
Sejak Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu melihat kejadian mengerikan itu----mereka menjadi diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan atau pun mengeluh kelelahan karena terus merayap. Mereka bertiga seakan larut dalam pikiran masing-masing.
Yang Shu agak khawatir dengan kondisi ketiga muridnya. Pasalnya untuk orang yang tidak bisa diam seperti Xiao Lu dan Jing Mi, tiba-tiba diam seperti ini----tentu membuatnya tidak tenang.
"Apa kau tidak apa-apa, Saudara Jing?" Xiao Shuxiang juga merasa agak terganggu sebab dia tidak mendengar keluh kesal Jing Mi yang biasanya. "Orang yang cerewet kemudian menjadi diam, membuatku sedikit tidak nyaman..."
Yang Shu akhirnya meminta keempat muridnya untuk berhenti dan segera berdiri.
Yang Shu memberi tahu bahwa mereka sudah berhasil keluar dari hutan, mendengar hal itu membuat Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu mengembuskan napas lega.
Yang Shu kemudian berjalan diikuti oleh keempat muridnya. Tidak jauh di depan mereka ada dua buah batu besar, yang mengapit sebuah jalan setapak.
"Ayo ke sana," ajak Yang Shu kepada keempat muridnya.
Saat lewat di antara kedua batu besar tersebut, Xiao Lu begitu kagum sebab batu yang diihatnya tadi jauh lebih kecil daripada yang ada di depannya.
"I-ini batu yang sangat besar!!" Jing Mi menyentuh dan mengelus-elus salah satu batu. Dibandingkan dengan bukit berbatu yang pernah dia lewati... Batu inilah yang paling besar dari semua batu yang pernah dia lihat.
"Kita tidak di sini untuk mengagumi batu, ayo cepat jalan!" meskipun Xiao Lu kagum, namun dia tidak berlebihan seperti Jing Mi. Bahkan Jing Mi memeluk batu besar tersebut sambil beberapa kali menciumnya.
"Saudara Jing, sudahlah... Ayo jalan." Qi Xuan dan Xiao Shuxiang menarik Jing Mi untuk segera menyusul Yang Shu dan Xiao Lu.
"Sampai Jumpa Batu Besar Yang Cantik!" Jing Mi melambaikan tangannya dengan penuh semangat.
"Haaaih... Kurasa karena terlalu lama di dalam hutan, Saudara Jing jadi seperti ini..." Xiao Shuxiang dan Qi Xuan menggeleng pelan sambil memijat kening mereka.
*
*
*
"Waaah... Cantiknyaa!!" Xiao Lu melihat bangunan dengan lampion berwarna merah dan putih menghiasi rumah-rumah serta bangunan yang ada di depannya.
Beberapa penduduk bahkan terlihat sedang memasang lampion di depan rumah mereka. Xiao Lu dan Jing Mi terlihat berbinar-binar menyaksikan pemandangan indah di depannya.
Mereka tidak menyadari tatapan aneh para penduduk desa saat melihat tampilan mereka yang seperti manusia daun.
"Apa Ini Yang Dinamakan Kota, Guru?!" Jing Mi begitu semangat.
Yang Shu tersenyum sambil mengusap pelan kepala muridnya, "Ini desa, sepertinya sedang ada perayaan. Sebaiknya kita mencari tempat untuk menginap."
Yang Shu dan keempat muridnya mulai berjalan sambil melihat-lihat keramaian dan keindahan di desa ini.
Qi Xuan sedikit terganggu dengan tatapan aneh para penduduk desa, dia lalu memberi tahu Yang Shu. "Tetua? Kenapa mereka semua menatap kita seperti itu...?"
Xiao Lu, Jing Mi dan Xiao Shuxiang mendengar ucapan Qi Xuan. Mereka akhirnya menyadari bahwa alasan para penduduk desa memberi tatapan aneh adalah karena penampilan mereka saat ini yang sedang ditutupi oleh daun.
Secara bersamaan ketiganya menepuk pelan dahi mereka. "Memalukan... Aku bahkan tidak menyadarinya sejak tadi..." Xiao Lu melepaskan dedaunan yang tertempel di wajah dan juga pakaiannya.
__ADS_1
Butuh waktu cukup lama sampai Yang Shu dan keempat muridnya melepaskan semua daun yang ada di tubuh mereka. Saat selesai, Yang Shu dan keempat muridnya melanjutkan kembali mencari penginapan.
Tempat yang didatangi oleh Yang Shu dan keempat muridnya adalah sebuah bangunan bertingkat dua, terlihat cukup luas dan begitu indah dengan hiasan lampion.
Bagi Xiao Lu, Qi Xuan dan Jing Mi----bangunan yang mereka lihat sangat besar dan juga luas. Namun bagi Yang Shu dan Xiao Shuxiang, ini hanyalah bangunan sederhana dan biasa-biasa saja.
Yang Shu, "Kalian berempat tunggu di depan bangunan ini terlebih dahulu. Kakek akan pergi menjual demonic core sekaligus pergi untuk melaporkan sesuatu. Kalian jangan ke mana-mana, Kakek hanya pergi sebentar."
Xiao Shuxiang tahu bahwa Yang Shu akan melaporkan tentang keenam mayat yang dilihat mereka di dalam hutan. Hanya saja Yang Shu tidak menjelaskannya kepada mereka karena merasa khawatir, sebab Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu bisa saja mengingat kejadian mengerikan itu lagi.
Jujur, Yang Shu merasa lega sebab saat melihat keindahan desa... murid-muridnya seakan melupakan ketakutan mereka.
Xiao Lu, Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Shuxiang mengangguk meng-iyakan ucapan Yang Shu. Mereka berempat pun menunggu Yang Shu sambil melihat beberapa orang masuk ke dalam bangunan.
"Aku sangat ingin mandi..." Xiao Lu mengusap pipinya yang terasa kaku dan sedikit lengket karena getah pohon saat melakukan penyamaran.
Kruuuuuuk
Tiba-tiba saja perut Jing Mi mengeluarkan bunyi yang sangat keras, bahkan beberapa orang yang berjalan di depan mereka seketika berhenti dan menoleh ke arah Jing Mi.
"Aku mencium bau yang enak, jadi perutku berbunyi..." Jing Mi mengusap-usap perutnya.
kruuuuk kruuuuuuk
Xiao Lu, Qi Xuan dan Xiao Shuxiang tercengang saat mendengar bunyi perut Jing Mi untuk yang kedua kalinya.
"Saudara Jing, kau seperti anak yang tidak makan selama berbulan-bulan..." Qi Xuan menatap tak percaya.
kruuuk kruuooerk kruuuuuuuuuuuk
Untuk ketiga kalinya perut Jing Mi kembali berbunyi dan membuat Xiao Shuxiang terlonjat. "Luar biasa...! Mereka seperti sedang berpesta di dalam sana,"
"Bukan berpesta, Saudara Xiao! Tapi melakukan pemberontakan, ingin diisi...!" Jing Mi mengusap pelan perutnya sambil meminta agar perutnya bersabar.
kruuuuuuk kruuuuuooek
Salah satu orang yang melihat empat orang anak berdiri dengan salah satunya mengusap perut, menjadi kasihan. Dia kemudian menghampiri keempatnya dan menepuk pundak anak yang memegangi perutnya itu.
Xiao Lu, Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Shuxiang terlihat kebingungan saat seorang pria yang memakai pakaian berwarna hijau menghampiri dan memberikan mereka masing-masih dua koin perak.
"Kalian bisa membeli Baozi dengan uang itu, Kakak tidak bisa memberikan lebih untuk kalian... Maaf." ucap pria tersebut sambil menepuk pelan kepala Xiao Shuxiang, Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu.
Pria itu kemudian berjalan meninggalkan bangunan, diikuti oleh dua orang anak yang berpakaian sama dengannya.
Jing Mi, Qi Xuan, Xiao Shuxiang dan Xiao Lu membuka mulut mereka lebar-lebar karena tercengang dengan apa yang dilakukan oleh pria tadi kepada mereka.
Xiao Shuxiang melihat dua koin perak di tangan kanannya, sedetik berikutnya dia menatap pria itu yang sudah pergi menjauh. Pria dan dua orang anak yang mengikutinya membawa pedang, mereka adalah kultivator.
"Be-berani Sekali Dia..!.! Berani Sekali Orang Itu Menganggap Xiao Shuxiang Ini Sebagai Pengemis!?" Xiao Shuxiang terlihat marah sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Berbeda dengannya----Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Lu merasa kebingungan saat melihat dua keping perak di tangan mereka.
"Kenapa orang yang tadi memberi kita uang? Apa kau mengenalnya, Saudara Jing?" Qi Xuan merasa bahwa Jing Mi dan orang itu saling mengenal, sebab anak yang ditepuk pertama kali oleh pria tersebut adalah Jing Mi.
"Aku sama sekali tidak mengenalnya,"
Jing Mi juga merasa kebingungan.
Saat sedang keheranan dengan dua keping koin di tangan mereka... Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu kembali tersentak saat orang yang sedang berjalan di depan mereka juga memberikan dua keping perak di tangan kanan ketiganya.
"Ini... maksudnya apa...?" Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu saling berpandangan.
Xiao Shuxiang yang masih marah pada pria berpakaian hijau tadi, tidak menyadari bahwa setiap orang yang berjalan di depannya saat ini memberikan kepingan perak kepada teman-temannya.
Dia baru menyadarinya saat Jing Mi yang ada didekatnya meminta untuk menyimpan koin peraknya sebagian.
Xiao Shuxiang sangat terkejut, di tangan Jing Mi terdapat lima belas koin perak, begitu pun dengan Qi Xuan dan Xiao Lu.
"A-A-Apa ya-yang kalian la-lakukan?!" Xiao Shuxiang kesulitan berkata-kata, dia terlalu terkejut melihat apa yang ada di depannya.
"Kami juga tidak tahu... Tiba-tiba saja orang yang berjalan ini memberikan kami koin perak..." Qi Xuan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku rasa mereka suka mendengar suara perut Saudara Jing,"
kruuuuuuk kruuuk
"Aku juga merasa begitu...!" Jing Mi terlihat kagum sambil mengelus-elus perutnya yang sedang berbunyi, Xiao Lu juga terlihat sama kagumnya dengan Jing Mi.
"Perutku juga berbunyi, tapi tidak sekeras Saudara Jing..." Xiao Lu meminta Qi Xuan untuk mendengarkan suara yang dihasilkan perutnya.
kruukuk ciitkruuk
"Suaranya lucu, Kakak Lu Yang Cantik."
"Benar, kan?" Xiao Lu tersenyum senang.
Xiao Shuxiang memijat keningnya saat melihat tingkah ketiga teman-teman seperguruannya, "Haiih... Dasar anak-anak polos...! Mereka ini manusia apa sih...?"
Saat Xiao Lu sedang mendengarkan bunyi perut Jing Mi----terlihat Yang Shu berjalan ke arah mereka.
Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu langsung berlari menghampiri Yang Shu. Mereka menceritakan mengenai suara perut Jing Mi yang membuat orang-orang memberikan keping perak kepada mereka.
Yang Shu sangat terkejut, dia bahkan tercengang saat ketiga muridnya memperlihatkan kepingan perak yang mereka dapatkan.
"Xiao'Er hanya dapat dua saja, dia tidak memperlihatkan tangannya seperti ini..." Xiao Lu memperlihatkan telapak tangannya kepada Yang Shu.
"Kalian... Tidak sia-sia Kakek meminta kalian menunggu, kerja yang bagus! Ha ha ha." Yang Shu tertawa sambil mengusap pelan kepala murid-muridnya.
Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Lu terlihat gembira saat mendapat pujian dari Yang Shu. Namun berbeda dengan Xiao Shuxiang.
Xiao Shuxiang hampir jantungan saat mendengar ucapan Yang Shu. Dia bahkan menjerit keras di dalam hati, "Dasar Tua Bangka...! Kenapa Kau Sampai Bisa Melakukan Hal Itu Kepada Murid-Muridmu?!"
__ADS_1
Yang Shu kemudian mengajak keempat muridnya untuk memasuki bangunan tersebut.
***