XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
202 - Mengunjungi Sekte Kupu-Kupu


__ADS_3

"Ayah!"


"Ayah Mertua..?!"


"Paman..?!"


"Tua Bangka..!"


Li Qian Xie dan teman-temannya terkejut, ekspresi wajah mereka seperti orang yang baru saja ketahuan bersanggama.


Dai Chen yang paling terlihat pucat, sementara Xiao Shuxiang hanya beberapa detik saja terkejut sebelum tersenyum jahil melihat ekspresi wajah Dai Chen yang saat ini sedang menindihnya.


Dai Chen tidak menyadari tatapan mata Xiao Shuxiang yang seakan mengatakan dirinya berada dalam bahaya. Dia masih terkejut sambil pandangan matanya mengarah pada ayah mertuanya.


!!


Kaisar sendiri hampir tidak bisa berpaling dari dua orang yang berada di atas tempat tidur. Pakaian keduanya sangat berantakan, tubuh bagian atas Dai Chen terlihat, sementara orang yang ditindihnya juga bernasib sama.


Jangan ditanyakan tentang kakinya, Li Jing Hua sudah tidak tahu mana kaki milik menantunya. Pemandangan ini sudah mengotori matanya.


Rambut hitam Xiao Shuxiang yang terurai panjang, mengkilap terkena cahaya kamar Li Qian Xie menambah kesan sensual bagi siapa pun yang melihatnya. Ikat rambutnya entah sejak kapan terlepas, Xiao Shuxiang sendiri tidak menyadarinya.


"Apa-Apaan ini..?!"


Wajah Li Jing Hua begitu pucat, dia sempat berpikir orang yang ditindih menantunya adalah wanita, melihat dari rambut orang tersebut yang begitu indah, wajah bersih menawan dan kulit tubuh yang terlihat sangat halus.


Hidung Li Jing Hua hampir mengeluarkan darah, namun saat dia menyadari orang yang ditindih menantunya ternyata adalah pria.. Perutnya seketika sakit dan rasanya seperti ingin muntah.


"Ayah..!"


Li Qian Xie segera memegang ayahnya yang hampir ambruk. Dia meminta Sang Ayah mengatur napas dengan baik, sudah jelas Kaisar Matahari Tengah terguncang melihat pemandangan ini.


Apalagi, Xiao Lu terang-terangan meminta bantuannya untuk menghentikan Dai Chen dan Xiao Shuxiang dari melakukan sesuatu yang tak seharusya dilakukan.


!!


Ucapan Xiao Lu sangat ambigu, membuat orang lain salah paham terhadapnya. Dan kesalahpahaman tersebut malah didukung dengan keadaan.


"Dai Chen, aku tidak menyangka kau pria yang seperti ini. Kau sudah memiliki dua istri, dan sekarang kau malah beralih pada batangan?! Apalagi itu adalah Xiao.. Shuxiang?!"


Li Jing Hua hampir jantungan, dia baru memperhatikan dengan jelas orang yang ditindih menantunya. Perutnya semakin sakit, apa yang akan dia katakan pada Yang Shu nanti.


"Ayah Mertua, ini tidak seperti yang kau lihat..! Ayah Mertua..?!"


Dai Chen segera turun dari tempat tidurnya saat Li Jing Hua bergegas pergi, dia ingin menahan ayah mertuanya dan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun langkahnya terhenti saat mendengar ledekan Xiao Shuxiang.


"Kau dalam masalah Chen'Er.."


Dai Chen mengepalkan erat kedua tangannya, dia melihat Xiao Shuxiang masih ada di tempat tidur dengan penuh gaya sambil membelai lembut rambutnya.


"Semua Salahmu..!!"


"Hah, kenapa malah aku? Bukannya kau yang menyerang lebih dulu? Apa yang dilihat Tua Bangka tadi sama seperti yang kau lihat. Aku dan Nona Li tidak melakukan apapun, kau salah paham."


Xiao Shuxiang begitu tenang saat mengatakannya, dia belum memperbaiki pakaiannya yang berantakan.


Dai Chen berusaha menahan amarahnya, dia lalu menatap Xiao Lu dan bertanya kenapa istrinya mengatakan perkataan yang membuat orang lain salah paham.


"Apa maksudmu, Sayangku. Kalian berdua memang melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan, yaitu berkelahi."


"Kenapa kau tidak mengatakannya dengan jelas..? Haah.. Bagaimana sekarang..?"


Dai Chen menggaruk kepalanya frustrasi, dia merasa sedang dipermainkan oleh Xiao Bersaudara. Yang menyebalkan, istrinya entah sejak kapan ikut-ikutan dengan pria tidak waras itu.


"Ada apa, Dai Chen? Mau melanjutkan kesalahpahaman ini? Kemarilah.."


Xiao Shuxiang tersenyum jahil sambil menepuk-nepuk pelan tempat tidur dan mengedipkan sebelah matanya pada Dai Chen.


"Xiao Shuxiang?! Mahluk Macam Apa Kau Ini, Tidak Tahu Malu Sekali..!!"


Wajah Dai Chen memerah karena marah, dia tidak sadar mengumpulkan Qi dikedua kepalan tangannya, dirinya tidak percaya memiliki adik ipar sebrengsek pemuda yang masih ada di atas tempat tidur istrinya.


"Makhluk macam apa aku..? Tentu saja aku pria? Kenapa? Tidak suka yang batangan?"


"XIAO SHUXIANG?!"


Dai Chen dengan kemarahannya mengeluarkan tiga akar menjalar yang langsung menyerang Xiao Shuxiang. Beruntung temannya bisa menghindar dari serangan tersebut.


BAAAM!


Tempat tidur Li Qian Xie terbelah menjadi tiga, lantai kamarnya pun nampak berantakan.

__ADS_1


Xiao Shuxiang memperbaiki pakaiannya, dia mengikat kembali rambutnya tanpa menurunkan kewaspadaan. Kedua sepatunya entah dimana sekarang ini, dia mendengus dan mengeluarkan perkataan yang membuat darah Dai Chen mendidih.


"Dai Chen, kau ini tidak waras ya?! Setelah mendorongku jatuh ke ranjang, menindihku, melepas pakaianku, menyentuhku, sekarang kau mau membunuhku?! Hah! Hebat sekali Chen'Er..!"


"Kau Pria Menjijikkan! Tidak Punya Urat Malu! Brengsek! Tidak Waras! Pergi Dari Sini..!"


Dai Chen melesat dengan kepalan tangan yang dialiri Qi, ketiga akar menjalar miliknya juga menyerang Xiao Shuxiang.


BAAAM!


Li Qian Xie berteriak saat lemari gioknya dihantam keras oleh tiga akar menjalar milik Dai Chen. Dirinya kembali berteriak kala meja rias kesayangannya juga juga ikut terkena serangan Dai Chen.


"Berhentilah..! Ruangan ini bisa hancur gara-gara kalian..!"


!!


Xiao Lu bergerak cepat menangkap Li Qian Xie ketika salah satu serangan nyasar Dai Chen mengarah pada gadis tersebut. Dia berseru agar Xiao Shuxiang dan Dai Chen pergi keluar untuk bertarung. Tempat ini benar-benar akan hancur bila mereka tetap di sini.


BAAAM!


Xiao Shuxiang melompat ketika mendapatkan sebelah sepatunya, dia baru akan memakainya namun di serang lagi oleh tiga akar menjalar milik Dai Chen.


"Kau Kakak Ipar Yang Buruk..! Menyesal aku merestuimu dengan Gadis Cerewet..!" Xiao Shuxiang menunjuk Dai Chen dengan sepatunya.


"Kau Yang Kelewatan! Bagaimana bisa Xiao Lu punya adik semesum dirimu..! Kau Anak Kurang Ajar Dan Tidak Tahu Malu..!"


Dai Chen terus menyerang Xiao Shuxiang, sesekali akar menjalarnya ditangkis oleh temannya itu. Dia memarahi adik iparnya dan mengusirnya pergi bila tidak ingin menjadi potongan daging.


BAAAM!


"Baiklah, baiklah! Aku akan pergi, tapi jangan menyerang lagi..! Dan berikan sepatuku yang satunya..! Bagaimana bisa kuambil sebelah sepatuku dan pergi dari sini, jika kau terus saja menyerang!?"


Dai Chen mulai menghentikan serangannya, dia mengambil sebelah sepatu Xiao Shuxiang yang terjepit salah satu potongan tempat tidur. Dirinya lalu melempar sepatu tersebut ke arah adik iparnya dan membentaknya untuk segera pergi.


"Dai Chen, kenapa kau terus memaksaku pergi? Kau tidak rindu padaku-"


"Berhenti bicara! Melihatmu membuatku kesal. Awas bila kau berani menyelinap masuk ke kamar istriku lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu..!"


Dai Chen terengah-engah, belum pernah dia merasa begitu lelah. Mental dan tekanan darahnya benar-benar diuji saat melihat Xiao Shuxiang.


"Aku sama sekali tidak menyelinap, itu sungguh sebuah kebetulan, Dai Chen. Kau jangan marah hanya karena satu malammu terganggu, kalian bisa melakukannya lain waktu. Tapi, apa kau baik-baik saja, Chen'Er? Bagian bawahmu tidak tegang, kan?"


!!


Dai Chen segera mengejar temannya tersebut sambil mengeluarkan umpatan dan kutukan padanya. Sayang, dirinya terlambat. Xiao Shuxiang pergi ke arah tanda Segel Cermin Pemindahnya dan segera menghilang.


"XIAO SHUXIANG..!!"


*


*


"Hahahaha, astaga.. Perutku sakit.." Xiao Shuxiang tidak henti-hentinya tertawa, dia bisa membayangkan wajah kesal Dai Chen saat ini.


Temannya itu tidak bisa diajak bercanda, digoda sedikit saja sudah begitu menggelepar.


Sambil memegangi perutnya, Xiao Shuxiang mulai berjalan menuju pintu. Tempatnya berada memang ada di dalam sebuah bangunan kosong, terletak di Kota Awan Dingin, tempat dimana segel Cermin Pemindahnya berada.


Ketika berada di luar bangunan, dirinya langsung disambut dengan pemandangan kota yang lumayan ramai.


Kota Awan Dingin memang sudah banyak berubah. Dulu tempat ini seperti kota mati dengan suasana mencekam, sekarang kondisinya tidak seperti itu lagi.


Tujuan Xiao Shuxiang saat ini adalah pergi ke Sekte Kupu-Kupu yang baru, dia menikmati pemandangan di Kota Awan Dingin, melihat berbagai aktivitas warganya.


Ada satu kedai yang menarik perhatian Xiao Shuxiang, itu merupakan tempat makan dengan bahan utama bebek. Kedai keluarga 'Jing', sudah pasti ini milik paman Jing Mi, saudara seperguruannya.


"Tertawa membuat Xiao Shuxiang lapar, aku jadi ingin makan bebek.."


Xiao Shuxiang melangkahkan kakinya memasuki kedai tersebut. Dia terpukau melihat hampir semua tempat duduk telah diisi penuh, sudah pasti makanan di sini sangatlah enak.


"Aku lapar tapi terlalu banyak orang-!"


"Hei! Apa kau tidak bisa melihat, hah?!"


Seorang pria yang nampak berusia 36 Tahun menubruk Xiao Shuxiang saat melangkah masuk, wajahnya terlihat garang dengan tubuh betotot miliknya.


Pria ini melototi Xiao Shuxiang sambil mengatainya tidak punya mata, tindakannya jelas sedang mencari masalah. Beberapa pendekar yang melihat hal ini tersentak, mereka bukan kultivator, namun tahu bahwa pemuda yang sedang disinggung pria berorot tersebut bukanlah orang sembarangan.


"Kenapa kau melihatku begitu, ingin berkelahi?!"


Xiao Shuxiang memperhatikan pria yang cukup tinggi di depannya sebelum akhirnya dia melangkah pergi. Xiao Shuxiang mendengus dan lalu menggeleng pelan, bukan dirinya yang menubruk duluan tapi malah dia yang disalahkan.

__ADS_1


"Mau kemana kau?! Dasar Pengecut! Pergilah dan merengek pada Ibumu..!"


!!


Xiao Shuxiang menghentikan langkahnya, dia lalu menoleh dan menatap pria yang berusaha memprovokasi dirinya tersebut. Sayang sekali, dirinya bukan orang yang mudah terpancing.


"Pepatah mengatakan, 'semakin tua seseorang, dia akan semakin bijaksana'. Apa mungkin aku sudah semakin tua.."


Xiao Shuxiang mengusap-usap dagunya, dia lalu melompat naik ke atas gedung dan melesat cepat menuju Sekte Kupu-Kupu.


Siapa pun pria tadi, jelas dia tidak akan bisa hidup lebih lama. Menurut Xiao Shuxiang, pria dengan sifat seperti itu hanya akan mengundang kematian mendatanginya. Bila bukan dirinya yang membunuh pria itu, maka pasti orang lain.


Tap


Tap


Xiao Shuxiang menapak dari satu atap bangunan ke atap bangunan yang lain, tujuannya adalah wilayah tengah di Kota Awan Dingin, tempat dimana kediaman wali kota yang baru berada.


Sekte Kupu-Kupu berada tepat di belakang gedung wali kota, yang menjadi pembatas adalah sebuah dinding batu setinggi tujuh meter.


Dinding batu ini mengelilingi dua belas bangunan berukuran sedang dan tiga bangunan besar. Di samping Sekte Kupu-Kupu, juga berdiri sekte lain.. Itu adalah Sekte Bambu Perak.


Tap


Xiao Shuxiang menapakkan kakinya di atap kediaman wali kota. Siapa pun orang yang melihat ini akan merasa bahwa Wali Kota Awan Dingin memiliki dua sekte pelindung.


Xiao Shuxiang melompat masuk dan mendarat dengan anggun di halaman Sekte Kupu-Kupu, pakaiannya sedikit berkibar.


?!


Murid Sekte Kupu-Kupu yang kebetulan sedang berlatih nampak tersentak saat seseorang tiba-tiba menginjakkan kaki di tempat ini.


"Itu.. Bukannya Senior Xiao..?"


Hun Fung memperhatikan dengan lebih seksama, memang pemuda tersebut adalah seniornya. Dia segera menghampiri Xiao Shuxiang dan menyapanya.


Xiao Shuxiang cukup lama baru mengenali Hun Fung, dia lalu meminta saudara seperguruannya tersebut menceritakan keadaan sekte sambil mengajaknya berjalan bersama.


Sekte Kupu-Kupu diurus oleh Yang Shu, dibantu Shao Nu dan Ro Wei. Jumlah murid Sekte Kupu-Kupu kini mencapai 97 orang termasuk Xiao Shuxiang.


Kota Awan Dingin belum sepenuhnya pulih, tetapi mulai banyak pedagang dan pendekar yang datang kemari. Hubungan Kota Awan Dingin dengan Kota Embun Bunga juga sangat baik, kedua kota ini saling membantu satu sama lain.


"Baguslah kalau begitu, lalu kejadian apa lagi yang ada?"


"Selain sebagian murid baru dipindahkan ke Sekte Bambu Perak, kebun herbal yang semakin subur, Paman Yang Hao menjadi Wali Kota, kurasa tidak ada lagi.."


!!


Xiao Shuxiang terkejut saat mendengar Yang Hao menjadi Wali Kota Awan Dingin yang baru, bagaimana bisa?!


Hun Fung menjelaskan bahwa para warga Kota Awan Dingin sebenarnya menginginkan Xiao Shuxiang menjadi wali kota mereka, namun Xiao Lu menolaknya.


".. Kakak Lu Yang Cantik mengatakan Senior Xiao lebih suka berada di Sekte Pedang Langit dan sering membuat masalah. Ehm.. Dia bilang kota ini tidak akan dalam keadaan baik jika berada di tangan Senior Xiao.."


Hun Fung berbicara dengan pelan, dia merasa tidak enak karena mengatakan semuanya pada Xiao Shuxiang.


Seniornya tersebut sama sekali tidak marah. Dia malah setuju dengan pendapat Xiao Lu, Kota Awan Dingin membutuhkan pemimpin yang layak. Xiao Shuxiang merasa Yang Hao memang pantas menjadi wali kota, mengingat ayahnya tersebut adalah putra dari Kaisar Benua Utara.


Xiao Shuxiang dan Hun Fung kini sampai di halaman belakang Sekte Kupu-Kupu. Benar kata saudara seperguruannya, kebun herbal berbagai jenis tanaman tumbuh dengan subur di tempat ini.


"Kalian sudah bekerja keras, bagus sekali.." Xiao Shuxiang tersenyum, dia melemaskan otot-otot tangannya dan meminta Hun Fung membantunya mencabut banyak tanaman herbal.


Xiao Shuxiang ingin menanamnya di dalam Gelang semestanya, semakin banyak tanaman semakin bagus. Dirinya juga ingin mengatur semua isi dalam Cincin Spasialnya.


Selain Hun Fung, Xiao Shuxiang juga dibantu oleh murid-murid Sekte Kupu-Kupu yang lain. Mereka awalnya sulit mengenali senior yang sangat jarang pulang tersebut, namun tidak butuh waktu lama sampai mereka semua bisa akrab.


"Senior Xiao ternyata orang yang baik, padahal awalnya kupikir dia akan sulit diajak bicara,"


"Aku juga merasa begitu, tidak disangka Senior begitu ramah dan murah senyum. Berbeda jauh dari kultivator kebanyakan.."


Hun Fung mendengar pembicaraan beberapa juniornya, para gadis tersebut adalah murid yang baru bergabung dengan Sekte Kupu-Kupu, mereka tidak tahu siapa Xiao Shuxiang yang sebenarnya.


Beberapa saudara seangkatan Hun Fung nampak pucat, mereka kasihan melihat para murid baru yang seperti mulai mengagumi Xiao Shuxiang. Tidak ada hal baik jika Senior Xiao mereka tersebut datang, pasti akan ada masalah lagi.


Sepanjang malam, Xiao Shuxiang terus dibantu mencabut berbagai jenis tanaman herbal oleh para saudara seperguruannya. Bahkan mereka terus melakukannya sampai matahari kembali terbit.


Xiao Shuxiang memasukkan semua tanaman herbal tersebut ke dalam Gelang Semestanya, termasuk memindahkan semua harta berharga di dalam Cincin Spasial ke Gelangnya.


".. Sebaiknya kuisi cincin ini dengan bahan dan peralatan memasak. Hitung-hitung sebagai pengalih perhatian,"


Akan ada masa dimana Cincin Spasial Xiao Shuxiang menarik perhatian para penjahat. Sebelum hal tersebut terjadi, dirinya sebisa mungkin mengantisipasinya mulai sekarang.

__ADS_1


***


__ADS_2