XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
29 - Perampok Bersaudara [Revisi]


__ADS_3

PERHATIAN !!


CHAPTER INI MENGANDUNG ADEGAN KEKERASAN DAN HAL YANG TIDAK PANTAS DITIRU!


SAYA BERUSAHA SEBISA MUNGKIN UNTUK TIDAK TERLALU MENDESKRIPSIKANNYA.


DIHARAPKAN BAGI PARA PEMBACA UNTUK TIDAK TERLALU MEMBAYANGKAN ATAU PUN MENYELAM TERLALU JAUH DALAM BEBERAPA ADEGAN YANG ADA.


TOLONG BIJAKLAH DALAM MEMBACA SERTA MENGAMBIL PELAJARAN DARI KARYA INI!


ATAS PERHATIAN DAN DUKUNGANNYA, SAYA UCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH. ;)


*


*


*


*


*


Xiao Lu, Qi Xuan, Jing Mi dan Yang Shu begitu terkejut melihat apa yang terjadi di depan mereka.


Tidak ada yang bisa bergerak, kaki mereka seakan tertanam. Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu bahkan tidak terlihat gemetaran, mungkin karena saraf di dalam tubuh mereka terlambat mengirimkan sinyal ketakutan akibat rasa terkejut yang mereka rasakan.


Sebuah suara tawa tiba-tiba terdengar, bersamaan dengan seseorang yang melompat dari atas pohon, tepat di atas pedang yang tertancap.


Orang tersebut memiliki tubuh tegap dan berotot, terlihat berwarna cokelat seperti terkena sinar matahari begitu lama. Pria ini nampak berusia sekitar 46 tahun, dia hanya memakai celana berwarna hitam sepanjang lutut tanpa menggunakan alas kaki apa pun.


Ada luka parut di punggungnya, luka yang terlihat seperti bekas tebasan pedang. Rambut orang ini begitu pendek, berwarna hitam dan terlihat runcing.


Setelah mengambil pedangnya, orang tersebut berjalan ke arah salah satu pendekar yang masih hidup namun tidak mampu untuk bergerak lagi.


Xiao Shuxiang dapat melihat wajah pria berotot tersebut. Wajah yang begitu kasar, dengan luka parut di pipi sebelah kanan dan juga di lehernya. Sorot mata tajamnya menatap pendekar Walet Pelindung yang sudah tak berdaya.


Tangan kiri orang tersebut mencengkeram rambut pendekar dan menariknya ke atas. Wajah dari Pendekar Walet Pelindung sangat pucat, kening dan mulutnya berdarah, tatapan matanya sudah tak terlihat semangat hidup lagi.


"Ja-jangan..." dengan suara yang lemah dan gemetar, Pendekar Walet Pelindung lainnya mencoba untuk menyelamatkan rekannya meskipun hanya menggapai-gapaikan tangan.


Tepat di depan pendekar itu, pria berotot yang mencengkeram rambut rekannya memisahkan kepala pendekar dengan tubuhnya menggunakan pedang besar yang ada di tangan kanannya.


"Ha ha ha, Lemah! Terlalu Lemah! Ha ha ha" pria berotot tersebut kembali tertawa, kali ini tawanya lebih keras.


Suara dari pria ini begitu mengejutkan bagi para pedagang dan kusir yang masih hidup, mereka semakin ketakutan sebab pendekar Walet Pelindung yang mereka bayar, kini hanya tersisa satu orang saja, itu pun dalam keadaan luka parah.


Tindakan pria berotot ini yang memenggal kepala pendekar Walet Pelindung membuat Xiao Lu, Jing Mi dan Qi Xuan sangat terkejut. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara detakan jantung yang begitu cepat, tubuh mereka bertiga bergetar hebat. Detik berikutnya Xiao Lu, Jing Mi dan Qi Xuan terbaring pingsan di tanah.


Tubuh Yang Shu dan Xiao Shuxiang juga gemetar. Namun jika Yang Shu gemetar karena takut dia dan keempat muridnya terbunuh, maka gemetar yang dirasakan oleh Xiao Shuxiang bukanlah rasa takut... melainkan penyakit lama yang dilupakannya kembali kambuh.


"Ini... Pemandangan Yang Luar Biasa Indah! A-Aku... Merindukan... Memisahkan... Kepala... Seperti Itu..." Xiao Shuxiang berusaha mengatur napasnya, dia terlalu bersemangat sampai meneteskan airmata.


Xiao Shuxiang mengepalkan kedua tangannya, dia memejamkan mata perlahan, mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha untuk tidak terlihat senang.


Bersamaan saat Xiao Shuxiang membuka mata, dia bisa merasakan tangan seseorang menyentuh pundaknya.


Dia sedikit tersentak, awalnya dia berpikir itu adalah tangan Yang Shu, tapi ternyata bukan.


Yang menyentuh pundak Xiao Shuxiang adalah seorang pria tinggi dengan tubuh yang kurus, wajah pria ini terlihat biasa-biasa saja. Pria ini berpakaian lebih baik daripada pria berotot yang berada jauh di depan Xiao Shuxiang.


Tangan kiri pria ini memegang cambuk besar, sementara tangan kanannya memijat-mijat lembut pundak kiri Xiao Shuxiang.


"Potongan Yang Bagus Adik!" Pria yang ada di samping Xiao Shuxiang akhirnya bersuara. Sebuah senyuman tipis terlukis di wajahnya, sorot matanya tidak terlihat tajam. Dan tak ada aura apa pun yang keluar dari tubuh pria ini.

__ADS_1


Jika dari penglihatan manusia biasa, pria ini bukanlah orang yang berbahaya. Namun sesungguhnya, pria ini bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan pria berotot tadi.


Yang Shu begitu terkejut ketika mendengar suara asing yang berada dekat dengannya. "Sejak Kapan Dia...?" Yang Shu sampai tidak menyadari kehadiran orang lain yang berdiri tepat di samping cucunya.


Para pedagang dan kusir yang masih hidup juga tak kalah terkejutnya, mata mereka terbuka lebar saat melihat pria yang berpakaian putih dengan banyak bekas darah, tersenyum sambil berbicara dengan pria berotot yang memenggal kepala pendekar Walet Pelindung tadi.


"Di-Dia...? Ka-Kalau Dia ada, ma-maka orang itu..." Salah satu pedagang gemetar tanpa henti saat menyadari siapa yang telah menghentikan perjalanan mereka dengan cara menyerang kuda, membakar kereta dan juga sampai membunuh pendekar yang mengawal mereka.


"Me-mereka berdua adalah... Pe-Perampok Bersaudara!" pedagang lainnya yang terlalu terkejut, kini terbaring pingsan di tanah.


Perampok Bersaudara merupakan perampok yang cukup terkenal. Mereka terdiri dari dua orang kultivator bersaudara bernama Gong Ru dan Gong Peng.


Gong Ru merupakan Kakak dari Gong Peng, dia menggunakan cambuk sebagai senjatanya. Pribadi Gong Ru bisa dibilang lebih suka berbicara dan menikmati saat adiknya, Gong Peng membantai habis para target mereka.


Gong Peng sendiri menggunakan pedang besar sebagai senjatanya. Pedang yang setiap hari selalu dipolesnya hingga berkilau, pedang yang digunakan untuk memisahkan anggota tubuh hanya dengan sekali tebasan saja.


Walau tubuh Gong Peng lebih besar dan lebih perkasa daripada Gong Ru, namun Gong Peng memiliki sifat yang penurut terhadap setiap perkataan kakaknya.


Mereka berdua melakukan perampokan dan pembunuhan di dalam hutan. Tak ada yang tahu wajah asli Gong Ru dan Gong Peng, sebab keduanya tidak pernah membiarkan seorang pun hidup setelah melihat wajah mereka. Itulah cara Gong Ru dan Gong Peng bisa berkelana dan menyamar di antara warga desa.


Baik Gong Ru dan Gong Peng berada di Forging Qi tingkat 9. Dalam hal ini disebut Master atau tahap akhir dari tingkatan Mortal Foundation.


Hanya kultivator yang berada di tingkatkan Master Foundation atau Forging Qi tingkat 10 yang bisa menjadi lawan dari Gong Ru dan Gong Peng.


Alasan kenapa para Pendekar Walet Pelindung ini bisa kalah yaitu karena mereka bertujuh terlalu menurunkan kewaspadaan.


Selama ini perjalanan mereka begitu lancar tanpa halangan apa pun. Bahkan saat mereka berada di Desa Peristirahatan, tidak ada satu pun barang pedagang yang dicuri.


Perjalanan mereka yang begitu lancar ini membuat para pedagang dan Pendekar Walet Pelindung tidak menyadari bahwa selama ini mereka telah ditargetkan oleh Gong Ru dan Gong Peng.


Kedua perampok bersaudara ini memiliki strategi perampokan yang unik. Awalnya, Gong Ru dan Gong Peng akan menyamar menjadi manusia biasa dengan menyembunyikan tingkat praktik mereka.


Ini membuat kultivator yang memiliki tingkat praktik di bawah mereka tidak akan bisa membaca praktik keduanya. Mereka juga menyembunyikan aura membunuh mereka dengan sangat baik, lalu menjalin komunikasi yang baik dengan warga sekitar sehingga tidak dicurigai.


Mereka akan menghabisi setiap penjahat yang juga mengincar target mereka. Strategi seperti ini akan membuat target Gong Ru dan Gong Peng lengah, mereka akan menganggap bahwa tak ada bahaya apa pun yang mengincar mereka.


Tidak tanggung-tanggung, Gong Ru dan Gong Peng akan melindungi target mereka di dalam hutan. Mereka berdua akan memburu hewan liar yang berjarak satu kilometer dari target.


Gong Ru dan Gong Peng baru akan melancarkan aksinya saat target hampir keluar dari dalam hutan.


Sepertinya Gong Ru dan Gong Peng salah mengartikan ucapan 'bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian'. Akibatnya, mereka melakukan perampokan dengan cara yang terbilang unik ini.


"Kalian berdua menikmatinya...?" Gong Ru bertanya sambil tersenyum ke arah Xiao Shuxiang dan Yang Shu.


Sedetik berikutnya, Gong Ru cekikikan. Dia menertawakan Yang Shu sebab kakek tua ini hanya berada satu tingkat dibawahnya.


Gong Peng kemudian tertawa keras, dan lalu berseru kearah Gong Ru. "Kakak, bagaimana jika aku mencincang mereka semua..? Ha ha ha!"


Gong Ru menatap adiknya, dia lalu berjalan ke arah Gong Peng yang saat ini berada di depan para pedagang dan kusir yang duduk ketakutan di tanah.


Gong Peng meraih tangan salah satu pedagang, dia berniat memotong tangan pedagang tersebut dengan pedangnya. Namun Gong Ru langsung menghentikannya.


"Adik, jangan seperti itu..." Gong Ru tersenyum lembut, membuat Gong Peng menurut.


Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, salah satu pedagang mencoba untuk berbicara kepada Gong Ru. Sebab menurut pedagang ini, Gong Ru terlihat seperti orang yang mudah diajak bicara.


"Tu-tuan, A-ambillah se-semua ha-harta kami... Ta-tapi tolong bi-biarkan ka-kami hidup." suara pedagang ini terdengar gemetar, bukan hanya suaranya. Namun tubuh pedagang ini pun juga ikut gemetar, wajahnya terlihat sangat pucat.


Gong Peng yang mendengar ucapan pedagang ini, tersenyum dan kemudian berkata dengan begitu angkuhnya. "Membiarkan kalian hidup? Ha ha ha ha! Apa kalian belum mendengar tentang Perampok Bersaudara?! Kami merampok dan membunuh, tidak mengampuni nyawa siapa pun!!"


"Tunggu adik, biarkan saja mereka hidup. Kita bisa menjual mereka sebagai budak daripada membunuh mereka." Gong Ru menghentikan Gong Peng, saat adiknya itu berniat memenggal kepala pedagang yang berbicara dengan mereka tadi.


Gong Peng diam sejenak, dia meneliti setiap pedagang yang ada di depannya. Meski pedagang-pedagang ini tidak memiliki tubuh sekekar dirinya, namun para pedagang ini masih bisa berguna sebagai buruh angkut.

__ADS_1


Salah satu pedagang terlihat sudah tua, Gong Peng lalu menghampiri pedagang tersebut. "Tapi, apa ada yang mau membeli orang yang tua ini, Kak?" Gong Peng menarik kerah salah satu pedagang.


"Yang sudah tua, kau habisi saja dia."


Gong Peng tersenyum lebar mendengar ucapan kakaknya, "Hahahaha, baiklah Kakak! Aku menurut saja, hahahaha."


Saat Gong Peng tertawa bahagia ketika menyiksa salah satu pedagang, Gong Ru berjalan menghampiri Yang Shu.


"Dan untukmu.. Karena hari ini aku sedang senang dan kau juga tidak terlihat membawa barang berharga apa pun, maka kau boleh pergi. Tapi tinggalkan tiga anak yang sedang terbaring di tanah itu dan juga anak cantik di sampingmu.." Gong Ru meneliti raut wajah Yang Shu dan juga pakaian yang dikenakan oleh Yang Shu.


Pakaian dengan kain kasar dan terlihat banyak tambalan, serta pedang tua nan usang yang terselip di pinggang kiri Yang Shu, apalagi wajah Yang Shu terlihat pucat dan tubuhnya sedikit gemetaran... membuat Gong Ru tidak memiliki selera untuk membunuh kakek tua di depannya ini.


Lagipula, saat nanti Yang Shu memang memilih untuk pergi dan meninggalkan anak-anak yang dibawanya, maka Gong Ru bisa menyuruh adiknya untuk mengejar Yang Shu dan menghabisinya. Sungguh orang yang licik!


Gong Peng yang selesai bersenang-senang dengan salah satu pedagang tua, kini menghampiri pendekar Walet Pelindung yang tersisa dan kemudian menghabisinya.


"Kakak, aku tidak suka anak laki-laki. Aku lebih suka mencincang anak perempuan, khe he he." Gong Peng mengutarakan pendapatnya saat mendengar kakaknya menyuruh Yang Shu untuk meninggalkan keempat muridnya.


"Jangan melakukannya adikku, mereka semua memiliki harga yang tinggi jika berhasil terjual. Kita hanya akan membawa anak cantik ini dan membesarkannya...hihihi" Gong Ru mencubit pelan dagu Xiao Shuxiang sambil tertawa kecil.


Bagi Gong Ru, anak berusia tujuh tahun di depannya ini akan sangat cantik saat dewasa nanti. Membesarkannya hingga berusia tujuh belas tahun tidak akan merugikan Gong Ru sedikit pun.


Gong Ru menghirup sedikit aroma tubuh Xiao Shuxiang, dia kemudian tersenyum sebab anak ini memiliki aroma susu bayi.


Xiao Shuxiang sendiri mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar ucapan Gong Ru yang menyebutnya 'Anak Cantik'.


Bukankah itu berarti Gong Ru menganggapnya sebagai anak perempuan?! Ini penghinaan bagi Xiao Shuxiang!


"Dasar Perampok Menjijikkan. AKU INI ANAK LAKI-LAKI..!!" Xiao Shuxiang berteriak keras, selama kehidupan keduanya... ini keempat kali dirinya dianggap sebagai anak perempuan.


Gong Ru, Gong Peng, Yang Shu, serta pedagang dan kusir yang masih hidup tersentak kaget saat mendengar teriakan Xiao Shuxiang. Teriakannya begitu nyaring bahkan beberapa telinga pedagang berdengung.


Mata Gong Ru membulat, "eh? HAAH?! Ka-Kau Laki-Laki..?"


Gong Ru memperhatikan lebih teliti wajah Xiao Shuxiang, namun dia hanya melihat wajah yang begitu manis dengan warna merah alami di kedua pipinya.


Gong Peng tak kalah terkejutnya, dia seketika berjalan cepat ke arah kakaknya dan kemudian ikut meneliti wajah anak berusia tujuh tahun ini.


"Anak ini... apa benar laki-laki...?" sama seperti kakaknya, Gong Peng juga hanya melihat wajah yang begitu manis dan terkesan feminim dari Xiao Shuxiang.


"Tidak Mungkin..."


"Aku Juga Tidak Percaya Kakak,"


Gong Ru dan Gong Peng tidak percaya bahwa anak di depan mereka adalah laki-laki. Raut wajah mereka yang terlihat tidak percaya ini membuat Xiao Shuxiang marah.


Wajah Xiao Shuxiang memerah, telinganya terasa panas saat mendengar nada keraguan dari perampok bersaudara ini.


"Apa Aku Harus Memperlihatkan Kebanggaanku Baru Kalian Percaya, Hah?!" Xiao Shuxiang tidak tahan lagi, dia menatap tajam ke arah Gong Ru dan Gong Peng.


Seketika Xiao Shuxiang memperlihatkan sesuatu yang tak seharusnya dia perlihatkan begitu saja, apalagi di hadapan banyak orang seperti ini.


Yang Shu begitu kaget saat melihat tindakan cucunya, namun suaranya seakan tertahan ditenggorokan. Yang Shu bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, padahal dirinya sangat ingin menjauhkan cucunya dari dua perampok ini.


"Astaga... Kau ini ternyata anak laki-laki. Padahal kau begitu cantik... Ck ck ck" Gong Ru sekarang percaya bahwa anak di depannya ini adalah laki-laki.


Raut wajah Gong Ru berubah kecewa, tidak dia sangka anak yang ingin dibesarkannya ternyata adalah seorang laki-laki.


Xiao Shuxiang juga terlihat kecewa, namun bukan rasa kecewa yang seperti Gong Ru rasakan. Melainkan rasa kecewa yang lain.


"Menyebalkan! Kebangganku jadi sekecil ini sekarang... Haiiih..." Xiao Shuxiang menyembunyikan kembali apa yang seharusnya tidak dia perlihatkan kepada sembarangan orang, sambil memanyungkan bibirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2