XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
293 - Pertemuan


__ADS_3

"Pasar besar di Kota Bintang Biduk adalah yang terbaik! Aku tidak akan pernah bosan datang kemari,"


"Kau benar, Kakak Lu Yang Cantik.." Yi Wen terlihat senang karena bisa kembali mencuci matanya setelah setiap harinya dia terus menyaksikan pertarungan berdarah yang dilakukan teman-temannya di Sekte Pagoda Langit.


"..Tapi sayangnya, ada satu yang menggangguku.." raut wajah Yi Wen yang sebelumnya senang seketika memasang ekspresi jengkel.


Dia dan Xiao Lu saat ini sedang berjalan-jalan di pasar besar Kota Bintang Biduk. Tidak hanya mereka, tetapi Jing Mi, Hou Yong, dan Siu Yixin juga ada. Apalagi bila diperhatikan dengan baik, Xiao Lu nampak memegang tangan seorang anak kecil yang berusia sekitar lima tahun.


".. Kenapa kita harus berjalan-jalan dengan mereka, menyebalkan sekali..!" Yi Wen menunjuk Jing Mi, Hou Yong, dan Siu Yixin menggunakan tatapannya. Setiap kali mereka ke pasar, pasti ketiga laki-laki itu selalu ikut.


".. Aku tidak suka. Coba lihat itu, Saudara Jing sudah seperti gorila besar, sementara Hou Yong tidak pernah ada perubahan, dia selalu saja pendek.." Yi Wen mulai merutuk, pandangannya lalu mengarah ke Siu Yixin.


".. Dan satu lagi, pria itu tampan tapi pakaian dan riasan wajahnya terlalu mencolok. Aku seperti dikawal oleh orang-orang dari bumi yang lain,"


Yi Wen terlihat menggelembungkan pipinya, sudah seminggu terakhir ini dirinya berusaha keras untuk menggoda pemuda di Sekte Pagoda Langit, tetapi belum pernah membuahkan hasil.


Yi Wen sebenarnya adalah gadis yang cantik, rambut cokelat kehitaman yang hanya sepanjang leher itu membuat dirinya terlihat manis. Apalagi bentuk tubuhnya yang jelas-jelas mampu menggoyahkan iman.


Dia memakai pakaian yang tertutup, berwarna hitam bercampur biru gelap. Pakaian tersebut adalah buatan Tianqi Mao, jelas akan ada rok yang terlihat mengembang, tetapi sebagai dalaman.. Yi Wen memakai celana panjang yang ketat.


Sebagai identitas dari sekte kupu-kupu, dirinya memakai jubah buatan teman-temannya yang pernah mendapat ajaran langsung dari Xiao Shuxiang.


Jubah tersebut bercorak sayap kupu-kupu, nampak berwarna merah gelap dengan bagian ujung bawahnya berwarna hitam dengan bintik putih.


Dalam keadaan yang biasa, Yi Wen terlihat cantik dan tidak seorang pun yang dapat menolak pesonanya. Para pemuda yang baru mengenalnya, pasti akan berusaha untuk bisa dekat dengan Yi Wen.


Namun, semua itu dapat berubah drastis ketika mereka melihat Yi Wen bertarung dengan memakai pedangnya.


Gadis cantik tersebut tidak pernah meninggalkan lawan dalam keadaan tubuh yang utuh, dan dirinya tidak segan-segan mencabut setiap tulang lawan sambil mendengar jeritan kesakitan mereka.


Di samping semua itu, Yi Wen mempunyai hobi mengumpulkan lidah milik lawannya. Dia jelas-jelas adalah kultivator Aliran Netral yang kekejamannya menyamai kultivator Aliran Hitam. Bahkan Xiao Lu sendiri sering tidak bisa mengendalikan Yi Wen.


".. Dari sekian banyak pria, kenapa harus mereka yang menemani kita..? Tidak di Benua Timur, tidak di Benua Tengah.. Selalu saja mereka. Aku juga butuh teman yang baru.." Yi Wen menghembuskan napas pelan dan berusaha menahan dirinya untuk tidak merutuk lebih banyak lagi.


Xiao Lu sendiri dalam hati berkata bahwa tidak ada yang akan berteman dengan gadis mengerikan seperti Yi Wen, ".. Dan kau beruntung karena Saudara Jing, Hou Yong, dan Siu Yixin masih mau berteman denganmu. Padahal waktu kecil kau anak yang baik, tapi entah siapa yang mengubahmu menjadi monster mengerikan..haah.." Dirinya menggeleng sambil berdecak pelan.


"Kakak Lu Yang Cantik, ayo tinggalkan mereka selagi ketiga orang itu sibuk." Yi Wen menarik tangan Xiao Lu dan mengajak gadis berambut panjang serta diikat tersebut untuk pergi ke tempat yang lain.


"Tidak, kita jangan tinggalkan mereka. Kalau kau mengamuk, aku tidak bisa menghentikanmu sendirian. Akhir-akhir ini kau sering tidak bisa mengontrol emosimu, sebaiknya mulai besok rutinlah melakukan Pembersihan Iblis Hati. Ayo jalan,"


Yi Wen terlihat memanyunkan bibirnya, ini kesekian kalinya dia diberi nasehat oleh Xiao Lu. Rasanya menyebalkan, padahal dirinya tahu bahwa Xiao Lu juga memiliki kesamaan dengannya.


Anak kecil berpakaian hitam yang dipegang Xiao Lu sejak tadi terus diam. Dia selalu memasang ekspresi tenang sambil tatapannya terus memperhatikan Jing Mi, Hou Yong, dan Siu Yixin yang nampak sedang memperdebatkan nama buah pada salah satu pedagang.


".. Aku tidak yakin, kenapa namanya harus seperti itu..?"


"Saudara Hou, apa kita harus memperdebatkan ini semalaman? Nama bukanlah yang terpenting, tapi rasanya Saudaraku. Aku mau yang ini,"


Jing Mi menunjuk buah berwarna merah dengan kulit tebal, Nyonya pedagang yang berusia 40 Tahun tersebut merasa senang dan segera memasukkan buah yang dipilih Jing Mi ke dalam keranjang bambu.


"♪♬ Aku sependapat dengan Hou Yong, yo! Buah itu tidak terlihat seperti naga, jadi mengapa namanya harus seperti itu yo! ♩♪"

__ADS_1


"Tuan, Anda coba perhatikan kulitnya. Lihat dengan seksama.."


Nyonya pedagang berusaha menjelaskan mengenai nama salah satu buah dagangannya pada Siu Yixin. Pemuda yang dia lihat memang tampan, hanya saja penampilannya terlalu berlebihan.


Pakaian Siu Yixin berwarna kuning emas dengan corak bangau merah, terdapat banyak perhiasan pada kedua tangan dan lehernya, dia bahkan memakai bulu mata berwarna merah terang. Siu Yixin kemungkinan adalah satu-satunya pendekar yang memiliki penampilan aneh.


"Apa lagi yang sedang kalian perdebatkan itu..? Setiap hari tidak ada habisnya," Xiao Lu meminta Hou Yong dan Siu Yixin untuk tidak mempermasalahkan hal yang tidak penting, lebih baik mereka berjalan-jalan ke tempat yang lain.


Anak kecil yang dipegang oleh Xiao Lu nampak sedikit tersentak, dirinya masih berwajah tenang namun tatapan matanya seketika mengarah ke suatu tempat, itu tertuju pada banyaknya kerumunan orang.


!!


Anak kecil tersebut segera melepaskan pegangan tangan Xiao Lu secara kasar dan kemudian berlari menjauh. Tindakannya membuat Xiao Lu dan Yi Wen terkejut.


"Kau mau ke mana?! Tunggu, Nak!"


"Ada apa dengan anak itu?!"


Xiao Lu dan Yi Wen segera mengejar anak berambut panjang nan diikat tersebut. Mereka juga menyeru agar Jing Mi, Hou Yong, dan Siu Yixin ikut.


Jauh di tempat lain, terlihat Xiao Shuxiang memasukkan kuda yang ditungganginya ke dalam Gelang Semesta bersama dengan bayi digendongannya. Dia dan teman-temannya memang sepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Malam semakin larut membuat Kota Bintang Biduk semakin ramai. Banyaknya orang tidak membuat Xiao Shuxiang, Hu Li, Xiao Qing Yan, dan O Zhan menjadi pusat perhatian. Mereka seakan mampu membaur dengan kondisi yang ada.


Sesekali Xiao Shuxiang dan teman-temannya berpapasan dengan pendekar serta kultivator, ini bisa dilihat dari senjata yang dibawa para pendekar itu.


Para pendekar yang berpapasan dengan Xiao Shuxiang dan teman-temannya hanya sekilas menatap mereka. Nampak sekali wajah para pendekar itu biasa saja dan malah menganggap bahwa Xiao Shuxiang serta teman-temannya merupakan keluarga yang sedang menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota.


Xiao Qing Yan sebenarnya tidak pernah berkultivasi, pengetahuannya sangat minim tentang dunia kultivator. Satu-satunya yang dia ketahui adalah.. Dirinya harus menyegel Iblis dan kembali menghidupkan tempat kelahirannya.


Xiao Qing Yan sepertinya tidak tahu bahwa dia memiliki bakat yang langka. Secara tidak sadar, dantian di dalam tubuhnya yang hanya sebesar mata ikan terus tumbuh setiap kali dirinya bertarung, dan baru berhenti setelah ukurannya mencapai diameter 5 cm.


Kejadian ini membuat Xiao Qing Yan menjadi salah satu kultivator tanpa dia sadari. Sayangnya, tempat dengan Qi yang padat di Benua Tengah terbilang langka. Karenanya dantian Xiao Qing Yan hanya menyimpan sedikit Qi saja.


"Tunggu,"


Hu Li dan Xiao Qing Yan langsung berhenti melangkah saat mendengar suara Xiao Shuxiang yang tiba-tiba ini.


Teman mereka terlihat mengarahkan pandangannya ke beberapa kereta pengangkut sayur yang berada di pinggir jalan.


"Tempat itu terlalu ramai, kau yakin akan meletakkannya di sana?" Xiao Qing Yan memperingatkan bahwa mereka bisa saja ketahuan bila nekat meninggalkan bayi tersebut di tempat yang seramai itu.


"Justru karena tempat itu ramai, jadi kita bisa meletakkannya di sana. Ayo,"


Xiao Shuxiang mengajak temannya ke tempat di mana beberapa pedagang yang sedang menaikkan barang-barangnya ke dalam kereta.


Para pedagang itu sepertinya akan melakukan perjalanan jauh, mereka jelas merupakan pedagang yang selalu berpindah-pindah tempat.


Xiao Shuxiang, Hu Li, dan Xiao Qing Yan melihat-lihat kereta yang kemungkinan cocok untuk tempat Sang Bayi. Cukup lama mereka mencari hingga O Zhan yang berada di atas kepala Hu Li mulai bersuara.


Pii~

__ADS_1


Hu Li melihat ada salah satu kereta yang sudah terisi penuh, pemilik kereta itu nampak berbincang dengan pedagang yang lain. Segera dia menepuk pelan lengan Tuan Mudanya dan memberitahukan apa yang dirinya lihat.


"Kereta itu sepertinya sudah mau berangkat, Tuan. Saya merasa, tidak ada seseorang pun yang akan sadar bila Anda meninggalkannya di sana,"


Xiao Shuxiang memperhatikan dengan teliti kereta yang dikatakan Hu Li beserta orang yang dia yakini adalah pemilik dari kereta tersebut.


Ada seorang pria yang terlihat telah berusia tua, tubuhnya kurus dan wajahnya telah berkeriput. Pria tua itu masih bisa berjalan tegap tanpa bantuan tongkat, dirinya nampak sedang berbincang dengan dua orang pedagang.


"Kalian tunggu di sini, aku yang akan pergi.."


"Berhati-hatilah, Tuan.."


Hu Li dan Xiao Qing Yan memperhatikan Xiao Shuxiang dari kejauhan, mereka sesekali mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, khawatir bila ada orang yang sadar dengan apa yang akan dilakukan rekan mereka itu.


Xiao Shuxiang berjalan seperti biasanya, dia masih tetap saja tenang dan sesekali tersenyum ramah saat berpapasan dengan pedagang yang nampak memasukkan barang-barangnya ke dalam kereta.


Saat dirinya mulai dekat dengan targetnya, samar-samar Xiao Shuxiang mendengar perbincangan tua bangka tersebut yang bahasanya tidak dia mengerti.


[".. Kau harusnya tidak berdagang sendirian. Usiamu itu sudah tidak muda lagi, Barma. Bagaimana jika nanti di jalan kau mati dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya,"]


Salah satu pria yang nampak berusia 42 Tahun memperingatkan pada temannya agar berdagang di rumah saja. Menjelajahi kekaisaran bukan hanya melelahkan, tetapi juga berbahaya.


["Mau bagaimana lagi. Aku tidak punya anak yang bisa menggantikanku berdagang. Desaku juga terlalu jauh dari kota, dan kebanyakan warga bekerja sebagai petani, mereka jelas tidak membutuhkan sayuran milikku.."]


Pria bernama Barma tersebut menghela napas pelan. Semenjak dirinya menikah sampai usianya yang sudah tidak muda lagi.. Dia dan sang istri masih belum dikarunia anak.


[".. Istriku selalu mendesak agar aku menikah lagi, namun bahkan di dalam mimpi pun aku tidak pernah berpikiran ingin menduakannya,"]


Saat Barma masih berbincang-bincang dengan temannya.. Xiao Shuxiang mulai mengibaskan pelan tangannya hingga bayi tanpa nama yang berada di dalam Gelang Semestanya keluar.


Bayi tersebut berada di dalam salah satu keranjang sayur, dia terlihat tertidur nyenyak tanpa terganggu dengan aroma-aroma sayur dan rempah-rempah yang cukup menyengat.


Apa yang dilakukan Xiao Shuxiang hanya berlangsung beberapa detik, karenanya dia sama sekali tidak dicurigai. Dirinya kembali berjalan santai dan pergi menuju tempat teman-temannya berada.


Xiao Shuxiang, Hu Li, dan Xiao Qing Yan baru melanjutkan kembali perjalanan mereka saat melihat kereta dagang milik Barma mulai berjalan.


"Tuan Muda Xiao.. Anda benar-benar melakukannya. Tidakkan Anda merasa sedih berpisah dengan bayi manis itu..?"


Hu Li sebenarnya berat melepaskan bayi kecil tersebut, walau waktu yang mereka habiskan tidak banyak.. Tetapi kekhawatirannya terlihat jelas sekali meski dirinyalah yang menyarankan agar Tuan Mudanya meletakkan bayi itu di kereta yang saat ini sudah semakin menjauh.


"Hu Li, hatiku tidak semudah itu bisa luluh hanya karena seorang bayi menggemaskan. Dan kau harus tahu, bayi itu tidak akan bisa aman bila terus bersamaku. Lagipula.." Xiao Shuxiang sedikit mendekatkan dirinya pada Hu Li, dia lalu memelankan suaranya sambil menatap keturunan Penatua Da Lin yang sedang berjalan di depan mereka.


".. Kucing Hitam sepertinya masih takut dekat dengan bayi. Aku yakin dia saat ini adalah yang paling lega di antara kita karena bisa berpisah dengan si tanpa nama itu,"


Langit di atas Xiao Shuxiang dan teman-temannya terlihat bertabur bintang, siapa pun yang menatapnya akan merasakan kedamaian. Hanya saja, keramaian pasar seakan lebih menarik perhatian Xiao Shuxiang daripada langit penuh bintang di atasnya.


Setelah sekitar tiga puluh menit berjalan--Xiao Shuxiang seketika tersentak saat merasa ada seseorang yang menubruknya.


"Hm?"


***

__ADS_1


__ADS_2