
"Bocah, apa kau tidak bisa berhenti memakan itu? Kau membuatku terganggu." Dai Chen menutup kedua telinganya, dia belum menyelesaikan ceritanya dan Xiao Shuxiang kembali berulah lagi.
"Teratai Giok ini sangat enak, rasanya mirip dengan Teratai Bulan tapi jauh lebih manis."
Dai Chen mendengus. "Hmph, jangan samakan keduanya. Teratai Bulan adalah buah yang berasal dari Alam Dewa, sementara Teratai Giok disebut juga Teratai Iblis. Ada cerita mengerikan yang menyelimuti pohon teratai ini..."
Dai Chen menjelaskan, "Akar dari Pohon Teratai Iblis yang ada di tanah dapat menjangkau seluruh lembah. Makanan utamanya adalah bangkai hewan termasuk mayat manusia. Hanya saja memang, aroma bangkai dan mayat tersebut sama sekali tidak tercium pada bunga Teratai ini."
Dai Chen melanjutkan, "Ketika mengunyah biji Teratai Iblis, awalnya seseorang akan mendengar suara kerikil yang dikunyah. Namun lama-kelamaan akan terdengar seperti tulang-belulang yang diremukkan."
Xiao Shuxiang, "Pantas saja aku merasa tidak asing dengan rasanya. Tapi ini lebih mirip dengan manusia hidup daripada mayat atau bangkai binatang."
"Memang kau pernah makan daging manusia?"
!!
Xiao Shuxiang tersentak, tangan kanannya yang memegang sebiji teratai terhenti di depan mulutnya. Dia lalu menatap Dai Chen sambil berkedip beberapa kali.
"Aku tadi mengatakan apa..?" Xiao Shuxiang merasa sudah mengatakan kata terlarang pada Dai Chen.
"Kau mengatakan bahwa rasanya lebih mirip manusia hidup daripada mayat dan bangkai hewan."
Xiao Shuxiang kembali berkedip, dia kemudian tertawa canggung dan kembali mengunyah biji Teratai Giok lagi.
"Jadi apa jawabanmu, kau pernah memakan daging manusia?" Dai Chen menatap Xiao Shuxiang dengan tatapan menyelidik, dia bisa melihat wajah anak laki-laki berusia 14 tahun di sampingnya sedikit berubah.
"Te-tentu saja tidak pernah, ka-kau jangan menatapku dengan curiga begitu. Membuat risih, tahu!?"
"Kau .... tidak bohong, kan?" Dai Chen menyipitkan matanya, dia merasa ada yang aneh dengan Xiao Shuxiang.
"Aku sama sekali tidak berbohong. Meski dik ehidupan pertama Xiao Shuxiang ini, aku selalu ditawari memakan itu.. Tetap saja aku menolak."
Xiao Shuxiang melirik sedikit Dai Chen. Merasa masih dicurigai, dia akhirnya mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.
"Ka-kau pasti lelah setelah bepergian, bukan? Sebaiknya kau istirahat, nanti kita bicara lagi. Umm.. Aku punya urusan lain. Sampai jumpa!"
!!
Dai Chen tersentak saat tiba-tiba saja Xiao Shuxiang melesat pergi meninggalkannya. Dia mengusap-usap dagunya sambil memikirkan keanehan yang dilihatnya tadi.
"Entah kenapa.. Tapi aku curiga padanya.."
Di tempat lain, Xiao Shuxiang terus melompat ke atap setiap rumah penduduk. Merasa bahwa Dai Chen tidak mengerjarnya.. Dia pun berhenti.
"Huuft, dasar mulut jahat." Xiao Shuxiang memukul pelan mulutnya dengan tiga jari, dia hampir saja berada dalam masalah.
Xiao Shuxiang pergi ke tempat dia biasa menempa pedang di lembah ini. Dia banyak belajar teknik menempa sekaligus memperdalam pengetahuan yang didapatnya dari Duan De.
Xiao Shuxiang baru pulang untuk mengobati Dai Chan saat malam hari. Dia mula-mula membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar Dai Chan.
Malam ini, hanya dua urat yang berhasil diletakkan pada posisi semula sebab Dai Chan meminta Xiao Shuxiang untuk berhenti.
Dai Chen merasakan tubuhnya gemetar, dia seperti merasakan rasa sakit yang dialami adiknya saat pengobatan. "Shuxiang, sebaiknya kau membuat obat yang bisa mengurangi rasa sakit adikku."
"Tidak bisa. Adikmu sudah lama terbaring tanpa bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, rasa sakit akan membuatnya lebih cepat berjalan..."
Selain alasan tersebut, Xiao Shuxiang juga punya alasan pribadi untuk tidak membuatkan pil pengurang rasa sakit pada Dai Chan. Tentu saja ini berhubungan dengan hiburannya.
Setelah Dai Chan tertidur, Xiao Shuxiang segera keluar kamar disusul oleh Dai Chen. Keduanya mencari tempat nyaman untuk kembali berbincang-bincang.
Kali ini lokasinya ada di dalam kamar Dai Chen, dia menyerahkan dua pucuk surat pada Xiao Shuxiang dan mengatakan bahwa satu surat berasal dari Yang Shu, lalu satunya lagi ditulis oleh teman-temannya.
__ADS_1
Xiao Shuxiang lebih dulu membaca surat dari teman-temannya, dia tersentak saat melihat tulisan pada surat tersebut.
"Hm! Ini bukannya tulisan Lan Guan Zhi?!"
"Hah, kau bisa mengenali tulisan Grand Elder masa depan itu hanya dalam sekali lihat saja, sungguh mengejutkan. Sebenarnya apa hubungan kalian berdua?"
Xiao Shuxiang tanpa menatap Dai Chen mengatakan bahwa Lan Guan Zhi adalah salah satu temannya, "... Memang kau ingin aku memiliki hubungan apa dengannya, hm?" Xiao Shuxiang tersenyum, menaikkan sebelah alisnya dan menatap Dai Chen.
Tubuh Dai Chen seketika merinding, dia langsung menegur Xiao Shuxiang. "Kau jangan membuat tuan muda Lan Guan Zhi berada di jalan yang menyimpang. Kau masih bocah, berani berpikiran seperti itu sangat tidak tahu malu!"
!
"Hei, apa aku mengatakan akan membuat Lan Zhi berada di jalan menyimpang? Aku tidak memikirkan apa pun tentang itu, tapi kau yang melakukannya." Xiao Shuxiang bisa melihat raut wajah Dai Chen berubah, dia berusaha menahan tawa.
"Tapi ucapanmu tadi terlalu ambigu dan ekspresi wajahmu seperti kau membuat orang lain berpikiran ke arah 'itu'."
"Dai Chen, otakmu sudah banyak terkontaminasi. Sebaiknya kau segera menikah sebelum semuanya terlambat."
"Kau yang melakukannya, dasar bocah!"
Xiao Shuxiang malah tertawa, dia tidak percaya bisa membuat Dai Chen kehilangan ketenangannya. Sepertinya pria berusia 20 tahun ini bukanlah orang yang benar-benar kaku.
Dai Chen merasa dipermainkan, dia mengambil napas dalam-dalam dan mulai menenangkan dirinya. Tawa Xiao Shuxiang mereda, dia kembali membaca surat dari teman-temannya.
Hal menarik yang dia temukan adalah ajakan pertemuan dari pemilik Asosiasi Bangau Merak kepadanya. Pertemuan tersebut bertepatan dengan acara pelelangan di salah satu cabang Asosiasi.
"... Enam bulan lagi? Untuk apa pemilik Asosiasi Bangau Merak ingin bertemu denganku?"
Dai Chen mengatakan, "Kau adalah rekan bisnis Asosiasi, tentu saja kedua belah pihak harus bertemu agar mereka tahu siapa orang yang mengikat bisnis dengan mereka. Akan sangat tidak sopan jika hanya menggunakan orang lain sebagai wakilmu. Asosiasi mereka bukan sembarangan. Kau bisa mengundang masalah besar jika membuat mereka marah,"
"Baiklah, terserah kau saja. Di sini juga ditulis... Aah! Patriarch Ketiga mengamuk karena minumannya habis, dia butuh lagi. Selanjutnya... Hm? Lan Xiao sakit perut entah makan apa..."
Banyak hal sepele yang ditulis oleh Lan Guan Zhi untuknya, Xiao Shuxiang bisa mengambil kesimpulan bahwa teman-temannyalah yang mengarahkan Lan Guan Zhi menulis itu semua.
Dai Chen sedikit tercengang saat melihat tulisan Xiao Shuxiang yang tidak sedap dipandang mata, bahkan dia merasa kasihan dengan saudara seperguruan anak laki-laki ini saat membaca balasan dari surat mereka nanti.
"... Kalian jangan menyuruh Lan Zhi menulis apa pun yang kalian katakan. Cobalah untuk menulis sendiri, jangan merepotkannya! Dasar bocah!" Xiao Shuxiang memberi banyak penekanan dalam setiap tulisannya, dia terlihat begitu serius.
Dai Chen terlihat pucat saat memperhatikan tulisan Xiao Shuxiang yang lama-kelamaan seperti cacing dan semut kepanasan, "Dia butuh diajari menulis..."
Xiao Shuxiang akhirnya selesai membalas satu surat, dia lalu membaca surat dari Yang Shu.
Cukup mengagetkan. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa ada tawaran dari Lan Gaozu agar murid Sekte Kupu-Kupu bersedia membayar sewa tempat tinggal mereka dengan cara menjalankan misi dari Sekte Pedang Langit.
Tawaran ini telah dirapatkan sebelumnya oleh Yang Shu, Grand Elder Sekte Bambu Perak dan ayah Dai Chen. Di dalam surat itu juga tertulis bahwa Kelima Patriarch dan Grand Elder Sekte Pedang Langit ikut serta dalam rapat.
"... Mau bagaimana lagi, Kakek sudah menyetujuinya. Aku tentu tidak keberatan." Xiao Shuxiang menyerahkan surat balasannya kepada Dai Chen, "Ambillah. Aku minta bantuanmu menyerahkan surat ini. Dan juga... Kau tetap harus berhati-hati dengan serangan yang mungkin saja datang tiba-tiba ke Sekte Kupu-Kupu. Aku ingin kau mencari informasi tentang Scarlet Bayangan dan Sekte Serigala Iblis, karena keduanya itu mengincar sekteku. Sekarang pergilah, aku mau istirahat."
"Tapi ini kamarku, kau yang harusnya pergi."
!
Xiao Shuxiang sedikit tersentak, dia benar-benar lupa sedang berada di kamar Dai Chen dan bukan kamarnya. "Kalau begitu aku akan pergi,"
Saat hendak melangkah keluar, Xiao Shuxiang kembali menoleh dan mengajukan satu pertanyaan. "Dai Chen? Apa benar kau memiliku Dantian Kehidupan?"
Dai Chen menjawab bahwa memang dantiannya adalah Dantian Kehidupan, "Mn. Benar, tapi untuk apa kau menanyakannya?"
"Bisa kau memberikan sedikit darahmu padaku?"
?
__ADS_1
Dai Chen tidak mengerti, "Memang kau mau melakukan apa dengan darahku?"
Xiao Shuxiang tidak memberi penjelasan lebih spesifik, "Darahmu berhubungan dengan masa depanku."
Pernyataan ambigu lagi, Dai Chen sudah tidak tahu harus mengatakan apa, wajahnya terlihat pucat. Dia segera bangkit dan mendorong pelan Xiao Shuxiang hingga sampai ke depan pintu kamarnya.
Xiao Shuxiang. "He-Hei, kenapa mendorongku? Kau belum memberikan darahmu, Dai Chen..!"
"Tidurlah sana." Dai Chen segera menutup pintunya saat berhasil mengeluarkan Xiao Shuxiang dari kamarnya.
Xiao Shuxiang bingung sendiri, dia tidak mengatakan sesuatu yang buruk tetapi malah diusir, keterlaluan..!
"Ya sudah, tapi sebelum kau pergi besok.. Kau harus memberiku darahmu. Anggap saja itu sedikit bayaran dari pengobatanku untuk adikmu, kau mengerti?"
Xiao Shuxiang berjalan pergi, dia membutuhkan darah Dai Chen yang memiliki Dantian Kehidupan sebagai bahan pelengkap untuk pembuatan pedangnya.
!!
Tiba-tiba saja Xiao Shuxiang mendengar suara pintu digeser, dia menoleh ke belakang dan menemukan Dai Chen berdiri di bibir pintu sambil menatapnya.
"Terima kasih .... Itu pertama kalinya aku melihat adikku tertawa." Dai Chen mengatakannya begitu pelan dan agak ragu-ragu, tetapi Xiao Shuxiang bisa mendengarnya dengan jelas.
"Bukan masalah, padahal aku tidak menceritakan lelucon apa pun pada Dai Chan. Tapi yaah.. Siapa yang peduli." Xiao Shuxiang kembali berjalan setelah Dai Chen menutup pintu kamarnya.
Pagi harinya, Dai Chen pergi begitu saja, dia sama sekali tidak memberi tahu Xiao Shuxiang. Namun sesuai permintaan Xiao Shuxiang semalam, dia meletakkan guci seukuran dua jari di atas meja yang berisi darahnya.
Xiao Shuxiang tidak jadi marah saat melihat apa yang ditinggalkan Dai Chen untuknya. Dia pun mulai mengobati Dai Chan kembali.
Hari ini, Xiao Shuxiang membantu memperbaiki tulang Dai Chan yang retak. Teriakan kesakitan memenuhi seisi kamar Dai Chan.
Aaaaakh!
"Tahanlah, kau jangan cengeng!"
"Kakak Xiao, sudah cukup. Kumohon," Dai Chan memohon agar Xiao Shuxiang berhenti, sudah cukup untuk hari ini. Dia tidak kuat merasakan sakit lagi.
Bagus juga Xiao Shuxiang berada di lembah, dia akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan murid-murid Sekte Akar Teratai serta para penduduk. Dirinya dapat lebih memahami tentang hati manusia dan menghargai mereka.
Di tempat lain, tepatnya di Sekte Serigala Iblis---- Sim Hi Ji nampak berdiri dengan tatapan mata mengarah pada seorang gadis muda yang duduk di kursi kebanggaannya.
Gadis ini tidak lain adalah Bian Que. Meski memakai topeng, keangkuhannya tetap saja jelas. Dia memperlakukan para murid Sekte Serigala Iblis termasuk Sim Hi Ji sebagai pelayan.
Alasan kenapa Sim Hi Ji hanya dapat menahan kemarahannya adalah karena Bian Que lebih kuat dari dirinya.
Bian Que merupakan Pilar Kesebelas Scarlet Bayangan. Jika di sekte lain, statusnya sama dengan Grand Elder.
Bian Que termasuk kultivator yang belajar teknik terlarang di mana dia memiliki kemampuan memerintah Laba-Laba Pemakan Jantung.
Dia dapat membuat Sim Hi Ji dan murid-muridnya merasakan kematian yang menyakitkan dan mereka tidak akan tahu sampai rasa sakit tersebut menyelimuti mereka.
Sim Hi Ji dimarahi habis-habisan oleh Bian Que.
"Tindakanmu yang menyerang Sekte Kupu-Kupu tanpa memberitahu Scarlet Bayangan dan Sekte Tengkorak Darah adalah suatu kebodohan. Dan sekarang kau mau melakukan kesalahan lagi?! Apa kau tidak puas dengan sektemu di serang dan sebagian muridmu telah tewas, hah?!"
Bian Que menyuruh Sim Hi Ji untuk mengumpulkan kekuatan dan mengatur rencana yang lebih matang. Dia tentu tidak berminat memberi bantuan pada Sim Hi Ji dengan kekuatannya sebab Bian Que hanya melaksanakan perintah dari Tetua Scarlet Bayangan.
Dia tidak diperintahkan untuk menyerang apalagi sampai membantai habis murid-murid Sekte Kupu-Kupu, dirinya hanya diperintahkan menguji sekaligus menculik seorang anak yang Tetua mereka anggap sebagai Reinkarnasi Sang Bintang Penghancur.
"Anak itu tidak pernah terlihat, entah di mana dia sekarang. Tapi.. Cepat atau lambat aku pasti akan menemukannya."
Setelah urusan Bian Que selesai, dia seketika diselimuti oleh asap hitam dan kemudian menghilang. Sim Hi Ji yang sudah siap menyerang Sekte Kupu-Kupu terpaksa membatalkan niatannya, dia menyuruh murid-muridnya agar berkemas kembali.
__ADS_1
***