XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
308 - Sri Anyar


__ADS_3

Xiao Shuxiang terkejut saat mendengar teriakan asing yang seperti begitu dekat dengannya.


Dia baru sadar bahwa ada seseorang yang berjongkok di sampingnya dengan kepala tertunduk sambil memeluk sebuah tongkat bambu, orang itu nampak ketakutan.


"Jangan bunuh aku..! Jangan bunuh aku..! Aku tidak melakukan apa-apa..!"


"Kau.."


Pria yang berjongkok cukup dekat dengan Xiao Shuxiang tidak lain adalah Bocah Pengemis Gila, orang yang sebelumnya dia temui di Kota Relung Bunga.


Cahaya bulan membuat pandangan Xiao Shuxiang lebih jelas, dia kini dapat melihat wajah Bocah Pengemis Gila yang penuh dengan riasan mirip dengan hantu gantung.


"Apa.. Yang kau lakukan di sini..?"


Xiao Shuxiang masih berbaring, suaranya lemah, dan dia sedikit meringis karena sakit di tubuhnya.


Bocah Pengemis Gila yang memeluk erat tongkat bambunya perlahan menolehkan kepala, meski tertutup riasan.. Namun wajahnya memperlihatkan ekspresi ketakutan. Dengan suara gemetar dia mengatakan bahwa dirinya sedang mencari daun teh.


".. A-aku tidak melakukan apapun, ja-jangan bunuh aku,"


Xiao Shuxiang baru ingin bertanya kembali.. Namun seketika dirinya mendengar suara langkah kaki dan detik berikutnya sosok hitam terlihat melayang di atasnya dengan sebuah pedang yang terayun.


Cahaya bulan membuat bilah pedang tersebut seperti bersinar.


Sosok itu adalah Gong Zitao, matanya berkilat biru karena terpengaruh dengan Tenaga Dalam Sri Anyar. Kekuatannya jelas sedang didorong ke tingkat yang lebih tinggi.


"Matilah..!"


BAAAM!


Serangan Gong Zitao menciptakan retakan yang cukup dalam pada tanah, serta suara debaman keras. Dia seperti ingin membuat tubuh lawannya hancur tak bersisa.


Gong Zitao mengetahui bahwa serangan Sri Anyar telah membuat Xiao Shuxiang sekarat dan dia yakin pemuda itu tidak akan bisa bangun lagi. Kesempatan tersebut dia manfaatkan untuk memberi serangan pamungkas miliknya.


!!


Sayang serangan Gong Zitao hanya mengenai tanah. Matanya terbelalak saat tahu pedangnya sama sekali tidak membelah tubuh lawan, dia jelas tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


?!


Gong Zitao langsung menoleh ketika mendengar suara tubrukan. Dirinya melihat dua sosok yang berguling hingga salah satunya baru berhenti ketika menubruk sebuah pohon.


?!


Sesaat sebelum Gong Zitao menyerangnya.. Xiao Shuxiang mengerahkan seluruh tenaga dan menerjang Bocah Pengemis Gila di dekatnya.


Dia terus memeluk pemuda gila tersebut hingga mereka bergulingan dan baru berhenti ketika punggungnya membentur pohon.


Dirinya memuntahkan darah karena jantungnya kembali tertusuk tulang, rasanya dia ingin sekali berteriak.


Xiao Shuxiang merasakan tubuh pemuda yang dia peluk gemetaran. Ini wajar sebab siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama ketika diterjang tiba-tiba oleh seseorang yang masih memegang sebuah pedang dan malah berakhir berguling-gulingan seperti ini.


Gong Zitao sendiri nampak berdecak kesal. Dia tidak terima Xiao Shuxiang masih bisa bergerak setelah mendapat luka yang serius. Pemuda itu harusnya tak mampu lagi bergerak, apalagi bisa selincah ini.


Tap


Tap


Sri Anyar nampak berjalan tenang di belakang Gong Zitao, dirinya juga terkejut karena lawannya masih bergerak bahkan kini nampak berdiri, walau sedikit sempoyongan.


"Kurang ajar.. Selama ini tidak ada orang yang mampu untuk menggerakkan tubuhnya setelah terkena seranganku, sebenarnya kau manusia macam apa?!"


Sri Anyar menunjuk Xiao Shuxiang dengan pedangnya. Di balik kain penutup wajahnya.. Dirinya begitu sangat kesal. Serangannya tidak selemah itu hingga mampu dipatahkan oleh seseorang seperti kultivator muda di depannya ini.


Bibir Xiao Shuxiang tertarik dan membentuk senyuman tipis, dia memegang kuat pedangnya dan sedikit memiringkan kepalanya ke kiri.


"Mmn..? Kapan aku pernah bilang.. Kalau aku ini manusia?"


!!


Sebelah mata Xiao Shuxiang berubah merah, sebelahnya lagi menjadi kuning keemasan. Asap hitam tipis terbentuk di bawah kakinya dan terus naik memenuhi seluruh tubuhnya.


Dalam sekejap, seluruh luka-lukanya sembuh. Pakaiannya ikut berubah menjadi lebih gelap namun seindah giok hitam. Senyuman yang semula tipis kini membentuk seringaian paling mengerikan.


!!


Untuk sesaat, Sri Anyar dan Gong Zitao menahan napas mereka. Bocah Pengemis Gila yang belum bangun malah memilih untuk meringkuk ketakutan sambil memeluk erat tongkat bambunya.


Tap


Xiao Shuxiang berjalan tenang melewati Bocah Pengemis Gila. Dia merasakan Yīng xióng dan Segel Pengekang Jiwa mulai bereaksi terhadap kekuatan yang dia keluarkan.


"Jangan khawatir, aku masih bisa mengendalikan diri. Mereka bahkan tidak pantas untuk melihat bayangan dari wujud Sang Bintang Penghancur ini,"


!!


Dalam sekejap, Xiao Shuxiang sudah berada di depan Sri Anyar dengan sebuah tendangan yang langsung mengarah tepat ke dada pendekar tersebut.


!!


Belum sempat bertindak, Gong Zitao juga mendapat serangan kejutan dari Xiao Shuxiang. Dirinya terpental sampai menabrak lima batang pohon yang dua di antaranya langsung tumbang seketika.


BAAAM!


Sri Anyar merasakan tulang punggungnya seperti patah, dia menggeram dan memfokuskan Tenaga Dalamnya lalu mencoba berdiri.


Xiao Shuxiang tanpa menyia-nyiakan kesempatan kembali menyerang Sri Anyar.


TRAANG!


Dengan sekuat tenaga Sri Anyar menahan serangan tersebut meski kedua kakinya harus terperosok ke dalam tanah.


!!

__ADS_1


"Aku tidak tahu siapa yang membayar kalian untuk menyerang kami di tempat ini. Tapi siapa pun orangnya, dia sudah membuat kalian bertemu kematian. Dan satu hal lagi, jangan pernah menyamakan aku.. Dengan manusia kotor seperti kalian,"


Suara Xiao Shuxiang terdengar dingin, namun juga sedikit aneh. Suaranya seperti menggema dan jelas bukan miliknya yang biasa. Ini lebih mirip dengan hewan buas.


Bukannya takut, Sri Anyar malah menyeringai. Sudut bibirnya mengeluarkan darah, tetapi hal itu tidak dapat terlihat karena tertutup kain hitam.


"Aku memang pernah mendengar ada hewan yang dapat berubah menjadi manusia.. Mereka keturunan Iblis. Kau pasti salah satunya. Hmph, kau jelas bukan manusia karena makhluk sepertimu bahkan lebih kotor lagi..!"


Sri Anyar memberi tekanan yang lebih besar pada pedangnya. Dia menggunakan Tenaga Dalam Mental untuk meningkatkan kekuatannya sendiri dan lalu memberi tendangan pada Xiao Shuxiang.


BAAM!


Serangannya dibalas, dirinya kembali menggeram ketika kekuatan lawannya jauh lebih besar. Pemuda ini memang lawan terkuat yang pernah Sri Anyar hadapi.


TRAANG!


"Entahlah.. Pikirkan saja sendiri.."


Pertarungan ini lebih hebat dan lebih cepat dari sebelumnya, Sri Anyar adalah yang paling tersudut setelah sempat membuat Xiao Shuxiang mengalami patah tulang.


TRAANG!


Pertarungan pertama Xiao Shuxiang melawan Sri Anyar tidak lain merupakan tekniknya untuk menilai kemampuan lawan.


Dia menerapkan teknik ini setelah dirinya mendapat roh Phoenix Api dan juga karena regenerasi tubuhnya yang hebat. Kalau tidak, mana mungkin Xiao Shuxiang mau merasakan sakitnya menjelang kematian.


TRAANG!


Saat Yīng xióng berbenturan dengan pedang Sri Anyar.. Segera Xiao Shuxiang memutar tubuhnya dan memberi tendangan pada pendekar tersebut.


Dirinya melesat dan dengan sengaja menebas tanah begitu kuat agar angin kejut yang dihasilkan membuat Sri Anyar terpental.


BAAAM!


"Kebanyakan tempat di Benua Tengah memang tidak cocok untuk para kultivator, dan kalian sejak tadi terus mengulur waktu agar kami kehabisan Qi,"


Strategi pertarungan Sri Anyar dan saudara-saudaranya seperti yang dikatakan Xiao Shuxiang. Qi merupakan sumber kekuatan para kultivator dan begitu penting dalam memperkuat serangan mereka.


Jika Qi habis, maka bukan tidak mungkin serangan mereka juga akan melemah. Para kultivator jelas harus lebih berhati-hati bila menginjakkan kaki di tanah Benua Tengah.


BAAAM!


Sri Anyar kembali terpental setelah mendapat tendangan, Ge Yu Han berusaha membantunya dengan menyerang Xiao Shuxiang namun lengannya malah terkena tebasan.


".. Strategimu tidak akan mempan untuk kultivator yang memiliki dua Dantian seperti diriku.. Manusia,"


Xiao Shuxiang memberi penekanan pada kata terakhir yang dia ucapkan. Dirinya lalu menyerang Sri Anyar dan kali ini berniat membelah tubuh pendekar tersebut.


Ketika pedang Xiao Shuxiang hampir mengenai wajah Sri Anyar.. Tiga buah pedang segera menangkis serangannya, itu tidak lain adalah senjata Wisesa, Tong Due, dan Karasu.


TRAAANG!


Melihat ketiga orang ini membuat Xiao Shuxiang teringat dengan teman-temannya. Lan Guan Zhi dan yang lainnya juga sebelumnya terkena serangan para pendekar berpakaian serba hitam ini.


Ada kemungkinan Lan Guan Zhi, Hu Li, Xiao Qing Yan, Lan Xiao, dan O Zhan sekarang tidak dapat bangun atau mereka bisa saja sudah tewas.


Xiao Shuxiang menepis pemikirannya tersebut, dia lebih baik fokus melawan para pendekar berseragam hitam ini dan kemudian pergi untuk memeriksa kondisi teman-temannya.


TRANG!


Trang!


Jauh di tempat Xiao Shuxiang berada.. Gong Zitao mulai terbatuk dan sepertinya memuntahkan darah di balik wajahnya yang tertutup kain. Rasanya begitu menyesakkan hingga dia kesulitan bernapas.


Gong Zitao melepaskan kain yang menutupi wajahnya untuk sementara, dia mencoba mengatur napas. Beberapa bunga jingga jatuh dan menyentuh pipinya. Dari sini dia dapat mendengar suara benturan pedang.


Dirinya lalu meraba pakaiannya dan mengambil sebuah kantong penyimpanan. Gong Zitao mengeluarkan sebuah pil berwarna hijau gelap dan segera menelannya.


Pil tersebut ampuh memulihkan luka dalam tubuh, termasuk menyembukan tulang yang patah. Hanya saja butuh waktu sekitar satu menit sampai hasilnya terlihat.


Di tempat lain, Ge Yu Han terlihat mengerang kesakitan karena lengan kanannya berhasil di tebas oleh Xiao Shuxiang. Dia menggeram dan berusaha menahan menghentikan darah di lengannya dengan memakai Qi.


"Hah.. Hah.. Shuxiang.. Aku pasti.. Tidak akan mengampunimu.."


Cukup lama, tetapi dia berhasil melakukannya. Dirinya mulai tersadar Tuan Mudanya juga terkena serangan Xiao Shuxiang. Segera Ge Yu Han melesat dan mencari Tuannya tanpa peduli dengan para pendekar bayaran.


TRANG!


Lan Guan Zhi saat ini bertarung dengan Papat Yada dan Hawa Raynar. Dia sebelumnya memang terkena serangan dan membuatnya menghantam pepohonan, tetapi meski tulang-tulangnya remuk pun.. Dirinya tetap akan bertarung.


Trang!


Hu Li sendiri fokus menyelamatkan Xiao Qing Yan, anak berusia 10 Tahun tersebut hampir kehilangan napasnya. O Zhan juga sama buruknya dengan keadaan Xiao Qing Yan, untung saja Lan Xiao mampu menyembuhkan luka teman-temannya dengan energi kehidupan yang dia miliki.


TRAANG!


Lan Guan Zhi menangkis serangan beruntun dari Hawa Raynar, sejurus berikutnya--Papat Yada memberinya serangan dari arah samping.


Shǎndiàn bergetar, ini pertama kali Lan Guan Zhi merasakannya setelah sekian lama memegang pedangnya. Asap putih tipis menyelimuti Shǎndiàn, detik berikutnya Lan Guan Zhi melesat dan memberi serangan kuat pada Hawa Raynar.


CRAASH!


"AAAKH..!"


"Kakak Ketiga..!"


Papat Yada berseru ketika melihat Hawa Raynar berteriak karena paha kanannya ditebas oleh Lan Guan Zhi. Dia segera menahan serangan pemuda berseragam putih tersebut yang hampir saja menebas leher saudaranya.


TRAANG!


"Aku akan membunuhmu.. KUBUNUH KAU!"


Papat Yada memakai mengerahkan seluruh Tenaga Dalamnya. Dia membuat Lan Guan Zhi harus mengambil posisi bertahan, namun tidak lama dirinya terpental jauh.

__ADS_1


!!


Kaki kanan Lan Guan Zhi menahan tubuhnya agar tidak menghantam pohon, sejurus kemudian dia melesat dan saat pedangnya akan berbenturan dengan senjata lawan--dirinya segera melompat ke atas.


!!


Papat Yada tersentak saat Lan Guan Zhi ternyata tidak menargetkan dirinya. Saat dia berbalik dan berniat menyerang.. Sesuatu tiba-tiba terjadi.


!!


CRAASH!


Hawa Raynar terlambat mengelak, dia merasakan darah memuncrat keluar dari lehernya. Pandangan matanya menggelap dan seluruh rasa sakitnya hilang seketika.


Papat Yada berteriak nyaring, dia menyaksikan kepala Hawa Raynar terjatuh dan menggelinding di tanah. Matanya terbelalak namun bukan waktunya untuk menangisi kematian saudaranya.


"Akan kubalaskan kematianmu Kakak, aku pasti akan membalasnya!"


TRAANG!


Bukan hanya Hawa Raynar yang tewas, tetapi juga Tong Due. Pendekar tersebut harus merasakan tubuhnya ditebas menjadi tiga bagian oleh Xiao Shuxiang.


Awalnya dia bekerja sama dengan ketiga saudaranya, tetapi gerakan lawan terlalu cepat dan dirinya sulit mengimbangi kecepatan tersebut.


Alhasil, Xiao Shuxiang mampu menusuk dadanya dengan Yīng xióng. Kultivator tersebut memutar pedangnya yang masih setia tertancap di tubuh Tong Due.


Dengan sekuat tenaga dia menggerakkan Yīng xióng ke arah tengah bawah hingga memotong usus milik Tong Due.


Dalam gerakan yang cepat, Xiao Shuxiang menarik Yīng xióng dan memberi beberapa tebasan pada tubuh lawannya dan kembali melakukan serangan pada lawannya yang lain.


TRAANG!


Sri Anyar, Wisesa, dan Karasu begitu murka. Ketiganya mengerahkan seluruh tenaga untuk memberi serangan mematikan pada Xiao Shuxiang.


!!


Xiao Shuxiang menangkis serangan yang datang dengan Yīng xióng. Pedangnya tersebut sejak awal bertarung tadi tidak pernah mengeluarkan racun apalagi menghisap daging lawan, Yīng xióng seperti menjadi pedang pusaka biasa.


TRAANG!


Trang


Bocah Pengemis Gila menyaksikan pertarungan Xiao Shuxiang dari balik pohon, dia memeluk tongkat bambunya sambil memain-mainkan rambut poni miliknya.


"Bukankah harusnya ada sepuluh rantai pengekang jiwa pada tubuh anak itu..? Tapi kenapa yang kulihat hanya sembilan?"


Saat sedang berpikir.. Bocah Pengemis Gila tersentak saat melihat dua orang pendekar berseragam serba hitam serta wajah tertutup kain--melesat dan menyerang Xiao Shuxiang, mereka tidak lain adalah Gong Zitao dan Ge Yu Han.


Kedua kultivator tersebut membantu Sri Anyar untuk sesaat, sebelum pergi ke tempat di mana Lan Guan Zhi sedang bertarung satu lawan satu dengan Papat Yada.


TRAANG!


TRAANG!


Semakin lama, pertarungan ini tidak menguntungkan untuk Gong Zitao, Sri Anyar, dan rekan-rekan mereka yang lain. Hanya melawan dua orang dan mereka harus mengerahkan semuanya, belum lagi teman-teman Xiao Shuxiang hampir pulih.


TRAANG!


"Orang ini yang paling tidak kusukai. Dia masih saja bersikap angkuh meski tubuhnya penuh luka. Wajahnya yang menyebalkan itu ingin sekali kurusak,"


Gong Zitao menatap nyalang ke arah Lan Guan Zhi. Dia mengincar wajah kultivator tersebut, namun setiap serangannya selalu ditangkis.


TRAANG!


Lan Guan Zhi sama sekali tidak mengeluarkan suara apalagi mencoba bicara dengan ketiga lawannya ini. Baginya, yang terpenting adalah mengalahkan mereka dan melanjutkan perjalanan kembali.


TRAANG!


Bocah Pengemis Gila menggunakan tangan kanannya sebagai teropong untuk melihat setiap detail pertarungan Lan Guan Zhi.


Dia juga memperhatikan Lan Xiao, Hu Li, O Zhan, dan Xiao Qing Yan. Keempat teman Lan Guan Zhi itu terlihat masih hidup dan mungkin dapat bertarung kembali.


"Anak-anak yang hebat, memang pendekar harus seperti ini. Mereka tidak butuh pertolongan.."


Bocah Pengemis Gila memperhatikan Lan Guan Zhi, pemuda tersebut seimbang melawan Papat Yada, namun lebih unggul ketika berhadapan dengan Gong Zitao.


TRAANG!


Langit mulai berubah, pertarungan mereka benar-benar menghabiskan waktu semalaman. Jika nanti pagi tiba.. Maka akan semakin mudah bagi Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang untuk mengetahui siapa yang sudah berani menjadi penghalang bagi perjalanan mereka.


TRAANG!


Lan Guan Zhi baru akan menebas Gong Zitao saat sebuah cahaya hitam giok melesat dan menangkis serangannya. Lawannya tersebut menyerangnya dengan memakai telapak tangan yang menyentuh tengah dadanya.


!!


Sentuhan tersebut ringan, tetapi efeknya begitu kuat. Lan Guan Zhi bahkan harus terpental hingga ke tempat pertarungan Xiao Shuxiang. Beruntung temannya itu tidak dalam gerakan mengayunkan Yīng xióng untuk menebas.


!!


Xiao Shuxiang sendiri terkejut saat sesuatu tiba-tiba saja melesat di depannya. Sadar bahwa itu adalah Lan Guan Zhi.. Dirinya segera menyelamatkan temannya agar tak sampai menghantam apapun.


Sementara itu, orang yang menyerang Lan Guan Zhi segera melemparkan sepotong bambu yang mengeluarkan asap hitam. Dia merangkul pinggang Gong Zitao dan membawa pemuda itu pergi.


Dia juga menyerukan pada Sri Anyar dan ketiga adiknya yang masih hidup untuk ikut pergi. Lan Xiao yang menyadari ini segera mengibaskan ekornya, tetapi dirinya malah mendapat serangan tapak dari jauh.


Bocah Pengemis Gila tidak bisa melihat ke mana perginya para pendekar itu, ini dikarenakan asap hitam tersebut membuat indra penciumannya berkurang, termasuk juga indra pendengaran dan penglihatannya.


".. Siapa pun orang itu.. Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya,"


Bocah Pengemis Gila merasa bahwa orang tersebut berada dalam penyerangan yang dialamatkan pada Xiao Shuxiang dan teman-temannya.


".. Aku rasa dia juga menyaksikan pertarungan anak-anak itu sejak tadi, dan baru sekarang dirinya mengambil tindakan. Pewaris Tua Bangka itu sepertinya sudah dijadikan musuh oleh beberapa orang,"

__ADS_1


Bocah Pengemis Gila tersebut lebih memilih bersandar pada batang pohon sambil menyaksikan asap hitam di depannya memudar sekaligus menunggu fajar tiba.


***


__ADS_2