
Tidak butuh waktu lama sampai Xiao Shuxiang tiba di tempat tujuannya. Dia langsung menendang pintu rumah Duan De dan berjalan masuk untuk mulai memperbaiki pusaka milik Ling Qing Zhu.
Pedang Kucing Putihnya sangat berkilau, terasa dingin dan mempunyai pangkal yang terbuat dari perak murni bercorak kobaran api. Pusaka tersebut merupakan pusaka tingkat tinggi dan menjadi kesayangan Ling Qing Zhu.
Xiao Shuxiang tanpa ragu memasukkan pedang tersebut ke dalam bara api yang memiliki suhu panas sebab dibantu oleh Api Biru Kecilnya.
Dia leluasa masuk kemari karena Duan De hanya tinggal sendirian dan saat ini Kakek Tua itu berada di Sekte Pedang Langit. Dia hanya perlu mendobrak pintu rumah ini tanpa rasa bersalah sama sekali.
Sebenarnya, tindakan Xiao Shuxiang tidaklah sopan. Namun karena dia sudah menganggap rumah Duan De sebagai rumahnya sendiri, maka kesopanan tidaklah diperlukan. Toh, dia juga tidak terlalu merusak pintunya.
Bunyi nyaring dari suara palu yang berbenturan dengan pedang di tangan Xiao Shuxiang mengalun memenuhi ruangan tempaan ini. Dia begitu serius memukul pedang milik Ling Qing Zhu.
Saat pukulan kedua puluh, Xiao Shuxiang kembali memasukkan pedang Kucing Putihnya ke dalam bara api. Dia dibantu oleh tiga teman kecilnya untuk menyiapkan sebuah periuk berukuran sedang yang diisi oleh air dengan beberapa tanaman herbal.
Ketiga teman kecil Xiao Shuxiang yang berupa Api Biru itu mulai menghangatkan air pada periuk. Mereka tidak berhenti bahkan saat tercium aroma herbal yang pekat.
Xiao Shuxiang berjalan dan berdiri di depan periuk. Dia pun mengeluarkan sebuah kulit Demonic Beast kering dari dalam Gelang Semestanya.
"Aku butuh tulang, tapi tidak ada waktu mencarinya. Lagipula di Benua ini, kurasa tidak ada Demonic Beast yang sebanding denganku.." Xiao Shuxiang mengusap-usap dagunya sambil berpikir, dia melihat salah satu Api Biru melayang ke arahnya.
"Tuan.. Apa Anda ingin membuat pedang yang berbahaya?"
"Teman Kecil, ini tidak akan seberbahaya Yīng xióng. Aku tidak menjadikan pedang milik Kucing Putih sebagai senjata beracun atau yang lainnya, kau tenang saja."
Xiao Shuxiang mengusap-usap jari telunjuk kirinya dan kemudian melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Dia mengalirkan Qi pada tangan kanannya dan memelintir jari telunjuknya hingga terdengar suara retakan tulang. Xiao Shuxiang menahan rasa sakitnya dengan geraman dan lantas memotong jarinya.
Hanya dalam hitungan detik, sakitnya perlahan memudar dan jarinya yang terpotong mulai tumbuh kembali. Xiao Shuxiang mengusap keringat di keningnya dan menggeleng pelan.
"Rasa yang luar biasa.. Pikirkanku kembali jernih," dia terengah-engah dan lalu memasukkan jari miliknya yang terpotong ke periuk hingga membuat air herbal di dalamnya berubah warna menjadi hitam pekat.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?!"
Suara kecil terdengar dari salah Api Biru Xiao Shuxiang yang tengah melayang naik-turun. Tentu saja tindakan Koki Alkemis itu barusan tidak disangka-sangka.
Sebenarnya, Xiao Shuxiang bisa saja mencari Demonic Beast hebat dan mengambil tulangnya--namun menurutnya tidak ada yang lebih kuat dari dirinya sendiri. Dia ingin membuat pusaka yang setidaknya bisa setingkat dengan Pusaka Bumi atau lebih tinggi daripada itu.
"Qian Kun pernah ingin menggunakanku sebagai bahan pembuatan ulang Pedang Bintang Malam. Jadi sekarang aku memakai cara yang sama untuk memperkuat pedang milik Kucing Putih, dan kurasa.. Satu jari saja sudah cukup."
"Tuan. Anda.. Sudah tidak waras,"
"Teman kecil. Aku berani menguliti dan mencabut bagian tubuh orang lain, jadi kenapa harus takut jika melakukannya pada diri sendiri? Bukannya kau tahu, rasa sakit akan selalu menjadi pengingat bahwa aku masih bisa mati."
Xiao Shuxiang melukai punggung tangannya hingga berdarah dan meneteskannya ke dalam periuk. Ekspresi wajahnya serius dengan senyuman yang teramat mengerikan.
Saat luka di tangannya mulai sembuh, Xiao Shuxiang mengambil pedang Kucing Putih dan memasukkannya ke dalam periuk. "Entah nantinya kekuatan pedang ini akan keluar atau tidak.. Semuanya tergantung pada keahlian gadis itu,"
Suara dengungan terdengar dari arah periuk. Xiao Shuxiang segera membentuk segel tangan dan membuat perisai pelindung untuk menahan periuk tersebut meledak.
"Tuan.. Anda yakin ini akan berhasil?"
"Tentu. Aku sudah pernah membuat Yīng xióng dengan cara yang sama, hanya saja kali ini kugunakan bagian tubuhku sendiri."
Butuh waktu sampai pedang Ling Qing Zhu selesai. Xiao Shuxiang baru keluar dari kediaman Duan De saat hari mulai senja.
Dia menggunakan Cermin Pemindah untuk pulang kembali ke Sekte Pagoda Langit.
Ling Qing Zhu saat itu berada di kamarnya, dia sedang serius menulis kala sesuatu melesat masuk dari arah jendela.
Karena tidak ada niatan membunuh yang dirinya rasakan, Ling Qing Zhu tidak bergerak dari tempat duduknya.
Jujur saja, dia sudah tahu sosok tersebut dari pergerakan angin. Hanya satu orang yang dia ketahui selalu bersikap sembrono dengan masuk melewati jendela, padahal masih ada pintu.
Siapa lagi orang itu jika bukan Wali Pelindungnya, Xiao Shuxiang.
Ling Qing Zhu menghentikan gerakan kuasnya dan melihat sosok pemuda berseragam serba hitam itu. Xiao Shuxiang terlihat mengembuskan napas sambil berdecak kagum atas bakatnya dalam mengontrol Cermin Pemindah.
".. Aku sangat luar biasa. Tianqi Mao layak mendapat pujian, teknik klannya sangat bermanfaat. Detik yang lalu aku berada di Benua Timur, dan sekarang aku sudah ada di Benua Tengah.." Xiao Shuxiang menggeleng, dia menyukai keahliannya yang satu ini.
"Apa kau akan terus berdiri di sana?"
Xiao Shuxiang menoleh saat mendengar suara seorang gadis, dia memperlihatkan senyuman ramahnya dan segera menghampiri gadis berpakaian hitam dengan corak bangau putih tersebut.
Ling Qing Zhu terlihat berbeda, dia masih memakai cadar tipisnya dan rambutnya terurai panjang dengan beberapa hiasan sederhana namun menawan. Xiao Shuxiang tanpa ragu memuji gadis itu dan sedikit menggodanya.
Ling Qing Zhu hanya menggeleng pelan sebagai balasan dari godaan Xiao Shuxiang. Tatapan matanya masih sama saja, teduh dan dingin.
"Kucing Putih, harusnya saat tahu aku datang--kau siapkanlah makanan. Seharian ini aku belum makan.. Perutku minta diisi,"
__ADS_1
"Kau kultivator, makanan tidak terlalu dibutuhkan."
Ling Qing Zhu kembali melanjutkan kegiatannya yang sedang menyalin buku, dia tidak mempedulikan ekspresi cemberut pemuda yang duduk di depannya.
"Kucing Putih, aku menjadi kultivator bukan untuk menahan lapar.. Kau ini keterlaluan,"
"Mn, aku memang seperti itu sejak lama."
"Tidak bisa menghadapimu lagi, kau sulit diatasi."
"Terima kasih. Kau juga sulit diatasi."
Xiao Shuxiang bergeser tempat duduk hingga sekarang berada tepat di samping Ling Qing Zhu. Dia penasaran sebab gadis ini mulai membalas setiap ucapannya dengan beberapa kata.
Dirinya jadi menyimpulkan Ling Qing Zhu dapat diajak bicara saat gadis itu sedang serius menyalin sesuatu.
"Apa itu peraturan sektemu?" Xiao Shuxiang hanya bertanya asal, siapa yang tahu Ling Qing Zhu malah mengangguk membenarkan.
"Hanya satu, ini kitab kedisiplinan.." Ling Qing Zhu menjawab pertanyaan Xiao Shuxiang tanpa menoleh, ".. Tapi kurasa, ini tidak bisa digunakan untuk menghadapi orang sepertimu."
Xiao Shuxiang tersenyum senang, entah mengapa dia merasa bangga dengan ucapan terakhir Ling Qing Zhu. Jika memang dirinya tidak ingin mematuhi suatu aturan, siapa pun tidak akan bisa memaksanya.
Meski demikian, Xiao Shuxiang masih dapat memposisikan diri dalam berbagai keadaan. Dia tahu kapan bertindak sopan dan sebaliknya. Apalagi, orang-orang yang mengenalnya sudah cukup tahu bagaimana dirinya bersikap.
"Kucing Putih, kau punya tulisan yang bagus. Biar kubantu,"
!!
Ling Qing Zhu tersentak saat tiba-tiba kuas di tangannya sudah diambil alih oleh Xiao Shuxiang. Wali Pelindungnya ini memintanya untuk bergeser sedikit dan nyaris membuatnya terjatuh.
"Shuxiang, kau.. Menduduki pakaianku,"
"Makanya geser. Ayo sana sedikit.."
"Keterlaluan,"
Ling Qing Zhu tidak punya pilihan, Wali Pelindungnya terlalu dekat. Dia lalu memperhatikan bagaimana pemuda di sampingnya ini menulis dan hampir kehilangan ketenangan saat melihat betapa buruknya tulisan tangan Wali Pelindungnya.
!
"Kau.." Ling Qing Zhu mengembuskan napas, hampir saja dia ingin mengatai tulisan Xiao Shuxiang. Syukurlah dia ingat salah satu aturan sektenya yang melarang para murid untuk saling menghina.
"Kau.. Harus belajar menulis lagi.."
Ling Qing Zhu menggeleng pelan dan meraih tangan Xiao Shuxiang yang memegang kuas. Dia mengajari Wali Pelindungnya cara menulis yang rapi walau sebenarnya tidak suka karena sekarang di antara tulisan indah miliknya, ada goresan tinta yang mirip cacing kepanasan.
"Kucing Putih, aku ini bisa menulis. Tidak perlu diajari olehmu-!" Xiao Shuxiang langsung terdiam saat merasakan dingin menusuk di sampingnya, dia bisa tahu Ling Qing Zhu ingin sekali mengumpati dirinya saat ini.
"Kau jangan terlalu menekan kuasmu.." Ling Qing Zhu serius mengajari Wali Pelindungnya. Dia tidak segan meremas tangan Xiao Shuxiang jika gerakan tangan pemuda itu terlalu kaku.
Keadaan menjadi hening seketika, tidak ada yang buka suara di antara Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu. Yang sesekali terdengar hanyalah angin dan suara dari kain ungu penghias kamar ini.
"…"
"…"
Xiao Shuxiang memperhatikan bagaimana tangannya dipegang dan diajari cara menulis oleh Ling Qing Zhu. Gadis di sampingnya begitu serius hingga dia tidak tega untuk menggodanya.
"Shuxiang.."
Ling Qing Zhu akhirnya buka suara, namun karena jaraknya dengan Wali Pelindungnya begitu dekat--rasanya malah seperti dia tengah berbisik.
"Apa..?" Xiao Shuxiang bertanya, suaranya juga sama pelannya dengan Ling Qing Zhu. Dia seperti khawatir bila mengeraskan suaranya, maka goresan tinta pada kertas di depannya akan ikut terpengaruh.
"Bǎi Yì, kapan kau akan memberikannya?"
?!
Xiao Shuxiang menoleh, dia mengerutkan kening dan menatap Ling Qing Zhu dengan rasa penasaran. Dirinya tidak tahu maksud gadis bercadar tipis ini.
Ling Qing Zhu tahu arti dari ekspresi Wali Pelindungnya, dia menjawab bahwa Bǎi Yì merupakan nama dari pedang pusakanya. Mendengar itu membuat Xiao Shuxiang mengerti.
"Aku memang datang kemari untuk mengembalikannya. Sekalian bertanya apa kau senggang besok? Rencanya aku ingin membawamu ke suatu tempat."
"Mn? Ke mana?"
Xiao Shuxiang tersenyum dan berkata bahwa itu rahasia. Ling Qing Zhu nantinya juga akan tahu. Dia pun mengeluarkan pedang pusaka yang sudah ditempanya dan memberikan itu pada Kucing Putihnya.
"Kau ke Benua Timur.. Apa bersama Tuan Muda Lan?" Ling Qing Zhu menerima kembali pedang miliknya, dia merasa Bǎi Yì lebih berat dari yang biasa. Entah apa yang dilakukan pemuda ini dengan pedang pusakanya, dia akan mencari tahu nanti.
__ADS_1
"Benar, aku bersama Lan Zhi. Tapi sekarang dia ada di Benua Timur dan tengah melakukan sesuatu yang penting. Kenapa bertanya? Ingin bertemu dengannya?"
"Ling Qin Qi kemari. Dia mengatakan kalian bertarung dan masuk ke dalam cermin lalu menghilang.." Ling Qing Zhu mengembuskan napas dan menatap Xiao Shuxiang.
Dia kemudian menanyakan hubungan pertemanan Wali Pelindungnya dengan Lan Guan Zhi. ".. Kau, tak seharusnya bertarung di depan seorang gadis dan membuatnya tidak enak. Qi'Er merasa pertarungan kalian adalah karena dirinya."
Xiao Shuxiang berkedip dan menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia mengusap pelan punggung Ling Qing Zhu sebelum menghiburnya untuk tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.
".. Lan Zhi dan aku memang bertarung sengit tapi kami tetap berteman. Banyak hal yang sudah kulalui dengannya, jadi tidak mungkin masalah kecil mampu mempengaruhi pertemanan kami. Kau harus katakan pada Nona Qi untuk tidak menyalahkan diri sendiri, dan juga permintaan maafku karena sudah membuatnya terkejut."
"Mn, baiklah. Senang mendengar kau dan Tuan Muda Lan baik-baik saja."
"Tapi kau tidak tersenyum.. Ekspresimu masih sama."
"Ini ekspresiku saat sedang senang."
Raut wajah dan tatapan mata Ling Qing Zhu masih sama, Xiao Shuxiang sama sekali tidak melihat perbedaan antara raut wajah Kucing Putihnya saat sedang senang atau lainnya. Dia merasa gadis ini benar-benar memiliki wajah papan datar.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan mulai bangun dari tempat duduknya, "Sebaiknya aku pergi. Tidak baik bagiku berlama-lama di sini.."
Ling Qing Zhu juga ikut berdiri, dia mengangguk pelan dan mengantar Wali Pelindungnya ke arah pintu. Dia menasehati Xiao Shuxiang agar lain kali tidak masuk lewat jendela lagi. Sayang, pemuda ini malah mengatakan dia suka melakukannya.
"Kau bisa dicurigai sebagai penyusup."
"Memang, seperti itulah aku. Tapi tidak perlu cemas, Kucing Putih. Aku telah memperkirakan waktu sebelumnya, aku tidak akan menyusup saat kau tidur dan mandi."
"Bisakah kau hentikan itu? Kau sembrono."
"Mn? Aku hanya melakukannya pada orang yang kuanggap istimewa. Selain kau dan Lan Zhi, aku tidak pernah berbuat demikian pada orang lain."
Ling Qing Zhu terdiam dengan pandangan yang mengarah pada Xiao Shuxiang. Pemuda yang mirip seperti malaikat kegelapan ini baru saja menyebutnya sebagai orang yang istimewa. Entah bagaimana itu bisa terjadi.
"Baiklah, Kucing Putih. Kau mengantarku sampai di sini saja. Cepatlah tidur dan jangan terlalu banyak begadang. Mimpikan aku kalau kau sempat,"
"Hmph, mustahil."
Xiao Shuxiang kembali mengeluarkan Cermin Pemindahnya dan segera melangkah masuk. Cermin pemindah itu mulai memudar dan perlahan menghilang, meninggalkan Ling Qing Zhu yang masih berdiri tenang di depan kamarnya.
"Qing Zhu'Er?"
?!
Ling Qing Zhu menoleh saat mendengar suara seseorang yang ternyata adalah kakaknya, Ling Lang Tian. Pemuda yang dingin dan penuh wibawa tersebut berjalan ke arahnya.
"Patriarch.." Ling Qing Zhu memberi hormat, dia selalu segugup ini bila berhadapan dengan kakaknya sendiri.
"Apa Shuxiang kemari?"
Ling Lang Tian tidak memiliki tatapan seteduh adiknya. Malahan, dia mempunyai tatapan tajam dan seakan merendahkan orang lain.
Karena dirinya, bahkan Ling Qing Zhu tidak bisa berhadapan dengan kakaknya terlalu lama. Dia mengangguk membenarkan dari pertanyaan Ling Lang Tian barusan.
"Karena dia orangnya, aku tidak akan mengatakan apa pun apalagi memberimu peringatan. Dia tipe pemuda yang meski dikurung dalam ruangan sempit bersamamu--tidak akan pernah mengambil keuntungan,"
Ling Lang Tian selama ini selalu menjaga adiknya.
Siapa pun tahu bahwa Ling Qing Zhu merupakan gadis yang sangat cantik. Dia dapat menarik perhatian meski dengan tatapan mata saja.
Tidak banyak pemuda yang bisa tahan melihat Ling Qing Zhu, bahkan Ling Lang Tian sendiri tidak berani untuk berdiri terlalu dekat dengan adiknya.
"Patriach.."
"Tidak perlu bicara, aku tahu apa yang ingin kau katakan. Dengarkan aku saja,"
Ling Qing Zhu mengangguk pelan. Dia memperhatikan bagaimana Ling Lang Tian berbalik badan dan mulai membelakanginya, kakaknya selalu seperti ini saat ingin bicara panjang.
"Pemuda itu sangat ceroboh, tidak tahu malu, lancang, dan akan sangat merepotkanmu. Tapi bagiku dia bisa diandalkan untuk menjagamu."
Bagi Ling Lang Tian, kelebihan yang dimiliki adiknya merupakan kutukan. Sulit mencari Wali Pelindung seperti Xiao Shuxiang, sosok yang memperlakukan adiknya seperti gadis biasa lainnya.
"Belajarlah untuk mempelajari sifatnya dan hati-hati saat dia marah. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku tidak akan membatasi pergaulanmu. Dia memang liar, tetapi bukan hewan buas yang akan menerkammu. Jika ada yang kau keluhkan tentangnya, langsung saja katakan. Dia lebih suka gadis yang berterus terang,"
"Mn, aku mengerti."
Ling Lang Tian sedikit melirik adiknya sebelum pamit. Dia hanya mengatakan kondisi Xiao Shuxiang pada gadis itu.
Ling Qing Zhu kembali masuk ke dalam kamarnya dan akan memikirkan ucapan serta nasehat kakaknya barusan.
Tanpa disadari, pembicaraannya dengan Ling Lang Tian tadi didengar oleh seseorang yang tengah duduk tenang di atap kamar miliknya.
__ADS_1
***