juga baik dengan Grand Elder masa depan Sekte Pedang Langit,"


Dai Chen tidak menyembunyikan apapun pada Xiao Shuxiang, dia mengatakan banyak hal tentang keadaan sekte bocah tersebut beserta bahaya yang mengancamnya.


"... Satu-satunya kekurangan sektemu adalah tempat berdirinya. Kau butuh wilayah sendiri,"


"Aku tahu itu. Pasti Lan Gaozu datang ke sekteku lagi, kan?"


Dai Chen mengangguk. "Benar. Sejak aku berada di Sekte Kupu-Kupu, sudah dua kali Lan Gaozu datang dan mendesak kakekmu untuk segera meninggalkan Gunung Induk. Raut wajah Lan Gaozu terlihat tidak baik saat mengetahui bahwa kakekmu didukung oleh Patriarch Pertama dan Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit. Tapi aku rasa, dia tidak akan berhenti sampai sektemu pergi dari wilayahnya."


"Kau beritahu Kakekku untuk tetap tinggal dan jangan meninggalkan Gunung Induk sampai aku kembali. Minta mereka semua berwajah tebal menghadapi Lan Gaozu. Aku ingin tahu, sampai berapa lama dia akan tetap bersikukuh untuk mengusir kami."


Xiao Shuxiang melempar beberapa biji teratai yang telah dikupas ke dalam mulutnya, suara saat giginya mengunyah membuat telinga Dai Chen merasa ngilu.


***

__ADS_1


__ADS_2