
Xiao Shuxiang terduduk di depan kumpulan daging busuk Yun Fenjiao, dia menatap pedangnya yang berlumuran darah dan cairan racun dengan begitu serius.
"Saudara Xiao, kau-"
"Tunggu, Saudara Jing. Aku harus memuji diriku terlebih dahulu sebelum kita bicara." Xiao Shuxiang mengusap pelan dadanya, menghela napas pelan, dan mulai menutup matanya.
Semenjak menggunakan Jurus Kebangkitan Kembali, baru kali ini dirinya merasa bersyukur karena mendapatkan Dantian Berakar. Andai dirinya bangkit dengan seluruh kekuatannya, mungkin dia tidak akan pernah menjadi Alkemis ataupun belajar menempa dengan Duan De.
".. Aku juga tidak akan pernah belajar memasak. Hidupku pasti akan kembali miskin dan meski malas mengakuinya, aku mungkin tidak akan punya banyak teman. Dalam sepuluh kelahiran, baru kali ini Xiao Shuxiang bisa hidup sedikit lebih tenang. Ya ampun, aku sudah tidak tahu lagi pujian apa yang harus kuberikan pada diriku sendiri.. Haah.. Xiao Shuxiang.. Kau sangat luar biasa..!"
Xiao Shuxiang mengusap ke atas rambut poninya dengan penuh gaya, dia tidak henti-hentinya berdecak kagum hingga Jing Mi dan Dai Chen hanya bisa menggelengkan kepala melihat tindakannya.
"Sudah cukup memuji dirimu, sekarang selamatkan Mo Huai." Dai Chen menjitak kepala Xiao Shuxiang dan memintanya untuk tidak bercanda lagi.
"Kau tidak perlu iri Chen'Er, tapi yaah.. Orang lain memang pantas iri pada Xiao Shuxiang, karena aku luar biasa..!"
Dai Chen nampak berkedut, baru kali ini dia melihat ada orang yang begitu memuji dirinya sampai ditingkat mengerikan, ck ck.. Sangat tidak tahu malu.
Hu Li juga nampak menggeleng, dirinya baru tahu tuannya memiliki sifat yang seperti ini. Padahal dahulu, Xiao Shuxiang adalah orang yang serius, tidak banyak bicara, dan dingin.
".. Sepertinya, Tuan sudah banyak berubah sejak hidup di antara kultivator Aliran Putih. Tuan juga memiliki teman-teman yang baik. Syukurlah.." Hu Li meski senang, tetapi masih ada yang mengganjal di hatinya. Itu adalah pertanyaan apakah tuannya, Xiao Shuxiang masih ingin menghancurkan Benua Timur atau sebaliknya.
Xiao Shuxiang dan Jing Mi mulai mencari selendang yang memiliki motif tubuh Mo Huai. Sementara Dai Chen, Lan Guan Zhi, Siu Yixin dan Hu Li mengambil kain bermotif yang lain.
Keadaan mulai menjadi serius. Jing Mi beberapa kali menelan ludah, ada titik-titik keringat di keningnya. Dirinya bernapas begitu pelan, raut wajahnya memperlihatkan kekhawatiran yang amat sangat.
"Hati-hati, Saudara Xiao. Jika kau salah memotongnya, Saudara Mo akan mati. Hati-hati, Saudara Xiao..!"
"Tsk, kau berisik. Aku benar-benar bisa salah potong jika kau terus mengangguku."
Xiao Shuxiang mengusap keringat di wajahnya, dia meminta Jing Mi memegang kain Mei Ning dengan baik. Dirinya mulai mengalirkan Qi pada tangannya dan perlahan memotong kain Mei Ning yang bermotif tubuh Mo Huai.
Xiao Shuxiang dan Jing Mi menahan napas, keduanya bahkan tidak bisa mendengar suara detak jantung mereka. Sekali saja mereka membuat kesalahan, maka nyawa Mo Huai menjadi taruhannya.
Walau Mei Ning telah tewas, namun kainnya masih saja bergerak meski melambat. Tekstur kain ini terasa seperti usus makhluk hidup, licin, dan berdetak seperti jantung.
Dai Chen, Lan Guan Zhi, Hu Li, dan Siu Yixin juga sedang fokus memotong perlahan kain milik Mei Ning. Mereka berusaha mengeluarkan murid-murid Scarlet Bayangan yang masih bisa diselamatkan.
Xiao Shuxiang dan Jing Mi akhirnya dapat bernapas lega setelah berhasil mengeluarkan Mo Huai. Kondisi temannya tidak sadarkan diri, tapi dia baik-baik saja.
"Mo Huai sudah selamat, gendong dia dan lanjutkan perjalanan." Xiao Shuxiang berniat untuk melangkah lebih dalam ke bangunan ini, namun Jing Mi menyerukan bahwa mereka belum menyelamatkan yang lain.
__ADS_1
"Ada banyak manusia yang harus kita keluarkan dari kain ini, Saudaraku. Selamatkan mereka dulu baru melanjutkan perjalanan." Jing Mi menatap Xiao Shuxiang penuh arti, dia berkata tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja.
"Haah.. Saudara Jing, kau lihat wajahku ini. Apa ada rasa kasihan yang kau lihat? Apa aku menunjukkan kepedulian?"
Jing Mi menggeleng, dia lalu mengatakan agar saudaranya jangan bercanda. Tujuan mereka datang ke tempat ini memang untuk menyelamatkan Duan De, tapi bukan berarti mereka harus mengabaikan murid-murid Scarlet Bayangan, apalagi telah diketahui jelas bahwa murid-murid tersebut masih bernyawa.
Xiao Shuxiang berpikir sejenak, dia merasa Jing Mi terlalu baik. Tidak mau membuang waktu, dirinya meminta Jing Mi menemani Siu Yixin dan Hu Li untuk menyelamatkan murid-murid Scarlet Bayangan. Sementara dirinya sendiri akan melanjutkan perjalanan bersama Lan Guan Zhi dan Dai Chen.
".. Jika kau sudah selesai, segera susul kami. Bagaimana?"
Jing Mi mengangguk setuju, dia meminta saudaranya agar berhati-hati. Jadilah Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, dan Dai Chen melanjutkan perjalanan tanpa teman-temannya yang lain.
Ada suatu keanehan yang dirasakan Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, dan Dai Chen saat berjalan lebih dalam di bangunan ini. Seakan setiap ruangan memiliki penghuninya masing-masing.
Sama seperti sekarang, di mana mereka berada dalam ruangan yang bernuansa serba hijau dihiasi dengan banyak bunga.
Sekitar enam meter di depan mereka, duduk seorang gadis muda dengan pakaian berwarna kuning emas.
Wajahnya putih mulus dengan sedikit rona merah di kedua pipinya, rambutnya bergelombang dan terurai panjang. Walau nampak tertunduk, namun Xiao Shuxiang yakin dia gadis yang cantik.
Gadis tersebut memegang sebuah topeng rubah berwarna merah, dia perlahan menggerakkan kepalanya dan menatap ke arah tiga pria yang baru saja masuk ke ruangannya.
Xiao Shuxiang hendak melesat untuk langsung menyerangnya, namun Lan Guan Zhi dan Dai Chen segera menahan dirinya dengan berkata gadis tersebut tidak berniat untuk bertarung.
"Jangan bertindak gegabah, perhatikan situasinya terlebih dahulu." Dai Chen memperingatkan, membuat Xiao Shuxiang mendengus. Jangan bilang bahwa kedua temannya terpesona dengan kecantikan gadis itu.
"Mn, kau lebih cantik."
!!
"Aku Laki-Laki, Lan Zhi..! Apa perlu kuperlihatkan 'pilar surgawiku', hah?!" Xiao Shuxiang mengencangkan ikat rambutnya, dia tidak pernah mendengar kata terlarang tersebut selama beberapa tahun belakangan ini, tak disangka Lan Guan Zhi malah mengucapkannya dengan begitu jelas.
Sebenarnya, Lan Guan Zhi niat bercanda sebagai pencair suasana. Namun cara penyampaiannya begitu serius, apalagi dibantu dengan wajah dan tatapan matanya yang tidak ada unsur humorisnya sama sekali.
Bahkan Xiao Shuxiang sebelum melakukan protes dengan ucapan Lan Guan Zhi tadi, ujung telinganya bersemu merah walau hanya sedetik.
Dai Chen juga, hampir tersedak napasnya sendiri kala mendengar pujian Lan Guan Zhi pada Xiao Shuxiang tadi. Andai ucapan tersebut diperuntukkan oleh para gadis, pipi mereka pasti sudah semerah tomat.
Gadis di depan mereka tersenyum tipis, dia kedatangan tamu yang tidak biasa. Segera, dirinya memakai topeng rubah di depannya dan mulai berdiri secara perlahan.
Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, dan Dai Chen langsung bersikap waspada. Mereka melihat gadis tersebut membungkuk memberi hormat dan kemudian mulai melekukkan tubuhnya seperti menari.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Apa dia tidak ingin bertarung dengan kita?" Xiao Shuxiang memiringkan kepalanya, dia sedikit menjilat darah di tangan kanannya dan menggumamkan sesuatu.
Dai Chen menepuk kasar lengan Xiao Shuxiang, "Kau menjijikkan, ludahkan sekarang."
"Kau lambat, aku sudah menelannya.. lagipula sekarang aku lapar.."
Dai Chen menatap tidak percaya pada Xiao Shuxiang, ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata bahwa temannya ini layak diwaspadai.
Lan Guan Zhi tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan kedua teman di sampingnya, tatapan matanya fokus melihat gerakan tarian gadis di depannya.
Xiao Shuxiang juga memperhatikan, cara gadis ini menari terlalu aneh. Setelah sampai pada gerakan terakhir, gadis tersebut kembali membungkuk hormat pada Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang.
"Tarian tadi.. Adalah kunci kalian untuk sampai ke tempat Duan De."
!!
Xiao Shuxiang dan Dai Chen terkejut mendengar ucapan gadis tersebut. Lan Guan Zhi mulai berjalan mendekat, diikuti oleh kedua temannya.
"Namaku Shao Nu, aku pilar bawah yang menduduki kursi keempat, menggantikan Senior Siu Yixin.." Shao Nu menjelaskan bahwa gerakan tariannya tadi harus dikuasai oleh Lan Guan Zhi, Xiao Shuxiang, dan Dai Chen jika ingin bertemu dengan Duan De.
"Kenapa kau ingin menolong kami?"
Shao Nu membuka topengnya, wajahnya begitu cantik dan terlihat seperti baru berusia 17 Tahun. Dia tersenyum manis ke arah Xiao Shuxiang dan dengan lembut mengatakan bahwa dirinya mengikuti Tianqi Mao.
".. Aku sudah tidak bisa diselamatkan karena telah mengkhianati Tetua. Ruangan itu adalah tempat pilar ketiga. Jangan perlihatkan emosi kalian atau wajah kalian akan diambilnya. Kalian mungkin tidak percaya, tapi Tianqi Mao adalah saudara sesumpahku. Keputusannya mengkhianati Tetua membuatku marah, tapi pada akhirnya aku tahu dia sudah mengambil keputusan yang benar."
Xiao Shuxiang masih belum bisa percaya dengan gadis di depannya. Hidungnya sedikit mengendus dan memang tidak ada aroma kebohongan yang dia cium.
"Kau ini.. Demonic Beast juga?"
Shao Nu menggeleng, dia hanyalah kultivator dari sebuah sekte yang telah musnah dari Benua Timur.
Xiao Shuxiang menggaruk pipinya pelan saat ditatap oleh Shao Nu. Dia kemudian menarik Lan Guan Zhi dan Dai Chen untuk pergi ke tempat yang dikatakan gadis ini.
"Berhati-hatilah,"
Xiao Shuxiang menoleh ke belakang, dia melihat Shao Nu duduk kembali dan mulai menundukkan wajahnya. Xiao Shuxiang mengeluarkan satu api biru kecilnya yang langsung melayang ke tempat Shao Nu berada.
Shao Nu melihat ada api biru kecil melayang perlahan di depannya, dia lalu menangkup api tersebut dengan kedua tangannya sambil tersenyum tipis.
"Itu.. Memang kau.. Senior Xiao,"
__ADS_1
***