
Qi Xuan saat ini sedang bertarung dengan murid-murid Sekte Bunga Lotus yang dikendalikan. sampai sekarang dia belum tahu keberadaan Huan Mei bahkan dirinya belum bertemu dengan tetuanya, Huan Fei.
Salah satu murid Senior Sekte Bunga Lotus memberitahukan dirinya tentang aroma menenangkan yang adalah dalang dari bencana ini.
Berusaha menahan kantuk, Qi Xuan menusuk perutnya sendiri agar rasa itu tergantikan dengan kesakitan.
Pikirannya menjadi jernih, dia menarik kembali pedangnya dengan titik keringat terbentuk di keningnya.
Qi Xuan lalu mengambil Pil Embun Malam dari Cincin Spasialnya. Setelah menelan pil tersebut, lukanya kembali menutup.
Serangan yang mengarah padanya ditangkis oleh seniornya, dia berterima kasih karena telah dilindungi.
"Caramu tadi terlalu berbahaya, tapi untunglah kau tidak tertidur. Karena jika itu terjadi, riwayatmu akan sama seperti mereka,"
Senior Qi Xuan ini adalah seorang wanita dewasa dengan usia yang nampak 46 Tahun. Seragamnya berwarna putih dengan corak bunga lotus.
Hidung wanita yang bertarung dengan para juniornya ini terlihat berdarah. Sepertinya dia menggunakan Qi untuk merusak penciumannya, cara tersebut sama berbahaya-nya dengan yang dilakukan Qi Xuan tadi.
Traang!
Traang!
Pertarungan ini belum menemui akhirnya, banyak korban jiwa berjatuhan akibat ulah Meng Yaoya dan Liao Fa Xun.
Han Na sendiri belum pulih dari cedera yang dialaminya akibat serangan Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit dahulu. Dia hanya dapat membuat sepuluh bayangan cermin.
Karena itulah, selain Xiao Shuxiang, dirinya juga memilih Jing Mi. Sebab menurutnya, pemuda tersebut nampak berotot dan lebih kuat daripada kultivator lain.
Di balik topengnya, Liao Fa Xun terkesan melihat Xiao Shuxiang. Dia terus memperhatikan pemuda yang bermain seruling itu dari cermin milik Han Na.
Meng Yaoya yang paling ekspresif, dia memuji permainan seruling Xiao Shuxiang sambil bertanya-tanya tentang jenis pusaka yang dia lihat ini.
Han Na dengan wajah putih pucat serta sedikit semburat merahnya mengatakan dengan tenang bahwa itu adalah Pusaka Langit. Dia bisa mengetahui ini lewat boneka bayangannya.
"Pusaka Langit? Jadi pusaka langit yang selanjutnya adalah seruling..? Hmm.. Dia benar-benar beruntung menemukannya,"
Meng Yaoya sudah lama mencari keberadaan dari Tiga Pusaka Langit. Selama ini, petunjuk tentang letak dari pusaka tersebut sangat minim didapatnya. Dia bahkan sempat berpikir bahwa Pusaka Langit tidak pernah ada.
Siapa yang tahu, seorang kultivator Aliran Hitam rupanya memiliki pusaka itu di tangannya, yakni Pedang Bintang Malam. Kedahsyatan dari serangan pedang tersebut membuat perubahan yang besar bagi Benua Timur.
Tidak ada lagi kultivator yang berada di GrandMaster Tingkat Langit, sebagian besar telah tewas dan sebagian yang lain harus mengulang kembali kultivasinya karena pernah terluka parah.
GrandMaster Tingkat Bumi pun sangat jarang ditemukan. Sejauh ini, hanya Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit dan Grand Elder Sekte Phoenix Iblis sajalah manusia yang praktiknya berada di GrandMaster Tingkat Bumi.
Untuk yang berada di GrandMaster Tingkat Fana tidak sampai tiga ratus orang, itu pun sebagian kultivator menggunakan cara instan menaikkan praktiknya.
Para murid Sekte Kupu-Kupu yang tidak pernah memakai cara instan tentu lebih kuat. Bahkan Feng Ying yang masih berada di Master Foundation tingkat Perunggu Tahap Akhir mampu melawan kultivator yang praktiknya lebih tinggi dari dirinya.
BAAAM!
Kembaran Jing Mi menghantam tanah kala mendapat serangan dari Feng Ying. Dia menggunakan Teknik Pernapasan Bebas sekaligus jurus yang sama dengan Jing Mi asli, namun Feng Ying dapat menangkis serangan tersebut.
TRAANG!
Dua pedang bergerigi di tangannya berbenturan dengan pedang pegangan ganda milik Feng Ying. Pemuda bermata polos ini menyadari kembaran Saudara Xiao-nya akan menyerang dari belakang.
Segera asap biru tipis terbentuk di bawah kaki Feng Ying, pemuda yang beberapa hari lagi akan menginjak usia 16 Tahun.
Bila selama ini Jing Mi hanya mempelajari satu buah jurus, maka Feng Ying hanya berlatih dua jurus sederhana saja. Namun..
"Teknik Pernapasan Embun Bunga, Jurus Pertama.. Lesatan..!"
!!
Tubuh Feng Ying seakan menembus badan kedua lawannya, dia berdiri di belakang kembaran Jing Mi dengan jarak berdirinya sekitar lima meter sebagai tempat berhenti. Kedua tangan Feng Ying memegang kuat pedang pegangan gandanya.
Tubuh kembaran Jing Mi dan Xiao Shuxiang hanya diam di tempat, dalam satu tarikan napas.. Sebuah retakan terbentuk di wajah, tangan dan lalu tubuh keduanya.
Retakan tersebut mengeluarkan cahaya bersamaan dengan meledaknya tubuh kembaran saudaranya tersebut menjadi potongan-potongan kecil.
Suara ledakan itu sangat keras, bahkan tanah menjadi bergetar karenanya. Feng Ying menghembuskan napas, dia terkejut saat mendapat sorakan dari Bao Yu dan Hai Feng.
Sekarang yang tersisa dan harus mereka lawan adalah dua kembaran Xiao Shuxiang dan tiga kembaran Jing Mi.
Tidak ada yang menjadi penghalang lagi sebab Saudara Xiao mereka telah membuat para manusia dan kultivator yang dikendalikan tak sadarkan diri dengan memainkan serulingnya.
Satu api biru kecil Xiao Shuxiang melesat dan menuju ke arah Feng Ying. Dia nampak bergerak naik turun seperti sedang mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Feng Ying menatap ke arah langit, tempat Saudara Xiao-nya melayang tanpa bantuan pedang terbang. Dia melihat Xiao Shuxiang menatapnya sambil mengangguk pelan.
"Aku mengerti,"
Feng Ying kemudian berseru, dia menyerahkan makhluk yang meniru tubuh serta wajah saudaranya pada Bao Yu dan Jing Mi.
".. Sementara aku, Kakak Hai Feng, dan para senior yang masih sanggup bertarung akan pergi ke tempat lainnya,"
Di tempat ini, ucapan api biru kecil Xiao Shuxiang hanya dimengerti oleh Feng Ying, karena itulah dirinya seperti memberi komando.
Beberapa kultivator senior ketiga aliran menolak diberi perintah oleh Feng Ying, mereka jelas tidak menyukainya sebab Feng Ying masih terlalu muda dan praktiknya juga berada di bawah mereka.
Walau jarak Xiao Shuxiang cukup jauh, nyatanya dia mendengar penolakan dari beberapa kultivator ketiga aliran.
Berani sekali mereka membantah hanya karena yang menyuruh mereka adalah seorang bocah.
Meski dirinya bisa mengatasi ini, namun Xiao Shuxiang ingin Feng Ying yang melakukannya. Dia juga dapat mendengar beberapa kultivator membela saudara seperguruannya dengan mengatakan bukan waktunya mengeluh dan mementingkan perbedaan.
Feng Ying berkata dia tidak peduli bila mereka tak mau mendengarkannya. Dirinya mengajak teman-temannya yang lain untuk pergi dan meninggalkan para manusia yang tidak mau ikut karena terlalu membanggakan diri sendiri itu.
Hanya karena lebih tua dan memiliki praktik yang lebih tinggi mereka tidak mau mendengarkan Feng Ying.
Sayang sekali, andai yang mereka tolak adalah perintah Xiao Shuxiang, maka saat itu juga kepala mereka semua akan meledak.
"Entah kenapa aku jadi lebih penyabar akhir-akhir ini.. Apa mungkin karena terus berlatih seruling..?"
Xiao Shuxiang terus memainkan serulingnya, dia bisa melihat ada gumpalan asap kecil berwarna hitam keluar dari mulut, hidung, dan telinga para manusia yang terbaring pingsan tersebut.
?!
Asap itu memadat menjadi seperti bola seukuran kepalan tangan anak kecil, mereka melayang dan lalu menghilang entah kemana.
Xiao Shuxiang nampak mengerutkan keningnya, walau samar.. Dirinya menunjukkan ketidaksenangan.
Dia memainkan seruling tanpa diganggu sama sekali, bukankah ini aneh? Orang yang mengendalikan para manusia biasa dan kultivator ini harusnya muncul dan menyerangnya, tetapi..
".. Aku akan memikirkannya nanti,"
Xiao Shuxiang menyelipkan Seruling Giok Putihnya di pinggang sebelah kiri. Dirinya lalu perlahan turun dan menapakkan kakinya di tanah.
Dia bisa melihat Jing Mi dan Bao Yu masih bertarung dengan kembaran dirinya, kedua teman Xiao Shuxiang itu dibantu oleh murid senior Sekte Pedang Langit dan beberapa kultivator dari sekte lain.
Tap
Tap
Saat ini banyak manusia yang terluka bahkan beberapa organ tubuh mereka tertebas dan dalam kondisi kritis.
Tidak mungkin dirinya mengobati mereka semua satu persatu. Karenanya, Xiao Shuxiang berniat meracik herbal yang efeknya dapat mencakup tiga kota.
?!
Kehadiran Xiao Shuxiang tentu disadari oleh para kultivator ketiga aliran, apalagi yang berasal dari Aliran Hitam.
Mereka merasa asing dengan seragam pemuda berambut panjang tersebut, coraknya begitu unik dan mirip seperti seragam pemuda yang senjatanya pedang bergerigi ini, hanya beda warna saja.
Bagi mereka, Xiao Shuxiang seperti jelmaan kupu-kupu hitam, kelam, dan seakan sulit tersentuh.
Tidak ada dari mereka yang mau mendekat, Xiao Shuxiang seperti memiliki aura yang tidak mengizinkan siapapun mendekat bila masih mau hidup.
Perbedaan antara Xiao Shuxiang dengan teman-temannya atau pemuda seumuran dirinya adalah aura yang dirasakan para kultivator senior ini.
Bisa dibilang, kultivator berumur yang praktiknya lebih tinggi dari teman-teman Xiao Shuxiang dan dirinya sendiri jauh lebih peka. Sementara untuk yang masih berusia muda.. Mereka sama sekali tidak merasakan apa-apa.
Ini bukan Aura Pendekar apalagi Aura Pembunuh. Xiao Shuxiang sendiri bahkan tidak melakukan apapun pada tubuhnya, namun para kultivator senior tersebut enggan untuk mendekat.
Setelah mendapat posisi duduk yang nyaman, Xiao Shuxiang mulai mengeluarkan masing-masing sepuluh butir Pil Napas Naga dan Pil Embun Bunganya. Dia juga mengeluarkan enam jenis tanaman herbal yang salah satunya berwarna ungu.
Tanpa lama-lama, dirinya mengeluarkan api biru di tangan kirinya. Api tersebut seukuran kepalan tangan Xiao Shuxiang, bila diperhatikan, ada kilatan-kilatan petir ungu yang bercampur pada api tersebut.
?!
Xiao Shuxiang sebenarnya terkejut saat melihat api birunya nampak berbeda, namun dia mendadak ingat dengan petir yang pernah diberikan oleh paman angkatnya saat di Dunia Demon. Kemungkinan petir tersebut telah bercampur pada api miliknya sejak saat itu.
Api tersebut lalu melayang di depan Xiao Shuxiang, dua puluh pil dan enam jenis tanaman herbal langsung dimasukkan secara sekaligus pada api biru berpetir tersebut.
Letupan-letupan kecil mulai nampak, aroma herbal seketika menyeruak, membuat para kultivator yang menciumnya terdiam dan langsung menoleh ke asal aroma itu. Xiao Shuxiang terus mengontrol panas dari api miliknya.
__ADS_1
Dalam tiga tarikan napas, api itu menghilang dan langsung muncul tepat di tengah-tengah ketiga kota.
Api biru berpetir milik Xiao Shuxiang membesar dan dalam sekejap berubah menjadi asap tipis keemasan yang langsung menyebar serta menyelimuti seluruh isi kota.
BAAAAM!
Jing Mi dibantu oleh tiga orang kultivator senior yang berasal dari sekte berbeda telah berhasil mengalahkan kembaran dirinya.
Bao Yu juga demikan, dia mampu memberi serangan mematikan pada kembaran Saudara Xiao-nya dengan bantuan lima orang kultivator.
Mereka tersentak saat asap tipis keemasan menyentuh tubuh mereka. Detik berikutnya, seluruh luka yang dialami Jing Mi serta kultivator lainnya sembuh, kekuatan mereka pulih kembali.
!!
"I-ini..?!"
Rasa keterkejutan memenuhi hati para kultivator senior ketiga aliran. Keempat murid Sekte Pedang Langit yang sudah tahu bahwa Xiao Shuxiang adalah seorang Alkemis juga nampak terkejut, pandangan mereka langsung tertuju pada satu tempat.
Jing Mi dan Bao Yu beda lagi, mereka tersenyum lebar kala seluruh tubuh keduanya kembali pulih. Dengan kekuatan penuh, keduanya menyerang kembaran mereka yang tersisa.
Xiao Shuxiang menghembuskan napas pelan, dia lalu mengusap keringat di keningnya. Butuh konsentrasi yang tidak sedikit saat mengolah pil dan tanaman herbal miliknya.
Alkemis lain jelas tidak akan mampu. Dirinya bahkan ragu bila Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit bisa melakukan hal yang sama.
Efek dari asap keemasan milik Xiao Shuxiang bukan hanya menutup luka dan memulihkan tenaga, tetapi juga menumbuhkan organ tubuh yang habis tertebas.
"Beruntung kembaran tampanku itu hanyalah bayangan hingga dia tidak terpengaruh dengan efek dari racikan herbal ini. Baiklah, saatnya ke tempat lain.."
Meski racikan herbal Xiao Shuxiang sangat hebat namun tentu tidak bisa digunakan dalam pertarungan seperti perang.
Penyebabnya adalah karena cakupan asap keemasannya menyelimuti semua orang, entah itu kawan dan lawan. Asalkan di tubuh mereka memiliki darah dan jantungnya masih berdetak, maka pasti disembuhkan sefatal apapun lukanya.
!!
Salah satu kultivator Sekte Pulau Hujan nampak membulatkan mata saat melihat Xiao Shuxiang melesat begitu cepat tanpa bantuan pedang terbang, padahal praktik pemuda yang dilihatnya masih berada di Forging Qi tingkat 13.
"He-Hebat.."
Sepertinya kultivator Sekte Pulau Hujan baru menyadarinya. Dia jelas baru pertama kali melihat ada kultivator yang dapat melayang tanpa bantuan pedang terbang.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman wali kota Embun Bunga, Kekaisaran Matahari Tengah. Tianqi Mao telah mempersiapkan dua puluh orang kepercayaannya yang menguasai teknik Segel Cermin.
Mereka dikumpulkan di halaman depan, nampak berkonsentrasi mencari wilayah yang aman untuk dijadikan tempat perlindungan dalam artian tempat pelarian andai kekacauan tidak dapat diatasi.
"Kita akan memindahkan warga kota ke wilayah itu. Cari jarak yang paling jauh. Bahkan bila kalian mati, temukan tempat itu."
Bukannya Tianqi Mao bersikap pecundang, dia justru melakukan ini untuk menolong para manusia biasa dari pertempuran yang dapat menewaskan mereka.
Angin sejuk yang berhembus justru membawa firasat buruk bagi Tianqi Mao. Dia dapat merasakan akan datang awan gelap dan menutupi seluruh tempat di Benua Timur.
"Tuan, bagaimana jika pulau Demonic Beast? Itu tempat paling jauh dari Benua ini?"
Tidak seorang pun yang meragukan firasat Tianqi Mao. Walau terlihat seperti anak kecil berusia 9 Tahun, berpakaian berwarna merah muda dengan rok yang mengembang seperti bunga, begitu terlihat seperti putri kecil yang manis, nyatanya tidak ada bantahan apapun yang mereka lakukan.
"Pulau itu terlalu berbahaya, cari yang lain. Kalau perlu, benua lain..! Kita harus menyelamatkan sebanyak mungkin manusia,"
!!
"Ka-kalau sejauh itu sangat mustahil-"
"Tidak ada kata 'mustahil' dalam kamusku. Jadi cepatlah bekerja..!"
Tianqi Mao memainkan kipasnya, dia lalu berjalan menuju pintu gerbang kediamannya menemui Siu Yixin. Dua puluh orang kepercayaannya hanya bisa menelan ludah, mereka lalu berkonsentrasi kembali.
Di luar kediaman Tianqi Mao, Siu Yixin nampak bersiap-siap dengan seribu pasukan yang akan berpencar ke setiap desa untuk membawa manusia biasa ke tempat ini.
Persiapan telah selesai, tinggal menunggu perintah saja. Tianqi Mao rupanya cukup terkesan dengan gerak cepat Siu Yixin, tidak sia-sia dia menolong pemuda ini.
"Sepertinya kau sudah selesai? Tapi.. Kenapa pakaian kalian mencolok sekali..?"
"♬♪Pasukan bagian keamanan harus lebih mencolok, yo!♬♩"
Siu Yixin lalu berseru pada pasukannya, dia mengajak semuanya untuk menculik para manusia dan membuat banyak kehebohan.
Sorakan pasukannya terdengar menggema, beberapa dari mereka berteriak ingin menyaksikan konser perdana Siu Yixin. Tianqi Mao malah terlihat ragu dengan pasukan pemuda di sampingnya ini.
"Kuharap mereka semua bukan penggemar yang sering kau elu-elukan itu,"
__ADS_1
***