
BAAAAM..!!
Kepalan tangan Xiao Shuxiang berbenturan dengan bilah pedang seorang pendekar yang Ahli Tenaga Dalam Berat.
Kekuatan pendekar itu sangat kuat, bahkan Xiao Shuxiang merasakan nyeri pada kepalan tangannya. Dia lantas menggerakkan kaki dengan cepat sambil mengeluarkan Teknik Pernapasan Air.
!!
Serangan Xiao Shuxiang ditahan dengan mudah, namun ekspresi wajahnya masih sangat dingin. Seakan dia tidak kesulitan dengan pergerakannya yang ditahan.
Lawannya terlihat menggeram dan tidak banyak bicara. Hanya saja sorot matanya tersebut seperti ingin mencabik-cabik Xiao Shuxiang hingga tak bersisa.
Para pendekar lain yang tahu pergerakan Wali Pelindung Ling Qing Zhu itu ditahan dan kembali melancarkan serangan. Namun yang terjadi berikutnya sangat mengejutkan sampai membuat merinding.
!!
Xiao Shuxiang tidak bisa membebaskan kakinya yang dicengkeram hingga dia langsung memutar tubuhnya. Suara seperti tulang yang patah membuat para lawannya seakan membeku. Mereka tidak menyangka ada orang yang seberani itu mematahkan kaki sendiri.
!!
Xiao Shuxiang akhirnya dapat bebas. Di udara, hanya butuh sekali bernapas dan kakinya yang tak berbentuk menjadi utuh kembali. Dia mengejutkan semua orang dan dirinya menggunakan kesempatan tersebut untuk memberi serangan balasan.
!!
Lima orang pendekar tumbang dengan sehelai rambut yang menancap seperti jarum, tepat di tengah leher mereka. Kelimanya seperti patung dan sama sekali tidak bernapas.
Andai Xiao Shuxiang sedang ada di kondisi normalnya, dia pasti sudah merutuk sebab harus mencabut sehelai rambut kebanggaannya untuk bisa dijadikan enam buah senjata rahasia. Paling tidak, rutukannya akan bermakna bahwa jika terus seperti ini----maka kepalanya pasti akan gundul.
BAAAAM..!
Sayang sekali, saat ini Xiao Shuxiang dalam suasana yang tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Dia fokus pada pertarungannya dan seperti begitu menikmatinya.
Masih ada tetua dari berbagai sekte dan partai yang belum bergerak, mereka seperti menyaksikan pertarungan Xiao Shuxiang dengan para pendekar sambil menganalisa setiap teknik lawan.
Ling Chu Zhen sebenarnya hendak melesat, tetapi Ling Shen Yue menahannya dan menyuruhnya untuk tidak bertindak gegabah. Dia tahu Xiao Shuxiang kuat dan sulit dikalahkan, karenanya butuh rencana yang matang untuk menundukkan pemuda tersebut.
"......."
Ling Lang Tian sendiri berbeda. Dia tahu tindakan para pendekar ini adalah karena mereka takut dengan kehadiran Xiao Shuxiang, dan sebelumnya mereka juga sudah mengalami tekanan akibat serangan dari Scarlet Darah serta Partai Pedang Tengkorak.
Bentrokan dengan para pendekar Aliran Hitam yang mendukung Scarlet Darah pun semakin menambah tekanan pada mental mereka. Karenanya, dijelaskan seperti apa pun----para pendekar itu tidak mau menerimanya. Bagi mereka, Xiao Shuxiang adalah akar masalah ini, tidak ada yang lain.
?!
Ling Lang Tian tersentak saat salah seorang pendekar terpental, dia pun bergegas menangkapnya. Dirinya menahan tubuh pendekar yang memuntahkan darah itu. Tatapan matanya nampak sulit diartikan.
Salah satu pendekar yang berdiri di samping Ling Chu Zhen mulai menarik pedangnya. "Sudah cukup melihatnya. Dipertimbangkan bagaimana pun, dia tidak bisa lagi dimaafkan."
"Benar," Ling Shen Yue yang mendengarnya ikut setuju. Detik berikutnya, para tetua yang nampak sepuh itu melesat dan salah seorang di antara mereka memberi serangan, tepat di titik buta Xiao Shuxiang.
!!
Koki Alkemis itu tidak sempat menghindar sehingga terkena serangan tepat di tengah punggungnya. Dia bahkan terlempar jauh dan menghantam salah satu bangunan.
"Kalian Semua.. Mundur..!" Ling Shen Yue berseru. Dia membuat seluruh kultivator dan pendekar yang sebelumnya bertarung dengan Xiao Shuxiang melompat mundur.
Mereka kini mulai mengambil tindakan serius. Para sepuh itu membentuk formasi segel yang bahkan auranya sampai dirasakan dalam jarak 5 kota. Bocah Pengemis Gila yang berada di salah satu kota tersebut tersentak dan mempercepat langkahnya.
Dia membopong seorang wanita layaknya karung beras dan tidak pernah berhenti merutuk kesal. Penampilannya sangat berantakan dan terlihat bekas darah pada kepala serta lehernya.
Kakinya sesekali menapak pada dahan pohon dan Bocah Pengemis Gila tidak lupa memeriksa kondisi sekitar. Sebagian hatinya merasa lega sebab tidak ada lagi kultivator yang bertarung di tempat ini, namun sebagian hatinya yang lain merasa sesak----kondisi di sekitarnya terlalu parah.
?!
Bocah Pengemis Gila tiba-tiba saja tersentak kala mendengar suara tangisan yang mirip seperti bayi. Matanya pun tertuju pada sebuah pohon yang tumbang. Segera dirinya melesat turun.
!!
Suara tangisan itu semakin kencang. Dengan sekali ayunan tongkat bambunya, pohon itu pun terhempas bagai disambar oleh angin yang kuat.
Ada sebuah lubang cukup dalam yang ditutupi pohon besar barusan. Bocah Pengemis Gila mendekat dan dirinya amat terkejut ketika melihat dua orang dewasa berada di bawah lubang itu. Salah satu di antara keduanya nampak menggendong seorang bayi.
"Hei..! Apa kalian masih hidup?!" Bocah Pengemis Gila membaringkan wanita yang dibopongnya dan segera melompat turun ke dalam lubang. Dia mengenali kedua orang ini.
["Kakek Barma?!] Bocah Pengemis Gila tersentak, Kakek Barma adalah pedagang yang sering melewati Jalan Para Pengemis dan selalu membeli daun teh miliknya.
"Dan kau.. Yo yo!" Bocah Pengemis Gila kali ini menggunakan bahasa penduduk Benua Timur ketika tahu yang ada di hadapannya merupakan teman Xiao Shuxiang.
["Buana.."] suara Barma terdengar lemah. Bocah Pengemis Gila bisa melihat wajahnya yang pucat meski suasana di sekeliling mereka cukup gelap.
"♬♩ Namaku Siu Yixin, yo! ♪♬"
"Tidak perlu menggunakan nada saat kau sekarat begitu. Kalian.. Bagaimana bisa terjebak di dalam lubang ini?!" Bocah Pengemis Gila bertanya, tapi kemudian menggendong bayi laki-laki yang dibawa Barma.
Kakek Tua itu mencoba menceritakan bagaimana dia bisa dalam situasi semacam ini dengan singkat, namun rasanya tidak bisa karena bayi digendongan Bocah Pengemis Gila terus menangis.
__ADS_1
Pemuda yang selalu membawa tongkat bambu itu berusaha menenangkan bayi laki-laki berambut merah digendongannya. Dia melihat ada bekas darah pada dahi bayi tersebut.
["Kami ingin pulang, tetapi gerbang pemisah antara Kekaisaran Langit Utara dengang Kekaisaran ini tertutup. Banyak orang yang bahkan terlempar saat memaksa menerobos, seperti ada yang mendorongnya.."]
Kakek tua itu terengah-engah, dia terbatuk dan jelas merasakan sakit pada dadanya. ["... Aku kembali lagi ke kota untuk mencari perlindungan, tetapi justru keributan mulai terjadi saat aku tiba di kota ini..]"
Tua bangka tersebut berusaha mengatur napasnya, baru setelahnya dia lanjut bicara. ["... Aku dan putraku hampir tiada, tapi untungnya ada pria ini yang datang menolong kami. Hanya saja kondisinya lebih parah dariku,"]
Siu Yixin ingin bicara, tapi memang kondisi tubuhnya agak mengkhawatirkan. Pandangannya memburam dan meski tidak ingin mengakuinya----jujur dia sulit untuk bertarung lagi.
Bocah Pengemis Gila mengembuskan napas, dia lantas bergerak dan menyentuh dada Siu Yixin. Dia mengalirkan Tenaga Dalam yang berguna mengurangi sakit pada tubuh Siu Yixin sekaligus menghentikan darah yang keluar di setiap luka pria tersebut.
["Bagaimana aku bisa menenangkan bayi ini? Dia tidak henti-hentinya menangis,"] Bocah Pengemis Gila khawatir, namun Tua Bangka yang bersamanya berkata bahwa putranya menangis karena kelaparan.
["Anakku selama ini tidak pernah menangis bahkan meski terluka. Hanya saat dia lapar saja baru Bima menangis.]
["Kau yakin Kakek?"] Bocah Pengemis Gila melihat tua bangka di hadapannya mengangguk pelan. Dia pun menjadi cemas karena tidak membawa makanan atau air sedikit pun.
!?
Tiba-tiba saja, Bocah Pengemis Gila teringat sesuatu. Dia lantas mengalirkan Tenaga Dalam pada Tua Bangka di hadapannya dan saat yakin kondisi Kakek tersebut sudah agak baikan----dirinya pun keluar dari lubang.
Bocah Pengemis Gila sebelumnya meminta kepada Kakek Barma dan Siu Yixin untuk beristirahat di sini. Dia sendiri akan mencarikan makanan untuk bayi digendongannya. Kebetulan saja, dia punya pemikiran yang sedikit tidak waras.
"Untung saja aku tidak membunuhnya.." Bocah Pengemis Gila mengembuskan napas lega, dia pun menepuk-nepuk pipi wanita yang sempat dia baringkan tadi.
"Nona..? Nona Darah Madu..?! Nona..?" Bocah Pengemis Gila berusaha membangunkan wanita berpakaian serba merah ini sambil terus memanggil-manggilnya.
"......."
Tidak butuh waktu lama sampai bulu mata wanita itu bergerak dan dia mulai membuka matanya. Rasa nyeri pada perut dan sakit pada seluruh tubuhnya menjadi hal pertama yang dirinya rasakan.
"... Nona? Nona, ayo bangun..!"
"… Ah! Aduuh.." Nona Darah Madu menyentuh dahinya, telinganya mendengar suara nyaring memekikkan dan itu jelas adalah tangisan seorang bayi.
Pandangannya pun mulai jelas dan kini bisa melihat wajah Bocah Pengemis Gila, pria yang tanpa ragu memukulnya dengan sangat keras.
"Kau-!!"
Baru saja dia ingin berteriak, namun mendadak terkejut ketika tahu Bocah Pengemia Gila menggendong seorang bayi. Dirinya pun lantas bangun dan saat ini berada pada posisi terduduk di tanah.
"Bayi... Anak siapa itu?! Kau membawa anak siapa?!"
"Ssh.. Perutku..." Nona Darah Madu merintih. Perutnya sakit dan seperti organ dalamnya habis diaduk-aduk.
Sebenarnya perasaan itu wajar sebab wanita berpakaian serba merah tersebut dibopong layaknya karung beras oleh Bocah Pengemis Gila. Dan jujur saja saat menapakkan kaki pada dahan-dahan pohon... Tubuh Nona Darah Madu juga ikut terguncang.
Hanya saja, wanita ini suka sekali berpikiran yang aneh-aneh. Dirinya justru menatap Bocah Pengemis Gila dan seketika tangannya terulur mencengkeram kerah pakaian pemuda itu.
"Apa kau sudah berbuat yang bukan-bukan padaku?! Perutku sakit dan rasanya aku ingin muntah, kemudian ada bayi ini. Kau.. Apa yang kau lakukan padaku?!"
"A-Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh!"
"Bohong! Buktinya ada bayi di sini. Apa aku baru saja melahirkan?! Kau pasti mencari kesempatan menjamahku dan berakhir dengan aku melahirkan, iya kan?!"
!!
Kepala wanita ini pasti sudah dipukul terlalu kuat hingga menjadi tidak waras. Bocah Pengemis Gila bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa dalam menangkap ucapan wanita aneh ini.
"Nona, aku tidak berbuat hal semacam itu. Dan coba kau bayangkan, meski aku berbuat sesuatu padamu----apa bisa kau langsung melahirkan di hari itu juga?! Ayolah, berpikiran tidak waras juga ada batasnya. Kau ini..." Bocah Pengemis Gila menggeleng, dia menjelaskan kenapa dirinya bisa menggendong bayi dan apa yang sekarang dia butuhkan.
!!
Nona Darah Madu tersentak saat Bocah Pengemis Gila tiba-tiba menyodorkan bayi tersebut hingga membuatnya spontan menggendong bayi ini.
"Kau mau aku melakukan apa dengannya?"
"Beri dia makanan. Kau bisa, kan?"
!!?
"Tidak mau! Aku bahkan belum menikah, bagaimana bisa melakukannya?!" Nona Darah Madu merinding sendiri. Dia akui sering berpakaian terbuka, tetapi dirinya dapat bersumpah tidak pernah disentuh oleh pria mana pun.
"De-dengar yah, kau mungkin tidak tahu, tapi hanya wanita yang sudah pernah mengandung bayi yang punya hal semacam itu. Dan aku tidak memilikinya,"
"Tapi dia menangis, apa kau tidak kasihan pada bayi itu? Dia hampir merusak pita suaranya dengan tangisan yang tiada henti, dan kalau aku punya makanan untuknya----aku juga tidak akan meminta bantuanmu."
"Tapi.." pipi Nona Darah Madu sangat memerah, dia sungguh tidak bisa melakukannya. Hanya saja Bocah Pengemis Gila bahkan sampai meminta tolong dengan sangat dan pria ini mempunyai tatapan mata yang sulit ditolak.
"Kau.. Kau benar-benar tidak waras, Bocah Pengemis Gila. Aku membencimu seumur hidup..!"
"Kau bisa memotong satu tanganku jika ingin, tapi buat bayi itu diam.."
Nona Darah Madu sangat malu. Dia meminta pakaian luar pria di hadapannya dan segera diberikan oleh Bocah Pengemis Gila. Dia tidak habis pikir bisa menuruti keinginan pria ini.
__ADS_1
"Sebaiknya kau ingat baik-baik. Jelasnya aku ingin kau menikahiku setelah ini," Nona Darah Madu menutupi bagian atas tubuhnya dengan pakaian Bocah Pengemis Gila dan menyuruh pria itu untuk berbalik.
"Nona, aku tidak mungkin bisa menikah denganmu. Kenapa membahasnya lagi?"
"Aku ingin menikah, Bocah Pengemis Gila. Dan itu adalah denganmu. Kau tahu berapa lama aku menunggu?! Kenapa kau terus saja keras kepala,"
"Justru Nona yang keras kepala," Bocah Pengemis Gila terlihat buruk, dia sudah tidak mendengar suara tangisan bayi lagi. Namun dia tetap tidak diizinkan menoleh ke arah Nona Darah Madu.
Sambil mengembuskan napas, Bocah Pengemis Gila pun mulai berujar pelan. "Ibuku menikah dengan Ayah Nona dan meski kita tidak terikat darah----kau dan aku tetap saudara. Bagaimana mungkin kakak dan adik bisa menikah?"
"......."
Ibu yang dimaksud oleh Bocah Pengemis Gila tentu saja adalah ibu angkatnya. Ibu yang melahirkannya sendiri sudah lama mati ribuan tahun yang lalu, dia bahkan tidak ingat lagi bagaimana rupa dari ibunya tersebut.
Rahasia itu tentu tidak pernah diketahui oleh Nona Darah Madu. Wanita cantik ini hanya tahu bahwa Bocah Pengemis Gila benar-benar putra dari ibu sambungnya, dia bahkan tidak tahu usia asli pria bertongkat bambu ini.
Nona Darah Madu memejamkan mata sejenak sebelum bersuara pelan, dia teringat kejadian yang dahulu. "Empat puluh tahun yang lalu. Ayah dan Ibu menjadi korban dari pertarungan dua Partai, saat itu.. Aku melihat kau juga ikut tewas,"
"Ehm.. Nona.."
"Diamlah. Apa kau tidak tahu betapa menyebalkannya dirimu?! Perasaanku saat itu... Apa kau tidak pernah membayangkannya?! Dan kau justru dengan mudahnya memalsukan kematianmu dan menjalani hidupmu yang menyimpang itu. Kau.." Nona Darah Madu kesulitan berkata-kata, pria ini adalah penjahat, sangat tidak berperasaan.
Tua bangka yang masih ada di dalam lubang bersama Siu Yixin mendengar suara di atas mereka. Namun keduanya tidak mengatakan apa-apa dan seakan mematuhi ucapan Bocah Pengemis Gila untuk beristirahat dengan baik.
Siu Yixin nampak bersandar, dia menatap ke langit dan tidak melihat satu pun bintang. Justru yang dia lihat adalah kilauan cahaya redup dan gemuruh yang asalnya jauh dari tempat ini.
Meski suasana di sekelilingnya menekan, namun dia tidak mendengar suara benturan pedang sama sekali. Dia merasa bahwa pertempuran ini benar-benar telah selesai.
"......."
Suasana cukup tenang beberapa lama sebelum suara menggelegar petir terdengar. Bahkan, Bocah Pengemis Gila dan Nona Darah Madu terlonjak kaget karenanya.
Mereka semua terkejut, kecuali bayi laki-laki yang digendong wanita itu. Bayi tersebut tertidur sangat pulas dan sama sekali tidak terganggu dengan suara petir yang barusan terdengar.
Bocah Pengemis Gila berdiri, wajahnya terlihat serius. Dia memfokuskan pendengarannya yang benar-benar bisa mencapai tempat paling tidak ingin dia harapkan akan terjadi keributan di sana.
!!
Mata Bocah Pengemis Gila terbelalak, "Nona! Kau tetap di sini dan jaga mereka. Aku harus pergi."
!?
Nona Darah Madu terlambat mencegah Bocah Pengemis Gila, pria itu sudah melesat pergi dan meninggalkannya bersama bayi laki-laki ini. Dia nampak mengigit kuat bibir bawahnya seperti menahan umpatan.
"Aku ini penjahat, Bocah Pengemis Gila. Kau pikir bisa memerintahku begitu saja, huh? Lihatlah bagaimana aku akan membunuh mereka bertiga,"
Nona Darah Madu baru akan mencengkeram leher bayi laki-laki digendongannya. Tetapi mata bayi tersebut langsung terbuka dan seperti senang padanya.
!!
Wajah mungil, polos dan manis itu terlalu menyentuh bahkan sampai membuat hati seolah meleleh. Nona Darah Madu baru pertama kali menggendong bayi dan jujur saja ia agak gugup.
"Kenapa kau sangat manis...?"
Bayi laki-laki itu menggeliat seperti mencari kehangatan. Dia membuat wanita berpakaian serba merah ini melupakan tentang niatannya dan juga tentang Bocah Pengemis Gila. Wajah menggemaskan bayi itu seperti telah menyihir siapa pun yang menatapnya.
Bocah Pengemis Gila sendiri sedang melesat dengan kecepatan yang bahkan membuat dahan pepohonan bergetar hingga sebagian menjadi patah. Dia saat ini menggunakan tiga jenis tenaga dalam secara sekaligus.
Dia menggunakan Tenaga Dalam Udara guna mempercepat langkahnya, menggunakan Tenaga Dalam Suara untuk mendengarkan pertarungan hingga jarak yang jauh, kemudian memakai Tenaga Dalam Visi yang membuat penglihatannya menajam.
!!
Jantung Bocah Pengemis Gila berpacu kencang ketika mendengar suara yang meneriakkan nama 'Xiao Shuxiang' dan dia sendiri bahkan sampai dapat melihat ada dua lesatan yang terlempar ke langit dan meledak.
!!
Semakin cepat lesatannya, udara terasa makin menekan. Bocah Pengemis Gila hampir merasa bahwa letak jantungnya tidak ada di dada, tetapi di telinga. Dia benar-benar sangat tegang saat ini.
"Kau harus bertahan, Nak. Jangan biarkan nafsu menguasaimu..! Setidaknya tunggu sampai aku datang."
Bocah Pengemis Gila sangat khawatir. Apalagi gemuruh di langit mulai saling bersahut-sahutan. Dia terlalu banyak mendengar suara dan matanya menangkap siluet mengerikan.
!!
Sangat jauh dari tempat Bocah Pengemis Gila berada, terlihat dinding luar Sekte Pagoda Langit meledak. Tiga pendekar sepuh nampak terbatuk darah dan salah satu di antara mereka merasakan lehernya mulai dicengkeram oleh sebuah tangan.
"XIAO SHUXIANG..!!"
Masih banyak pendekar yang menyerang, namun Xiao Shuxiang justru tidak menggubrisnya. Mata berwarna merah bercampur hijau miliknya nampak berkilat. Sedetik berikutnya, sembilan orang pendekar yang telah mencapai jarak lima meter darinya menjadi tidak bisa bergerak.
!!
Mereka terkejut bukan main. Raut wajah mereka pucat dan jelas tidak menyangka ada teknik yang menakutkan semacam ini. Kesalahan para pendekar tersebut adalah karena tidak mengetahui bahwa pemuda yang mereka lawan menguasai Teknik Pengendalian Darah.
***
__ADS_1