XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
333 - Rumah Besar Dewi Surgawi


__ADS_3

"Tuan.. Mau sampai kapan kita melakukan ini..?"


Suara wanita itu terengah-engah, kedua tangannya nampak melingkar di leher pria yang sedang menindihnya. Rambut, dahi, dan lehernya terlihat basah, dia sudah melayani pria di atasnya ini lebih dari lima jam.


"Tuan~ Ayo istirahat sebentar.. Saya lapar.."


Mungkin tidak tepat mengatakan itu di saat seperti ini, namun bagi Sang Pria--ucapan wanita cantik bermata hijau di bawahnya terdengar bagai ajakan untuk permainan mereka yang selanjutnya.


"Kau bisa memakanku jika mau sayang~"


Desahan kembali terdengar bersamaan dengan semakin gencarnya pria berusia 27 Tahun tersebut memberinya serangan.


Wanita cantik bermata hijau itu menggelinjang dengan kedua tangannya sesekali meremas kedua pundak pria di atasnya.


"Tuan.. Saya lapar~ cepat berikan.."


Suara yang begitu indah, wanita cantik itu adalah satu dari tiga Dewi yang terkenal di bordil ini, dirinya dikenal dengan sebutan 'Dewi Giok'. Kemampuan melayaninya hebat dan dia merupakan wanita penghibur yang memiliki bayaran mahal.


"Tuan~"


Hanya sekali gerakan dan posisi kini berganti. Sekarang adalah Sang Gadis yang berada di atas, dirinya duduk tepat di bawah perut pria berwajah bersih nan tampan itu.


Sepanjang malam, hanya suara vulgar dan desahan erotis yang terdengar. Suara tersebut menggema dan seakan menyelimuti seisi ruangan.


Namun yang terjadi berikutnya sangat tidak terduga, kedua tangan Dewi Giok yang menekan pelan dada pria di bawahnya dengan cepat berubah.


Kuku jari berwarna merah indah miliknya tiba-tiba saja memanjang dan langsung menancap di dada pria yang ditindihnya. Seketika itu juga, desahan Dewi Giok berubah menjadi teriakan pilu pria di bawahnya.


!!


"Apa Yang Kau Lakukan?! AAAKH..!"


Jelas ini mengejutkan, lihat saja tatapan melotot pria tersebut dan usahanya untuk memberontak. Tetapi jari tangan sang wanita tertancap bahkan lebih dalam dari sebelumnya.


"Sialan..! Lepaskan Aku..!"


"Tuan~ Anda yang mengizinkan saya memakanmu. Jadi jangan tolak saya~"


Mata hijau Dewi Giok berkilat, dia sengaja menggoyangkan pinggulnya untuk menciptakan sensasi pada pria yang dirinya duduki agar pikiran pelanggannya ini terpecah antara rasa nikmat dan sakit yang dirasakannya.


Bila pria berusia 27 Tahun tersebut mengartikan kata 'lapar' sebagai hal lain, tetapi Dewi Giok menganggap kata 'lapar' dalam artian yang sebenarnya.


!!


"AAAAKH..! Wanita Setan! Beraninya.. Aakh! Kau Me-Melakukan Ini De-dengan Pangeran! AAAAKH..!"


Berontakan pria yang rupanya adalah pangeran kelima Kaisar Langit Utara nampak sia-sia saja. Dia berusaha mendorong kedua lengan Dewi Giok, namun justru wanita itu merobek kulit dadanya bahkan menggores tulangnya memakai kuku yang panjang.


AAAKH..!


Dewi Giok malah tersenyum dan semakin cepat menggoyangkan pinggulnya. Wajahnya menengadah dan lalu mendesah tertahan, "Tuan saya tahu itu~ Saya sudah banyak menahan rasa sakit yang Anda berikan~ sekarang giliran Anda yang menahannya~"


Mata Dewi Giok kembali berkilat, dia kemudian menatap wajah pria di bawahnya dan dengan gerakan jari-jari pelan.. Suara retakan tulang terdengar bersamaan dengan teriakan Sang Pria yang semakin nyaring.


AAAKH..!


Ternyata tidak hanya di kamar tempat Dewi Giok berada, tetapi teriakan yang sama juga terdengar di kamar yang lain. Bisa dibilang, dari tiga bangunan bordil ini.. Bangunan Dewi Merak-lah yang menyimpan sebuah rahasia gelap.


Bangunan ini dihuni oleh para wanita penghibur yang lebih senior, harga mereka untuk satu malam lebih mahal dari wanita penghibur yang tinggal di dua bangunan yang lain. Tetapi bukan itu rahasia gelapnya.


Para wanita penghibur di bangunan ini kebanyakan adalah pendekar dan kultivator, mereka berprofesi sebagai pembunuh bayaran di samping kegemaran mereka yang suka memakan daging dan berendam darah manusia.


AAAKH..!


"Aah~ Anda memiliki darah yang enak pangeran~" mata Dewi Giok berarir saat menjilat darah segar pada jari-jari tangannya. ".. Salahku karena tidak melakukan ini sejak dulu~ Pangeran Kelima.. Kau milikku sekarang~"


Dewi Giok terengah-engah, tangan kanannya kini meremas jantung pria di bawahnya dan sesekali mengusap wajah tampan pria tersebut. Dia terlihat begitu menikmati rasa sakit yang diberikannya pada pangeran kelima Kaisar Langit Utara.


Tubuh telanjang pangeran kelima kini dipenuhi darah pada bagian dadanya. Dia tidak bisa melawan sebab wanita penghibur yang duduk di atasnya ini ternyata bukanlah wanita biasa.


Dewi Giok merupakan pendekar yang menguasai satu dari enam jenis Tenaga Dalam dan pangeran kelima sendiri hanyalah manusia yang tidak mendalaminya.


AAAAKH..!


Mata pangeran kelima melotot dan mulai terselip ke atas bersamaan dengan nafasnya yang mulai berhenti. Mulutnya nampak terbuka dengan darah segar mengalir di kedua sisi bibirnya.


Untuk Dewi Giok sendiri.. Dirinya sekarang sedang memegang jantung pangeran kelima dan tanpa ragu memakan organ dalam tersebut. Dia terlihat seperti sudah biasa melakukan ini.


Pintu kamar Dewi Giok tiba-tiba digeser kuat disertai dengan seruan seorang wanita. Dia hanya menoleh ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang telah lancang masuk ke kamarnya.


"Adik Ketiga-"


!!


Wanita yang baru saja datang ke dalam kamar Dewi Giok merupakan salah satu wanita penghibur yang terkenal di Rumah Besar Dewi Surgawi, dialah Dewi Bulan-Kakak tertua sekaligus pendiri bordil besar ini.


Wajah Dewi Bulan bersih dengan sebuah tanda merah kecil berbentuk api di keningnya, dia memiliki rambut panjang berwarna biru gelap. Tatapan matanya tajam, mengandung ketegasan, dan sebuah kekejaman yang tersembunyi.


"Adik Ketiga, apa yang kau lakukan ini? Kenapa kau membunuh pangeran kelima?!"

__ADS_1


"Kakak Pertama.." Dewi Giok mulai turun dari tubuh pria yang dirinya duduki, dia lalu merapikan pakaiannya dan menjilati darah yang masih menempel pada jari-jari tangannya.


"Adik, kenapa kau melakukan ini? Jika Yang Mulia Kaisar tahu, apa kau pikir tempat ini akan baik-baik saja?!"


Selama ini yang Dewi Bulan ketahui.. adiknya tidak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan Rumah Besar Dewi Surgawi. Meski dirinya adalah kultivator, tetapi berhadapan dengan kekuasaan Kaisar Langit Utara bukanlah perkara mudah.


".. Kau membuat kita semua dalam bahaya. Pangeran kelima mungkin hanya manusia biasa, tetapi tidak untuk Yang Mulia Kaisar. Berita terbaru yang kudengar, Kaisar tidak hanya seorang kultivator tetapi Beliau juga menguasai dua dari enam Tenaga Dalam.."


Dewi Bulan melanjutkan ucapannya dengan berkata mereka akan mendapat banyak kerugian bila menantang Kaisar. Dia menyuruh adiknya membereskan mayat pangeran kelima dan bersikap seakan-akan pangeran tidak pernah kemari.


Sayangnya, bila dipikirkan kembali.. Pangeran kelima bisa dibilang hampir setiap hari datang mencari hiburan ke Rumah Besar Dewi Surgawi. Bila kabar pangeran tiba-tiba menghilang.. Maka bordil inilah yang akan dicurigai lebih dulu.


".. Adik ketiga.. Kau membuat kita dalam masalah,"


"Kakak.. Kau tenang saja," Dewi Giok nampak duduk di sebuah kursi, dia menuangkan arak pada cawan keramik di sampingnya dan lalu minum dengan santai.


Wanita bermata hijau itu mengambil gulungan di atas meja, tepat di sampingnya dan melempar gulungan itu pada Dewi Bulan.


Gulungan tersebut ditangkap dengan mulus oleh Dewi Bulan. Dia kemudian membuka gulungan itu dan membaca tulisan di dalamnya. Raut wajahnya sedikit berubah, dia jelas terkejut.


Isi gulungan itu adalah perintah membunuh pangeran kelima, tetapi yang lebih mengejutkan ialah terdapat segel kaisar pada gulungan tersebut. Dewi Bulan menatap adiknya dan bertanya tentang keaslian surat ditangannya ini.


".. Apa Kaisar sendiri yang memintamu membunuh putranya?"


"Surat itu diantar dua hari yang lalu oleh pengawal setia Kaisar, jadi bagaimana mungkin perintah di surat itu palsu Kakak?"


Dewi Giok kembali meminum araknya, walau sebelumnya dia merapikan pakaiannya.. Tetapi bagian tubuh atas dan bawahnya masih nampak jelas.


".. Kakak selama ini tahu, bahwa pangeran kelima selalu menjadi pelanggan tetap di tempat ini, dan itu tidak disukai Kaisar.."


Dewi Bulan sejenak menatap mayat pria yang terbaring di atas tempat tidur adiknya, dia sebelumnya sedikit kehilangan ketenangan.. Tetapi kini dirinya kembali seperti dia yang biasanya.


"Kau benar Adik, pangeran kelima hanya menodai nama besar Yang Mulia Kaisar bila dia tetap hidup. Pekerjaan orang ini hanya bersenang-senang saja dan menyombongkan identitasnya,"


"Bagi Kaisar, kekuasaan dan nama besarnya adalah yang paling penting. Dia sanggup menyingkirkan siapa pun termasuk anaknya sendiri bila itu bersangkutan dengan nama besarnya. Kematian pangeran kelima tidak akan pernah merugikan Yang Mulia.."


Dewi Giok bangun dari tempat duduknya dan lalu berjalan ke arah tempat tidur. Dia memperhatikan wajah pangeran kelima dan mulai mencongkel mata kanan mayat pria tampan tersebut.


Dewi Giok tersenyum tipis dan mulai memakan organ tubuh itu, suara saat dia mengunyah membuat siapa pun yang mendengar dari luar tidak akan tahu bahwa Dewi Giok memakan sesuatu yang jelas-jelas tabu untuk dimakan.


"Kakak Pertama.. Daripada memikirkan tentang Kaisar, lebih baik Kakak pikirkan dengan gerbang itu. Lebih dari dua tahun yang lalu--segel gerbang itu terlepas dan belakangan ini dia bereaksi,"


Dewi Bulan menatap adiknya yang sepertinya akan melanjutkan tindakannya memakan mayat di depannya ini, "Aku tahu itu. Tapi setelah kau selesai dengan ini, bersihkan kembali kamarmu."


Apa yang baru saja dibahas Dewi Giok kemungkinan adalah salah satu dari Sembilan Gerbang Dunia. Bila itu benar, maka lokasi selanjutnya yang harus didatangi Xiao Shuxiang dan teman-temannya adalah bordil ini.


*


*


Tepat di seberangnya.. Nampak Ling Qing Zhu yang juga sedang duduk tenang namun tetap mempertahankan posisinya yang penuh wibawa. Pedang miliknya berada di sisi kanan tubuhnya.


Xiao Shuxiang kembali bersenandung, dia sibuk dengan dirinya sendiri dan hanya sesekali mengarahkan pandangannya pada gadis berambut putih di depannya.


Pandangan mata keduanya kembali bertemu, namun Ling Qing Zhu tidak mengatakan apa pun. Hanya saja dirinya tiba-tiba tersentak saat Xiao Shuxiang memberinya sebuah kedipan mata.


"Kau kenapa? Kelilipan?"


?!


Xiao Shuxiang berhenti bersenandung dan mengambil bebatuan kecil lalu melemparnya ke arah Ling Qing Zhu. Dia tidak menyangka gadis itu malah mengeluarkan pertanyaan yang tidak disangkanya.


"Kau gadis menyebalkan, tidak ada pria yang akan menikah denganmu jika kau terus bersikap begini,"


"Mn, kan ada kau."


!!


Xiao Shuxiang terkejut bukan main, dia berkedip beberapa kali dan mengorek-ngorek kedua telinganya. Apa dia baru saja berhalusinasi? Tidak. Dia jelas-jelas mendengar ucapan dingin nan ketus Ling Qing Zhu.


"Ku-Kucing Putih.. Apa yang kau katakan tadi? Coba ulangi lagi.."


"Mn, memalukan."


"Bukan itu..! Kau mengatakan sesuatu yang lain, ayo ulangi lagi. Aku ingin mendengarnya,"


Ling Qing Zhu mendengus pelan dan mengarahkan pandangannya ke arah atas, dia bisa mendengar suara seperti galian. Dirinya merasa teman-temannya sudah berhasil keluar dari terowongan dan sedang menggali tanah untuk menyelamatkan dirinya dengan Xiao Shuxiang.


"Kucing Putih.. Kau sebenarnya menyukaiku, kan? Kau tidak perlu mengatakannya, aku sudah tahu.."


Xiao Shuxiang mengusap-usap rambut poni depannya dengan penuh gaya, dia juga mendengar suara galian tepat di atasnya dan suara dengkuran yang jelas sangat dikenalnya.


Namun bukannya bertindak, dirinya lebih memilih menunggu tanpa bergerak dari posisi duduknya. Ling Qing Zhu juga demikian, tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain menunggu tanah di atasnya terbuka lebar.


..


Yang menggali tanah tidak lain adalah Lan Xiao, sejak keluar dari terowongan.. Harimau Bulan tersebut mulai mengendus bau induknya hingga ke tempat ini.


Nyawn..!

__ADS_1


Lan Xiao menggunakan kedua kaki depannya untuk menggali tanah, dia disaksikan oleh Lan Guan Zhi, Xiao Lu, Yi Wen, dan Xiao Qing Yan.


Untuk Bocah Pengemis Gila sendiri.. Dia nampak bersandar pada sebuah pohon dan tidur sambil memeluk erat tongkat bambunya.


"Lan Xiao, kau yakin Xiao'Er ada di bawah sana?"


Nyawn..!


Lan Xiao seakan menjawab pertanyaan dari Xiao Lu. Dia sangat yakin dengan penciumannya, induknya ada di bawah sana dan sedang bersama Ling Qing Zhu.


Lan Guan Zhi bermaksud membantu Lan Xiao untuk menggali tanah, namun Harimau Bulan itu melarangnya. Dia terpaksa hanya berdiri sambil memperhatikan kucing berbulu indah ini melakukan pekerjaan menyelamatkan Xiao Shuxiang sendirian.


Sekitar tiga jam lebih Lan Xiao menggali.. Dirinya mulai melihat cahaya dari Rumput Bulan. Dia pun semakin semangat menggali dan mulai memanggil-manggil induknya.


Nyan! Nyawn..!


"Saudara Xiao..!"


Yi Wen juga ikut memanggil Xiao Shuxiang, syukurlah saudaranya itu dalam keadaan yang baik-baik saja.


Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu bisa mendengar jelas suara teman-teman mereka, keduanya secara bergantian melompat naik dan lalu menapak indah di tanah.


"Kupikir kalian melupakan kami.." Xiao Shuxiang menepis-nepis debu di pakaiannya. Dia seketika mendapat terjangan dari Lan Xiao yang melompat ke dalam pelukannya.


Untung saja saat melompat.. Harimau Bulan tersebut mengubah ukuran tubuhnya menjadi sebesar anak kucing, sehingga Xiao Shuxiang tidak sampai terjatuh.


?!


"Saudara Xiao..! Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka? Aku sangat mencemaskanmu.."


Tidak hanya Lan Xiao, tetapi Yi Wen juga ikut memeluk Xiao Shuxiang. Gadis dengan rambut sepanjang leher tersebut nampak berwajah cemas, dirinya tidak akan pernah terima bila saudaranya terluka.


"Xiao'Er, bagaimana malammu dengan Nona Ling?"


?!


Hanya Xiao Lu yang bisa menanyakan hal itu pada adiknya sendiri. Dibandingkan dengan menanyakan keadaan Xiao Shuxiang.. Dirinya lebih peduli tentang apa saja yang dilakukan adiknya selama terjebak dengan Ling Qing Zhu.


"Kau berbuat apa? Katakan pada Kakakmu ini.." Xiao Lu menyenggol-nyenggol lengan adiknya, tetapi Xiao Shuxiang menolak memberi tahunya apa pun.


Xiao Shuxiang lebih memilih menghampiri Lan Guan Zhi dan Xiao Qing Yan. Dia menghembuskan napas lega saat melihat keadaan kedua temannya ini dalam kondisi yang baik.


Dirinya merangkul lengan Lan Guan Zhi dan mengajak teman-temannya melanjutkan perjalanan kembali. Xiao Qing Yan nampak membangunkan Bocah Pengemis Gila yang begitu pulas tertidur.


Xiao Shuxiang menceritakan semua yang dirinya alami selama terjebak bersama Ling Qing Zhu pada teman yang dia rangkul ini. Lan Guan Zhi begitu tenang mendengarkan setiap cerita temannya tanpa melakukan protesan apa pun.


".. Kucing Putih memperlakukanku sebagai tawanan, dia bahkan menghunuskan pedangnya dan mengancam akan menggorok leherku. Gadis itu benar-benar berbahaya.."


Tidak ada hal baik yang diceritakan Xiao Shuxiang mengenai Ling Qing Zhu, dia mendapat tatapan dingin dari gadis berambut putih panjang yang nampak berjalan sambil diapit oleh Yi Wen dan Xiao Lu.


"Nona Ling, apa yang Xiao'Er lakukan padamu? Dia tidak macam-macam denganmu, kan?"


"Kakak Lu, Saudaraku tidak mungkin melakukan itu. Benar kan Nona Ling?"


"..."


Bocah Pengemis Gila sendiri nampak berjalan bersama Xiao Qing Yan, dia beberapa kali menguap dan mengeluh sebab tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Aku baru memejamkan mata sebentar~ harusnya kau tidak membangunkanku.."


"Kalau mau ditinggal, maka lain kali aku tidak akan membangunkanmu.."


Kali ini untuk sampai di gerbang Kota Matahari Emas.. Xiao Shuxiang dan teman-temannya hanya butuh waktu sekitar satu jam perjalanan. Mereka dihadang oleh dua penjaga dan dimintai surat izin dari Wali Kota Sayap Pegar.


Sangat beruntung sebab sebelumnya Lan Guan Zhi telah berhasil mendapat surat izin dari wali kota saat dirinya berada di dalam terowongan.


Dengan sebuah kertas yang diambil dari kantung penyimpanan milik Lan Guan Zhi.. Wali Kota Sayap Pegar yang seorang pria tua menuliskan surat izin dan dilengkapi segel yang terdapat di cincin jari manisnya.


Bukan Lan Guan Zhi namanya bila tidak memasukkan alat tulis di dalam kantung penyimpanannya. Dirinya memang adalah tipekal pemuda yang suka berdiam diri di dalam ruangan sambil menulis.


Kedua penjaga gerbang akhirnya mengizinkan Lan Guan Zhi dan teman-temannya memasuki Kota Matahari Emas. Yang paling pertama dicari Xiao Lu serta Yi Wen saat di kota ini adalah penginapan.


".. Aku sudah lama tidak membersihkan diri, coba lihat ini.."


Xiao Lu memperlihatkan pakaiannya yang kotor karena tanah, Yi Wen pun demikian. Dan sejujurnya, Xiao Shuxiang dan yang lainnya juga dalam kondisi pakaian serta tubuh yang kotor karena tanah.


"Aku setuju, kita sebaiknya cari penginapan. Sebelum melanjutkan perjalanan, ada baiknya istirahat dan mengumpulkan tenaga kembali.."


Bocah Pengemis Gila mengeluarkan pendapatnya. Ucapannya memang ada benarnya, Xiao Shuxiang dan teman-temannya harus dalam kondisi prima sekaligus siap untuk hal yang mungkin tidak diinginkan dalam perjalanan mereka selanjutnya.


"Kota Matahari Emas.. Di sinilah tempat Gerbang Dunia Keenam berada. Aku tidak yakin gerbang itu tidak dijaga monster mengerikan, jadi memang ada baiknya mempersiapkan diri sebelum ke sana," Xiao Qing Yan berujar pelan tepat di samping Xiao Shuxiang.


"Kau benar, ayo cari penginapan."


Xiao Shuxiang mengajak teman-temannya mencari penginapan terdekat di Kota Matahari Emas.


Bertepatan saat mereka menemukan penginapan tersebut.. Cahaya matahari pagi mulai terlihat.


***

__ADS_1


__ADS_2