XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
387 - Empat Anggota Scarlet Darah


__ADS_3

Serangan dadakan yang dilakukan oleh anggota Scarlet Darah membuat para murid Sekte Pagoda Langit termasuk para patriarch yang ada tidak bisa bersiap.


Banyak murid yang terluka dan tidak sedikit di antara mereka yang tewas dalam kondisi tubuh terpisah-pisah.


BAAAM..!


Satu bangunan kembali dihantam oleh senjata milik Pendekar Cambuk Darah. Senyuman dan tawa mengerikan tidak pernah pudar menghiasi wajahnya, dia sangat menikmati mengacau-balaukan sekte sebesar ini.


"Lari..! Larilah semut-semut kecil..!" Pendekar Cambuk Darah kembali mengayunkan senjatanya dengan penuh tenaga.


Dia menyerang secara membabi buta, para Patriarch termasuk Grand Elder Sekta Pagoda Langit kesulitan mendekat.


Aaaaaah..!!


Enam orang pelayan berteriak kala atap bangunan di atas mereka rubuh. Beruntung Ling Lang Tian bergerak cepat dan menendang atap tersebut ke arah Pendekar Cambuk Darah.


"Kalian pergi ke hutan bambu dan tetaplah di sana, ajak yang lainnya juga."


Ling Lang Tian kembali melesat tanpa menunggu ucapan para pelayan yang diselamatkannya. Dia telah menargetkan Pendekar Cambuk Darah karena telah berani membuat kekacauan di kediamannya.


!!


Melihat ada benda yang melesat ke arahnya membuat Pendekar Cambuk Darah kembali mengayunkan senjata hingga benda itu meledak dan menjadi serpihan kecil.


Salah satu serpihan seakan menutupi pandangannya di udara hingga lesatan dari Ling Lang Tian yang bagai kilat tersebut tidak bisa dia hindari.


Pendekar Cambuk Darah terpental jauh dan masih tetap mendapat serangan berikutnya dari Ling Lang Tian. Dia berusaha menahan serangan itu namun lawan seperti tidak membiarkan dirinya melakukan apa pun.


Ling Lang Tian sejak tadi menggunakan tendangan dan juga pukulan dari kedua tangannya. Dia menyerang dari depan dan detik berikutnya muncul dari bawah tubuh Pendekar Cambuk Darah hingga lawannya itu menghantam segel pelindung dari Sekte Pagoda Langit yang ada di udara.


BLAAAR..!


Tubuh Pendekar Cambuk Darah seperti ditimpa sembilan petir dari berbagai arah secara bersama-sama. Suara yang dihasilkan begitu menggelegar bahkan efeknya membuat seluruh wilayah Sekte Pagoda Langit diterangi cahaya putih yang singkat.


"Berani sekali kau datang membuat masalah di tempat tinggalku," suara Ling Lang Tian dingin dan siapa pun mungkin saja dapat mati bila melihat betapa tajam tatapan matanya.


Tangan kanan Ling Lang Tian mulai menarik pedang yang terselip di sabuk bagian pinggang sebelah kirinya. Tanpa aba-aba dan tanpa melihat ke arah atas--dia mengayunkan pedangnya hingga tubuh hangus Pendekar Cambuk Darah terbelah dua.


BLAAAAAR..!


Lesatan seperti pilar cahaya yang dikelilingi petir meluncur naik dan seakan ingin membelah langit. Suara gemuruhnya begitu keras bahkan dapat didengar oleh hampir seluruh makhluk di Kekaisaran Langit Tengah.


Efek dari cahaya itu pun dapat dilihat oleh pendekar yang sedang ada di perbatasan kekaisaran dan salah satunya adalah Yi Wen. Gadis cantik bertubuh indah itu baru saja ingin memakan paha ayam hutan yang dia buru dan bakar sendiri saat sebuah garis kecil bercahaya meluncur naik ke langit.


Yi Wen awalnya berpikir cahaya tersebut adalah kembang api untuk meminta bantuan. Tetapi sejak tadi garis cahaya itu sama sekali tidak meledak dan semakin ke atas--kian memudar.


"Aku tadi mendengar suara gemuruh petir, mungkin saja ada yang sedang bertarung saat ini.."


Yi Wen memakan paha ayamnya sambil menoleh ke arah roh tua bangka yang melayang di sampingnya, "Tidak perlu heran, Kakek. Setiap hari juga ada pertarungan. Tapi aku tidak mendengar suara yang kau sebutkan tadi,"


"Itu karena kau tidak pernah rajin membersihkan telingamu.." roh kakek tersebut juga mulai mengomentari pakaian dan sikap cucunya yang tidak seperti gadis anggun lainnya. Yi Wen hanya menikmati daging ayam bakarnya dan membiarkan roh kakeknya bicara sepuas hati.


".. Gadis itu harusnya belajar memasak, belajar menjahit, belajar melukis, belajar berhias, mempercantik diri, bukan membawa pedang dan berkelahi seperti orang gila. Tapi kau.. Tulisanmu bahkan.. Haah.. Sebuah penghinaan pada cacing bila kukatakan tulisanmu seperti makhluk itu saat sedang kepanasan,"


"Kakek, aku cantik bahkan tanpa riasan apa pun. Saudara Xiao-ku hanya suka gadis yang kuat, tidak merepotkan, tidak membuatnya khawatir, dan yang memiliki nama yang indah. Yaah.. Aku termasuk dalam kriteria ini dan namaku juga bagus-bagus saja.."


Roh kakek dari Yi Wen nampak menggelengkan kepala pelan, cucunya seperti lupa pada satu hal yang fatal--Xiao Shuxiang pantang menikah dengan saudara seperguruannya sendiri.


"Apa kau tidak mau pergi melihat asal cahaya barusan? Mungkin satu tempat di Kekaisaran Langit Tengah sedang ditimpa bahaya,"


"Hanya orang tidak waras yang mau terlibat dengan masalah orang lain apalagi dia tahu bahwa masalah itu membawa bahaya. Aku ini masih waras Kakek."


Yi Wen merasa lebih baik duduk dan melanjutkan makan ayam bakar miliknya sambil menikmati pemandangan langit malam yang indah.


Saudara seperguruan Xiao Shuxiang ini memang memberi bantuan pada Scarlet Darah, tetapi sebenarnya dia tidak pernah dilibatkan dalam misi kelompok seperti yang sekarang dilakukan oleh Qianyu Mao dan rekan-rekannya.


BAAAM..!


!!


Ling Qing Zhu menghindari serangan senjata milik Pangeran Sabit Kematian. Awalnya dia yakin sudah menebas tubuh pemuda ini menjadi tiga bagian, tetapi entah bagaimana senjata sabit tersebut menyerangnya meski tanpa Tuan dan sekarang, tubuh Pangeran Sabit Kematian kembali tersambung lagi.


"Immortal..?" ekspresi wajah Ling Qing Zhu masih tenang dibalik cadar tipisnya, namun tidak demikian dengan hatinya. Dia jelas terkejut saat tahu bahwa lawannya adalah makhluk yang sulit dibunuh.


Ling Qing Zhu dan para murid Sekte Pagoda Langit tidak bisa mendekat karena senjata sabit besar ini terus saja menyerang mereka dan seakan-akan melindungi pemiliknya tubuhnya yang sedang dalam tahap pemulihan.


Senyuman terlukis di wajah Pangeran Sabit Kematian, dia memiringkan kepalanya hingga terdengar suara 'krak' kecil dan kemudian mendesah lega.


".. Kupikir leherku patah. Dia gadis yang kejam, tapi dia sangat cantik.. Benar-benar cantik,"


Pangeran Sabit Kematian mengulurkan tangan dan menyentuh dadanya. Dia bisa merasakan jantungnya berdebar sangat cepat dengan penuh desiran. Rasa semacam ini baru pertama kali dialaminya.


"Aku sulit bernapas.. Hatiku sepertinya baru saja disesaki sesuatu.. Aah.. Mungkinkah ini cinta?"


Andai Xiao Shuxiang atau Jing Mi yang melihat serta mendengar ucapan Pangeran Sabit Kematian.. Mereka berdua pasti sudah merinding geli sambil menahan diri untuk tidak muntah.


Dan jika yang mendengarnya adalah Ling Qing Zhu, gadis itu tidak akan ragu untuk langsung menebas leher Pangeran Sabit Kematian tanpa aba-aba. Sayangnya, dia saat ini sedang serius menghadapi senjata yang melayang tanpa terkendali ini.


Ling Qing Zhu melesatkan pedang terbangnya dan seketika berbenturan keras dengan senjata Pangeran Sabit Kematian. Pedang tersebut kemudian kembali lagi ke tangan kanan gadis berambut putih itu.


Para murid Sekte Pagoda Langit juga ikut menyerang sabit tersebut, sebagian dari mereka mencoba menyerang Pangeran Sabit Kematian. Hanya saja pertarungan ini cukup menyulitkan.


"Tidak bisa. Terlalu banyak yang menyerang hanya akan membuat kita kesulitan bergerak. Korban akan terus berjatuhan,"

__ADS_1


Salah satu murid Sekte Pagoda Langit berusaha mengatur napas dan kemudian berseru. Dia meminta tiga kelompok saudara seperguruannya pergi untuk menyelamatkan murid junior yang lain dan membawa mereka ke tempat yang aman.


".. Murid yang tinggal adalah kalian yang praktiknya berada tingkat Emas Kuning ke atas, jadi ayo lakukan..!"


"Tunggu, kenapa aku harus menurutimu?"


"Ayolah, kita tidak punya waktu untuk memilih siapa pemimpinnya. Lakukan saja,"


Para murid Sekte Pagoda Langit terpaksa mendengarkan ucapan temannya ini. Mereka yang praktiknya berada di Master Foundation Tingkat Emas Kuning ke atas melesat maju dan membantu Ling Qing Zhu, sisanya pergi ke tempat yang aman.


Pangeran Sabit Darah begitu terpesona dengan gadis berpakaian putih bercorak bunga wisteria merah yang sedang bertarung dengan senjata miliknya. Dia seperti orang yang dimabuk asmara.


"Cantik.. Sangat cantik.. Gerakan berpedang yang memukau dan keindahan wajahnya itu.. Luar biasa sempurna.."


Warna mata Pangeran Sabit Darah berkilat hitam, dia lalu melesat dengan tangan yang terulur seperti sedang memegang senjata. Tongkat sabitnya yang sedang bertarung seakan terhisap oleh tangan Pangeran Sabit Darah.


!!


Ling Qing Zhu menapakkan kakinya di puncak salah satu pohon. Dia seperti menggunakan ujung daun sebagai pijakan, wajah dan ekspresinya masih begitu tenang.


Beberapa murid melayang di udara dan sebagian yang lain menapak di tanah. Mereka semua menatap waspada ke arah Pangeran Sabit Kematian sambil memikirkan langkah serangan mereka berikutnya.


"Kabar yang kudengar memang sangat benar.. Sembilan puluh persen kecantikan di dunia ini berada pada Nona Ling Qing Zhu. Mengagumkan.. Kau membuatku jatuh hati,"


Pangeran Sabit Kematian tanpa ragu menggoda Ling Qing Zhu. Dia bahkan mengatakan tidak akan membunuh seorang pun murid di tempat ini bila Ling Qing Zhu bersedia menikah dengannya.


"Memalukan,"


!!


Pangeran Sabit Kematian terkejut, suara desiran kembali terdengar di dalam dadanya dan kali ini dia dapat merasakan angin lembut menerpa hatinya. Dia menyukai suara Ling Qing Zhu.


"Bunga indah yang tersembunyi di Sekte Pagoda Langit.. Kau adalah keindahan sejati Nona Qing Zhu,"


!!


Para murid Sekte Pagoda Langit memang tidak menafikkan fakta bahwa pemuda bersenjatakan sabit tersebut memiliki wajah yang tampan. Namun mereka tetap tidak suka Nona mereka seperti diberi pandangan penuh nafsu.


"Kau jauh lebih layak bila mati sekarang juga!"


"Nona Ling telah mempunyai Wali Pelindung dan mereka akan segera menikah. Kedatanganmu hanya membuat kekacauan,"


"Penyusup sepertimu lebih baik mati di neraka. Serang dia..!"


Sepuluh orang murid Sekte Pagoda Langit melesatkan pedang terbang mereka yang langsung ditangkis dengan mudah oleh Pangeran Sabit Kematian.


"Penganggu. Aku sedang bicara dengan Nona Qing Zhu, kenapa kalian tidak sabar untuk mati, huh?" ekspresi wajah Pangeran Sabit Kematian menjadi dingin. Dia sejak tadi memutuskan bicara dengan Ling Qing Zhu agar para murid yang ada bisa pergi, tetapi mereka sama sekali tidak bergeming.


".. Aku sudah menunjukkan kemurahan hatiku, tapi kalianlah yang memintanya. Jadi bersiaplah menerima ajal kalian sekarang juga,"


!!


Meskipun serangan Pangeran Sabit Kematian berusaha ditangkis, tetapi tetap saja kekuatannya lebih dahsyat dan jelas bukan tandingan mereka. Beruntung sebuah garis pelindung membentang dan menghalau sebagaian besar dari serangan tersebut.


Garis pelindung perlahan meredup, Pangeran Sabit Kematian mengarahkan pandangannya ke asal garis itu datang dan melihat seorang pemuda yang nampak lebih tinggi darinya tengah berjalan dengan penuh wibawa.


Wajah pemuda tersebut tampan, memiliki tatapan dingin dan jelas seperti menumpuk kemarahan yang ditujukan padanya.


Orang yang dilihat Pangeran Sabit Kematian tidak lain adalah Ling Jian Tou, putra dari Ling Xuan Lu dan merupakan sepupu Ling Qing Zhu.


"Sepertinya sudah cukup kau menatap Adikku. Pergi dan hanguslah di neraka,"


Satu ayunan pedang dari Ling Jian Tou menciptakan sebuah serangan berbentuk bola api seukuran batu besar yang melesat bagai kilat ke arah Pendekar Sabit Kematian.


Tangkisan dari lawannya juga tak kalah cepat, serangan dari Ling Jian Tou tidak memberi dampak pada Pendekar Sabit Kematian. Namun lawan tidak harusnya cepat sombong.


Ling Jian Tou adalah penyerang jarak jauh yang handal. Bila satu serangannya meleset, maka tiga serangan lain akan membuat lawan tidak mampu lagi menghindar apalagi menangkisnya.


BAAAM..!


Lihat saja, Pangerang Sabit Kematian terpental begitu jauh bahkan seluruh tubuhnya nyaris tak terbentuk. Dia juga kembali mendapat serangan kejutan dari Ling Qing Zhu yang membuat dirinya meluncur naik dan menghantam segel pelindung Sekte Pagoda Langit.


BLAAAAR..!!


Lima petir mengacau-balaukan tubuh Pangeran Sabit Kematian termasuk membuat senjatanya hancur berkeping-keping. Suara yang begitu besar membuat serta cahaya singkat yang muncul tidak membuat Ling Qing Zhu merasa lega.


Dia sebelumnya melihat bagaimana tubuh lawan yang sudah ditebasnya kembali menyatu, jadi kali ini mungkin saja itu akan terulang lagi.


Di tempat lain, Ling Lang Tian kurang lebih memiliki pemikiran yang sama dengan adiknya. Dia memang berhasil menghanguskan tubuh Pendekar Cambuk Darah, tetapi perasaannya mengatakan bahwa lawannya tidak mungkin bisa dikalahkan begitu mudah.


"Tian'Er, kuserahkan dia padamu. Ada kemungkinan penyusup ini memiliki rekan yang lain, dia tidak mungkin datang sendiri."


Ling Chu Zhen menepuk pelan pundak putranya dan segera bergegas bersama Ling Dong Hun untuk mencari penyusup lain yang telah berani membuat keributan di sektenya.


Ling Lang Tian hanya sekilas menatap punggung ayah dan pamannya yang dengan cepat semakin jauh. Dirinya lalu mengatakan pada ibu dan juga neneknya untuk pergi ke tempat yang aman.


".. Banyak nyawa yang harus diselamatkan, biarkan aku sendiri yang melawannya."


Ling Xuan Lu, "Kami percayakan padamu. Ayo Ibu,"


Ling Lang Tian adalah Patriarch termuda di Sekte Pagoda Langit, dia merupakan anak jenius dan berbakat. Bibi dan para Patriarch yang lain tidak pernah meragukan kemampuannya, karena itulah mereka menyerahkan semuanya pada Ling Lang Tian.


Sekte Pagoda Langit memiliki banyak murid dengan tingkat kultivasi yang berbeda-beda. Tetapi karena mereka terlalu banyak hingga lawan bisa dengan mudah melukai mereka saat memakai serangan secara membabi buta.

__ADS_1


Hal lainnya adalah lawan yang mereka hadapi merupakan makhluk yang sulit untuk dibunuh. Sementara mereka sendiri hanya mempunyai satu nyawa. Karenanya memang penting bila menyerahkan semuanya pada satu orang yang dijamin bisa mengatasinya.


"Kau sangat kejam saat membunuh. Tubuhku benar-benar hangus.."


?!


Ling Lang Tian mendengar suara dari arah belakang tubuhnya, dia tanpa aba-aba melakukan serangan dan seketika membunuh dua orang pelayan yang tubuhnya terikat tali.


"Ooh.. Kau membunuh mereka. Kedua orang itu hanya pingsan tapi kau membunuh mereka. Tsk tsk tsk, apa ini sikap asli dari Tuan Muda Ling, hm?"


Suara itu datang lagi dan kali ini Ling Lang Tian bisa melihat lawannya. Pendekar Cambuk Darah nampak menapak pada salah satu atap bangunan dengan seorang murid Sekte Pagoda Langit yang menjadi sanderanya.


Tubuh yang hangus terbakar karena menghantam segel pelindung Sekte Pagoda Langit merupakan tubuh pengganti. Entah bagaimana caranya, tetapi jika berhubungan dengan Scarlet Bayangan--maka itu bukan hal yang mengherankan.


Topeng rubah yang ada pada Pendekar Cambuk Darah telah menjadi bukti identitasnya. Corak pada topeng tersebut sama dengan milik anggota Scarlet Bayangan yang pernah dilawan oleh Ling Lang Tian dahulu, corak itu unik dan mempunyai ciri khas sendiri.


"Tu-Tuan Muda Ling.. Khak.. Ja-jangan pedulikan aku.. Cepat bunuh orang ini.."


!!


Ling Lang Tian meski berwajah tenang, tetapi tidak demikian dengan tatapan matanya sekarang. Dia begitu marah sebab lawannya memakai cara kotor seperti ini.


Pendekar Cambuk Darah menyeringai saat melihat lawannya ragu untuk menyerang, "Hmmm.. Tuan Muda Ling, apa kau tahu perbedaanku denganmu? Kau sangat menghargai nyawa saudara seperguruanmu dan kau memiliki kewajiban melindungi tempat ini. Kekuatanmu memang besar, tapi kau menjadi lemah karena mempunyai sesuatu yang harus dilindungi.."


Aaakh..!


!!


Ling Lang Tian tidak bisa menyerang sebab Pendekar Cambuk Darah menggunakan tubuh murid Sekte Pagoda Langit sebagai perisai. Amarahnya benar-benar sudah menumpuk diulu hati.


".. Lihat kan? Kau tidak bisa menyerang karena mengkhawatirkan nyawanya. Pendekar yang luar biasa hebat hanya akan menjadi pecundang bila dihadapkan sesuatu yang seperti ini,"


Aaakh..!


Tali yang melilit tubuh murid laki-laki Sekte Pagoda Langit tersebut semakin kencang hingga terdengar suara seperti remukan tulang.


"Ja-jangan pikirkan.. A-aku Tuan Muda.."


Pendekar Cambuk Darah, "Hm? Kau masih bisa bicara?"


Aaaakh..!


!!


Ling Lang Tian mencengkeram kuat pedangnya. Dia sangat ingin melesat dan membelah tubuh Pendekar Cambuk Darah, tetapi wajah penuh kesakitan serta jeritan pilu dari murid Sekte Pagoda Langit menggoyahkan hatinya.


"Ha ha ha.. Aku suka kau bimbang. Bagaimana jika Tuan Muda Ling yang terhormat memohon pengampunan untuk Saudara Seperguruannya ini.." seringaian Pendekar Cambuk Darah terkesan meledek dan merendahkan Ling Lang Tian.


".. Kenapa Tuan Muda Ling? Kau lupa caranya memohon? Kau bisa mulai dengan berlutut, ayo lakukan dan aku akan melepaskan pemuda ini,"


Aaaakh!


Murid Sekte Pagoda Langit ingin sekali bicara dan memaksa Ling Lang Tian untuk tidak menuruti ucapan orang jahat di sampingnya. Dia lebih baik mati dengan tubuh terpisah-pisah daripada menyaksikan Tuan Muda Ling-nya memohon.


!!


Seseorang yang menyaksikan keadaan ini juga nampak marah pada Pendekar Cambuk Darah. Dirinya mencengkeram kuat salah satu tiang bangunan hingga terdengar bunyi retakan.


Pii,


"Aku tahu, O Zhan. Scarlet Darah sudah memulai aksi mereka.."


Yang bicara tidak lain adalah Hu Li, Demonic Beast rubah putih itu sebelumnya telah diminta oleh Xiao Shuxiang untuk tetap di Sekte Pagoda Langit.


Awalnya dia terus berada di sisi Ling Qing Zhu sepanjang hari, baru setelah bulan muncul--dirinya kembali ke kamar dengan O Zhan. Namun, Ling Ya Bing malah datang dan mengatakan ingin tidur sambil memeluk adiknya ini.


Keadaan yang semula tenang berubah seketika saat serangan dadakan datang. Untungnya Hu Li berhasil menyelamatkan Ling Ya Bing dan menyerahkannya pada salah satu Patriarch untuk dibawa ke tempat yang aman.


Pii,


O Zhan benar. Korban jiwa akan semakin banyak berjatuhan bila Hu Li tidak segera mengambil tindakan. Mereka harus membantu Ling Lang Tian dan Sekte Pagoda Langit.


"Tuan Muda Xiao.. Aku harus mencarinya. Kemampuan Alkemis Tuan Muda dibutuhkan saat ini,"


Pii!


Hu Li dan adiknya pergi ke tempat yang lebih sepi. Dia memilih lokasi di bawah salah satu pohon dan segera mengeluarkan kertas pemberian Xiao Shuxiang lalu meletakkannya di tanah.


Hu Li mengalirkan sedikit Qi miliknya pada kertas itu dan membuat titik-titik air mulai muncul di udara, memadat hingga membentuk sebuah cermin setinggi orang dewasa.


Kertas ini hanya bisa dipakai sekali dan sebelumnya Hu Li tidak berniat memakainya karena merasa penyusup di Sekte Pagoda Langit akan mudah ditangani, tetapi rupanya musuh tidak selemah itu.


Hu Li bergegas memasuki cermin di depannya bersama O Zhan dan tak berapa lama cermin itu kembali memudar.


Di sisi lain, tepatnya di dalam hutan bambu buatan Sekte Pagoda Langit--Qingyu Mao dan Miao Gang dapat membaur diantara para murid Sekte Pagoda Langit.


Tidak sulit mengganti pakaian, keduanya hanya perlu membunuh dua murid yang tingginya sama dengan mereka, melucuti pakaian murid tersebut dan lalu melakukan penyamaran.


Pembunuhan yang begitu rapi hingga sulit disadari, Qingyu Mao bahkan tidak melewatkan kesempatan untuk memakan dua mayat itu tanpa menyisakan bahkan satu tulang pun.


"Aaah.. Menyedihkan.. Aku sangat sedih.. Mereka semua datang ke tempat ini untuk menyelamatkan diri.. Aku begitu sedih.." Miao Gang mengusap pelan boneka kain miliknya yang terlihat lebih kecil dari sebelumnya.


".. Kasihan.. Kasihan sekali.. Padahal malam ini bulannya sangat indah.. Tetapi mereka tidak bisa melihat keindahan itu.. Aku merasa sedih.. Mereka harus melewati takdir yang menyedihkan.. Aku benar-benar ingin menangis.."

__ADS_1


***


__ADS_2