XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
57 - Pandangan Qi Xuan [Revisi]


__ADS_3

Di belakang gedung tempat para peserta turnamen berada, terlihat Qi Xuan sedang berlatih seorang diri.


Dia meninju dan menendang salah satu pohon plum yang ada di belakang gedung tersebut. Qi Xuan sudah berlatih selama kurang lebih 15 menit, bekas tinjuan dan pukulannya terlihat di batang pohon plum di depannya.


Ada sebuah tekad pada tatapan mata Qi Xuan, jauh di dalam hatinya dia merasa terlalu lemah. Selama perjalanan menuju Sekte Bunga Lotus, Qi Xuan sudah sedikit lebih tahu tentang dunia tempatnya tinggal tersebut.


Tempat yang di huni oleh manusia berbagai sifat dan demonic beast, tempat yang hanya bisa di tinggali oleh orang-orang yang kuat.


Jika Qi Xuan lemah, bukan tidak mungkin dirinya akan berakhir seperti Kadal Api yang diinjak oleh Xiao Shuxiang, atau dibantai habis oleh orang-orang seperti Gong Ru dan Gong Peng. Dan andai dirinya masih bernapas pun, pasti dia akan ditindas oleh orang seperti Dai Chen.


Selama ini, Qi Xuan hanya bertemu sedikit orang yang baik di luar dari desanya. Itu pun hanya Nenek Tian, Gu Ta Sian, Zong Ming, dan Ying Liu.


Sementara, saat dirinya dan teman-temannya diberi uang oleh seorang pendekar asing kala itu, tidak lain karena dirinya dianggap pengemis. Perlakuan sopan oleh para pelayan di penginapan padanya adalah karena mereka membayar untuk menginap disana.


Qi Xuan juga melihat rasa hormat yang diberikan oleh para pedagang kepada Gu Ta Sian dan Xiao Shuxiang adalah karena keduanya menolong mereka. Mereka juga begitu sopan kepada Tetua dan teman-temannya adalah karena tindakan Xiao Shuxiang bertarung dengan berani melawan Gong Peng.


Qi Xuan menyadari, bahwa butuh sebuah alasan untuk membuat orang lain merasa hormat dan melihat tinggi ke arahnya. Qi Xuan menyadari, bahwa orang lemah hanya akan ditindas, orang yang tak punya akan d ipandang dengan rasa kasihan.


BAAM!


Sebuah lubang yang cukup dalam tercipta saat Qi Xuan mengingat semua pengalamannya selama ini.


Dia butuh kekuatan, tak ada alasan lain bagi dirinya untuk menjadi lemah. Qi Xuan tidak ingin lagi dilihat dengan wajah dan mata yang memandangnya kasihan.


Dia tidak ingin terus lari mencari bantuan kepada Yang Shu dan membuat Xiao Shuxiang melindungi dirinya. Qi Xuan tidak mau menjadi beban bagi tetuanya.


BAAM!


Krak


Kraak!


Tendangan Qi Xuan pada batang pohon plum membuat pohon tersebut bergoyang keras bahkan terdengar suara retakan, seakan pohon plum ini hampir tumbang, tinggal menunggu tinjuan atau tendangan Qi Xuan selanjutnya.


Tangan dan kaki Qi Xuan terlihat merah, namun sama sekali tidak ada rasa sakit yang Qi Xuan rasakan selain rasa sakit pada hatinya karena merasa terlalu lemah.


Pada Forging Qi tingkat 4, kulit luar, otot, dan tulang seorang kultivator akan lebih kuat dari manusia biasa. Meskipun saat melakukan tinjuan dan tendangan seperti Qi Xuan masih akan terasa sedikit nyeri dan sakit.


Alasan kenapa Qi Xuan tidak merasa sakit sama sekali adalah karena dirinya melapisi tangan dan kakinya dengan Qi.


Tak banyak kultivator yang bisa melakukan ini saat mereka berada di Forging Qi tingkat 4. Itu di karenakan mereka meningkatkan praktik secara instan, yakni menyerap Qi melalui perantara Spirit Tone dan Demonic Core.


Tidak ada yang mau bersusah-susah menyerap Qi secara manual atau langsung dari alam, sebab kenaikan tingkat praktik mereka akan sangat lambat. Padahal berlatih menyerap Qi langsung dari alam memiliki manfaat yang jauh lebih besar.


Pertama adalah tubuh akan terbiasa merasakan aliran Qi yang ada di alam. Kedua, kualitas fisik akan jauh lebih kuat dari kebanyakan kultivator saat berada di tingkatan tertentu. Ketiga, orang tersebut tidak akan tergantung dengan Spirit Tone maupun Demonic Core.


Anak seperti Qi Xuan dan teman-temannya yang berada di desa paling terpencil dengan kepadatan Qi yang begitu tipis, memiliki keuntungan lain dari cara menyerap Qi secara manual.


Yaitu mereka terbiasa menggunakan Qi yang tipis untuk meningkatkan praktik mereka, dan saat mereka berada di tempat dengan Qi yang padat, maka bisa dibayangkan seperti apa perkembangan praktik mereka nantinya.


Walaupun begitu, memerlukan konsentrasi dan ketenangan batin untuk bisa menyerap Qi di alam. Dan seorang kultivator tidak bisa menyerap Qi terlalu banyak secara sekaligus, karena akan berdampak pada dantian dan juga tubuhnya.


Qi Xuan mulai mengumpulkan Qi pada kepalan tangannya, kali ini dia berniat meninju pohon plum di depannya hingga roboh.


Namun saat kepalan tangannya hampir menyentuh batang pohon tersebut, sebuah jeritan menghentikan tindakan Qi Xuan.


"AAAAAA!!"


Qi Xuan tersentak dan seketika menoleh, dia lalu berlari mencari asal dari jeritan tersebut. Pandangan matanya mengarah pada bangunan paling kecil yang terlihat seperti gudang tua.


Gudang ini seakan bersembunyi di belakang gedung tempat di mana semua peserta berada. Qi Xuan merasa aneh melihat gudang di depannya ini.


"AAAAA!"

__ADS_1


"Di dalam?!" Qi Xuan mendengar suara jeritan yang begitu jelas dari dalam gudang, dengan segera dia membuka sambil sedikit mendobrak pintu gudang tersebut.


!!


Qi Xuan kaget saat melihat apa yang ada di dalam gudang tua ini. Banyak barang tua namun memiliki warna kuning emas, beberapa dari barang itu ada yang berwarna perak, terlihat juga seorang anak perempuan yang berusia sekitar tujuh tahun sedang berdiri ketakutan di pojok gudang sambil menjerit.


Gadis ini memakai pakaian berwarna merah muda dan memakai jepit rambut berbentuk bunga dengan pita besar berwarna merah. Dia menatap Qi Xuan dengan mata berkaca-kaca.


"Kau..."


"KAKAK!! Cepat Tolong Aku!!"


Gadis itu memanggil-manggil Qi Xuan, wajahnya benar-benar ketakutan serta terlihat panik.


Qi Xuan segera menghampiri gadis kecil tersebut dan mulai menenangkannya, "Tenanglah. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuatmu takut?"


"Kakak di sana! Di sana ada tikus Kak! Cepat singkirkan tikus itu!!"


"Tikus...? Kau menjerit karena tikus?" Qi Xuan tidak percaya, padahal dia sudah merasa panik karena mendengar suara jeritan gadis kecil ini.


"Kakak! Cepatlah, kau jarus menolongku! Singkirkan tikus itu!"


Tanpa menjawab pertanyaan Qi Xuan, anak kecil ini malah menyuruhnya untuk menangkap dan membunuh tikus yang sudah berani membuatnya takut.


Qi Xuan dengan sedikit gugup mulai mencari keberadaan tikus tersebut, namun tikus itu sama sekali tidak ditemukannya.


"Kurasa tikus itu sudah pergi, dia tidak akan membuatmu takut lagi..." ucap Qi Xuan.


"Be-benarkah? Ti-tikus itu ti-tidak akan datang lagi kan?"


"Aku sebenarnya tidak yakin, Kau... kenapa bisa ada di tempat ini?" Qi Xuan tidak ingin menjawab pertanyaan anak perempuan berusia tujuh tahun tersebut, dirinya mengarahkan pembicaraan ke hal yang lain.


Gadis itu tersentak saat mendengar ucapan Qi Xuan barusan, dia mulai terlihat salah tingkah. "I-i-itu karena tempat ini punyaku,"


Anak perempuan berusia tujuh tahun ini bernama Huan Mei, dia adalah cucu dari Huan Fei. Dan gudang tua ini merupakan tempat jalan rahasia milik Sekte Bunga Lotus berada.


Ada sebuah segel pintu di antara lantai kayu di dalam gudang tua ini. Baik jalan rahasia serta cara membuka segelnya hanya di ketahui oleh Huan Fei, cucunya, dan beberapa murid kepercayaannya.


Jalan rahasia ini menghubungkan antara tempat turnamen dengan tempat tinggal Grand Elder, serta sebuah tempat di Kota Daun Teratai. Huan Mei menggunakan jalan rahasia tersebut sebab kakeknya melarang dirinya untuk hadir melihat Turnamen Kultivator Muda.


Qi Xuan dan Huan Mei jadi banyak menghabiskan waktu bersama, mereka saling bertukar cerita meskipun Huan Mei-lah yang paling banyak bicara.


Perempuan ini begitu cerewet menceritakan persoalan kakeknya, yang seolah-olah sedang mengadu pada Qi Xuan.


Dari cerita yang didengar Qi Xuan, dia mengetahui bahwa Huan Fei terlalu melindungi cucunya ini, bahkan seperti mengekangnya.


"... aku dilarang pergi kemana-mana oleh kakek. Dia tidak membiarkanmu keluar dari kediaman, tidak boleh berkeliling tempat ini, semuanya harus berada dalam pengawasan kakek! Kakek itu sangat menyebalkan!"


"Memangnya kenapa kau begitu dilindungi?" Qi Xuan malah seakan larut dari pembicaraan dengan Huan Mei, dia bahkan tidak mendengar pengumuman peserta selanjutnya dari Turnamen Kultivator Muda.


"Itu... Kata kakek aku istimewa! Sebenarnya a-" Huan Mei seketika saja berhenti bicara saat tiba-tiba terlintas diingatannya mengenai ucapan kakeknya.


"Ada apa?" Qi Xuan keheranan sebab anak kecil di sampingnya ini menjadi diam.


"Kakek melarangku untuk mengatakannya pada orang lain..."


"Ah! Kalau begitu jangan katakan, kau harus mematuhi ucapan kakekmu..." Qi Xuan mengusap pelan punggung Huan Mei sambil tersenyum ramah ke arahnya.


"Kakak Qi..."


"Panggil 'Xuan' saja,"


"Kakak Xuan, kau juga peserta turnamen?"

__ADS_1


Qi Xuan mengangguk, "Aku sebenarnya sedang latihan dan mempersiapkan diri untuk bertanding ketika namaku dipanggil nanti. Tapi saat berlatih, aku mendengar jeritanmu."


"Kakak latihan, tapi di mana pedang Kakak?" Huan Mei menyadari bahwa tidak ada pedang yang terselip dipinggang Qi Xuan.


"Aku meminjamkan pedangku kepada Saudara Jing,"


Huan Mei memiringkan kepalanya, dia menatap kebingungan ke arah Qi Xuan.


Qi Xuan yang melihat tatapan Huan Mei mulai menarik napas pelan lalu mengembuskannya, dia pun mulai menceritakan tentang dirinya dan tempat tinggalnya kepada Huan Mei.


Anehnya, Huan Mei dan Qi Xuan meski sama-sama orang yang baru mengenal... tetapi keduanya begitu akrab satu sama lain. Huan Mei sendiri sebenarnya tidak bisa cepat akrab dengan orang asing. Namun ketika dirinya melihat wajah Qi Xuan, dia merasa bahwa anak ini adalah orang yang baik dan mampu memberinya rasa aman.


Di tempat lain, Zong Ming bertarung dengan salah satu perwakilan Sekte Pedang Langit, Tian Ri. Sementara pertandingan sebelumnya ternyata di menangkan oleh Lie Kai, dari Sekte Lembah Kabut. Dia berhasil mencederakan lawannya bahkan jika Huan Shan tidak segera menghentikan Lie Kai, pasti lawannya sudah kehilangan satu tangan sekarang.


Traang! Traang!


Zong Ming dan Tian Ri sama-sama berusia 14 tahun, dengan Forging Qi yang sama-sama berada di tingkat 6. Mereka berdua sudah banyak bertukar serangan. Bisa dikatakan, dari semua pertarungan... inilah pertarungan yang paling lama.


Kultivator Sekte Serigala Iblis yang menyamar mulai saling memberi kode, salah satu di antara mereka melihat ke tempat di mana para peserta berada. Ternyata, seorang kultivator Sekte Serigala Iblis ada yang menyamar sebagai wali peserta.


"Hei, dia sudah menemukan anak itu. Kita akan mulai bergerak di pertarungan berikutnya," ucap salah seorang kultivator Sekte Serigala Iblis, setengah berbisik.


Teman-teman di samping kultivator ini mulai mengangguk, mereka terlihat meraba-raba sesuatu dari balik pakaian mereka.


***


-


-


-


Catatan Penulis :


Jangan Lupa Untuk Terus Meninggalkan Jejak Kalian Berupa Like Dan Sekaumnya. Serta Tambahkan Karya Ini Ke Dalam Daftar Favorit Kalian! ヽ(´▽`)/


.


.


saatnya sesi Pantun dimulai..


.


.


Jika Aku Seorang Pemburu


Anak Rusa Kan Kudapati


Jika Dinda Merasa Cemburu


Tanda Cinta Masih Sejati


.


.


MangThor :


Oh ya, Pemeran Utama Kita Sedang Mempersiapkan Mental Dan Batinnya Untuk Disiksa Oleh Penulis Di Chapter-Chapter Berikutnya.


Saat Ini, Penulis Memberinya Waktu Istirahat Beberapa Tarikan Napas. Jangan Bilang-Bilang, Nanti Dia Mengamuk!^^

__ADS_1


Jumpa Lagi Di Chapter Berikutnya!


__ADS_2