
Xiao Shuxiang melangkah masuk ke dalam Balai Peristirahatan. Jing Mi dan Zong Ming yang sedang duduk langsung memanggil dirinya.
Saat Xiao Shuxiang sudah ada di dekat mereka, Jing Mi langsung melempari berbagai pertanyaan kepadanya.
Zong Ming berkata, "Kami selama seharian ini terus mencarimu. Kau sebenarnya dari mana saja, Saudara Xiao?"
"Aku...? Aku tidak pergi ke mana-mana, hanya di sekitar sini saja.." Xiao Shuxiang malah merasa bingung karena dicari, memang dia membuat kesalahan apa lagi?
Jing Mi, "Syukurlah... Aku merasa lega karena tidak mendengar keributan yang dilakukan olehmu. Ayo ke sana dan mengantri untuk mendapat makanan,"
"Yaah, aku memang masih lapar. Kalian lanjut makan saja, aku juga akan pergi mengambil jatah."
Sian Ru baru saja selesai mengambil makan malamnya saat melihat Xiao Shuxiang berjalan. Dia pun lalu mendekati anak laki-laki itu dan secara sengaja menyandung dirinya sendiri hingga membuat sup panas yang dipesannya tumpah tepat di kepala Xiao Shuxiang.
!!
Semua orang yang melihat kejadian ini begitu terkejut. Beberapa murid Sekte Pedang Langit ada yang terlihat menahan tawa dan ada yang menatap khawatir ke arah Xiao Shuxiang.
"A-aku minta maaf, aku tidak sengaja..! Ka-kau baik-baik saja, kan?" Sian Ru begitu panik, dia mencoba membersihkan makanan di kepala anak kecil di hadapannya.
"Itu sup yang panas! Apa kau baik-baik saja?" murid lainnya mendekat dan terlihat sangat khawatir.
Xiao Shuxiang mengusap pelan wajahnya. Meski sup yang tumpah di kepalanya panas, namun dia lebih ke arah terkejut daripada merasa kepanasan.
"Pfft... Ha Ha Ha...!"
!!
Tiba-tiba saja, sebuah tawa pecah membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersentak termasuk Xiao Shuxiang. Itu adalah suara Jing Mi yang tertawa keras sambil mengusap perutnya.
Beberapa murid memang ada yang menganggap kejadian ini lucu, namun mereka tidak sampai tertawa sekeras yang Jing Mi lakukan. Xiao Shuxiang menatap Jing Mi yang masih setia mentertawakannya sambil menepuk-nepuk meja.
"Saudara macam apa dia?!"
"A-aku benar-benar minta maaf..!" Sian Ru memegang kedua tangan Xiao Shuxiang, terlihat wajahnya mengandung penyesalan. "Aku akan melakukan apa pun agar kau memaafkanku. Ya Tuhan, bagaimana ini...?! Aku sungguh minta maaf,"
"Tidak perlu, kau hanya harus hati-hati lain kali. Jangan ceroboh seperti ini,"
"Junior tidak marah, kan?"
"Kau kan tidak sengaja, jadi untuk apa aku marah." Xiao Shuxiang meminta agar Sian Ru melepaskan tangannya, dia lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan. Xiao Shuxiang tidak lagi berselera untuk makan.
Zong Ming memperingati Jing Mi untuk tidak menertawai Xiao Shuxiang, tetapi anak itu malah semakin mengeraskan tawanya.
Diam-diam Sian Ru tersenyum, memang menggunakan Qi untuk melukai seseorang tidak akan bisa karena segel yang diberikan padanya akan aktif, tetapi bahkan tanpa Qi sekali pun----Sian Ru masih bisa mengerjai anak menyebalkan itu.
Xiao Shuxiang sendiri pergi ke anakan sungai untuk membersihkan rambutnya sekaligus mandi. "Pertama kali dalam hidupku, Xiao Shuxiang mendapat keberuntungan tidak terduga seperti ini..."
__ADS_1
Yi Wen dan Hai Feng melihat seseorang mandi di anakan sungai. Saat mendekat, mereka mengetahui bahwa orang tersebut adalah Xiao Shuxiang.
Yi Wen, "Saudara Xiao? Kenapa kau mandi di sini?"
Xiao Shuxiang menoleh saat mendengar suara dari Yi Wen. "Kepalaku ketumpahan semangkuk sup saat di Balai Peristirahatan tadi. Kau bisa membayangkan mangkuk sup itu terbang dan jatuh tepat di atas kepalaku,"
"Pffft..." Yi Wen langsung tertawa, "Sayang sekali aku tidak ada dan menyaksikannya secara langsung. Kau pasti sangat lucu,"
Xiao Shuxiang, "Kau ini sama saja dengan Saudara Jing. Sebaiknya kalian pergi jika hanya ingin menertawaiku."
"Saudara Xiao, kau jangan marah. Aku tidak akan menertawaimu lagi.." Yi Wen kemudian menawarkan buah teratai kepada Xiao Shuxiang sebagai permintaan maafnya.
Xiao Shuxiang segera keluar dari anakan sungai dan mulai memakai pakaiannya kembali. Dia lalu mengambil buah teratai yang diberikan Yi Wen.
"Di mana kalian mendapatkan ini?" tanya Xiao Shuxiang sambil mengupas biji teratai dan memakannya.
Hai Feng berkata, "Kami mengambil buah teratai itu dari danau buatan yang letaknya tidak jauh dari Pagoda Tingkat Sembilan."
Xiao Shuxiang tidak pernah pergi ke sana sebelumnya. "Kurasa aku harus berjalan-jalan di sekitar sana sesekali.."
Yi Wen, "Danau buatan sekta ini dipenuhi oleh teratai. Banyak dari teman-teman yang lain pergi ke tempat itu saat sore hari atau setelah kelas malam selesai. Kebaiknya kau ke sana lebih awal, Saudara Xiao. Karena kulihat, buah teratai di sana hanya tinggal beberapa saja."
"Benarkah?!" Xiao Shuxiang segera pergi begitu saja setelah mendengar ucapan Yi Wen.
Yi Wen dan Hai Feng membeku, mereka tersentak saat tiba-tiba Xiao Shuxiang meninggalkan mereka.
Yi Wen, "Aku rasa... Saudara Xiao sangat suka teratai..."
Hai Feng mengangguk, "Kau benar..."
Di sebelah timur Pagoda Tingkat Sembilan terdapat hutan bambu kuning. Hutan ini merupakan hutan buatan yang ada di lingkungan Sekte Pedang Langit.
Hutan bambu kuning tidak terlalu luas, hanya sebatas menutupi danau buatan yang penuh dengan tumbuhan air seperti Teratai.
Danau dan hutan bambu dibuat sekedar untuk melepas rasa lelah murid-murid Sekte Pedang Langit setelah belajar seharian. Setiap sore dan di malam hari, beberapa murid Sekte Pedang Langit pasti akan ke tempat ini untuk menghirup udara segar atau menenangkan dirinya.
Xiao Shuxiang tidak tertarik sama sekali dengan hutan bambu kuning, dia lebih tertarik dengan buah teratai yang bisa menjadi cemilan malamnya.
Malam ini, hanya beberapa murid saja yang nampak di pinggir danau. Mereka terlihat sedang duduk, berbincang-bincang sambil menikmati biji teratai.
Dai Chen yang baru sampai di tepi danau melihat Xiao Shuxiang. Dia mengingat bahwa Xiao Shuxiang sangat akrab dengan Zong Ming.
Apalagi seharian berada di sekte ini, Dai Chen banyak mendengar tentang kegaduhan yang ditimbulkan anak itu selama lima hari terakhir. Sebuah ide tiba-tiba terlintas dipikirannya.
Xiao Shuxiang begitu kagum seperti melihat tambang emas di depan matanya, tumbuhan teratai begitu banyak bahkan sampai di pinggir danau. Dia berniat mengambil buah teratai yang tidak jauh darinya namun sebuah seruan membuat Xiao Shuxiang berhenti dan menoleh.
"Xiao Shuxiang..! Apa yang kau lakukan?!"
__ADS_1
Xiao Shuxiang menaikkan sebelah alisnya, dia bisa melihat seorang anak laki-laki berjalan sambil tersenyum ke arahnya. Saat anak tersebut semakin dekat, Xiao Shuxiang mulai mengenalinya sebagai Dai Chen.
"Kau ini bukannya anak yang membenci Zong Ming, ada apa memanggilku?" Xiao Shuxiang merasa heran, dia meneliti Dai Chen dari atas sampai bawah. Pakaian Sekte Pedang Langit benar-benar cocok untuk anak ini, tidak akan ada yang percaya bahwa Dai Chen bukanlah anak baik.
"Jadi namamu 'Xiao Shuxiang'..? Mirip sekali dengan 'Sang Heretic'..."
"Aah! Aku hampir lupa dengan gelarku yang satu itu..." Xiao Shuxiang mengusap-usap kepalanya, "Apa alasanmu memanggilku?"
Dai Chen, "Kenapa kau seketus itu? Tidak ada alasan yang membuat aku dan kau harus bermusuhan. Lagipula sekarang aku salah satu murid yang belajar di Sekte Pedang Langit, jadi bisa dikatakan kita bersaudara untuk saat ini."
"Tapi waktu itu kau mengatakan bahwa Zong Ming dan teman-temannya adalah musuhmu. Kenapa sekarang ucapanmu berbeda?" Xiao Shuxiang masih sedikit curiga dengan Dai Chen, bisa saja anak ini menyerangnya dengan tiba-tiba sebagai pelampiasan dari dendamnya kepada Zong Ming.
Dai Chen, "Aku tidak sekejam itu, bukankah kita sudah saling bertarung dan mengakui satu sama lain? Atau kau benar-benar ingin menjadi musuhku?"
"Haaah~ tidak juga... Masalahmu dengan Zong Ming, jadi jangan libatkan aku." Xiao Shuxiang menghela napas pelan, dia lantas melanjutkan kegiatannya mengambil teratai yang sempat tertunda tadi.
Dai Chen memperhatikan dan berkata, "Itu masih belum matang, kau mengambil yang masih muda."
!
Xiao Shuxiang tersentak, "Benarkah? Hah, pantas saja semua buah teratai di pinggir danau tidak ada yang mengambilnya. Ternyata buahnya masih belum matang,"
Dai Chen merasa bahwa anak berusia tujuh tahun di sampingnya seperti tidak tahu mana buah yang sudah matang dan belum. Dia lalu menunjukkan bahwa buah teratai matang memiliki biji dan bentuk yang lebih besar.
Dai Chen, "Seluruh buah teratai yang ada di pinggir danau bukanlah buah matang. Kau harus mengambil buah teratai yang lebih ke tengah danau. Kau bisa berenang, kan?"
"Yaah, begitulah. Tapi aku tidak terlalu suka berada di air..."
Dai Chen menaikkan sebelah alisnya, "Danau ini tidak terlalu dalam dan sebaiknya kau berenang. Memang apa alasanmu hingga kau tidak suka berada di air padahal kau bisa berenang?"
"Itu.. tidak akan kuberi tahu," Xiao Shuxiang menggelembungkan pipinya dan kemudian menatap Dai Chen. "Kau saja yang turun ke sana dan mengambilkan buah teratai untukku,"
"Kau yang ingin makan, bukan aku. Jadi kau saja yang melakukannya,"
Xiao Shuxiang memanyunkan bibirnya, dia kemudian berjongkok sambil memandangi tumbuhan teratai di depannya dan menggumamkan banyak hal.
"Hmm, sebenarnya... aku tahu tempat rahasia yang penuh dengan buah teratai dan mudah diambil, tapi..." Dai Chen mengusap-usap dagunya, dia menggantung ucapannya agar Xiao Shuxiang bisa bertanya.
Benar saja, Xiao Shuxiang langsung berdiri dan penuh semangat mendesak Dai Chen untuk mengatakan tempat rahasia tersebut.
Dai Chen menatap sekeliling, dia kemudian menunduk sedikit lalu berbicara dengan suara yang pelan pada Xiao Shuxiang.
"Dengar, jika kau berjalan lurus ke sana. Kau akan menemukan danau lain yang dipenuhi dengan teratai. Tempat itu hanya diketahui oleh beberapa orang saja, karena itulah buah teratai di sana lebih banyak."
"Kalau begitu, apalagi yang kita tunggu..?! Ayo ke sana!" Xiao Shuxiang menarik tangan Dai Chen, "Tunjukkan jalannya padaku."
Dai Chen, "Tapi aku hanya menemani saja, aku tidak akan membantumu mengambilnya. Kau harus melakukannya sendiri."
__ADS_1
"Baiklah, baiklah..!" Xiao Shuxiang begitu semangat, dia sudah tidak sabar akan pesta buah teratai malam ini.
Diam-diam, Dai Chen tersenyum licik. "Hanya tinggal menggiringnya masuk ke dalam perangkap dan setelah itu... Selamat tinggal bocah kecil..! Ayo pergi."