
Washi sudah biasa melakukan perjalanan di malam hari, apalagi saat hujan salju. Hawa dingin tidak menjadi penghalangnya untuk terus memacu harimaunya agar tetap bergerak.
Harimau putih bergaris-garis cokelat kehitaman ini mampu melihat di tengah kegelapan. Namun tidak begitu dengan orang yang mereka bawa.
Bulan baru selalu menjadi masalah dalam perjalanan di malam hari, Washi dan Xiao Shuxiang jelas kesulitan melihat di kegelapan. Beruntung sinar pada dua api biru yang dikeluarkan Xiao Shuxiang dapat menjadi penerang jalan.
"Kawan, aku akan memberimu informasi yang harus kau ketahui tentang Pelabuhan Hitam.." Washi mulai membuka suara, dia membuat Xiao Shuxiang yang ada di sampingnya menoleh.
".. Pelabuhan Hitam sebenarnya merupakan tempat ilegal dengan banyaknya perahu rampasan dan penyaluran barang-barang terlarang. Banyak perompak di tempat berbahaya itu dan kuingatkan agar kau jangan mudah percaya pada siapapun yang kau temui di sana, mengerti?"
Washi begitu serius dalam ucapannya. Meski Xiao Shuxiang mengerti, namun ada pertanyaan yang terbersik di kepalanya.
"Jika tempat itu memang berbahaya karena merupakan sarang perompak, kenapa kau malah membawa kami ke sana?"
"Kawan, para perompak itu tahu jalan rahasia yang dapat membawamu ke Benua Tengah dalam waktu singkat. Mengingat dirimu adalah kultivator, kuyakin kau dapat membedakan manusia biasa dan pendekar.."
Washi juga mengatakan bahwa mereka harus mencari kapal yang awaknya hanyalah manusia biasa, dengan begitu Xiao Shuxiang dan Hu Li akan dapat menguasai kapal tersebut.
".. Di tempat itu, memiliki banyak uang dan juga gelar tidak akan membuatmu dihormati. Mereka baru akan melakukannya saat kau dapat membuktikan diri menjadi salah satu yang terkuat di antara mereka,"
Washi menceritakan banyak hal tentang Pelabuhan Hitam, lebih banyak dibanding yang pernah dia katakan pada Xiao Shuxiang sebelumnya.
Salah satu ceritanya adalah wilayah dari Pelabuhan Hitam memiliki kedudukan yang sama dengan wilayah pribadi milik Tomoaki Maeno, yakni Kaisar Es Abadi tidak mempunyai wewenang untuk ikut campur dalam urusan di wilayah itu.
".. Meski meresahkan karena mereka selalu menyelundupkan barang-barang terlarang, kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan mereka. Master selalu tidak mengizinkan,"
"Jika Mastermu tidak mengizinkan, kenapa kau tidak melakukannya sendiri? Bukankah berbuat baik tidak butuh izin?"
Washi menatap Xiao Shuxiang yang melihat dirinya dengan kening mengerut, terlihat jelas ekspresi wajah teman barunya yang nampak keheranan.
Memang benar melakukan perbuatan baik tidak memerlukan izin dari siapapun, tetapi Washi adalah samurai yang sangat patuh pada perintah Tuannya, lagipula berbahaya jika dirinya membuat keributan di Pelabuhan Hitam, dia hanya akan mengantar nyawa.
Xiao Shuxiang tahu itu, namun Washi setidaknya bisa mengumpulkan teman-temannya serta pendekar yang lain untuk melakukan serangan pada tempat tersebut jika sendiri saja tidak cukup.
Tetapi semua memang bergantung pada keputusan Washi karena dirinya sendiri tidak berminat untuk ikut campur permasalahan di Benua ini.
".. Satu-satunya yang sering ikut campur dalam masalah orang lain hanyalah para kultivator dan pendekar Aliran Putih. Mereka orang-orang yang menyebalkan, anehnya aku malah belajar menjadi bagian dari mereka.."
Xiao Shuxiang mulai membahas diri sendiri. Dia membuat Washi terkejut karena teman barunya ini ternyata baru tahu bahwa dirinya merupakan pendekar dari Aliran Hitam.
"Tapi kau sama sekali tidak terlihat jahat, Kawan. Kau bahkan lebih ramah dari para kultivator yang sering kutemui,"
Xiao Shuxiang mendengus, "Kau jangan tertipu dengan wajah tampan nan mempesona milikku ini. Biar kukatakan padamu.. Aku pernah membunuh guruku sendiri, menebas leher kedua orang tuaku, membantai habis sekte yang kebanyakan muridnya satu klan denganku, aku juga membunuh teman terbaikku dan membuat tempat tinggalku diselimuti kegelapan selama satu bulan lebih. Itu saja baru sebagian kecilnya.. Haah.. Masa-masa jayaku sangat luar biasa,"
Washi kesulitan mencerna ucapan Xiao Shuxiang. Dirinya menganggap semua yang dikatakan temannya hanya candaan belaka. Ini karena tidak mungkin seseorang begitu bangganya mengakui setiap kejahatan yang dia lakukan, apalagi tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Itu mustahil, Kawan.."
"Mm, terserah kalau kau tidak percaya.."
Xiao Shuxiang tersenyum saat mengatakannya, dia lalu bertanya pada Washi mengenai kehidupan para samurai dan apa yang mereka lakukan setiap hari.
Hu Li dan Xiao Qing Yan hanya fokus menunggangi harimau mereka sambil sesekali ikut dalam pembicaraan Xiao Shuxiang dengan Washi.
Jauh di tempat mereka berada.. Sebuah pelabuhan terlihat dari atas, begitu luas dan dipenuhi kapal-kapal berbagai ukuran.
Lentera berisi serangga bercahaya menjadi penerang pelabuhan ini, beberapa juga menampakkan orang-orang yang memegang sebuah obor.
Butiran salju yang turun perlahan di malam dingin tersebut tidak membuat api pada obor padam, apalagi sampai membuat orang-orang yang kebanyakan berwajah garang ini kedinginan.
"Silahkan lihat-lihat, Tuan. Demonic Core hitam, kuku penyihir, dan mata naga, semuanya tersedia,"
Seorang pedagang berpakaian cokelat gelap dengan kerah berbulu nampak menawarkan barang dagangannya pada pria paruh baya berpakaian biru laut. Namun pria tersebut hanya terus berjalan dan cuma menatap sekilas barang jualannya.
"Ayo kemari, Tuan dan Nyonya..! Barang langka, barang langka..! Kumis naga, air mata peri laut, dan susu kambing jantan rasa apel ada di sini..!"
"Mari, mari, Tuan dan Nyonya..! Barang langka dan berkualitas, Anda tidak akan menemukannya di tempat lain..! Kertas jimat pengusir roh jahat, pemanggil roh jahat, jimat pelanggeng hubungan suami-istri, jimat penarik rezeki, jimat penarik jodoh, semua jimat keberuntungan ada di tempat ini..!"
Seruan para pedagang di Pelabuhan Hitam tidak pernah berhenti, semakin larut kondisi di tempat ini semakin ramai. Pelabuhan Hitam memang tidak hanya diisi oleh kapal-kapal yang siap berlayar, tetapi juga dihiasi dengan para pedagang dari kalangan perompak.
__ADS_1
Tempat ini sama seperti Pasar Gelap, berbagai barang aneh dan tak wajar mudah sekali ditemukan. Para pelanggan yang datang kebanyakan berasal dari kultivator serta pendekar Aliran Hitam.
Meski pedagang ini merupakan perompak, namun mereka cukup jujur dalam melakukan transaksi. Yaah, itu hanya berlaku pada pelanggan yang sudah lama mereka kenal, dan tentu dapat sangat berbeda jika pelanggan tersebut masih orang baru.
Pelabuhan ini sebenarnya jauh dari tindak kekerasan dan semacamnya antar sesama pedagang, mereka hanya akan marah jika ada seseorang yang dengan berani mencari masalah di tempat ini.
Braak!
!!
Seorang wanita berpakaian merah dengan kerah berbulu menggebrak meja milik pedagang penjual berbagai kertas jimat. Wajah wanita itu nampak sangat kesal, bisa dilihat dari pelototan matanya yang seakan hampir menyembul keluar.
"Apa-Apaan Jimat Ini! Kau bilang jimat ini bisa menarik jodoh, Mana Buktinya?! Aku menempelkannya di setiap dinding rumahku, kamar, bahkan selalu kubawa kemana-mana, tetapi bukannya jodoh yang datang, malah penagih hutang! Apa kau sedang menipuku?!"
Wanita dengan riasan wajah tebal itu beberapa kali menggebrak-gebrak meja sambil memegang kertas jimat yang pernah dibelinya. Dia terus memarahi pedagang di depannya dan memaksa agar uangnya dikembalikan.
"Nyonya, jimat itu tidak bekerja karena kalah dengan amarahmu yang sulit dikontrol. Jodohmu yang ditarik jimat itu berlalu seperti angin saat kau marah,"
"Kau pikir bisa membodohiku?! Aku mau uangku sekarang juga..! Kembalikan uangku..!"
Pedagang yang menjual jimat-jimat tersebut masih tetap sabar meladeni wanita di depannya. Dia termasuk salah satu perompak yang tangannya sudah terbiasa memegang hati dan usus manusia.
Tubuhnya tidak berotot dan wajahnya biasa saja, sama sekali tidak garang. Tampilannya yang seperti pedagang lemah dan mudah ditindas merupakan penyamaran paling sempurna.
"Nyonya, dengarkan aku dulu.."
Pemuda ini berusaha memahamkan pada pelanggannya, dia masih tetap sabar menghadapi wanita yang terus saja marah-marah di depannya.
Keributan tersebut sudah biasa di tempat ini dan hal tersebut merupakan sambutan pertama Xiao Shuxiang dan teman-temannya saat mereka tiba.
Harimau yang mereka tunggangi sudah lama pergi, Xiao Shuxiang, Washi, dan yang lainnya berjalan sendiri sambil sesekali memperhatikan para pedagang.
"Ini seperti pasar biasa. Awalnya kupikir akan terlihat mengerikan, sayang sekali.."
"Tuan Muda Xiao, jangan sampai tertipu. Tempat ini bagai singa yang tertidur, kita sebaiknya jangan mencari masalah,"
Xiao Shuxiang mendengus sambil menatap Hu Li yang berjalan di sampingnya, "Apa kau melihatku sebagai orang yang suka mencari masalah? Di masa lalu mungkin iya, tapi tidak lagi di masa sekarang,"
Xiao Qing Yan juga menyadarinya, dia terus memegang katana miliknya dan seakan siap bertarung kapan saja.
Washi membawa teman-temannya ke salah satu kapal berukuran sedang. Dia berbicara pada seorang awak yang nampak berusia 32 Tahun, tidak butuh waktu lama sampai awak kapal tersebut menyetujui akan memberi tumpangan pada teman-teman Washi.
"Mereka bisa berangkat sekarang. Ayo naiklah,"
Xiao Shuxiang menepuk pelan pundak Washi dan kemudian tersenyum, dia mengucapkan terima kasih sekaligus meminta agar temannya dapat menjaga diri dengan baik.
"Kawan, tidak banyak hari yang kita lalui bersama. Tapi jika kau punya waktu, sesekali datanglah kemari,"
"Tentu, tapi sepertinya aku akan lebih sering di Kekaisaran Salju Putih. Sampaikan salamku pada Yuuichi dan yang lainnya,"
Washi mengangguk, dia juga meminta agar Xiao Shuxiang, Hu Li, dan Xiao Qing Yan menjaga diri serta tetap waspada. Dirinya kemudian mengusap pelan kepala O Zhan dan mulai menyaksikan teman-temannya menaiki kapal.
Selain Xiao Shuxiang, Hu Li, dan Xiao Qing Yan--pria berpakaian biru laut yang sebelumnya juga menjadi penumpang di kapal ini.
Dia terlihat berdiri agak berjauhan dari Xiao Shuxiang, namun pandangannya selalu mengarah pada pemuda tersebut.
Kapal mulai berlayar, Washi tetap memperhatikan teman-temannya sambil melambaikan tangan. Perlahan.. Kapal tersebut mulai tidak terlihat, seakan langsung ditelan oleh gelapnya malam.
Washi sebenarnya sudah beberapa kali pergi ke Pelabuhan Hitam, jadi kebanyakan perompak telah mengenalinya.
Mereka tentu ramah pada Washi, meski pemuda itu adalah samurai yang sering menjalankan misi melakukan pembantaian.
Mendapat bantuan dari salah satu kenalannya untuk membawa Xiao Shuxiang ke Benua Tengah membuat Washi senang. Tetapi biar bagaimanapun, perompak tetap saja perompak.
".. Semoga kau bisa selamat sampai tujuan, kawan.."
*
*
__ADS_1
Pelayaran Xiao Shuxiang yang kedua rasanya sangat berbeda. Ini pertama kali dirinya merasa kurang nyaman menumpangi kapal layar, sesekali dia memergoki awak kapal menatapnya dan Hu Li dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bukan hanya dirinya yang merasa kurang nyaman, tetapi Hu Li, O Zhan, dan Xiao Qing Yan juga. Mereka seakan sedang diintai oleh mata yang haus dan kelaparan.
"Apa kalian yakin mereka akan membawa kita ke Benua Tengah? Mereka tidak mungkin membunuh dan menceburkan kita ke laut, kan?"
Xiao Qing Yan mengusap-usap sarung katananya, sejauh ini dirinya sudah memperhatikan gerak-gerik para awak kapal, dan kesimpulan itu pun sampai di benaknya.
".. Ada sekitar 17 awak kapal, tiga bertubuh besar dan berwajah garang, mereka akan jadi lawan yang merepotkan jika kita benar-benar bertarung,"
Xiao Shuxiang yang mendengar ucapan Xiao Qing Yan memberi peringatan pada anak berusia 10 Tahun tersebut. Akan lebih baik jika mereka menghindari pertarungan sebisa mungkin, ini agar kapal yang mereka tumpangi tidak mengalami kerusakan.
".. Lagipula mereka sama sekali tidak melakukan sesuatu yang merugikan, kita hanya perlu tetap berhati-hati.."
Sepanjang pelayaran, belum ada satu pun awak kapal yang mengajak Xiao Shuxiang dan teman-temannya bicara. Sampai pria berpakaian biru laut meminta kamar pada salah satu awak, di sanalah Xiao Shuxiang mengetahui bahwa para awak kapal ini mudah diajak bicara.
Xiao Shuxiang dan Hu Li juga mencoba meminta sebuah kamar, keduanya cepat di respon sekaligus langsung diantar oleh salah satu awak, Xiao Qing Yan juga ikut.
Hanya ada satu kamar yang diberikan dan Xiao Shuxiang harus membaginya dengan kedua temannya. Dia sama sekali tidak keberatan asal disiapkan makan malam.
Awak kapal yang seorang pemuda berusia 23 Tahun itu tersenyum dan meminta Xiao Shuxiang menunggu, dia berkata akan segera kembali dengan makanan.
Selain Xiao Shuxiang dan Hu Li yang merupakan kultivator di atas kapal ini--pemuda berpakaian biru laut yang menghuni kamar di sebelah mereka juga merupakan seorang kultivator. Praktiknya berada di Grand Master tingkat Bumi.
Setelah membersihkan dirinya, pemuda bernama Kong Wu itu mulai duduk bersila di atas tempat tidurnya dan kemudian menutup mata perlahan.
Tidak berselang lama, seorang awak kapal mengetuk pintu dan kemudian membukanya. Dia membawakan senampan makanan pada Kong Wu.
".. Ini memang waktumu beristirahat, tapi aku merasa tidak baik jika hanya memberi makan penumpang lain,"
Kong Wu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dia baru turun dari tempat tidurnya saat awak kapal tersebut keluar dari kamarnya.
Kong Wu hanya memperhatikan makanannya, dia sama sekali tidak menyentuh apalagi memakannya. Kong Wu lalu menoleh ke arah dinding yang di sebelahnya adalah kamar tempat Xiao Shuxiang dan teman-temannya berada.
Berbeda dengan Kong Wu, Xiao Shuxiang malah sangat menikmati makanannya dan melarang Hu Li serta Xiao Qing Yan untuk makan.
"Tuan Muda Xiao, aku bisa menahan lapar tapi tidak mungkin Nona Qing Yan juga melakukannya,"
"Hu Li, dia tidak akan mati bila tidak makan seharian.."
Xiao Shuxiang nampak begitu lahap, dia bergumam bahwa makanan beracun adalah yang terenak. Mendengar gumaman Tuan Mudanya membuat Hu Li dan Xiao Qing Yan tersentak.
"Beracun? Maksud Tuan Muda.."
Hu Li mengambil makanan yang menjadi jatahnya, dia mencium aroma makanan tersebut dan hanya mencium aroma masakan lezat, ".. Sama sekali tidak ada bau-bau racun yang terasa,"
Benar apa yang digumamkan Xiao Shuxiang, makanan mereka termasuk air minum telah diberi racun reaksi lambat.
"Kau tahu itu beracun, tapi kenapa tetap memakannya?"
"Karena aku lapar," Xiao Shuxiang begitu santainya menjawab pertanyaan dari keturunan Penatua Da Lin, dia lalu menghabiskan jatah makanan kedua rekannya tanpa sisa.
Xiao Qing Yan menghembuskan napas dan mengatai Xiao Shuxiang tidak waras, "Jangan salahkan aku bila kau mati,"
"Tenang saja, aku sudah pernah mati.. Jadi mati untuk kedua kalinya bukanlah masalah,"
Hu Li menggelang pelan, dia mengingatkan Tuan Mudanya untuk tidak makan terlalu banyak. Sangat di sayangkan Xiao Shuxiang tidak mengindahkan peringatannya.
Di tempat lain, tepatnya bagian dapur kapal.. Terlihat empat orang perompak dengan dua diantaranya merupakan pria berotot, mereka bersiap-siap dengan pedang besar di tangan.
Dapur ini cukup bersih, namun berbeda pada bagian sudut kiri belakang. Di mana tempat tersebut penuh dengan tulang-belulang manusia.
Ada beberapa tulang baru, ini bisa dilihat dari daging serta darah segar yang masih menempel. Terdapat sekitar sepuluh tengkorak dan salah satunya masih terbungkus kulit.
".. Apa mereka memakannya?"
Salah satu pria berotot menatap rekannya yang diketahui adalah pemuda yang mengantar makanan ke kamar Kong Wu dan Xiao Shuxiang.
"Aku tidak tahu kamar yang pertama, tetapi untuk yang kedua.. Salah satu pemuda memakannya,"
__ADS_1
Mendengar ucapan rekannya membuat pemuda berorot yang di pipi kanannya terdapat bekas sayatan pedang nampak menyeringai.
***