XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
275 - Menuju Kekaisaran Es Abadi


__ADS_3

Washi dan Xiao Shuxiang terus bergerak, sesekali mereka menapak pada dahan pohon berbunga merah muda, keduanya juga beberapa kali berlari di atap rumah penduduk yang putih karena tertutup salju.


Bagai asap tipis keluar dari hidung Xiao Shuxiang dan Washi saat keduanya mengembuskan napas, butiran salju tetap turun namun tidak sekencang yang tadi.


Ini bagus, karena mereka dapat melihat dengan lebih jelas dan tidak perlu memaksakan diri menembus badai.


Tap


Washi menapak lebih dulu, dia sekarang berada di hutan yang dipenuhi dengan nuansa putih, merah muda, dan hijau.


Tidak satu pun pepohonan yang tidak diselimuti salju, tempat ini indah tetapi bukan waktunya mengagumi keindahan tersebut. Washi masih harus mencari teman-temannya.


Butuh waktu sekitar delapan menit bagi Washi dan Xiao Shuxiang untuk bisa menemukan dua orang pemuda serta seorang anak kecil. Ketiganya nampak berdiri di pinggir sebuah lubang yang cukup dalam.


Washi menghampiri teman-temannya, dia menyapa mereka seperti biasa. Ketiga temannya hanya menoleh sekilas sebelum mengarahkan pandangan lagi ke arah lubang di depan mereka.


Washi merasa ada yang aneh pada raut wajah ketiga temannya, dia pun berjalan lebih dekat dan kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lubang.


!!


Dirinya terkejut, di dalam lubang yang dalamnya sekitar lima meter ini terdapat mayat manusia dengan ranting kayu tertancap di tengah leher, dada, dan kedua pahanya.


Yang mengerikan adalah--kedua tangan mayat tersebut tertebas dan entah potongannya ada di mana.


Washi tahu betul bahwa lubang ini merupakan salah satu perangkap yang dipasang oleh ketiga rekannya, namun perangkap itu tidak mempunyai jebakan lain di dalamnya, apalagi sesuatu seperti ranting yang runcing.


"Dia pasti sudah dibunuh sebelum dilemparkan ke dalam lubang ini. Aku sudah memeriksa perangkap yang lain, dan memang hanya ini saja yang rusak,"


Salah satu rekan Washi mulai menceritakan situasi yang ada, dia bernama Taiga, pemuda berambut putih keperakan dengan bekas luka parut di pipi sebelah kirinya.


Mayat yang berada di dalam lubang tidak lain adalah Shinobu, pria yang merupakan target dari Washi dan teman-temannya.


"Kita memiliki misi menangkapnya hidup-hidup. Tetapi yang terjadi justru di luar dugaan. Entah siapa yang membunuhnya,"


Kali ini yang bicara adalah Yuuichi, pemuda berusia 23 Tahun yang memiliki ekspresi wajah datar namun begitu tampan. Dia lalu turun dan memeriksa mayat Shinobu.


Xiao Shuxiang memperhatikan mayat dari orang yang telah menyanderanya beberapa saat lalu, Shinobu nampak berusia 28 Tahun, mempunyai bekas luka di bagian mata sebelah kanannya, dia tewas dengan mulut dan mata terbuka lebar.


Yuuichi menemukan sebuah token yang terbuat dari es berwarna biru muda di balik pakaian Shinobu. Ada corak ular pada token yang berbentuk lingkaran tersebut, dia kembali mencari lagi namun sepertinya hanya token saja yang ada.


"Bagaimana ini? Dia sudah mati, misi kita gagal. Apa kita harus pulang dan melaporkannya pada Tuan Mikage?"


Xiao Shuxiang menoleh ke arah anak laki-laki yang nampak berusia 6 Tahun, meski melihat mayat mengenaskan--nyatanya anak ini sama sekali tidak takut. Seakan dirinya sudah terbiasa dengan hal semacam ini.


"Yota, kita tidak akan pulang hanya karena satu misi gagal. Misi yang sebenarnya baru saja dimulai,"


Yuuichi menoleh ke arah Taiga, rekannya itu seakan tahu apa yang dia inginkan hanya dengan memakai tatapan mata. Segera Taiga mengangguk pelan dan kemudian bersiul cukup keras seperti memanggil sesuatu.


Xiao Shuxiang tidak mengerti pembicaraan orang-orang ini karena mereka menggunakan bahasa yang tidak dia mengerti. Namun saat memikirkannya, sebuah suara geraman mulai terdengar.


?!


Xiao Shuxiang sedikit tersentak, ada seekor harimau dengan bulu berwarna putih dan bergaris cokelat gelap yang berlari cepat ke arahnya.


Dia tidak merasakan ada bahaya apapun pada harimau yang tingginya satu setengah meter tersebut, sepertinya harimau itu termasuk hewan yang jinak.


Benar dugaan Xiao Shuxiang, harimau yang dia lihat merupakan salah satu peliharaan Taiga. Hewan ini ditugaskan untuk membawa mayat Shinobu ke markas pusat, tempat Washi dan ketiga temannya tinggal.


Mayat Shinobu diletakkan di atas punggung harimau, hewan itu segera pergi bersamaan saat Hu Li kembali sambil membawa kotak kayu berukuran sedang.


"Hu Li, kau dari mana saja?"


Xiao Shuxiang segera menanyai Hu Li ketika rekannya itu ada di dekatnya. O Zhan yang berada di atas kepala Hu Li mengeluarkan suara seperti sedang menjawab pertanyaan dari Xiao Shuxiang.


Pii~


"Hm? Maksudmu.."


Xiao Shuxiang mengambil kotak kayu yang dibawa Hu Li tanpa meminta izin pada temannya terlebih dahulu. Dia lalu membuka kotak tersebut yang ternyata berisi organ tubuh manusia.


!!


"Hu Li.. Apa yang sudah kau lakukan?"


Xiao Shuxiang menutup kembali kotak di tangannya. Dia meminta Hu Li untuk memberinya penjelasan, organ tubuh manusia di dalam kotak yang ada padanya tidak lain adalah tangan dari Shinobu.


Hu Li hanya tertunduk, dia tidak ingin menjelaskan apapun pada Tuan Muda Xiao-nya karena ada orang lain di tempat ini. Dirinya dengan setengah berbisik berkata akan memberi tahu semuanya saat hanya tingga dia dan Tuannya.


Xiao Shuxiang memasukkan kotak yang dipegangnya ke dalam Cincin Spasial miliknya, "Kau memang harus memberiku banyak penjelasan Hu Li,"


Buronan yang dikejar oleh Washi dan teman-temannya telah tertangkap walau dalam keadaan tidak bernyawa.


Meski penasaran dengan siapa yang telah membunuh Shinobu, namun Washi dan ketiga temannya memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah mereka kembali dari menjalani misi di Kekaisaran Es Abadi.

__ADS_1


Washi dan teman-temannya begitu tenang serta biasa-biasa saja. Ini dikarenakan mereka memiliki pemikiran bahwa siapapun orang yang telah membunuh Shinobu pastilah sangat menaruh dendam padanya, itu dibuktikan dengan tubuh Shinobu yang penuh luka tusuk dan kedua tangannya juga ditebas.


"Dapat membunuh Shinobu dalam waktu singkat, apalagi di saat kita mengejarnya.. Pastilah dia bukan orang sembarangan,"


Setelah mendengar ucapan dari Washi, Yuuichi segera menoleh ke arah Xiao Shuxiang. Dirinya sempat melupakan pria berpakaian merah dengan rambut yang terurai panjang itu.


Teman-teman Yuuichi juga mulai memperhatikan Xiao Shuxiang dan Hu Li. Salah satu di antara mereka mengajukan pertanyaan yang langsung dijawab oleh Washi.


".. Mereka teman baruku. Ini Xiao Shuxiang, dan.. Aku belum tahu namamu?"


"Namaku Hu Li dan dia O Zhan."


Pii..!


Yota yang paling muda di antara mereka semua nampak terkesan melihat seekor rubah kecil menggemaskan. Dia hanya sesekali melihat hewan tersebut, namun mereka memiliki aura yang mengerikan.


Selain memperkenalkan Xiao Shuxiang dan Hu Li pada teman-temannya.. Washi juga memberitahukan kelemahan Xiao Shuxiang yang tidak mengerti bahasa mereka.


Taiga mengerutkan keningnya, "Dia penduduk asli Benua Timur, kan? Harusnya dia mengerti bahasa kita.."


"Tidak semua orang belajar bahasamu, Taiga. Yang penting sekarang, kita akan pergi menjalankan misi berikutnya,"


Washi juga mengatakan dirinya telah mengajak Xiao Shuxiang dan Hu Li untuk ikut bersama mereka, kebetulan tujuan kedua teman barunya ini juga adalah Kekaisaran Es Abadi.


Yuuichi dan Taiga memperhatikan Xiao Shuxiang dari atas sampai bawah. Tidak ada niatan jahat yang mereka rasakan dari pemuda ini, namun tidak masalah bila tetap bersikap hati-hati.


"Aku sebenarnya keberatan kau mengajak orang asing dalam misi kita. Kau sudah tahu benar bahwa misi ini sangat penting dan berbahaya,"


Suara Yuuichi begitu dingin sama seperti ekspresi wajahnya. Dia memakai bahasa penduduk Benua Timur agar dua pemuda di depannya juga mengetahui apa yang dirinya katakan.


"Kawan, Shuxiang dan Hu Li bukanlah orang jahat. Tujuan mereka adalah Kekaisaran Es Abadi, setelah sampai di sana.. Kita akan berpisah jalan. Kau jangan bersikap sedingin ini, apa kau tidak sadar? Dirimu dan Shuxiang begitu mirip,"


?!


Taiga, Yota, dan Hu Li tersentak. Ketiganya kemudian memperhatikan wajah Xiao Shuxiang dan Yuuichi secara bergantian. Mereka cukup lama menilai sampai Taiga tersentak lalu menarik kain putih yang melilit di pergelangan tangan kirinya.


"Izinkan aku mengikat rambutmu,"


?!


Belum sempat Xiao Shuxiang berucap, Taiga mulai mengikat rambutnya. Hu Li secara tidak sadar membuka mulut lebar, Tuan Muda Xiao-nya memiliki wajah yang sama dengan Yuuichi, hanya dibedakan dari tinggi badan dan warna mata saja.


"Ini..?! Apa kalian bersaudara?!"


Yuuichi dan Xiao Shuxiang saling berpandangan setelah mendengar ucapan anak laki-laki berusia 6 Tahun tersebut. Keduanya tidak mengucapkan satu patah kata pun, bisa dibilang.. Mereka sedang fokus dalam pikiran masing-masing.


Merasa teman-temannya tidak ada yang keberatan dengan penambahan anggota--Washi pun mengajak mereka semua untuk pergi dari tempat ini.


Hu Li cepat akrab dengan Taiga, sementara O Zhan begitu senangnya dipeluk oleh Yota. Xiao Shuxiang sendiri masih tetap diam dan sesekali bertemu pandang dengan Yuuichi.


"Penampilanmu ini.. Kau penggemar fanatik Sang Bintang Penghancur?"


Xiao Shuxiang akhirnya buka suara, dia tidak habis pikir ada orang yang meniru penampilannya. Sayangnya, Yuuichi malah mendengus dan mengatainya juga sebagai penggemar fanatik Sang Bintang Penghancur.


".. Kau meniru namanya, itu bahkan lebih buruk dariku."


"Namaku sudah kugunakan sejak kehidupanku yang pertama dan akan terus kupakai sampai kehidupan selanjutnya,"


Xiao Shuxiang tidak ingin kalah dalam berekspresi dingin dan berbicara ketus. Dia dan Yuuichi saling mengorek informasi tentang pribadi masing-masing. Mereka malah tidak sadar menjadi semakin akrab.


Di bawah salju yang turun perlahan, tidak ada seorang pun yang merasa kedinginan. Mereka berjalan santai bahkan ketika keenamnya berada di Kota Wisteria Putih.


Xiao Shuxiang menanyakan mengapa Yuuichi tidak menjadi kultivator saja, padahal dia sepertinya mengidolakan Sang Bintang Penghancur.


".. Kulihat kau punya potensi menjadi kultivator, bagaimana jika kau mulai berlatihlah dari sekarang,"


"Aku lebih memilih menjadi samurai. Kultivator bagiku hanyalah jalan yang dipenuhi rasa kesepian,"


Yuuichi begitu teguh akan pendiriannya. Dia tidak ragu mengakui bahwa dirinya belajar banyak dari kisah Sang Bintang Penghancur. Salah satunya adalah menjadi manusia yang tidak berperasaan di hadapan musuh.


Saat berada di Kota Wisteria Putih, banyak yang mengenali Washi dan teman-temannya. Mereka beberapa kali di sapa oleh para warga.


Salah satu pria tua yang nampak berusia 60 Tahun dan sedang mengatur barang dagangannya tersentak ketika melihat Xiao Shuxiang.


Dirinya segera menghampiri pemuda yang sedang berjalan dengan teman-temannya dan kemudian menanyakan sesuatu yang membuat Xiao Shuxiang dan Hu Li terkejut.


"Apa ini kau.. Yang Shu?"


!!


Yuuichi mungkin mempunyai rupa yang cukup mirip dengan Xiao Shuxiang, namun bukan berarti dia akan dikenali sebagai Yang Shu. Wajahnya terlalu tegas, dingin, dan tidak seramah milik Xiao Shuxiang.


Apalagi, warna matanya berbeda dari pemuda di sampingnya ini. Yuuichi mempunyai mata berwarna kuning emas, tidak seperti Xiao Shuxiang yang warna matanya adalah cokelat terang.

__ADS_1


"Yang Shu, kaukah ini..?"


Xiao Shuxiang kebingungan karena tiba-tiba pria tua tersebut menghentikannya dan terlihat begitu senang. Padahal dia belum menjawab pertanyaan dari Tua Bangka ini.


Xiao Shuxiang berusaha memberinya pemahaman, dia dibantu oleh Hu Li. Dirinya jadi ingat kakeknya menitipkan dua gulungan padanya. Satunya telah dia serahkan pada Kaisar Salju Putih dan sekarang hanya tinggal satu.


Xiao Shuxiang hampir melupakannya, segera dia mengeluarkan gulungan tersebut lalu memberikannya pada Pria Tua di depannya. Dirinya kemudian berpamitan tanpa mengatakan apapun lagi.


Xiao Shuxiang tidak mau ditahan lebih lama jika tetap tinggal dan menunggu Tua Bangka tadi membaca isi gulungan titipan Yang Shu. Karenanya, sebisa mungkin dia meminta teman-temannya untuk bergerak lebih cepat.


Washi, Yuuichi, dan Taiga tidak mengerti siapa yang dimaksud Pria Tua tadi. Namun mereka mendengar marga Kaisar Salju Putih disebut.. Mungkinkah pemuda berpakaian merah yang bersama mereka adalah salah satu anggota keluarga kaisar?!


Xiao Shuxiang memilih untuk tidak menjawab dengan jelas. Dia hanya berkata Yuuichi juga mempunyai wajah yang cukup mirip dengannya tetapi mengapa tidak ada orang yang mengenalinya sebagai Kaisar? Namun Washi menjawab bahwa sebelum ada orang yang berkata demikian.. Yuuichi sudah lebih dulu memberinya tatapan dingin nan mematikan.


".. Aku ingin mengatakan sesuatu. Kita perlu melewati dua kota lagi sebelum sampai di perbatasan Kekaisaran. Tetapi kami punya jalan pintas, hanya saja mata kalian harus ditutup kain lebih dulu,"


Orang yang dimaksud Washi tidak lain adalah Xiao Shuxiang dan Hu Li. Jalan pintas yang dia maksud hanya boleh diketahui oleh para samurai dan ini harus tetap menjadi rahasia.


Xiao Shuxiang dan Hu Li saling bertatapan sejenak sebelum mengangguk setuju. Keduanya mulai diikatkan kain hitam yang menutupi matanya, O Zhan juga diperlakukan sama.


Xiao Shuxiang dituntun Washi, sementara Hu Li oleh Taiga. Mereka tidak bisa melihat apapun dan hanya dapat merasakan dinginnya butiran salju.


Yuuichi dan teman-temannya melangkahkan kaki memasuki salah satu kedai. Dia memperlihatkan token berwarna merah dengan corak bulan sabit pada pegawai kedai.


"Lewat sini, Tuan."


Xiao Shuxiang dan Hu Li mendengar ada suara wanita, keduanya kembali berjalan dan kali ini rasanya seakan mereka menaiki anakan tangga.


Salah satu pintu yang terbuat dari kayu mulai digeser, Yuuichi dan teman-temannya memasuki ruangan tersebut. Tepat di dinding paling belakang, Yuuichi meletakkan token es yang didapatnya dari mayat Shinobu.


Token tersebut mengeluarkan air yang secara cepat menyebar dan lalu mengeras bagai es. Sebuah corak berwarna biru langit dan perak mulai terbentuk, ini semacam portal yang dapat membuat Yuuichi dan teman-temannya menyingkat perjalanan mereka.


Segera Yuiichi menyimpan kembali token es dan kemudian memasuki portal tersebut, dia diikuti oleh Yota yang menggendong O Zhan. Washi dan lainnya juga ikut dari belakang.


Kekaisaran Es Abadi sebenarnya lebih indah dari Kekaisaran Salju Putih. Tetapi lokasi Xiao Shuxiang muncul berada di tempat yang hanya diselimuti banyak gunung tanpa satu pun pohon atau rumah penduduk.


Washi mulai membuka tutup mata Xiao Shuxiang dan Hu Li. Dua pemuda ini tersentak saat melihat sekeliling mereka, suasana di sini jauh lebih dingin.


"Kawan, kita sekarang cukup dekat dengan istana tempat misi kami dimulai. Mungkin ini lokasi yang jauh dari tempat tujuanmu, maaf ya.."


Washi menepuk pundak Xiao Shuxiang. Dia mengatakan misinya sangat berbahaya, yakni membunuh Ratu Es. Dia tidak tahu apakah akan selamat atau malah kehilangan nyawa, namun dia berharap dapat bertemu Xiao Shuxiang kembali.


".. Kita tidak punya banyak waktu untuk saling mengenal. Tetapi aku percaya kau adalah teman yang baik,"


Xiao Shuxiang tersenyum dan membalas menepuk pundak Washi, dia mengingatkan agar teman barunya selalu berhati-hati. Bersama dengan Hu Li dan O Zhan.. Dirinya mulai berpamitan.


Xiao Shuxiang segera melesat pergi, diikuti oleb Hu Li dan O Zan yang kini berada dipelukan sahabatnya.


Sambil melesat, dirinya juga mengeluarkan sebuah kitab herbal dari Gelang Semesta miliknya. Xiao Shuxiang memperhatikan peta Benua Utara, tepatnya wilayah Kekaisaran Es Abadi. Lokasi dirinya dengan tempat keturunan Penatua Da Lin ternyata tidak jauh dari tempat ini.


Butuh waktu sekitar 15 menit bagi Xiao Shuxiang dan Hu Li untuk sampai di tempat tujuan mereka. Untunglah keduanya dapat terbang karena tidak ada segel penghalang yang biasanya ada di setiap kota.


Sebuah danau beku yang diapit oleh empat buah bukit salju, nampak berwarna putih kebiruan. Xiao Shuxiang dan Hu Li menapak tepat di tengah-tengah danau tersebut.


"Tuan Muda, Anda yakin ini tempatnya?"


Xiao Shuxiang mengangguk sebagai jawabat atas pertanyaan Hu Li. Dirinya sudah diberitahu oleh pada Siren dan apa yang mereka katakan sama dengan tampilan lokasi di peta Kekaisaran Es Abadi.


Xiao Shuxiang mengumpulkan dan memadatkan Qi di kepalan tangan kanannya. Setelah meminta Hu Li mundur sedikit--dirinya mulai meninju dengan keras es yang dipijaknya.


BAAAM!


Hanya butuh sekali serangan dan es pada sebagian permukaan Danau menjadi kepingan. Xiao Shuxiang segera melompat ke dalam danau dan berusaha menyelam untuk mencari keturunan Penatua Da Lin yang terperangkap dalam Es Abadi.


***


-


-


-


Catatan Penulis :


Arigatou Gozaimasu Minna-Sama karena sudah mengikuti perjalanan Xiao Shuxiang sampai sejauh ini. 'Penulis' sering lambat update karena banyak pekerjaan. Jadi sebaiknya jangan ditungguin, ( ´ ▽ ` )ノ


Kami sangat senang karena Teman-Teman masih mau membaca 'Karya' ini. Dasha tidak janji akan crazy up, namun kalau pekerjaan sudah selesai pasti akan Update lebih dari satu Chapter. Sekali lagi, Arigatou dan semoga tetap sehat serta semangat selalu..! ヽ(´▽`)/


-


-


Cast : Hu Li & O Zhan

__ADS_1



__ADS_2